Konten dari Pengguna

15 Contoh Puisi Hari Guru Nasional yang Menyentuh Hati

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Contoh Puisi Hari Guru Nasional, Pexels/Max Fischer
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Contoh Puisi Hari Guru Nasional, Pexels/Max Fischer

Contoh puisi Hari Guru Nasional menjadi sarana istimewa untuk menyampaikan rasa hormat, cinta, dan apresiasi kepada para guru yang telah memberikan dedikasi luar biasa dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Puisi adalah salah satu bentuk ekspresi yang penuh keindahan, mampu menggambarkan perasaan, dan pikiran dengan bahasa yang menyentuh hati.

Melalui untaian kata yang sederhana tetapi penuh makna, puisi dapat menjadi medium penghargaan bagi para guru yang telah dengan tulus mencurahkan ilmu dan kasih sayang.

Daftar isi

Contoh Puisi Hari Guru Nasional

Ilustrasi Contoh Puisi Hari Guru Nasional, Pexels/fauxels

Berikut adalah beberapa contoh puisi Hari Guru Nasional yang menyentuh hati.

1. Guru Adalah Puisi

Contoh ini diambil dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:12-13).

Oleh: Herman Supratikto

sajak terakhir sebelum purna

Guru adalah puisi

yang menabur fonem di taman edukasi pada muridnya

dan membiarkan mereka merangkainya jadi kata.

Guru adalah puisi

yang menabur diksi di ruang-ruang literasi

yang membiarkan mereka bermain makna dari kamus,

ensiklopedi

sampai mereka menemukan arti jati diri.

Guru adalah puisi

yang tak bisa diganti dengan genre teknologi.

Karena dalam hidup ada cipta

maka bebaskan mereka melukiskan mimpinya.

Karena dalam hidup ada rasa

maka etikabilitas mesti dibangun setinggi Burj Khalifa,

Karena dalam hidup ada karsa

maka biarkan kehendak mereka mengangkasa merajut kodrat diri

tanpa anomali.

Guru adalah puisi

yang bisa melukis gerimis di sela pancaroba.

Melembabkan tanah, menabur benih

merebakkan tunas ke taman-taman kota.

Guru adalah puisi

Yang pada masanya akan selalu dibaca

bagi murid-muridnya.

Guru adalah puisi

Yang ikut melukis kanvas dengan kata

pada seribu kusuma bangsa.

2. Lelahmu Lillah

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:14),

Oleh: Bunda Azki

Saat mentari menyembul secercah asa

Kau ayun seluruh jiwa raga

Rela tinggalkan sanak keluarga

Hingga lembayung senja menjelma

Segenggam asa kau kumpulkan

Meniti jalanan terjal bebatuan

Demi kami yang selalu merindukan

Duduk bersama mengisi kekosongan

Gubahan syair indah nan merdu

Tertulis rapi dalam partitur lagu

Ucapan rasa terima kasih guru

Tak sanggup mengganti semangat juangmu

Ungkapan syukur yang tak terukur

Bangga dan cinta semakin tercampur

Meraki rasa hingga rindu melebur

Untukmu wahai guru sang pelipur

3. Terimakasih Guru

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:18).

Oleh: Masrifa

Guru orang tua keduaku

Disekolah dia mengajarkan sopan santun kepada ku

Menasehati baik dan buruk suatu hal

Aku pergi mencari ilmu

Dia memberi ku cinta dan ilmu

Dia adalah pelita di hidupu

Tak pernah lelah di hadapan ku

Kau sembunyikan wajah lelah sedihmu

Seolah kau bahagia selalu

Kata-katamu penuh candu

Ku resapi dan kan kuingat selalu

Terimakasih atas semua pengorbanan mu

Terima kasih atas semua jasa mu

Jasa mu tak terukur

Kan selalu kukenang seumur hidup ku

4. Sang Guru

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:111).

Oleh: Ita El Islam

Mereka terlahir kerana hati nurani

Membuat takdir sendiri menjadi panutan Bestari

Siapa yang mau bersusah payah mengajar dan

membimbing

Insan yang buta huruf, buta adab, buta ilmu?

Jika bukan kerana panggilan jiwa,

Guna membentuk sang widyantara

Tuhan mencipta kata, dan merekalah washilah-Nya

Sebab manusia butuh teladan

Sebab manusia terkadang melalaikan

Sebab manusia butuh arahan

Dari siapa? Dari mana?

Dari yang disebut dengan “Sang Guru”

Pelita di tengah kelamnya bawana

Pahlawan tanpa tanda jasa

5. Tanpa Tanda Jasa

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:115).

Oleh: Akbal Marfianda

Guru…

Tiada hari tanpa semangat

Tiada henti bergegas melihat jam di pagi hari

Engkau melangkah kakimu ke sekolah

Engkau selalu datang walau hujan menimpa

Engkau datang dengan wajah yang senyuman

Murid mu penuh salah tetapi engkau tetap berlemah

lembut

Murid mu berkelakuan tetapi engkau tetap mentransfer ilmu mu

Guru…

Engkau seorang pahlawan

Engkau seorang orang tua

Tiada yang dapat membalas jasa mu

Dari kecil hingga besar engkau mengajari kami

Dari hal yang kami tidak tahu menjadi tahu

Betapa banyak ilmu mu yang sudah serap

Betapa banyak ilmu mu yang sudah kami amalkan

Betapa banyak ilmu mu yang sudah kamu berikan kepada orang lain

Sungguh pahala akan terus mengalir

Walau kamu sudah tiada

Surga firdaus menantimu di akhirat kelak

6. Museum Aksara

Contoh puisi Hari Guru Nasional ini diambil dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:114).

Oleh: Achmad Hilman Zidni Fikri

Di suatu museum

Senyumanmu sangatlah menggebu

Tetapi

Wajahmu tirus seperti tisu

Karna kau selalu memikirkan bagaimana nasib anakmu

Pengetahuan yang kau berikan

Menjadi pelajaran bagiku

Pengalaman yang kau berikan

Membuatku tersipu malu

Kau menjadi tauladan bagi seluruh anakmu

Kau adalah superhero yang menyelamatkan nasib anakmu

Kau bagaikan penyelamat anak-anakmu

Terimakasih atas semua yang kau berikan

Kepada seluruh anakmu

Semoga keringat dan susah payahmu dalam mendidik kami

Menjadi pahala bagi dirimu wahai guruku

7. Lentera Kehidupan

Contoh ini diambil dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:117).

Oleh: Aleva Riszky Sudrajat

Ruang hampa tanpa isi

Yang diselimuti kesunyian

Ruang hampa yang kian berisi

Kini mengucapkan terimakasih

Ketika ketakutan melanda

Kau ulurkan tangan

Ketika menghilang jalan dihadapan ku

Kau kembalikan aku kejalan yang ku tuju

Letih, letih yang terbayarkan

Oleh kabar kesuksesan

Begitu sederhana untuk mu

Wahai lentara ku, guru ku……

8. Guru Hebat, Indonesia Kuat

Contoh ini dikutip dari situs homeschooling-hspg.sch.id.

Engkau tiang dari bangsa yang kokoh,

Mengajarkan nilai di setiap detak waktu,

Dalam kelas kecil yang menjadi saksi,

Impian besar mulai tumbuh dan beradu.

Guru hebat, engkau pahlawan tak bersenjata,

Namun perjuanganmu membentuk peradaban,

Tak kenal lelah mendidik dan memupuk cita,

Menjadikan kami generasi harapan.

Di balik senyummu yang sederhana,

Ada tekad yang tak pernah menyerah,

Kau tanamkan keberanian dalam jiwa,

Agar kami mampu menaklukkan dunia.

Hari ini kami persembahkan rasa hormat,

Untuk semua cinta dan pengorbananmu,

Guru hebat, Indonesia kuat,

Namamu terukir abadi dalam sejarah waktu.

9. Bintang dalam Kegelapan

Contoh ini dikutip dari situs homeschooling-hspg.sch.id.

Guru, engkaulah bintang kami,

Di langit gelap, engkau bersinar terang,

Menghiasi malam dengan ilmu dan arti,

Memberi harapan di hati yang bimbang.

Tiap langkahmu adalah hikmah,

Setiap teguranmu adalah kasih sayang,

Kau tak pernah lelah mendengar,

Meski beban dunia di pundakmu terhampar.

Kami mungkin belum sempurna memahami,

Betapa besar pengorbananmu yang tulus,

Namun satu hal yang kami pastikan kini,

Namamu akan terus kami sebut dengan tulus.

Selamat Hari Guru, wahai pelita bangsa,

Doa kami untukmu takkan pernah usai,

Semoga hidupmu dilimpahi bahagia,

Sebagaimana engkau telah membuat kami percaya.

10. Sang Pelita Dalam Kegundahan

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:153-154).

Oleh: Wirda Thifal

Oh pelitaku…

Di saat jalan begitu muak dihadapi

Engkau menghampiri daku dengan ikhlas hati

Disaat suatu kata terasa sesak dalam dada

Engkau mengobati daku dengan penuh nada

Oh pelitaku…

Engkau bagaikan lukisan indah yang terngiang dalam

benakku

Menerangi daku dalam kesesatan serta menutupi segala

luka

Walau dilapisi dengan bertubi kelelahan

Engkau tak pernah runtuh menerangi daku

Oh pelitaku…

Walau daku hanya seorang fakir

Walau daku berada dalam kegelapan yang pekat

Engkau muncul bak bidadari tak bersayap membimbing

daku

Walau badai menerjang sekalipun

Engkau tak letih meninggikan daku

Oh pelitaku…

Ribuan kata terima kasih daku ucapkan dalam lubuk hati

terdalam

Keringat yang membasahi kulitmu menjadi saksi

Bahwa semangat juang dalam menuntut ilmu tidak

pernah terhenti

Ribuan jasamu yang tak terhingga itu kan tersimpan tulus

dalam hati ini

11. Mengabdi Tanpa Henti

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:19).

Oleh: Mudmainah, S.Pd.SD

Dalam sunyi kuriuhkan pinta sepenuh hati

Agar beban mengabdi tak lagi menjadi perih

Dalam sepi kuteriakkan cinta segenap asa

Bukan karena ingin mengais nama

Tapi, demi putra-putri bangsa nan berharga

Mencoba berdamai dengan gemuruh isi kepala

Kebijakan silih berganti seiring pergantian purnama

Sedikit celah saja kami menjadi tersangka

Namun kami tidak goyah

Tawa mereka memberi napas panjang di setiap dahaga

Sejenak mengistirahatkan raga

Duduk bersama ilalang dan bebatuan

Meskipun mata ini terpejam

Dalam benak berkata

“Apa kabar mereka?”

12. Secercah Asa

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:186)

Oleh: Annisa’ Kurniati

Kala mereka tak elok pekerti

Kala mereka tak cakap budi

Kala mereka tak santun tutur kata

Kala mereka tak cerah jiwa

Janganlah tanya salah siapa

Janganlah tanya tanggung jawab siapa

Jangan tuntut mereka tuk sempurna

Jangan tuntut pula tuk jelma jadi dewa

Mari beri teladan

Mari tuntun tuk beri harapan

Mari dorong tuk raih impian

Tuk secercah asa

Yang penuh makna

Demi mereka raih merdeka

Demi mereka raih bahagia

Demi jadikan manusia seutuhnya

Demi generasi emas Indonesia

13. Abdi Mulia

Contoh ini diambil dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:136).

Oleh: Nurul Fajriah Nasution

Tetesan keringat mengalir dari dahimu

Entah berapa jam sudah kau tahan peluh itu

Meski kau sembunyikan dengan tameng ceriamu

Aku, muridmu memahamimu

Berkilometer kau tinggalkan suami dan anak

Berhari-hari hidup berjauhan dengan penuh renjana

Aku tau ini tak mudah untukmu

Demi pengabdian mulia engkau patuh

Guruku, maafkan aku

Yang tak pernah menghargai perjuanganmu

Yang tak mengindahkan petuahmu

Yang tak mengerti niat tulusmu

Guruku, kelak izinkan aku bersaksi untukmu

Atas semua wiyata dan ketulusan didikanmu

Gelar pahlawan tanpa tanda jasa layak kau pangku

Apresiasi tertinggi atas keluhuranmu

14. Guru

Contoh ini diambil dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:109-110).

Oleh: Giyanti Indranarmi, S.Pd

Ada langkah kaki yang terus maju

Menapaki hari demi hari

Dan detik demi detik yang terus bergulir

Menyongsong sebuah asa yang telah ter-eja

Engkau hadir sebagai penerang dalam kegelapan

Menerangi setiap sudut pandangan dan ruang hati

Tiada lelah kehangatan dan kasihmu

Selalu membelai dan menuntun pada sebuah impian

Kau bukakan pintu dan jendela dunia

Lewat ilmu yang engkau berikan

Wahai guru,

Kau buka tabir untuk estafet dari generasi ke generasi

Ada banyak hal yang kau berikan

Dalam membekali langkah-langkah anak negeri

Senyum dan doamu adalah sebuah semangat

Bagi pejuang-pejuang era globalisasi

Untuk meraih cita-cita dan harapan Ibu pertiwi

Tiada pernah surut langkahmu

Walau penuh dan lelah menggelayut di ragamu

Segala hal kau persembahkan demi sebuah perjuangan

Yah,

Perjuangan untuk mencerdaskan anak bangsa

Wahai Guru, Hadirmu bagai sang bagaskara

Yang mampu menerangi luasnya cakrawala

Memberi sinaran dan kehidupan

Bagi gulitanya dunia,

Kehadiranmu bagaikan setetes embun pagi

Yang mampu menyejukkan hati

Bagi kami yang terkungkung oleh kebodohan

15. Menghajar Andragogi

Contoh ini dikutip dari buku Selamat Hari Guru, Vania Kharizma Satriawan, dkk, (2023:17)

Oleh: Shofiyah

Di batas yang mengenal andragogi

Meski penuh gerogi menggerogoti

Katanya, dulu abjad di papan berkapur itu hanya cekokan

Tanpa dibilas langsung untuk apa selanjutnya?

Demikian suara-suara masih terekam jelas

Sayup begitu nahas dan papa meski nilai rapor

pada masanya nyentrik

Sebagai trik agar anak didik bergelar ijazah

Tapi, tahukah kau?

Pelajaran paling diminati oleh putra bangsa kali ini?

Ialah berita perebutan kasta

Demi menguar cuan-cuan berlogika

Memasung pikiran sendiri

Mengingat harmoni caci orang lain

Berupa tindak kekejaman

Tiada usai

: cyberbullying

Seakan-akan melupakan peran orang tua-pengganti

Di bangku pendidikan

Demikianlah beberapa contoh puisi Hari Guru Nasional. Selamat Hari Guru Nasional! (Mey)

Baca juga: 10 Contoh Surat untuk Hari Guru yang Menyentuh Hati dan Berkesan