4 Puisi tentang Hak Asasi Manusia

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Artikel Inspirasi Kata kali ini, kamu akan menemukan contoh puisi tentang hak asasi manusia. Puisi ini dapat membantumu mengungkapkan perasaanmu sebagai seorang manusia.
Hak asasi manusia, seperti yang dikutip dari buku berjudul Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Hak Asasi Manusia, Henny Nuraeny (2021:47), merupakan asas-asas yang timbul dari nilai-nilai yang kemudian menjadi kaidah yang mengatur perilaku manusia dengan sesamanya.
Baca Juga: 7 Puisi Pendek Anak SD tentang Kemerdekaan
4 Puisi tentang Hak Asasi Manusia
Dikutip dari buku berjudul Aku Ingin Jadi Peluru, Wiji Thukul (2000) dan situs www.pickmeuppoetry.org, berikut ini adalah contoh puisi tentang hak asasi manusia yang dapat kamu jadikan referensi:
1. Sajak Suara
Karya: Wiji Thukul
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
2. Peringatan
Karya: Wiji Thukul
jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
3. Bunga dan Tembok
Karya: Wiji Thukul
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kau kehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kau kehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi
seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri
jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!
dalam keyakinan kami
di mana pun -tirani harus tumbang!
4. Menjadi Kamu Menjadi Aku
Karya: Maria Stella Milani
Hak, keinginan dan pikiran
Tatap muka, pikiran ke pikiran, dari hati ke hati
Mata berpandangan
Tangan Bersentuhan
Getaran terasa dari pandangan
Kita semua sama
Kita bernapas, kita mati
Kita merasakan sesuatu, kita hidup
Menjadi setara:
Menjadi satu saat bersama
Menjadi teman, pasangan, saudara, individu, manusia
Menderita dan berbahagia
Hancur dan bangkit berdiri
Mengapa kita bertengkar satu sama lain ketika kita begitu mirip?
Kita adalah penulis takdir kita
Marilah percaya bahwa kita adalah satu
Marilah merasa bebas, untuk bebas
Mari menghormati siapapun di depan kita
Saat kita melihat seseorang tepat di matanya, ada sebuah kebenaran:
Kamu adalah bagian dariku, aku adalah bagian darimu
Itulah 4 contoh puisi tentang hak asasi manusia yang bersumber dari buku tentang seorang pejuang HAM di Indonesia. Semoga puisinya menyentuh hati ya. (Sasa)
