Konten dari Pengguna

5 Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi taman di artikel kumpulan puisi karya Chairil Anwar, foto oleh Yan Liu di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi taman di artikel kumpulan puisi karya Chairil Anwar, foto oleh Yan Liu di Unsplash

Isinya yang begitu mendalam membuat banyak orang mencari kumpulan puisi karya Chairil Anwar. Tokoh ini dikenal sebagai sastrawan yang telah menciptakan banyak puisi dengan kata-kata kaya makna.

Meskipun tokoh ini meninggal di usia muda, namun karya-karyanya masih banyak dicari hingga kini. Penasaran seperti apa karyanya? Pastikan tidak melewatkan beberapa di antaranya berikut ini.

5 Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar

Ilustrasi puisi kuno di artikel kumpulan puisi karya Chairil Anwar

Di bawah ini lima kumpulan puisi karya Chairil Anwar yang diambil dari buku Puisi dan Prosa Lengkap, Chairil Anwar, (1970:10-24), yang bisa kamu jadikan referensi.

1. Taman

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, kecil saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang

Kecil, penuh surya taman kita

Tempat merenggut dari dunia dan 'nusia.

2. Aku

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.

3. Suara Malam

Dunia badai dan topan

Manusia mengingatkan, "Kebakaran di Hutan"

Jadi ke mana

Untuk damai dan reda?

Mati.

Barangkali ini diam kaku saja

dengan ketenangan selama bersatu

mengatasi suka dan duka

kekebalan terhadap debu dan nafsu.

Berbaring tak sedar

Seperti kapal pecah di dasar lautan

jemu dipukul ombak besar.

Atau ini.

Peleburan dalam Tiada

dan sekali akan menghadap cahaya.

.......................................................

Ya Allah! Badanku terbakar — segala samar.

Aku sudah melewati batas.

Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

4. Pelarian

I

Tak tertahan lagi

Remang miang sengketa di sini

Dalam lari

Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

Hancur-luluh sepi seketika

Dan paduan dua jiwa.

II

Dalam kelam ke malam

Tertawa-mengiris malam menerimanya

Ini batu baru tercampur dalam gelita

"Mau apa? Rayu dan pelupa,

Aku ada! Pilih saja!

Bujuk dibeli?

Atau sungai sunyi?

Turut saja!"

Tak kuasa — terengkam

Ia dicengkam malam.

5. Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang

membawa karangan kembang

Mawar merah dan melati putih:

darah dan suci.

Kau tebarkan depanku

serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu

Saling bertanya: Apakah ini?

Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi

Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Itulah kumpulan puisi karya Chairil Anwar yang bisa dijadikan sebagai referensi jika ingin membuat puisi dengan karakter mirip. (novi)