Metafora IQ Gorila: Alarm Ilmiah untuk Masa Depan Akal Indonesia

Founder Bintang Ilmu Center, Purwakarta Pengamat Isu Aktual Kebangsaan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ressy Nisia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernyataan dr. Ryu Hasan, Sp.BS (K)—dokter bedah saraf dan peneliti fungsi kognitif—bahwa rata-rata IQ masyarakat Indonesia kini berada di sekitar 78,4, memantik diskusi publik di akhir 2025. Mengalami penurunan dari sebelumnya, tahun 1986 mencapai 109,6.
Ucapannya tentang “delapan poin lagi menuju rentang IQ gorila” memang bernada satir, namun tetap menyingkap satu persoalan: tantangan kognitif nasional yang mengalami kemerosotan signifikan.
Fenomena ini sejalan dengan tren global. Studi Bratsberg & Rogeberg (PNAS, 2018) menemukan terjadinya reverse Flynn effect, yaitu penurunan skor kognitif lintas generasi di berbagai negara maju.
Penyebabnya dipahami bukan sebagai faktor genetis, melainkan perubahan lingkungan—digitalisasi yang disruptif, tekanan ekonomi, transformasi interaksi sosial, hingga kualitas pendidikan yang tidak stabil.
Indonesia merasakan dinamika tersebut secara intens. Dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, sekitar 70% siswa Indonesia berada di bawah tingkat kecakapan minimum dalam literasi dan matematika. Sementara Survei Indeks Literasi Digital Kominfo 2024 mencatat skor nasional masih di kisaran “sedang”, khususnya pada dimensi literasi kritis dan keamanan digital.
Data ini memperlihatkan bahwa persoalan kognitif bukanlah isu anekdot, tetapi kecenderungan struktural.
Kapitalisme Digital dan Deligitimasi Kapasitas Kognitif
Kemajuan teknologi sering digambarkan sebagai mesin akselerasi pembangunan. Namun pertanyaannya: apakah peningkatan akses internet juga meningkatkan kedalaman berpikir masyarakat?
Dr. Matthew Nyaaba, antropolog digital dari University of Cape Town, menyebut fenomena ini sebagai digital neocolonialism: situasi ketika masyarakat menjadi konsumen konten global tanpa kesempatan seimbang untuk menjadi produsen pengetahuan.
Dalam ekosistem yang didominasi konten singkat, notifikasi tanpa henti, dan algoritma berbasis atensi, otak beradaptasi ke pola pikir yang lebih reaktif ketimbang reflektif. Padahal, bagian otak yang bertanggung jawab atas penalaran kompleks—prefrontal cortex—hanya berkembang optimal jika distimulasi melalui aktivitas mendalam seperti membaca, berdiskusi, atau menulis argumentatif.
Riset Stanford University (2023) menunjukkan bahwa paparan multitasking digital intensif dapat menurunkan daya tahan memori kerja (working memory) hingga 12–20 persen serta mengganggu kemampuan memilah informasi relevan. Jika pola ini meluas secara populatif, Indonesia bisa menghadapi situasi paradoks: akses informasi berlimpah, tetapi kapasitas pengolahannya melemah.
Lingkungan yang Mengubah Arsitektur Kognitif
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah tekanan sosial-ekonomi. Laporan BPS 2024 mencatat kenaikan biaya hidup di kota-kota besar berada di atas pertumbuhan pendapatan rumah tangga menengah. Kondisi ini meningkatkan risiko stres kronis, yang menurut penelitian Bruce McEwen (Harvard University, 2020) dapat mengganggu fungsi hippocampus, area otak yang penting untuk memori dan pembelajaran.
Bagi jutaan keluarga muda Indonesia, menyediakan lingkungan stimulatif—buku, ruang bermain sehat, interaksi verbal yang intens—bukan hal mudah. Inilah mengapa persoalan kognitif tidak dapat direduksi menjadi isu pendidikan formal semata. Kualitas otak generasi muda ditentukan oleh lingkungan rumah jauh sebelum anak memasuki PAUD atau SD
Orientasi Pendidikan: Kebutuhan Industri atau Kedalaman Ilmiah?
Pergeseran orientasi pendidikan juga berkontribusi pada melemahnya kapasitas berpikir. Prof. Malik al-Majdi, pemikir pendidikan modern, menyebut bahwa pendidikan global kini mengalami “pragmatisasi”: mengutamakan keterampilan kerja jangka pendek, sementara cara berpikir mendalam tersisihkan.
Dalam konteks Indonesia, kurikulum sering bergerak mengikuti tuntutan industri. Kapitalisme global mengubah ruang bagi riset, debat ilmiah, dan pembentukan nalar kritis semakin sempit.
Padahal, dalam khazanah klasik, Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa kualitas akal kolektif suatu masyarakat menentukan daya tahannya menghadapi perubahan sejarah.
Ketika pendidikan kehilangan kedalaman kognitif, bangsa kehilangan fondasi adaptifnya.
Akal sebagai Amanah, Negara sebagai Pelindung
Dalam Islam, akal bukan hanya instrumen berpikir, tetapi amanah. Pertanyaan Al-Qur’an, Afalâ ta‘qilûn?—“Tidakkah kalian menggunakan akal?”—menempatkan kapasitas berpikir sebagai tanggung jawab moral manusia.
Lebih jauh, Islam menempatkan manusia sebagai pemikul amanah kosmik: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." (QS Al-Baqarah: 30)
Mandat kekhalifahan mengandaikan penggunaan akal secara optimal untuk mengelola bumi, menimbang keputusan, serta menjaga keseimbangan sosial-ekologis. Karena itu penurunan kemampuan kognitif bukan hanya tantangan teknis, tetapi erosi terhadap kapasitas dasar manusia untuk menjalankan tugas kekhalifahannya.
Nabi Muhammad SAW menggambarkan pemimpin sebagai junnah, perisai bagi rakyatnya. Dalam kontes krisis kognitif hari ini, perlindungan tersebut perlu diterjemahkan dalam bentuk kebijakan publik.
Rekomendasi: Kebijakan Publik untuk Membangun Ketahanan Kognitif Nasional
Untuk memastikan keberlanjutan kapasitas intelektual bangsa, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh pemerintah:
1. Reorientasi Pendidikan Berbasi Akal
Pendidikan perlu dipulihkan menjadi public good yang menekankan logika, literasi ilmiah, dan kemampuan analitis. Tujuannya bukan sekadar membentuk tenaga kerja, tetapi mengokohkan kapasitas berpikir sebagai bagian dari mandat kekhalifahan.
2. Penguatan Literasi Digital Krisis
Kebijakan literasi digital harus menekankan kemampuan menilai informasi, memverifikasi sumber, dan memproduksi pengetahuan.
3. Stimulasi Kognitif Usia Dini
Program gizi anak usia dini, layanan kesehatan mental, serta insentif bagi keluarga muda penting untuk memperkuat perkembangan kognitif 1.000 hari pertama.
4. Kemandirian Riset dan Teknologi Lokal
Penguatan ekosistem inovasi nasional akan mengurangi ketergantungan pada algoritma global yang lebih berorientasi konsumsi daripada pengetahuan.
Penutup
Penurunan kualitas kognitif tidak boleh dibaca sebagai alarm pesimistis, tetapi sebagai ajakan untuk perbaikan secara menyeluruh. Dalam arus kapitalisme digital yang meminggirkan nalar dan mengutamakan kecepatan, bangsa ini perlu kembali pada prinsip dasar: memuliakan akal sebagai esensi kemanusiaan dan tugas kekhalifahan.
Masa depan tidak dimenangkan oleh bangsa yang kaya sumber daya, melainkan bangsa yang kuat akalnya, jernih nalarnya, dan berdaulat pikirannya.
Wallahu a'lam bishawab.
