3 Puisi Hujan Sedih yang Mengharukan

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Turunnya hujan dari langit biasanya membuat perasaan menjadi sedih. Kamu akan terbawa dengan kenangan yang pernah terjadi. Hujan adalah rahmat Allah SWT yang membawa keberkahan. Jadi kita patut untuk bersyukur. Terkadang saat hujan turun, kita akan terbawa suasana. Membaca puisi hujan sedih dapat membuat hati terharu, bahagia, ataupun sedih.
Bagi sebagian orang, hujan juga bisa menjadi momen yang ditunggu seseorang untuk memunculkan ide-ide. Ide itu bisa berupa tulisan atau kegiatan. Karena hujan memang bisa memecah suasana yang sedang ataupun akan berlangsung.
Dikutip dalam buku Think Smart Bahasa Indonesia karya Ismail Kusmayadi (2008: 61), puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pekosentrasian struktur fisik dan batinnya.
Puisi memiliki banyak sekali jenisnya. Antara lain puisi lama, modern, dan kontemporer. Puisi lama berupa pantun, syair, talibun, mantra dan gurindam. Sedangkan jenis-jenis puisi modern berupa puisi naratif, puisi lirik dan puisi deskriptif. Puisi modern biasa disebut puisi bebas, karena tidak terikat oleh rima, jumlah baris dan lain sebagainya.
Secara umum, puisi memiliki ciri-ciri:
Dalam menulisnya terdiri dari bait yang dalamnya berisi baris-baris.
Banyak menggunakan majas yang bermakna kiasan.
Terikat oleh persajakan irama dan rima.
Simak 3 contoh puisi hujan sedih yang dapat membuatmu terharu biru.
Puisi Hujan Sedih
Dikutip dalam buku Pujangga Hujan: Teori dan Apresiasi Puisi karya Roy Sari Milda (2014: 13), berikut puisi hujan yang sedih dan mengharukan:
1. Senja dipelabuhan kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal angkanan. Tiada bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba diujung dan dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(Chairil Anwar)
2. Dikutip dalam buku Bait Kisah di Musim Hujan: Antalogi Puisi karya Tim Antologi Puisi BKMH (2020:162), berikut puisinya:
Rerintik Kenangan
(Lana Khairani)
Aku terpekur di sudut ruang gelap,
dari celah jendela udara dingin masuk merayap.
Diri ini masih betah bertahtahkan senyap.
Di lubuk hati masih membuncah secercah harap
Diluar rerintik hujan menerpa kaca jendela,
perlahan air merembes dari sela cela terbuka.
Begitupun dengan diriku ini yang dibanjiri air mata
Hujan seolah selalu mengantar asa,
tiap rintiknya mengundang tangis tanpa suara
Mendung ini mengingatkanku akan
tatapan sendu, matamu seolah selalu mengutarakan rindu
Ku bilang merindumu manis bagaikan candu,
nyatanya pahit bak menelan empedu
Sekali lagi seumpama rerintik hujan
yang menyegarkan tanaman
Hadirmu seolah mengguyur hati
yang telah lama kekeringan
Hujan selalu turun bersama sejuta kenangan
Namun hujan juga tak selamanya terlukis indah,
kerapkali ia mengantarkan segelintir resah
Seperti kepergianmu yang tak sempat ku cegah
Tau-tau kau sudah pergi jauh melangkah,
aku hanya bisa menatap dengan pasrah
Setega itu kau membuatku terluka parah?
Ahh hujan selalu membuatku menjadi basah
Basah diguyur air mataku sendiri,
basah diguyur yang menghujam hati
Basah diguyur kenangan yang tak mau mati,
basah diguyur harap yang tak ingin berhenti
3. Rindu yang Terbalaskan
(Lusieane Benyamin)
Aku dan dia menikmati rinai yang turun
Melepaskan kerinduan bersama hujan
Sedih, haru, bahagia, bercampur jadi satu
Kini, hujan mampu melepaskan kerinduanku
Andai aku dapat memberhentikan waktu
Tak akan ku biarkan kerinduan cepat berlalu
Telah lama ku menunggu
Kini rinduku terbalaskan olehmu
Cinta, jangan pergi (lagi)
Hati ini tak mampu lagi memendam rindu
Cukup kemarin kau meninggalkan hati
Karena aku tak ingin lagi menikmati hujan dalam sendu.
Demikianlah contoh puisi hujan yang sedih dan menyentuh hati pembaca serta pendengarnya. Semoga kita senantiasa dalam keadaan bahagia.(Umi)
