Konten dari Pengguna

Para Penjaga Sunyi di Puncak Imogiri

Inove Altantio Amin

Inove Altantio Amin

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMY

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inove Altantio Amin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para abdi dalem sedang bercengkerama sembari melihat pengunjung yang berdatangan dari arah bawah anak tangga. Foto: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Para abdi dalem sedang bercengkerama sembari melihat pengunjung yang berdatangan dari arah bawah anak tangga. Foto: Dokumen Pribadi

Kabut pagi masih menggantung di perbukitan Imogiri, ketika gerbang kayu tua di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram perlahan dibuka. Aroma tanah basah bercampur sisa kemenyan menyambut langkah peziarah yang mulai berdatangan. Di balik pintu itu, seorang lelaki bersarung lurik merapikan ikat kepalanya sebelum memutar kunci kuningan berukuran besar.

Ia adalah Bekel Jogo Sukirjo, juru kunci Makam Raja-Raja Imogiri yang akrab disapa Ki Bandung. Selama puluhan tahun, Ki Bandung mengabdikan hidupnya untuk menjaga makam raja-raja Mataram—sebuah tugas yang baginya bukan sekadar pekerjaan, melainkan juga amanah leluhur.

Ia menyebut pagi sebagai waktu yang paling ia sukai untuk membuka gerbang makam. Menurutnya, suasana pagi menghadirkan keheningan yang masih murni, sebelum hiruk-pikuk aktivitas manusia memenuhi ruang dan pikiran.

“Pagi itu waktu paling jujur,” ujar Ki Bandung pelan. “Sunyi belum diganggu banyak pikiran manusia. Biasanya orang yang datang juga masih membawa niat yang bersih, belum banyak dipengaruhi urusan dunia.”

Ki Bandung mulai bertugas sebagai juru kunci sejak usia muda. Peran itu ia warisi dari keluarganya, sebagaimana tradisi yang berlaku di Imogiri. Ia bukan sekadar penjaga pintu, melainkan juga penjaga tata krama, etika, dan nilai budaya yang hidup di kompleks makam.

“Tugas saya bukan cuma membuka pintu,” ujar Ki Bandung sambil mempersilakan pengunjung masuk. “Saya menjaga agar orang yang datang tetap menghormati tempat ini. Ini makam raja-raja, tapi juga ruang spiritual.”

Setiap hari, sebelum matahari sepenuhnya naik, Ki Bandung sudah berada di kompleks makam. Ia memastikan halaman bersih, aturan berpakaian dipatuhi, dan peziarah memahami tata cara ziarah yang benar. Bagi sebagian pengunjung, aturan mengenakan jarik dan kemben terasa merepotkan. Namun bagi Ki Bandung, aturan itu mengandung makna mendalam.

“Kalau manusia datang ke tempat leluhur, dia harus menurunkan egonya. Pakaian adat itu simbol kerendahan hati,” katanya.

Imogiri dan Nilai Keraton

Di balik peran juru kunci, Makam Raja-Raja Imogiri juga tidak bisa dilepaskan dari tradisi Keraton Yogyakarta. Hal itu ditegaskan oleh Asmuri—seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta—yang kerap terlibat dalam ritual dan kegiatan adat di kompleks makam.

Menurut Asmuri, Imogiri adalah perpanjangan nilai keraton di luar tembok istana. Di tempat inilah ajaran tentang tata krama, kesederhanaan, dan kesadaran akan kefanaan manusia dijalankan secara nyata.

Asmuri menegaskan bahwa Makam Raja-Raja Imogiri tidak bisa diposisikan sebagai destinasi wisata pada umumnya. Bagi abdi dalem Keraton Yogyakarta itu, Imogiri merupakan ruang budaya dan spiritual yang menuntut sikap hormat dari setiap orang yang datang.

“Imogiri itu bukan tempat wisata biasa,” ujar Asmuri. “Di sini, manusia diingatkan bahwa setinggi apa pun derajatnya, akhirnya kembali ke tanah. Karena itu, orang seharusnya datang dengan sikap menunduk, bukan sekadar melihat-lihat.”

Tangga menuju kompleks Makam Raja-Raja Imogiri di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ratusan anak tangga ini menjadi jalur ziarah sekaligus simbol perjalanan hidup dalam filosofi Jawa. Foto: Dokumentasi Pribadi

Asmuri menjelaskan bahwa tata ruang makam, posisi gapura, hingga aturan masuk ke area tertentu dirancang dengan filosofi Jawa yang kuat. Setiap anak tangga yang harus dinaiki peziarah melambangkan proses laku hidup tidak selalu mudah, penuh usaha, dan membutuhkan kesabaran.

Ki Bandung menuturkan bahwa suasana di kompleks Makam Raja-Raja Imogiri kerap menjadi cermin bagi kondisi batin para peziarah. Menurutnya, tidak semua orang mampu bertahan lama di tempat yang menuntut ketenangan dan sikap rendah hati.

“Kalau orang datang ke sini sambil marah atau sombong, biasanya tidak betah lama,” katanya sambil tersenyum. “Tempat ini mengajarkan pelan-pelan, tanpa perlu banyak kata. Orang yang datang dengan hati tenang biasanya justru betah duduk lama.”

Ritual yang Terus Dijaga

Pada hari-hari tertentu—terutama menjelang malam satu Suro—kompleks Makam Raja-Raja Imogiri dipenuhi peziarah dari berbagai daerah. Ki Bandung dan para abdi dalem bekerja lebih lama dari biasanya. Mereka memastikan ritual berjalan tertib dan khidmat.

“Kadang hujan deras, kadang angin kencang. Tapi pintu tetap dibuka,” kata Ki Bandung.

Karena bagi sebagian orang, datang ke sini adalah bagian dari ikhtiar batin.”

Suasana Makam Raja-raja Imogiri di Pajimatan, Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul, Selasa (4/11/205). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Ia menolak anggapan bahwa ritual di Imogiri identik dengan hal mistis semata. Menurutnya, yang utama adalah doa dan niat.

“Yang datang ke sini macam-macam. Tapi yang kami jaga adalah ketertiban dan niat baik,” ujarnya.

Suara dari Peziarah

Di salah satu sudut halaman makam, Amin Zainuri duduk bersila, memegang sekantong bunga setaman. Wajahnya tenang, matanya terpejam sesaat sebelum menaburkan bunga di pusara leluhur raja.

Suasana Makam Raja-raja Imogiri di Pajimatan, Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul, Selasa (4/11/205). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Amin datang sebagai peziarah biasa. Ia mengaku rutin berkunjung ke Imogiri setiap tahun, bukan karena memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan, melainkan karena merasa menemukan ketenangan di tempat itu.

“Kalau sudah sampai di sini, rasanya pikiran lebih tertata,” ujar Amin. “Kita diingatkan bahwa hidup itu sementara.”

Bagi Amin, Imogiri bukan sekadar situs sejarah. Ia melihatnya sebagai ruang refleksi, tempat manusia bisa berdialog dengan dirinya sendiri.

“Di luar sana kita sibuk mengejar ini-itu. Di sini, kita diajak diam,” katanya.

Ia menilai peran juru kunci dan abdi dalem sangat penting dalam menjaga suasana itu. “Kalau tidak ada mereka, mungkin tempat ini sudah kehilangan ruhnya.”

Di antara Tradisi dan Zaman

Di luar pagar kompleks makam, kehidupan modern berjalan cepat. Kendaraan lalu-lalang dan warung kopi tumbuh di kawasan Imogiri. Di tengah perubahan itu, para penjaga makam menghadapi tantangan regenerasi.

Ki Bandung mengakui tidak banyak anak muda yang tertarik meneruskan peran sebagai juru kunci. Pekerjaan itu menuntut kesabaran, kedisiplinan, dan kesediaan hidup sederhana.

“Sekarang banyak yang ingin cepat. Padahal menjaga tradisi itu butuh waktu dan ketenangan,” katanya.

Asmuri pun menyampaikan kekhawatiran serupa. Menurutnya, jika generasi muda semakin jauh dari sejarah dan budaya, nilai-nilai yang dijaga di Imogiri bisa perlahan memudar.

“Keraton dan Imogiri itu saling terkait. Kalau salah satunya dilupakan, kita kehilangan sebagian identitas,” ujarnya.

Suasana Makam Raja-raja Imogiri di Pajimatan, Wukirsari, Imogiri, Kabupaten Bantul, Selasa (4/11/205). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Menjelang sore, Ki Bandung kembali berdiri di depan gerbang kayu. Satu per satu pengunjung meninggalkan kompleks makam. Ia menutup pintu dengan gerakan perlahan, seolah tidak ingin mengganggu keheningan yang tersisa.

“Setiap hari saya melakukan ini. Membuka dan menutup. Tapi yang sebenarnya dijaga bukan pintu, melainkan ingatan,” katanya.

Dari puncak Imogiri, sunyi masih bertahan. Di antara batu nisan dan tangga-tangga tua, para penjaga terus merawat warisan yang tidak tertulis di buku, tetapi hidup dalam laku sehari-hari.

Selama masih ada mereka yang setia menjaga sunyi, tradisi itu akan tetap bernapas meski zaman terus berubah.