Memprioritaskan Pembenahan Jalur Ketimbang Kereta Cepat

Insan Ridho Chairuasni
Pekerja Transportasi. Lulusan MSc Transport Planning and Engineering di Newcastle University, Inggris.
Konten dari Pengguna
25 Oktober 2021 7:36 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Insan Ridho Chairuasni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kereta Argo Bromo Anggrek (Foto: Wiki/TyewongX)
zoom-in-whitePerbesar
Kereta Argo Bromo Anggrek (Foto: Wiki/TyewongX)

Kereta Cepat Jakarta Bandung tengah menjadi proyek prioritas pemerintah. Meskipun demikian, peningkatan jalur kereta yang sudah ada perlu diutamakan demi kualitas layanan yang lebih baik.

ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sewaktu kecil, saya bisa jadi termasuk anak yang cengeng. Saya sering merajuk untuk dibelikan mainan baru, seperti mainan kereta. Yang bikin jengkel bagi orang tua saya adalah saya selalu meminta mainan baru meskipun mainan lama saya tidak lawas-lawas amat. Untungnya, ayah saya seringkali berusaha memodifikasi mainan lama saya menjadi lebih bagus. Setelah saya beranjak dewasa, saya sadar bahwa tak selamanya hal baru menjawab masalah yang ada.
ADVERTISEMENT
Beberapa waktu lalu, isu pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung kembali hangat. Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung. Beberapa perubahan yang ada antara lain perpindahan pemimpin proyek dan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pembiayaan proyek.
Isi penggunaan APBN memang menjadi diskusi panas belakangan ini. Akan tetapi, fokus tunggal pemerintah pada kereta cepat juga mengundang pertanyaan. Mengapa kereta cepat perlu didahulukan? Pembenahan layanan transportasi umum termasuk kereta tidak hanya bisa dilakukan dengan pembangunan jalur baru. Perbaikan jalur lama terutama di Pulau Jawa pun dapat menggenjot layanan kereta api lebih matang lagi.
Pertanyaan lanjutan akan muncul: apa hubungan antara revitalisasi jalur kereta di Pulau Jawa dengan Kereta Cepat Jakarta - Bandung? Langkah pembenahan jalur kereta ini akan mengurangi beban jalur pada jaringan rel kereta di Pulau Jawa. Alhasil, jumlah kereta yang beroperasi di berbagai wilayah di Pulau Jawa akan lebih banyak dan cepat. Ini pun jelas akan berpengaruh pada layanan kereta antara ibukota Indonesia dan ibu kota Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
Walaupun pembenahan jalur kereta yang sudah ada tidak seseksi proyek kereta cepat, revitalisasi jalur layak dipertimbangkan lebih jauh. Banyak kelebihan dari pembenahan jalur kereta alih-alih pembangunan jalur kereta baru baik dari segi ekonomi maupun segi transportasi. Apa saja lalu yang perlu dilakukan demi merevitalisasi jalur kereta yang sudah ada agar layanan kereta beroperasi lebih baik?
Peningkatan kecepatan kereta relatif lebih sederhana ketimbang pembangunan kereta cepat. Jalur yang sudah ada bisa digunakan untuk meningkatkan kecepatan. Pembebasan lahan tidak perlu dilakukan secara masif karena jalur kereta sudah tersedia. Walaupun memerlukan tambahan lahan, proses peningkatan kecepatan tidak akan memakan biaya besar. Beberapa langkah bisa dilakukan demi meningkatkan kecepatan operasi kereta.
Salah satu yang bisa dilakukan adalah pembenahan infrastruktur dasar, seperti rel. Tipe rel bisa ditingkatkan dengan jenis rel yang mengakomodasi kecepatan kereta yang lebih tinggi. Contohnya, peningkatan tipe rel dengan berat jenis yang lebih besar dari rel R42 atau R50 ke R54 akan meningkatkan kecepatan kereta hingga 120 km/jam. Performa ini jelas akan mempersingkat waktu tempuh bagi rute-rute kereta yang melewati jalur dengan rel tersebut.
ADVERTISEMENT
Di samping perubahan tipe rel, penambahan jalur menjadi jalur ganda pada sejumlah petak jalan krusial dapat meningkatkan kapasitas jalur. Kapasitas jalur yang berlipat ganda akan menambah jumlah kereta yang dapat melaju pada rute yang sama. Beberapa petak jalan, seperti lintas pantai utara di Pulau Jawa, telah memiliki jalur ganda. Yang perlu ditingkatkan adalah persebaran jalur ganda di berbagai wilayah dan bukan hanya di Pulau Jawa saja.
Berbagai pembenahan yang telah dibahas memang sudah diaplikasikan oleh Kemenhub dan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Pada akhir September lalu, melalui siaran pers resmi di situs web PT KAI, sejumlah kereta telah mengalami peningkatan kecepatan, seperti kereta Argo Bromo Anggrek dan Argo Lawu. Langkah ini tentu layak diapresiasi dengan catatan distribusi lebih lanjut di beberapa wilayah lain termasuk di Pulau Sumatra.
ADVERTISEMENT
Selain kebutuhan modal yang tak besar, percepatan kereta juga akan meningkatkan kompetisi dengan moda transportasi lain. Pesawat sering diadu dengan kereta api jarak jauh terutama di Pulau Jawa. Ini pun terjadi dengan moda transportasi darat lain, seperti bus dan layanan travel. Dengan peningkatan kecepatan kereta, penumpang akan lebih punya banyak alasan untuk memilih kereta api sebagai moda transportasi jarak jauh.
Apabila kita mendedah kelebihan pesawat ketimbang kereta, pesawat memang terasa lebih superior. Durasi perjalanan pesawat jauh lebih singkat, akan tetapi keruwetan sebelum dan setelah naik pesawat juga perlu dipertimbangkan. Tidak semua orang bersedia untuk berangkat ke bandara dan melalui proses yang lebih rumit, seperti boarding dan pengecekan bagasi. Di sisi ini, kereta bisa jadi pilihan yang masuk akal bagi pelancong.
ADVERTISEMENT
Keberadaan jaringan tol di Pulau Jawa juga sempat mengancam potensi kereta jarak jauh. Perjalanan Jakarta - Surabaya kini bisa ditempuh lewat tol dengan waktu kurang lebih 10 jam. Meskipun demikian, durasi perjalanan dengan asal dan tujuan yang sama lewat kereta lebih singkat. Perjalanan dengan menggunakan Argo Bromo Anggrek kini bisa ditempuh kurang dari 9 jam. Hal ini jelas akan mengundang lebih banyak penumpang kereta.
Pada akhir September lalu, PT KAI telah meningkatkan kecepatan operasi sejumlah rute di Pulau Jawa. Kereta dengan rute Gambir - Surabaya Gubeng, misalnya, telah beroperasi lebih cepat dari kecepatan rata-rata 85 km/jam ke 88 km/jam. Peningkatan kecepatan ini mungkin tidak besar dengan 3.5% kenaikan, tetapi durasi bisa dipangkas hingga 70 menit per perjalanan. Capaian ini tentu menarik bagi sebagian pelancong.
ADVERTISEMENT
Segala peningkatan layanan lewat revitalisasi jalur ini sepatutnya menjadikan kereta jarak jauh lebih kompetitif lagi. Sebagian pengguna pesawat bisa mempertimbangkan untuk mencoba kereta jarak jauh begitu pula pengguna transportasi darat lain. Persaingan moda transportasi yang ketat akan menguntungkan bagi pengguna transportasi. Layanan transportasi akan semakin baik seiring dengan kompetisi moda transportasi satu sama lain.
Membangun infrastruktur memang tidak sesederhana membeli mainan. Namun, jika memperbaiki infrastruktur lama bisa berdampak lebih baik ketimbang membangun infrastruktur baru, kita tidak bisa menutup mata. Prioritas kini harus beralih pada merevitalisasi jalur yang sudah ada dibandingkan membangun jalur kereta cepat yang baru. Yang baru mungkin lebih menarik, namun belum tentu lebih baik, bukan?