4 Puisi AADC untuk Kamu yang Ingin Nostalgia dengan Cinta dan Rangga

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generasi milenial mana yang tidak tahu film AADC? Film Ada Apa Dengan Cinta? yang rilis tahun 2002, dengan bintang utama Dian Sastrowardoyo (Cinta) dan Nicholas Saputra (Rangga). Film romantis yang diproduseri Mira Lesmana dan Riri Riza ini sukses meraih sekaligus 3 penghargaan Piala Citra 2004. Ditambah dengan puisi AADC dari Rangga untuk Cinta yang mampu menambahkan suasana romantis dan sukses membuat semua penonton baper.
20 tahun berlalu sejak film AADC ditayangkan di bioskop seantero Indonesia, adakah yang ingin bernostalgia dengan Cinta dan Rangga? Berikut 4 Puisi AADC untuk Kamu yang Ingin Nostalgia dengan Cinta dan Rangga.
Puisi AADC untuk yang Ingin Nostalgia dengan Cinta dan Rangga
Puisi AADC
Tentang Seseorang
Karya : Rako Prijanto
Kulari ke hutan kemudian menyanyiku…
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi… sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Enyah saja engkau pekat
Seperti berjelaga jika kusendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera?
Atau aku harus lari ke hutan, belok ke pantai?
Ada Apa Dengan Cinta?
Karya : Rako Prijanto
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karna cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya.
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
Karena aku ingin kamu, itu saja.
Nostalgia dengan Cinta dan Rangga
Tidak hanya sukses di film pertama, film AADC 2 yang rilis 14 tahun kemudian yang juga berhasil meraih hingga 5 penghargaan piala citra. Tentu saja karena dibumbui dengan puisi AADC yang tak kalah romantis.
Tidak Ada New York Hari Ini
Karya : M. Aan Mansyur
Tidak ada New York hari ini
Tidak ada New York kemarin
Aku sendiri dan tidak berada di sini
semua orang adalah orang lain
Bahasa ibu adalah kamar tidurku
Kupeluk tubuh sendiri
Dan cinta, kau tak ingin aku
Mematikan mata lampu
Jendela terbuka
Dan masa lampau memasukiku sebagai angin
Meriang, meriang, aku meriang
Kau yang panas di kening, kau yang dingin dikenang
Batas
Karya : M. Aan Mansyur
Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota
Bilik penjara, dan kantor walikota,
Juga rumahku, dan seluruh tempat dimana pernah ada kita
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dadaku dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata
Begitu pula rindu
Antar pulau dan seorang petualang yang gila
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang
Seorang ayah membelah anak dan ibunya dan sebaliknya
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu
Jurang antara kebodohan dan keinginanku
Memilikimu sekali lagi
Dilansir dari buku Ensiklopedia Sastrawan Indonesia yang disusun oleh Siti Nur Aidah dan Tim Penerbit KBM Indonesia (2020:75), sebelumnya Aan Mansyur bercita-cita menjadi pelukis. Kemudian ia menjelma menjadi seorang penyair setelah terbuai oleh kumpulan sajak Subagio Sastrowardoyo berjudul Simfoni Dua.
Nah, itulah 4 Puisi AADC untuk Kamu yang Ingin Nostalgia dengan Cinta dan Rangga. Kata romantisnya tetap terngiang hingga saat ini, kan? (Bhilda/IJ)
