kumparan
5 Des 2018 11:19 WIB

Mencari Solusi Air di Musim Kemarau Berkepanjangan Desa Dangiang

Suara bising Tonggeret memenuhi kawasan Universitas Mataram di siang hari. Volume nadanya begitu keras, seakan-akan getarannya tersebut tak saja ditujukan kepada lawan jenisnya, tetapi juga kepada seluruh makhluk di kota Mataram.
ADVERTISEMENT
Suara Tonggeret seringkali menjadi penanda pergantian musim pada suatu kawasan. Suara nyanyiannya hanya terdengar di ujung musim kemarau, di siang hari, lalu hilang ketika air hujan pertama muncul, yang menandakan musim penghujan telah dimulai.
Namun anehnya, meski kota Mataram sudah berkali-kali diguyur hujan, suara pejantan Tonggeret masih semangat terdengar mencari pasangan. Seakan-akan hujan tak memupus nyanyian musim kemarau.
Berbeda halnya dengan Lombok Utara. Musim kemarau berkepanjangan menyebabkan debu menumpuk tebal, dan warga tak mampu berlama-lama di luar saat memasuki tengah hari.
Musim kemarau berkepanjangan juga mengakibatkan air sangat susah didapat.
Saat tim IZI berkunjung ke suatu penginapan di desa Bayan, resepsionisnya meminta maaf dan menginformasikan bahwa sudah dua bulan mereka tidak mendapatkan asupan air bersih baik dari PAM maupun DAM. Sehingga penginapan tersebut musti membeli air seharga seratus lima puluh ribu per truk.
Hal yang sama terjadi di sekitar Posko IZI berdiri. Di dusun Dangiang Timur, desa Dangiang, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, asupan air DAM habis hanya dalam waktu lima hari. Hari berikutnya kami harus mencari persediaan air di rumah warga lain. Kemudian, kami musti menunggu giliran air DAM di hari Senin malam.
ADVERTISEMENT
Mengingat kebutuhan air yang begitu genting di musim kemarau, di desa Dangiang ini, Inisiatif Zakat Indonesia menyewa jasa Elnusa untuk pengeboran sumur di wilayah tersebut.
Rencananya, pengeboran akan dilakukan di sebuah kebun, dekat Musholla Inisiatif Al Ikhlas berdiri. Kesepakatannya, Elnusa akan melakukan pengeboran hingga mencapai 60 meter ke dalam tanah.
Pada tanggal 19 November kemarin, pengeboran itu dimulai. Belum mencapai tujuh meter, mata bor bertemu bebatuan. Hingga kini pengeboran sumur masih berlangsung.
Rintangan dalam pencarian sumber air ini selalu terkendala bebatuan di dalam tanah, atau pasir yang sudah terurai, sehingga memperlambat proses pengeboran.
Sekiranya sumber air tanah ditemukan, sumur akan diserahkan kepada warga desa untuk keperluan sehari-hari di kala musim kemarau di Lombok Utara.
ADVERTISEMENT
Dzul Ikhsan Relawan untuk Lombok
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan