Konten dari Pengguna

4 Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar dan Amanatnya

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar, Foto Unsplash/Thought Catalog
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar, Foto Unsplash/Thought Catalog

Puisi Diponegoro karya Chairil Anwar dapat digunakan untuk menumbuhkan rasa semangat dalam membela tanah air. Selain puisi yang berjudul Diponegoro, Chairil Anwar juga menciptakan puisi-puisi lain yang menyimpan amanat di dalamnya.

Berdasarkan buku Menggores Tinta Puisi, Ahmad Wahyudi, (2021:15), puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif.

Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar dan Amanatnya

Ilustrasi Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar, Foto Unsplash/Álvaro Serrano

Berikut adalah isi puisi Diponegoro karya Chairil Anwar beserta dengan amanatnya mengutip dari buku Pembelajaran Puisi Apresiasi dari Dalam Kelas, Supriyanto, (2020:128).

1. Diponegoro

(Karya Chairil Anwar)

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati

Maju

Ini barisan tak bergederang berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berati

Sudah itu mati

Maju

Bagimu negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju

Serbu

Serang

Terjang

Amanat: Semangat patriotik harus terus-menerus dikobarkan dalam dada untuk melanjutkan pembangunan bangsa dengan mencontoh keteladanan Pangeran Diponegoro.

2. Doa

(Karya Chairil Anwar)

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Мu

Biar susah sungguh

Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci

Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

Di Pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

Amanat: Tuhan menjadi satu-satunya tempat terbaik untuk kembali.

3. Aku

(Karya Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Amanat: Seseorang harus selalu semangat berjuang dan gigih dari belenggu penjajah atau dari penderitaan yang sedang dialami.

4. Prajurit Jaga Malam

(Karya Chairil Anwar)

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?

Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian

Ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup

Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

Amanat: Tanamkaan pada jiwa untuk menumbuhkan sikap patriotisme yang selalu siap mempertahankan bangsa, meskipun tidak tahu rintangan apa yang akan dihadapi.

Baca juga: 7 Puisi Rindu Singkat yang Menyentuh Kalbu

Demikianlah isi puisi Diponegoro karya Chairil Anwar beserta amanatnya dan beberapa puisi lainnya. (Ria)