15 Puisi Sapardi tentang Cinta, Manis dan Romantis

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sapardi Djoko Damono adalah salah satu penyair Indonesia yang legendaris. Berbagai karyanya sangatlah indah, termasuk puisi Sapardi tentang cinta. Puisi yang dituliskannya berisi kata-kata manis nan romantis yang menyentuh hati.
Kehebatan Sapardi Djoko Damono dalam menulis puisi sudah tidak perlu diragukan lagi. Berbagai karya puisinya sangat menggugah hati orang-orang yang membacanya. Tidak heran jika diakui sebagai legenda sastra di Indonesia.
Sapardi juga telah menulis berbagai karya yang dibukukan. Sebagian besar karyanya merupakan kumpulan puisi yang telah ditulis sejak tahun 1960-an. Bahkan hingga 2020, ia tidak pernah berhenti menulis dan banyak karyanya yang bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono
Sebelum membahas berbagai karya puisinya yang indah, ada baiknya mengetahui sekilas tentang profil dari Sapardi Djoko Damono untuk lebih mengenal sosok sastrawan satu ini. Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Maret 1940.
Ia berasal dari Solo, tepatnya di Desa Ngadijayan sebagaimana dikutip dari situs resmi ensiklopedia.kemdikbud.go.id. Tidak hanya terkenal sebagai penyair, Sapardi yang kerap disapa SDD ini juga merupakan seorang dosen, pengamat sastra, pakar sastra, dan kritikus sastra.
Sapardi menjalani pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) Kraton “Kasatriyan” di Solo dan melanjutkannya di SMP Negeri II Solo. Seusai menamatkan pendidikannya di tingkat SMA, ia kuliah di Universitas Gadjah Mada, tepatnya di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Jurusan Sastra Inggris.
Sapardi juga sempat memperdalam wawasannya seputar humanities di salah satu universitas di Amerika Serikat, yaitu University of Hawaii di sekitar tahun 1970-1971. Kemudian pada tahun 1989, ia mendapatkan gelar doktor dalam ilmu sastra.
Tidak berhenti di situ, Sapardi juga dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia pada tahun 1989. Ia sempat beberapa kali bekerja sebagai dosen tetap di berbagai universitas, termasuk di Universitas Indonesia sejak tahun 1974.
Sapardi Djoko Damono memiliki peranan penting dalam kehidupan sastra Indonesia. Dikatakan bahwa Sapardi merupakan seorang cendekiawan muda yang terlihat perkembangan jelasnya dalam menulis puisi. Ia menjadi penyair yang kreatif dan orisinil.
Sapardi tidak hanya telah menuliskan banyak karya terbaik, ia juga sempat menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Hasil terjemahan tersebut seperti Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway) dan Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra, Eugene O'Neill).
Berbagai penghargaan pernah diraih Sapardi. Mulai dari mendapat Hadiah Majalah Basis di tahun 1963 atas puisi berjudul “Ballada Matinya Seorang Pemberontak”, hingga penghargaan Khatulistiwa Award di tahun 2004.
15 Puisi Sapardi tentang Cinta yang Menyentuh Hati
Berbagai karya Sapardi Djoko Damono menjadi hal yang menarik untuk diketahui. Apalagi puisi hasil karyanya banyak yang menyentuh hati. Bagi yang penasaran apa saja puisi yang pernah ia tulis, inilah deretan puisi Sapardi tentang cinta, yang manis dan romantis.
1. Dalam Doaku
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
dalam magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun jauh di sana,
bersijingkat di jalan kecil itu,
menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh- nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
aku mencintaimu,
itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu
2. Tentu. Kau Boleh
Tentu. Kau boleh mengalir di sela-sela butir darahku,
keluar masuk dinding-dinding jantungku,
menyapa setiap sel tubuhku.
Tetapi jangan sekali-kali pura-pura bertanya kapan boleh pergi
atau seenaknya melupakan percintaan ini
Sampai huruf terakhir sajak ini,
Kau-lah yang harus bertanggung jawab atas air mataku.
3. Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
4. Sajak-sajak Kecil tentang Cinta
Mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
mencintai-Mu
harus menjelma aku
5. Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.
6. Gerimis Jatuh
Gerimis jatuh kau dengar suara di pintu
Bayang-bayang angin berdiri di depanmu
Tak usah kau ucapkan apa-apa; seribu kata
Menjelma malam, tak ada yang di sana
Tak usah; kata membeku,
Detik meruncing di ujung sepi itu
Menggelincir jatuh
Waktu kaututup pintu.
Belum teduh dukamu.
7. Sementara Kita Saling Berbisik
Sementara kita saling berbisik
untuk lebih lama tinggal
pada debu, cinta yang tinggal berupa
bunga kertas dan lintasan angka-angka
ketika kita saling berbisik
di luar semakin sengit malam hari
memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa
unggun api
sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.
8. Dalam Diriku
Dalam diriku mengalir sungai panjang
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah
Aku menangis sepuas-puasnya.
9. Sajak Putih
Beribu saat dalam kenangan
Surut perlahan
Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh
Sewaktu detik pun jatuh
Kita dengar bumi yang tua dalam setia
Kasih tanpa suara
Sewaktu bayang-bayang kita memanjang
Mengabur batas ruang
Kita pun bisu tersekat dalam pesona
Sewaktu ia pun memanggil-manggil
Sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil
Di luar cuaca
10. Akulah Si Telaga
Akulah si telaga:
berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
perahumu biar aku yang menjaganya.
11. Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.
12. Duka-Mu Abadi
Dukamu adalah dukaku.
Air matamu adalah air mataku
Kesedihan abadimu
Membuat bahagiamu sirna
Hingga ke akhir tirai hidupmu
Dukamu tetap abadi.
Bagaimana bisa aku terokai perjalanan hidup ini
Berbekalkan sejuta dukamu
Mengiringi setiap langkahku
Menguji semangat jituku
Karena dukamu adalah dukaku
Abadi dalam duniaku!
Namun dia datang
Meruntuhkan segala penjara rasa
Membebaskan aku dari derita ini
Dukamu menjadi sejarah silam
Dasarnya 'ku jadikan asas
Membangunkan semangat baru
Biar dukamu itu adalah dukaku
Tidakanku biarkan ia menjadi pemusnahku!
13. Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
14. Sajak Tafsir
Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu.
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin.
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu.
Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam.
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja — aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.
15. Kenangan
Ia meletakkan kenangannya
dengan sangat hati-hati
di laci meja dan menguncinya
memasukkan anak kunci ke saku celana
yang sudah sangat lama hapus
dari peta yang pernah digambarnya
pada suatu musim layang-layang
Tak didengarnya lagi
suara air mulai mendidih
di laci yang rapat terkunci.
Ia telah meletakkan hidupnya
di antara tanda petik
Baca juga: 4 Kumpulan Puisi Tentang Pertemanan Sejati
Itu dia berbagai puisi Sapardi tentang cinta yang tidak hanya manis dan romantis, tetapi juga menyentuh hati. Setiap bait puisinya menggambarkan perasaan terdalam yang ada dalam diri dan berhasil menyentuh perasaan orang-orang yang membacanya. (PRI)
