Konten dari Pengguna

55 Contoh Gurindam 2 Bait dalam Berbagai Tema dan Pengertiannya

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 7 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh gurindam 2 bait, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Patrick Tomasso
zoom-in-whitePerbesar
Contoh gurindam 2 bait, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Patrick Tomasso

Pelajaran Bahasa Indonesia memiliki beragam materi yang perlu dipelajari. Salah satunya adalah mengenai gurindam. Agar lebih mudah memahami materi ini, maka perlu tahu contoh gurindam 2 bait dalam berbagai tema sebagai bahan untuk belajar.

Gurindam termasuk ke dalam teks sastra. Teks sastra adalah karya imajinatif yang mengangkat persoalan kehidupan manusia yang dipadukan dengan imajinasi pengarang sesuai informasi dari buku Prediksi Akurat ANBK SD/MI 2021/2022 Paket 2, Tim Pelita Eduka, (2021:14).

Selain gurindam, ada banyak contoh teks sastra lainnya. Ada puisi, pantun, syair, balada, prosa, legenda, dongeng, mitos, novel, cerpen, dan lainnya. Biasanya teks sastra ini disusun dengan tujuan artistik dengan bahasa lisan atau bahasa tulis.

Daftar isi

Pengertian Gurindam

Contoh gurindam 2 bait, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Danika Perkinson

Gurindam adalah teks sastra yang kerap dipelajari di sekolah. Dikutip dari buku Kumpulan Majas, Pantun, dan Peribahasa plus Kesusastraan Indonesia, Ernawati Waridah, (2014:251), gurindam merupakan jenis puisi yang tiap baitnya terdiri dari dua baris.

Dalam buku Terampil Membaca dan Menulis Puisi, Atrianing Yessi Wijayanti, S.Pd.,M.Pd., (2019:79), disebutkan juga gurindam berasal dari Tamil (India). Biasanya gurindam berisi tentang nasihat seputar kehidupan.

Sebuah puisi lama bisa disebut sebagai gurindam apabila terdiri dari ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri dari gurindam adalah sebagai berikut:

  • Terdiri atas beberapa bait.

  • Tiap baitnya terdiri atas dua kalimat dengan rima yang sama, seperti a-a, b-b, dan lainnya.

  • Setiap baris berisi 10 hingga 14 kata.

  • Baris pertama merupakan sebab dan baris kedua merupakan akibat.

  • Isi gurindam merupakan nasihat.

55 Contoh Gurindam 2 Bait untuk Dipelajari

Contoh gurindam 2 bait, foto hanya ilustrasi: Unsplash/Jess Bailey

Untuk lebih mudah memahami materi gurindam, maka penting untuk tahu contoh dari gurindam terlebih dahulu. Berikut adalah contoh gurindam 2 bait yang bisa dipelajari untuk menambah wawasan.

  1. Barang siapa tidak memegang agama,

    Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

    Barang siapa mengenal yang empat,

    Maka ia itulah orang ma’arifat.

  2. Barang siapa mengenal Yang Tersebut,

    Tahulah ia makna takut.

    Barang siapa meninggalkan sembahyang,

    Seperti rumah tiada bertiang.

  3. Barang siapa meninggalkan puasa,

    Tidaklah mendapat dua termasa.

    Barang siapa meninggalkan zakat,

    Tiadalah hartanya beroleh berkat.

  4. Barang siapa meninggalkan haji,

    Tiadalah ia menyempurnakan janji.

    Barang siapa meninggalkan salat,

    Tiadalah hartanya berolah berkarat.

  5. Apabila orang mudah mencacat,

    Pekerjaan itu membuat sesat.

    Kurang pikir kurang siasat,

    Tentu dirimu kelak tersesat.

  6. Apabila terpelihara mata,

    Sedikitlah cita-cita.

    Apabila terpelihara kuping,

    Kabar yang jahat tiadalah damping.

  7. Apabila terpelihara lidah,

    Niscaya dapat daripadanya faedah.

    Apabila perut terlalu penuh,

    Keluarlah fiil yang tiada senunuh.

  8. Hati itu kerajaan di dalam tubuh,

    Jikalau lalim segala anggota pun rubuh.

    Menguat dan memuji hendaklah pikir,

    Di situlah banyak orang tergelincir.

  9. Pekerjaan marah jangan dibela,

    Nanti hilang akal di kepala.

    Di mana tahu salah diri,

    Jika tidak orang lain yang berperi.

  10. Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,

    Sangat memeliharakan yang sia-sia.

    Jika hendak mengenal orang yang berakal,

    Di dalam dunia mengambil bekal.

  11. Cahari olehmu akan sahabat,

    Yang boleh dijadikan obat.

    Cahari olehmu akan guru,

    Yang boleh tahukan tiap seteru.

  12. Cahari olehmu akan kawan,

    Pilih segala orang yang setiawan.

    Cahari olehmu akan abdi,

    Yang ada baik sedikit budi.

  13. Apabila banyak berkata-kata,

    Di situlah jalan masuknya dusta.

    Apabila banyak berlebih-lebihan suka,

    Itulah tanda hampirkan duka.

  14. Barang siapa tidak memiliki agama,

    Pastilah hidupnya sesat di dunia,

    Siapa yang enggan sesat dunia akhirat,

    Maka cepat-cepatlah bertaubat sebelum terlambat.

  15. Hidup itu harus saling menghargai,

    Jika tak ingin menyesal di kemudian hari.

    Sebelum berbicara pikir dahulu,

    Agar tak melukai hati temanmu.

  16. Ketika muda malas sembahyang,

    Masa tua bisa terguncang.

    Siapa tidak hormat orang tua,

    Akan jauh dari bau surga.

  17. Kalaulah engkau banyak tidur,

    Banyak rezeki jadi terkubur.

    Jika suami berhati kufur,

    Keluarga idaman pasti terkubur.

  18. Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,

    Di situlah banyak orang yang tergelincir.

    Kurang pikir, kurang siasat,

    Tentu dirimu kelak tersesat.

  19. Barang siapa mengenal diri,

    Maka telah mengenal Tuhan yang bahari.

    Hendaklah memegang amanat,

    Buanglah khianat.

  20. Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,

    Bukannya manusia itulah setan

    Lakukan apa yang diperintahkan,

    Agar semua dapat diselesaikan.

  21. Pikir dahulu sebelum berkata,

    Supaya terelak silang sengketa.

    Siapa menggemari silang sengketa,

    Kelaknya pasti berdukacita.

  22. Barang siapa mengenal akhirat,

    Tahulah ia dunia mudarat.

    Barang siapa mengenal Allah,

    Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

  23. Carilah orang menjadi kawan,

    Pilihlah orang yang setia kawan.

    Baik-baik ketika memilih kawan,

    Jika salah maka bisa jadi lawan.

  24. Kalau bicara sesukamu,

    Akan ada banyak orang yang membencimu.

    Bicaralah lembut dirimu,

    Agar banyak yang menyukaimu.

  25. Jangan berharap jadi orang pandai,

    Jika belajar saja kamu lalai.

    Jadilah orang yang pandai,

    Agar orang-orang bisa disukai.

  26. Siapa tak ingin sesat dunia akhirat,

    Maka cepatlah taubat sebelum terlambat.

    Tapi siapa yang lekas bertaubat sebelum kiamat,

    Maka didapatlah itu yang namanya selamat.

  27. Rintik hujan jatuh ke bumi,

    Mengairi ibu pertiwi.

    Bagai kidung di kala sepi,

    Sungguh indah saling memberi.

  28. Belajar tidak melulu tentang pelajaran,

    Tidak juga tentang hasil dari ujian.

    Tetapi tentang nilai kehidupan,

    Nilai moral dan kesopanan.

  29. Imbangi kepintaran dengan kesopanan,

    Imbangi kepintaran dengan perilaku taat aturan.

    Aturan agama dan kehidupan,

    Agar hidup tentram dan penuh keseimbangan.

  30. Jika belajar dengan sungguh-sungguh,

    Keberhasilan akan direngkuh.

    Jika berilmu janganlah angkuh.

    Nanti bisa terjatuh.

  31. Barang siapa mencari ilmu,

    Maka carilah ke guru.

    Barang siapa tidak berilmu,

    Bagaikan kursi tidak bertumpu.

  32. Jika engkau tidak tahu,

    Maka haruslah cari tahu.

    Supaya bisa berilmu,

    Maka carilah guru.

  33. Jika bekerja dengan hati yang tak lurus,

    Pikiran pun akan tergerus.

    Jika pikiran tergerus,

    Maka bisa membuat tubuh jadi kurus.

  34. Jika selalu mencela orang,

    Berarti dia bermain curang.

    Jika bermain curang,

    Maka lawan pun akan berang.

  35. Barang siapa mengenal dunia,

    Tahulah ia barang yang teperdaya.

    Barang siapa mengenal akhirat,

    Tahulah Ia dunia mudarat.

  36. Apabila terpelihara lidah,

    Niscaya dapat daripadanya faedah.

    Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,

    Daripada segala berat dan ringan.

  37. Jika sedikit pun berbuat bohong,

    Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

    Tanda orang yang amat celaka,

    Aib dirinya tiada ia sangka.

  38. Barang siapa yang sudah besar,

    Janganlah kelakuannya membuat kasar.

    Barang siapa perkataan kotor,

    Mulutnya itu umpama ketur.

  39. Jika hendak mengenal orang mulia,

    Lihatlah kepada kelakuan dia.

    Jika hendak mengenal orang yang berilmu,

    Bertanya dan belajar tiadalah jemu.

  40. Apabila banyak mencela orang,

    Itulah tanda dirinya kurang.

    Apabila orang yang banyak tidur,

    Sia-sia sajalah umur.

  41. Barang siapa khianat akan dirinya,

    Apalagi kepada lainnya.

    Kepada dirinya ia aniaya,

    Orang itu jangan engkau percaya.

  42. Kejahatan diri sembunyikan,

    Kebalikan diri diamkan.

    Keaiban orang jangan dibuka,

    Keaiban diri hendaklah sangka.

  43. Percuma jadi orang kaya,

    Jika tidak berbagi dengan sesama.

    Percuma jadi orang berilmu,

    Jika tidak gemar membagikan ilmu.

  44. Percuma ada banyak teman,

    Jika tidak gemar berbagi kebaikan.

    Percuma ada sahabat,

    Jika tidak merasa dekat.

  45. Janganlah jadi orang yang suka iri,

    Bila iri akan terus terasa di hati.

    Apalagi jika sudah merasa dengki,

    Rasanya tidak akan hilang hingga nanti.

  46. Berbuat baiklah selalu,

    Agar kebaikan menghampirimu.

    Hindari berbuat jahat,

    Agar dijauhkan dari orang yang jahat.

  47. Sebelum bertindak, berpikirlah dulu,

    Supaya rasa sesal tidak membelenggu.

    Pastikan untuk sabar menunggu,

    Agar tidak terburu-buru.

  48. Pentinglah punya harta,

    Tapi menuntut ilmu jangan sampai lupa.

    Memiliki ilmu adalah hal berguna,

    Agar bisa meraih cita-cita.

  49. Biasakan tepati janji,

    Agar orang-orang bisa dipercayai.

    Apabila tidak tepat janji,

    Maka orang akan tak percaya hingga mati.

  50. Dengan ibu haruslah hormat,

    Supaya bisa selamat.

    Dengan ayah jugalah hormat,

    Agar selalu selamat.

  51. Siapa yang ingkar janji,

    Maka sifatnya adalah keji.

    Maka tepatilah janji,

    Agar terjauhkan dari sifat keji.

  52. Dengan orang tua jangan durhaka,

    Agar Tuhan tidak murka.

    Bersikap baiklah kepada semua,

    Agar bisa bahagia.

  53. Di dunia ini perlu teman,

    Pilihlah orang yang tepat untuk jadi teman.

    Jangan sampai salah pilih teman.

    Agar bisa terus menjadi teman.

  54. Apabila perkataan yang lemah lembut,

    Lekaslah segala orang mengikut.

    Apabila perkataan yang amat kasar,

    Lekaslah orang sekalian gusar.

  55. Orang malas akan jatuh sengsara,

    Orang rajin akan banyak saudara.

    Janganlah jadi orang yang sengsara,

    Agar bisa memiliki banyak saudara.

Baca juga: 60 Contoh Pantun Perpisahan yang Berkesan

Itu dia berbagai contoh gurindam 2 bait dan pengertiannya yang bisa dipelajari untuk menambah pemahaman. Dengan mempelajari gurindam, maka pengetahuan akan jenis teks sastra akan bertambah dan memperluas wawasan mengenai sastra dalam Bahasa Indonesia. (PRI)