Konten dari Pengguna

15 Puisi Sapardi tentang Cinta, Manis dan Romantis

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi Sapardi tentang cinta, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/Rima Kruciene
zoom-in-whitePerbesar
Puisi Sapardi tentang cinta, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/Rima Kruciene

Sapardi Djoko Damono adalah salah satu penyair Indonesia yang legendaris. Berbagai karyanya sangatlah indah, termasuk puisi Sapardi tentang cinta. Puisi yang dituliskannya berisi kata-kata manis nan romantis yang menyentuh hati.

Kehebatan Sapardi Djoko Damono dalam menulis puisi sudah tidak perlu diragukan lagi. Berbagai karya puisinya sangat menggugah hati orang-orang yang membacanya. Tidak heran jika diakui sebagai legenda sastra di Indonesia.

Sapardi juga telah menulis berbagai karya yang dibukukan. Sebagian besar karyanya merupakan kumpulan puisi yang telah ditulis sejak tahun 1960-an. Bahkan hingga 2020, ia tidak pernah berhenti menulis dan banyak karyanya yang bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Daftar isi

Sekilas tentang Sapardi Djoko Damono

Puisi Sapardi tentang cinta, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/Aaron Burden

Sebelum membahas berbagai karya puisinya yang indah, ada baiknya mengetahui sekilas tentang profil dari Sapardi Djoko Damono untuk lebih mengenal sosok sastrawan satu ini. Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Maret 1940.

Ia berasal dari Solo, tepatnya di Desa Ngadijayan sebagaimana dikutip dari situs resmi ensiklopedia.kemdikbud.go.id. Tidak hanya terkenal sebagai penyair, Sapardi yang kerap disapa SDD ini juga merupakan seorang dosen, pengamat sastra, pakar sastra, dan kritikus sastra.

Sapardi menjalani pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) Kraton “Kasatriyan” di Solo dan melanjutkannya di SMP Negeri II Solo. Seusai menamatkan pendidikannya di tingkat SMA, ia kuliah di Universitas Gadjah Mada, tepatnya di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Jurusan Sastra Inggris.

Sapardi juga sempat memperdalam wawasannya seputar humanities di salah satu universitas di Amerika Serikat, yaitu University of Hawaii di sekitar tahun 1970-1971. Kemudian pada tahun 1989, ia mendapatkan gelar doktor dalam ilmu sastra.

Tidak berhenti di situ, Sapardi juga dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia pada tahun 1989. Ia sempat beberapa kali bekerja sebagai dosen tetap di berbagai universitas, termasuk di Universitas Indonesia sejak tahun 1974.

Sapardi Djoko Damono memiliki peranan penting dalam kehidupan sastra Indonesia. Dikatakan bahwa Sapardi merupakan seorang cendekiawan muda yang terlihat perkembangan jelasnya dalam menulis puisi. Ia menjadi penyair yang kreatif dan orisinil.

Sapardi tidak hanya telah menuliskan banyak karya terbaik, ia juga sempat menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Hasil terjemahan tersebut seperti Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway) dan Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra, Eugene O'Neill).

Berbagai penghargaan pernah diraih Sapardi. Mulai dari mendapat Hadiah Majalah Basis di tahun 1963 atas puisi berjudul “Ballada Matinya Seorang Pemberontak”, hingga penghargaan Khatulistiwa Award di tahun 2004.

15 Puisi Sapardi tentang Cinta yang Menyentuh Hati

Puisi Sapardi tentang cinta, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/Thought Catalog

Berbagai karya Sapardi Djoko Damono menjadi hal yang menarik untuk diketahui. Apalagi puisi hasil karyanya banyak yang menyentuh hati. Bagi yang penasaran apa saja puisi yang pernah ia tulis, inilah deretan puisi Sapardi tentang cinta, yang manis dan romantis.

1. Dalam Doaku

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja

yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,

yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

dalam magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun jauh di sana,

bersijingkat di jalan kecil itu,

menyusup di celah-celah jendela dan pintu,

dan menyentuh- nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,

yang setia mengusut rahasia demi rahasia,

yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu,

itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu

2. Tentu. Kau Boleh

Tentu. Kau boleh mengalir di sela-sela butir darahku,

keluar masuk dinding-dinding jantungku,

menyapa setiap sel tubuhku.

Tetapi jangan sekali-kali pura-pura bertanya kapan boleh pergi

atau seenaknya melupakan percintaan ini

Sampai huruf terakhir sajak ini,

Kau-lah yang harus bertanggung jawab atas air mataku.

3. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

4. Sajak-sajak Kecil tentang Cinta

Mencintai angin

harus menjadi siut

mencintai air

harus menjadi ricik

mencintai gunung

harus menjadi terjal

mencintai api

harus menjadi jilat

mencintai cakrawala

harus menebas jarak

mencintai-Mu

harus menjelma aku

5. Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti

jasadku tak akan ada lagi,

tapi dalam bait-bait sajak ini,

kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,

suaraku tak terdengar lagi,

tapi di antara larik-larik sajak ini.

kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,

impianku pun tak dikenal lagi,

namun di sela-sela huruf sajak ini,

kau tak akan letih-letihnya kucari.

6. Gerimis Jatuh

Gerimis jatuh kau dengar suara di pintu

Bayang-bayang angin berdiri di depanmu

Tak usah kau ucapkan apa-apa; seribu kata

Menjelma malam, tak ada yang di sana

Tak usah; kata membeku,

Detik meruncing di ujung sepi itu

Menggelincir jatuh

Waktu kaututup pintu.

Belum teduh dukamu.

7. Sementara Kita Saling Berbisik

Sementara kita saling berbisik

untuk lebih lama tinggal

pada debu, cinta yang tinggal berupa

bunga kertas dan lintasan angka-angka

ketika kita saling berbisik

di luar semakin sengit malam hari

memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa

unggun api

sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.

8. Dalam Diriku

Dalam diriku mengalir sungai panjang

Darah namanya;

Dalam diriku menggenang telaga darah

Sukma namanya;

Dalam diriku meriak gelombang sukma

Hidup namanya!

Dan karena hidup itu indah

Aku menangis sepuas-puasnya.

9. Sajak Putih

Beribu saat dalam kenangan

Surut perlahan

Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh

Sewaktu detik pun jatuh

Kita dengar bumi yang tua dalam setia

Kasih tanpa suara

Sewaktu bayang-bayang kita memanjang

Mengabur batas ruang

Kita pun bisu tersekat dalam pesona

Sewaktu ia pun memanggil-manggil

Sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil

Di luar cuaca

10. Akulah Si Telaga

Akulah si telaga:

berlayarlah di atasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil

yang menggerakkan bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja

perahumu biar aku yang menjaganya.

11. Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu.

Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

12. Duka-Mu Abadi

Dukamu adalah dukaku.

Air matamu adalah air mataku

Kesedihan abadimu

Membuat bahagiamu sirna

Hingga ke akhir tirai hidupmu

Dukamu tetap abadi.

Bagaimana bisa aku terokai perjalanan hidup ini

Berbekalkan sejuta dukamu

Mengiringi setiap langkahku

Menguji semangat jituku

Karena dukamu adalah dukaku

Abadi dalam duniaku!

Namun dia datang

Meruntuhkan segala penjara rasa

Membebaskan aku dari derita ini

Dukamu menjadi sejarah silam

Dasarnya 'ku jadikan asas

Membangunkan semangat baru

Biar dukamu itu adalah dukaku

Tidakanku biarkan ia menjadi pemusnahku!

13. Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

14. Sajak Tafsir

Kau bilang aku burung?

Jangan sekali-kali berkhianat

kepada sungai, ladang, dan batu.

Aku selembar daun terakhir

yang mencoba bertahan di ranting

yang membenci angin.

Aku tidak suka membayangkan

keindahan kelebat diriku

yang memimpikan tanah,

tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku

ke dalam bahasa abu.

Tolong tafsirkan aku

sebagai daun terakhir

agar suara angin yang meninabobokan

ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat

untuk bisa lebih lama bersamamu.

Tolong ciptakan makna bagiku,

apa saja — aku selembar daun terakhir

yang ingin menyaksikanmu bahagia

ketika sore tiba.

15. Kenangan

Ia meletakkan kenangannya

dengan sangat hati-hati

di laci meja dan menguncinya

memasukkan anak kunci ke saku celana

yang sudah sangat lama hapus

dari peta yang pernah digambarnya

pada suatu musim layang-layang

Tak didengarnya lagi

suara air mulai mendidih

di laci yang rapat terkunci.

Ia telah meletakkan hidupnya

di antara tanda petik

Baca juga: 4 Kumpulan Puisi Tentang Pertemanan Sejati

Itu dia berbagai puisi Sapardi tentang cinta yang tidak hanya manis dan romantis, tetapi juga menyentuh hati. Setiap bait puisinya menggambarkan perasaan terdalam yang ada dalam diri dan berhasil menyentuh perasaan orang-orang yang membacanya. (PRI)