Konten dari Pengguna

3 Puisi tentang Perpisahan Sekolah yang Mengesankan

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

3 Puisi tentang Perpisahan Sekolah yang Mengesankan, Foto: Unsplash/JessYuwono
zoom-in-whitePerbesar
3 Puisi tentang Perpisahan Sekolah yang Mengesankan, Foto: Unsplash/JessYuwono

Puisi tentang perpisahan sekolah selalu hadir dalam setiap upacara kelulusan. Puisi ini, biasanya dibacakan oleh siswa dan siswi yang akan lulus dan meninggalkan sekolah. Pembaca yang penuh penghayatan dalam membawakan puisi akan menghipnotis semua perasaan pendengar sehingga ikut terseret di dalamnya.

“Puisi merupakan bagian karya sastra yang di dalamnya terdapat sebuah ekspresi tidak langsung dalam menyampaikan suatu hal dengan suatu hal lainnya. Ekspresi tidak langsung tersebut disebabkan karena penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti,” Kodart Eko Putro Setiawan dalam buku Strategi Ampuh Memahami Makna Puisi.

Dari pengertian di atas, puisi dianggap bisa mengekspresikan setiap rasa yang ada dalam untaian kata yang indah. Puisi mampu memberikan warna dalam setiap acara.

Tak terkecuali perpisahan sekolah. Puisi perpisahan selalu hadir mewakili setiap perasaan siswa yang meninggalkan sekolah menuju gerbang yang lebih tinggi.

Puisi tentang Perpisahan Sekolah

Berikut ini beberapa contoh puisi perpisahan sekolah yang dikutip dari buku Cendera Mata Perpisahan karya CAMVERCI:

Puisi 1

Gedung Hijau

Oleh : Langit Aji Mahardika

Dan kembali kuingat pagi itu, angin yang menerpa tubuh ini

Seolah mengingatkanku kepada sebuah tempat

Di mana kau dapat menimba ilmu dan mencari jati diri

Ya

Gedung hijau namanya

Kisah penting bermula pada masa putih abu

Di putih abu

Kukekalkan cerita tentangku

Yang mewarnai hari-hariku

Di warna yang sama tercipta canda tawa hingga haru biru

Di putih abu

Kujadikan sebuah potret kepingan persahabatan dari berbagai angan-angan

Yang telah menorehkan catatan akhir meski dimensi ruang dan waktu

Berusaha menghapus dari memoriku

Kini abu pun berlalu

Menjadi sebuah cerita yang tersimpan dalam petisi berisi prestasi

Cerita ini tidak akan terlupakan meskipun tertutup sebongkah debu

Terima kasih gedung hijau

Kau telah menjadi rumah tempatku menimba ilmu

Suatu saat

Aku akan kembali membawa mentari untuk negeri ini

Puisi 2

Akhir dari Abu

Oleh: Fanisya Fuji Lestari

Kilau tawa yang sering kutemui

Di ruang kelas yang penuh empati

Kini berfatamorgana menjadi sepi

Dekapan hangat yang mengantarkan tawa itu akan

Menjadi intuisi rindu

Cipratan tangisan persahabatan

Akan menjadi bendungan kenangan tak tertahankan

Masa penutup putih abu

Kini telah hadir di pelupuk mata

Semua yang terjadi di masa ini

Terpaksa harus diakhiri

Tetapi tidak untuk Kimia, Biologi, dan persahabatan yang selalu di hati

Akhir tentu bukan sebuah kata yang dinanti

Karena akhir kebanyakan orang menjadi antipati

Perkara akhir memang tidak mudah dijalani

Tetapi akhir bukan pula untuk dihindari

Di masa yang semakin sempit untuk bertemu ini

Izinkan aku membenahi memori

Tentang semua yang ada dalam putih abu

Terima kasih abu-abu

Warnamu akan selalu ada dalam album lukisan kalbu,

Serta kisahmu akan selalu kurindu

Mestinya kita sudah tak lagi bertemu

Puisi 3

Lara dalam Abu

Oleh: Yani Triarini

Derap langkah kaki yang menyusuri setiap lorong kelas

Riuhnya tak akan lagi membekas

Akan menggema lonceng terakhir di gedung hijau yang sering kupijak

Dinginnya setiap dinding yang dulu riuh

Akan berubah haluan menjadi rindu yang bergemuruh

Biarkan tembok hijau itu menjadi saksi

Menjadi satu-satunya pengingat sejarah kecil penuh kenangan terjadi

Sejarah kecil yang dibungkus dengan harmonisasi

Dan diakhiri dengan tangisan di hati, tangis yang menggambarkan sulit melepas untuk pergi

Pula tangis yang menggambarkan sulit untuk menetap lagi

Di bawah langit yang membiru

Sepasang mata saling bertemu

Lekat mata itu kian sendu

Menyaksikan akhir dari masa putih abu

Tangan itu saling merangkul

Saling merengkuh lama untuk sebuah temu di kala nanti akan datang rindu

Lara hati menggebu

Memaksa memutarbalikkan waktu

Mengulang kenangan yang telah berlalu

Tapi kenyataannya itu hanya halu

Halu yang berujung pilu

Sungguh mengesankan dan mengharu biru ya? Semua puisi di atas mewakili suasana perpisahan sekolah yang diwarnai rasa sedih. Puisi mana yang akan kamu pilih dalam perpisahan sekolah nanti?(You)