Konten dari Pengguna

Sense of Purpose Gen Z: Healing di Tengah Finacial Insecurity dan Konsumerisme

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ressy Nisia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sense of Purpose Gen Z (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sense of Purpose Gen Z (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

“Capek? Healing dulu.”

Kalimat ini semakin akrab dalam kehidupan Gen Z. Setelah menghadapi tugas, pekerjaan, tekanan sosial, atau ketidakpastian masa depan, mereka mencari jeda melalui makanan favorit, berkumpul dengan teman, bepergian, menonton film, atau melakukan hal yang disukai. Semua itu kemudian dikenal sebagai healing atau self-reward.

Fenomena tersebut sering dibaca sebagai gaya hidup konsumtif. Namun, perspektif itu terlalu sederhana. Di balik keinginan menikmati hidup terdapat persoalan yang lebih mendasar: ketika masa depan terasa tidak pasti, kebutuhan untuk merasa baik hari ini dapat menjadi semakin penting.

Survei Deloitte 2025 terhadap Gen Z di 44 negara menunjukkan 48% responden tidak merasa aman secara finansial. Di Indonesia, transisi pemuda menuju dunia kerja juga menghadapi tantangan. Sakernas Agustus 2025 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka usia 15–24 tahun sebesar 16,89%. BPS juga mencatat sekitar 9 juta pemuda atau 20,31% kelompok usia tersebut berada dalam kondisi NEET pada Agustus 2024.

Data tersebut tidak membuktikan bahwa financial insecurity menyebabkan healing. Namun, ia memberikan konteks: sebagian Gen Z menjalani fase kehidupan dengan ketidakpastian ekonomi yang nyata.

Healing Bukan Sekadar Kemewahan

Dalam situasi demikian, healing tidak selalu tepat dipahami sebagai kemewahan.

Seseorang yang bekerja keras mungkin membutuhkan makanan favorit. Mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik mungkin ingin bertemu teman. Anak muda yang lelah menghadapi tuntutan sosial membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Kebutuhan emosional tersebut nyata. Yang perlu dibedakan adalah kebutuhan untuk memulihkan diri dengan cara memenuhinya melalui konsumsi.

Healing sendiri tidak harus mahal. Beribadah, berbicara dengan keluarga, menikmati alam, membaca, tidur cukup, atau menjalankan hobi juga dapat menjadi bentuk pemulihan. Persoalan muncul ketika konsumsi menjadi jawaban yang semakin dominan terhadap tekanan emosional.

Siklusnya dapat berlangsung demikian: ketidakpastian memunculkan tekanan; tekanan menciptakan kebutuhan akan jeda; konsumsi menjadi salah satu bentuk pemulihan; kepuasan hadir sementara; kemudian muncul tekanan finansial baru.

Media sosial dapat memperkuatnya melalui social comparison dan FOMO. Ketika kehidupan orang lain terus tampil dalam bentuk liburan, pencapaian, penampilan, dan pengalaman menyenangkan, pertanyaan “Apa yang saya butuhkan?” dapat bergeser menjadi “Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?”

Ketika Kebutuhan Emosional Dikomodifikasi

Di sinilah perspektif ekonomi-politik menjadi relevan. Dalam kapitalisme, perusahaan memiliki insentif memperluas pasar dan keuntungan. Pemasaran tidak hanya menawarkan barang, tetapi juga menghubungkannya dengan aspirasi dan emosi manusia.

Kebutuhan akan percaya diri dapat diberi bentuk komersial melalui industri kecantikan. Relaksasi berkembang menjadi wellness dan pariwisata. Identitas diekspresikan melalui merek. Bahkan kebutuhan untuk merasa diterima dapat diterjemahkan menjadi gaya hidup.

Inilah komodifikasi kebutuhan emosional: pengalaman psikologis atau sosial memperoleh bentuk barang dan jasa yang dapat diperjualbelikan.

Kritiknya bukan bahwa konsumsi selalu buruk atau kapitalisme merupakan satu-satunya penyebab perilaku konsumtif. Persoalannya adalah ketika semakin banyak kebutuhan manusia memperoleh jawaban komersial, pasar semakin berperan dalam menentukan bagaimana manusia mencari kenyamanan dan kebahagiaan.

Dari Konsumsi Menuju Sense of Purpose

Menariknya, Gen Z tidak hanya mengejar kesenangan material. Sebanyak 89% Gen Z dalam survei Deloitte 2025 menganggap sense of purpose penting bagi kepuasan dan kesejahteraan dalam pekerjaan.

Artinya, mereka ingin memperoleh penghasilan, tetapi tidak ingin hidup hanya untuk uang. Mereka menginginkan kesejahteraan sekaligus makna.

Di sinilah paradoks Gen Z menjadi lebih menarik. Financial insecurity dan kebutuhan healing bukanlah dua hal yang selalu bertentangan. Ketidakpastian justru dapat membuat kebutuhan akan jeda, kenyamanan, dan pengalaman positif terasa lebih penting.

Persoalannya muncul ketika pencarian makna diarahkan sepenuhnya melalui konsumsi. Jika keberhasilan diukur melalui pendapatan, popularitas, kepemilikan, penampilan, dan pengalaman yang dapat dipamerkan, sense of purpose berisiko berubah menjadi perlombaan material.

Konsep hedonic adaptation menunjukkan bahwa kepuasan dari pengalaman positif tidak selalu bertahan. Sesuatu yang awalnya istimewa dapat menjadi biasa, sehingga standar “cukup” terus bergeser.

Karena itu, tantangan Gen Z bukan sekadar mengurangi konsumsi, tetapi memperluas sumber makna di luar konsumsi.

Islam: Dari Makna Hidup hingga Keamanan Ekonomi

Islam menawarkan titik berangkat yang berbeda. Manusia tidak didefinisikan berdasarkan apa yang dimiliki, melainkan berdasarkan tujuan kehidupannya.

Allah SWT berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Islam tidak melarang kenikmatan yang halal. Namun, kenikmatan tidak boleh berubah menjadi pemborosan: "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27)

Dengan demikian, kebutuhan emosional diakui, tetapi kebahagiaan tidak harus bergantung pada konsumsi. Dunia boleh dinikmati, tetapi tidak dijadikan tujuan akhir.

Perspektif ini juga membawa financial insecurity dari level individu ke level struktural. Literasi finansial penting, tetapi tidak cukup. Gen Z membutuhkan akses terhadap pekerjaan layak, pendidikan relevan, keterampilan, dan kesempatan ekonomi.

Rasulullah SAW bersabda: “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam perspektif politik-ekonomi Islam, tanggung jawab negara dapat diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya strategis untuk kemaslahatan masyarakat. Sumber daya alam yang termasuk kepemilikan umum tidak semata dilihat sebagai sumber penerimaan, tetapi sebagai aset yang dapat menciptakan nilai tambah dan kesempatan produktif.

Secara teknis, optimalisasi SDA dapat diarahkan pada rantai nilai domestik: mineral dikembangkan melalui industri pengolahan dan manufaktur turunannya; energi diperkuat melalui infrastruktur dan industri pendukung; sektor pertanian, perikanan, dan sumber daya lainnya dikembangkan bersama riset, teknologi, serta hilirisasi.

Dengan demikian, resource rent tidak berhenti pada ekstraksi, tetapi dikonversikan menjadi nilai tambah, industri, keterampilan, dan pekerjaan. Pendidikan vokasional dan pelatihan berbasis kebutuhan industri perlu dihubungkan dengan ekosistem tersebut agar Gen Z tidak sekadar menjadi pencari kerja, tetapi memiliki akses terhadap sektor-sektor produktif yang berkembang.

Healing Boleh, tetapi Makna Tidak Dijual

Gen Z tidak tepat dicap sebagai generasi boros hanya karena membutuhkan healing. Di baliknya terdapat kebutuhan manusiawi untuk beristirahat, dihargai, diterima, dan memiliki ruang untuk bernapas.

Yang perlu dikritisi adalah ketika kebutuhan emosional seluruhnya diterjemahkan menjadi transaksi.

Individu membutuhkan literasi finansial. Masyarakat membutuhkan budaya yang tidak menjadikan gaya hidup sebagai ukuran keberhasilan. Negara membutuhkan tata kelola ekonomi yang menciptakan pekerjaan layak dan kesempatan produktif.

Pada akhirnya, Gen Z tidak membutuhkan lebih banyak produk untuk merasa hidupnya berarti. Mereka membutuhkan ruang untuk bekerja, bertumbuh, berelasi, beribadah, dan membangun masa depan. Sebab tidak semua yang bernilai bisa dikonversikan dengan harga.

Healing boleh. Self-reward boleh. Tetapi sense of purpose tidak seharusnya menjadi sesuatu yang harus dibeli.

Wallahu a'lam bi ash-shawab.