3 Contoh Puisi Sedih tentang Kehidupan

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kita sedang sedih tentang apapun, sering kali kita ingin mendengar lagu atau membaca tulisan yang sesuai sedang keadaan sekarang. Salah satunya membaca puisi sedih tentang kehidupan. Sebab, setelah membacanya bisa membuat kita menjadi lega dan tahu ternyata kita tidak sendirian mengalaminya.
Puisi Sedih tentang Kehidupan
Membaca puisi tentang kehidupan kadang bisa juga membuat air mata mengalir, turut merasakan kesedihannya. Tapi bisa juga membuat perasaan sesak menjadi berkurang setelahnya.
Berikut ini 3 contoh puisi sedih tentang kehidupan yang mungkin cocok dengan kondisimu saat ini. Puisi-puisi ini disadur dari Buku Kekasihku, Kumpulan Puisi Karya Joko Pinurbo, 2004:
1. Tiada
Tiada pengembara yang tak merindukan sebuah rumah
Bahkan jika rumahnya hanya ada di balik iklan yang ia baca di perjalanan
Tiada rumah yang tidak merindukan seorang ibu yang murah berkah
Bahkan jika ibu tinggal ada di bingkai foto yang mulai kusam
Lebih baik punya ibu daripada punya rumah
Kata temanku yang rumahnya konon baru enam sementara sosok ibunya belum ditemukan
Ya lebih baik punya keduanya, kata saya
Dan entah mengapa air matanya leleh perlahan
2. Pacar Senja
Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai
Pantai sudah sepi dan tak aka nada yang peduli
Pacar senja sangat pendiam : ia senyum-senyum saja mendengar gurauan senja
Bila senja minta peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu
“Nanti saja kalau sudah gelap, malu dilihat lanskap”
Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya
Tak terasa senyap pun tiba : senja tahu-tahu melengos ke cakrawala
Meninggalkan pacar senja yang megap-megap oleh ciuman senja
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat kurapikan lagi waktu? Betapa Lekas cium menjadi bekas. Betapa curangnya rindu. Awas, akan kupeluk habis kau esok hari”
Pantai telah gelap
Ada yang tak bisa lelap
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak
3. Baju Bulan
Bulan, aku mau lebaran
Aku ingin baju baru tapi tak punya uang
Ibuku entah di mana sekarang, sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu : kok masih ada yang membutuhkan bajunya yang kuno di antara begitu banyal warna-warni baju buatan
Bulan mencopot bajunya yang keperakan
Mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat menangis di persimpangan jalan.
Bulan sendiri rela telanjang di langit
Atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang
Itulah 3 contoh puisi tentang kehidupan karya Joko Pinurbo. Apakah kamu bisa merasakan setiap kesedihan dalam puisi tersebut? Atau bisa jadi begitulah gambaran perasaanmu saat ini? Jika iya, tak apa, ambilah waktu rehat sejenak, ya.(Dyan)
