Ramai di Layar, Sepi di Hatu: Fenomena Lonely in The Crowd di Kalangan Gen Z

Founder Bintang Ilmu Center, Purwakarta Pengamat Isu Aktual Kebangsaan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ressy Nisia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tiap hari jutaan orang membagikan cerita, mengomentari, hingga menekan tombol like di media sosial. Namun di balik keramaian media sosial, banyak anak muda justru merasa kesepian. Fenomena ini dikenal sebagai “Lonely in The Crowd", sepi di tengah riuh.
Kesepian di Era Digital
Penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY dengan judul "Loneliness in The Crowd", menemukan bahwa konten emosional, termasuk narasi kesepian di TikTok, mudah diproduksi ulang, diperkuat algoritma, lalu memperdalam rasa isolasi emosional.
"Menurut teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih 'nyata' daripada realitas itu sendiri, sehingga emosi yang dibentuk media dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang," ujar Fifin sebagai Ketua Tim Riset "Loneliness in The Crowd".
Hal tersebut diperkuat Survei Into The Light (2023) mencatat 67 persen Gen Z Indonesia merasa kesepian meski aktif di media sosial. Laporan Jakpat (2023) juga menyebut 57 persen anak muda usia 18–30 tahun merasa “sendiri di tengah keramaian digital”.
Fakta ini menunjukkan interaksi digital berbeda dengan kedekatan emosional. Seperti pepatah, ramai di layar, sunyi di hati.
Algoritma dan Pasar Emosi
Dalam era kapitalisme digital, algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan (engagement), bukan kesehatan mental. Konten emosional lebih cepat viral, termasuk kesepian. Emosi manusia pun direduksi menjadi “produk” yang menguntungkan pasar.
Namun di dunia nyata, ruang sosial semakin melemah. Fenomena “meja makan sepi”, saat semua sibuk dengan gawai meski duduk bersama menjadi tanda nyata.
Mantan Menteri Kesehatan, Nila Moeloek pernah mengingatkan, “Dulu makan bersama jadi momen berbagi cerita. Kini anak-anak sibuk dengan ponsel. Lama-lama mereka jadi kesepian.”
Apa yang Bisa Dilakukan?
Menindaklanjuti fenomena tersebut ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:
1. Islam sebagai identitas utama
Masyarakat, khususnya umat Islam, harus menjadikan agama sebagai identitas utama. Dengan begitu, kita tidak terus-menerus menjadi korban sistem sekuler liberal yang menjadikan emosi manusia sebagai komoditas. Identitas Islam akan menjadi jangkar nilai untuk menumbuhkan empati, solidaritas, dan ukhuwah, baik di ruang nyata maupun digital.
2. Peran negara yang strategis
Negara memiliki peran penting dalam mengendalikan pemanfaatan dunia digital. Regulasi yang transparan, fitur sehat seperti take a break, dan insentif konten produktif harus menjadi prioritas.
Lebih jauh, negara harus mendorong generasi muda agar tetap produktif dan berkontribusi dalam menyelesaikan problematika umat.
Dalam Al-Qur’an, Allah swt menyinggung potensi besar pemuda, “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi: 13).
Rasulullah saw juga bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu…” (HR. Al-Hakim).
Dalil ini menegaskan bahwa pemuda harus diarahkan untuk produktif, tidak larut dalam jebakan digital yang melemahkan.
3. Menghidupkan ruang sosial nyata
Gerakan offline day, komunitas baca, olahraga, atau kerja sosial perlu diperkuat. Pemerintah daerah, komunitas lokal, hingga lembaga keagamaan bisa menjadi fasilitator ruang pertemuan yang autentik.
4. Literasi media kritis
Literasi digital tak cukup soal teknis. Anak muda perlu belajar membaca konten emosional, memahami efek algoritma, dan membedakan realitas dengan konstruksi digital. Kampus dan komunitas bisa mulai mengajarkan “kritik emosional media.”
5. Dukungan kesehatan mental
Konseling, literasi psikologis, dan screening dini di sekolah maupun kampus harus diperkuat. Platform media sosial juga bisa berkolaborasi menghadirkan fitur cek kesehatan mental.
Lonely in The Crowd bukan sekadar istilah puitis. Hal ini nyata dirasakan banyak anak muda. Jika tidak dikelola dengan kesadaran, generasi kita bisa lebih fasih mengunggah kesepian ketimbang merajut kebersamaan dan produktivitas.
Media sosial memang tidak bisa ditinggalkan, tapi harus dikendalikan. Islam bisa menjadi identitas utama yang menjaga nilai, sementara negara wajib memastikan ruang digital mendukung koneksi yang sehat dan produktif.
Jika tidak, keramaian digital hanya akan meninggalkan padang gurun emosional.
Wallahu a'lam bishawab.
