4 Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar dan Amanatnya

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi Diponegoro karya Chairil Anwar dapat digunakan untuk menumbuhkan rasa semangat dalam membela tanah air. Selain puisi yang berjudul Diponegoro, Chairil Anwar juga menciptakan puisi-puisi lain yang menyimpan amanat di dalamnya.
Berdasarkan buku Menggores Tinta Puisi, Ahmad Wahyudi, (2021:15), puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif.
Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar dan Amanatnya
Berikut adalah isi puisi Diponegoro karya Chairil Anwar beserta dengan amanatnya mengutip dari buku Pembelajaran Puisi Apresiasi dari Dalam Kelas, Supriyanto, (2020:128).
1. Diponegoro
(Karya Chairil Anwar)
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati
Maju
Ini barisan tak bergederang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berati
Sudah itu mati
Maju
Bagimu negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Amanat: Semangat patriotik harus terus-menerus dikobarkan dalam dada untuk melanjutkan pembangunan bangsa dengan mencontoh keteladanan Pangeran Diponegoro.
2. Doa
(Karya Chairil Anwar)
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Мu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Amanat: Tuhan menjadi satu-satunya tempat terbaik untuk kembali.
3. Aku
(Karya Chairil Anwar)
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Amanat: Seseorang harus selalu semangat berjuang dan gigih dari belenggu penjajah atau dari penderitaan yang sedang dialami.
4. Prajurit Jaga Malam
(Karya Chairil Anwar)
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
Ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
Amanat: Tanamkaan pada jiwa untuk menumbuhkan sikap patriotisme yang selalu siap mempertahankan bangsa, meskipun tidak tahu rintangan apa yang akan dihadapi.
Baca juga: 7 Puisi Rindu Singkat yang Menyentuh Kalbu
Demikianlah isi puisi Diponegoro karya Chairil Anwar beserta amanatnya dan beberapa puisi lainnya. (Ria)
