5 Puisi tentang Kemiskinan yang Penuh Derita

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi tentang kemiskinan di bawah ini bisa kamu jadikan sebagai pengingat bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung kita dan membutuhkan bantuan.
Tidak seorang pun ingin hidup dalam kemiskinan. Untuk itulah kita sekeras mungkin berusaha dan berdoa agar semua urusan, usaha, dan pekerjaan kita dilancarkan.
Baca Juga: 20 Kata-kata Mutiara Bulan Januari
5 Puisi tentang Kemiskinan
Kali ini Inspirasi Kata akan memberikan beberapa kumpulan puisi tentang kemiskinan yang penuh derita, dikutip dari buku Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak, Suyono Suyatno, (2003: 38-45). Berikut isi puisinya:
1. Kemiskinan Melanda
Kemiskinan yang selalu membelenggu
Melingkari diri yang tiada kuasa mengelak
Dari kenyataan yang menikam
Kemiskinan yang ada dan selalu menjelang
Hanya dapat kurenungi
Dan kucerca lewat kata-kata sajakku
Kemiskinan yang meraja adalah segala-gala diriku
Hidupku miskin harta, sajakku miskin makna
(Tapi aku selalu berjuang dan berusaha menghapus kemiskinan dengan daya yang tersisa)
2. Orang Lapar
Lapar menyerang desaku
Kerontang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Keguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunung Kidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kau ulang jua
3. Anak Malang
Ia terapung di angkasa malam
Bergelut menggulat duka
Nira kecut yang bersumber dari mata
Menderas dengan kaidah dendam
Tapi dendam pada siapa?
(Anak desa ibu bapa tak berharta
mabuk atas mimpi botak kepala)
Mimpi tinggal mimpi
Bekal apa buat menuntut ilmu ke kota?
Malam hanya bicara bagi malam
Matanya kelereng belimbing jingga
Hidup hanya percik-percik cuka
Ia termenung di hati malam
Walau sebuah piring perunggu
Melayang di atas kepalanya
Dan mengajaknya bercanda
Tetap ia menekuri dirinya
4. Orang Miskin
Aku berjalan di jalanan dan meskipun tidak berpakaian jelek
Namun tidak ada yang begitu miskin yang bisa dibandingkan dengan saya
Karena tidak seorang pun memanggilku yang lelah untuk beristirahat
Dan meskipun aku lapar, tidak ada yang berbagi harta mereka
Aku tidak meminta untuk tinggal di buluh yang patah
Itu gagal ketika aku menginginkan lengan yang ramah
Aku tidak bisa makan roti dan ikan
Yang menginginkan berkat agar mereka tidak membahayakan
Aku hanya meminta kata yang hidup untuk mendengar
Dari bahasa lidah yang sekarang berbicara sampai mati
Aku haus akan satu cangkir air dingin yang jernih
Tapi minumlah aliran napas berbaring yang gusar
Dan berkeliaran di Tanah Airku
Namun tidak mendengar suara sambutan dan tidak melihat tangan yang memberi isyarat
5. Pengemis
Sepanjang hari, sepanjang hari, dalam debu, dalam panas
Dengan otak yang gila dan dengan kaki yang terhuyung-huyung
Aku berdiri di jalan raya kehidupan dan memohon daging jiwaku
Sepanjang hari, sepanjang hari, dalam cuaca dingin, dalam hujan
Melalui hari-hari yang hambar dan tak lekang oleh waktu
Aku mengulurkan tanganku kepada orang kaya dan sia-sia
Nah, itulah beberapa puisi tentang kemiskinan yang penuh derita. Semoga bermanfaat.
