Konten dari Pengguna

6 Puisi Kritik Sosial yang Mewakili Suara Rakyat

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 5 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi Kritik Sosial Sumber Foto : Unsplash/Clark Young
zoom-in-whitePerbesar
Puisi Kritik Sosial Sumber Foto : Unsplash/Clark Young

Kritik merupakan komunikasi berupa tanggapan terhadap suatu hal, dalam politik, sosial maupun ekonomi, kritik juga bisa ditandai adanya kecaman, dan adanya pertimbangan baik atau buruk suatu perkara, kritik bisa disampaikan langsung, maupun tidak langsung, contoh halnya penyampaian tidak langsung seperti puisi kritik sosial.

Kritik yang sering disampaikan melalui puisi, salah satunya adalah mengenai masalah sosial, yaitu hubungan masyarakat dengan pemerintah.

6 Puisi Kritik Sosial yang Mewakili Suara Rakyat

Penyampaian kritik, bisa berlandaskan karena ketidakpuasan masyarakat, terhadap kinerja pemerintah yang kurang baik, dalam mengatur keadilan sosial.

Oleh karena itu, banyak para penyair dan ulama, yang mengkritik keadaan sosial yang terjadi melalui puisi.

Berikut beberapa puisi kritik sosial yang dikutip dari buku Antologi Puisi Kutitip Rindu Lewat Angin. (2016). (n.p.): Muklis Puna. Dan dari beberapa tokoh nasional.

Puisi 1

Anak Muda dan pesta Kemerdekaan

Nyalang matanya menatap gedung penuh warna lampu,

Iklan menyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,

Dihapus dari kejujuran kata,

Sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia

Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan ?

Mengingat proklamasi soekarno-hatta.

Atau ledakan meriam 10 november 1945.

Atau menghitung gedung-gedung mewah

Yang menggusur perkampungan kumuh!

Sementara televisi menawarkan bahasa baru. Menawarkan

Mimpi-mimpi baru : dunia adalah perkampungan besar

Anak muda menatap hidup penuh kabut:

“adakah arti kemerdekaan bagiku, yang tak pernah merasa merdeka.

Dari belitan sejarah. Dan cengkeraman kehidupan yang semakin sulit.”

Puisi 2

Traffic light yang menyala di kotamu

Udara panas sesakkan dada, pun petikan gitar para pengamen

Yang turun naik bis kota, membikin puisi wajah kota ini, juga wajah

Pada potret keluarga yang pecah berhamburan.

Kota ini saudara, rindu akan gurat hati nurani dan kejujuran kata-kata (yang tercoret pada Tembok-tembok kota, tong sampah dan juga pada traffic light yang berubah-ubah warna)

Nyanyi kenisbian cinta, sambil mengunyah kacang goreng, dada, dan paha fried chicken dan seteguk soft drink, sambil terus tertawakan sebuah kesetiaan, juga pada matahari yang tak peduli pada siapa saja yang berjalan di bawah selangkangannya

Puisi 3

menghunus cepat menebas ilalang tak berakar

mata pedangmu menukik tajam walau kadang tiarap di balik lembaran

retorika membusur gesit menerkam kancil dalam jeratan

dada busung mengayun lengan dan telunjuk

penyamun kelas teri menyepi di keramaian

menggigit besi di balik jeruji karen alapa menatap batas

di kursi persakitan kau tikam di dengan pasal berlapis baja

peradilan berlangsung laksana kilat menyambar

mata pedangmu berlipat tak bergeming

ketika pemilik tanah memberangus ilalang di lahn gembur

suara parau menyerang raga

kau merunduk tak bernyali

tandukmu lumpuh digerus waktu

alasan bodong kau gotong ke pasar pasar murah

iming iming kertas bercorak pahlawan

lalang melintang pukang merayu syahwat

pasal demi pasal kau sungsang balikan

peradilan kau arak di kotak kotak ajaib

wajah polosmu berperangai bak serigala menempel di kaca maya

perlahan kau giring harimau pemangsa hukum ke hutan tanpa belukar

orang orang bodoh mengagumi gaya lidahmu bersilat

popularitas dan identitas kau gantungkan di leher maling

bersertifikat

nyamuk nyamuk pengganggu lelap, kau tepuk dengan telapak hukum berpasal

karier menguap sampai ke rawa hingga tak berhabitat

kau pikul banjir ke sungai,kau timbun tanah ke bukit.

Puisi 4

Setelah abad kau merangkak di atas bola dunia

Susah payah buyutku merebutmu dari pelukan penjajah

Darah merah para syuhada hitam mengental menyatu dengan tembikar

Juniormu sudah melesat laksana kilat

Kau masih terlatih nomor buncit mengayuh dan meraba dalam kelam

Setengah abad lebih kau pasakan kakimu di atas khatulistiwa

Kemana lengkingan suara mu yang menggetarkan jagat

Kenapa garuda di dadamu tampak lusuh lesu

Kenapa bintang mu tak lagi merina menerangi bumi persada

Mengapa pohon beringin nan rindang, seolah kerontang

Tak mampu meneduhkan jiwa di kala sengatan hari menyengat

Mengapa rantai baja pada bidang dadamu memuai di tengah pencari keadilan

Mengapa bentengmu tak mampu menanduk para penyamun asing menguras isi negeri

Mengapa padi dan kapas di hamparan sawahmu tak

Menghijaukan keadilan para jelata pencari rasa

Setengah abad lebih kau mencengkeram bumi

Kau laksana bulan separuh

Cahayamu redup di bawah mendung menggulung awan

Bangkitlah indonesiaku !!

Tunjukan maung mu pada jagat membahana

Keluarkan kuku di kaki garuda mu

Cengkram dunia sampai ke kutub

Halau musuh musuh negeri dengan lengkingan mu

Setengah abad lebih sudah berlalu

Jangan biarkan pendahulumu merunduk di bawah gundukan

Dua Ratus juta lebih jiwa menggantung di kakimu

Mereka rela nafasnya di jadikan tiang penyangga negeri…

Merdeka.

Puisi 5

Di bawah langit yang sama

Manusia macam dua : yang di perah

Dan setiap saat mesti rela mengorbankan nyawa,bagai kerbau

Yang sudah tidak bisa dipekerjakan, dihalau ke pembantaian

Tak boleh kendati menguak, atau cemeti kan mendera;

Dibedakan dari pada dewa

Malaikat pencabut nyawa, yang bertuhan

Pada kemewahan dan nafsu

Yang bagai lautan : Tak tentu dalam luasnya menderu dan gelombang

Sepanjang masa.

Puisi 6

Di negeri amplop

Gus Mus

Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya, malu

Samson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi rapi-rapi

David Copperfield dan Houdini bersembunyi rendah diri

Entah andaikata Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya

Amplop-amplop di negeri amplop

mengatur dengan teratur

hal-hal yang tak teratur menjadi teratur

hal-hal yang teratur menjadi tak teratur

memutuskan putusan yang tak putus

membatalkan putusan yang sudah putus

Amplop-amplop menguasai penguasa

dan mengendalikan orang-orang biasa

Amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan

mencairkan dan membekukan

mengganjal dan melicinkan

Orang bicara bisa bisu

Orang mendengar bisa tuli

Orang alim bisa nafsu.

Orang sakti bisa mati

Di negeri amplop

amplop-amplop mengamplopi

apa saja dan siapa saja

Itulah 6 Puisi Kritik Sosial yang Mewakili Suara Rakyat yang bisa menjadi bahan penghayatan bagi kita semua.(Idan)

Frequently Asked Question Section

Apa yang dimaksud dengan kritik?

chevron-down

Kritik merupakan komunikasi berupa tanggapan terhadap suatu hal dalam bidang politik, sosial maupun ekonomi.

Apa saja tanda-tanda kritik?

chevron-down

Kritik bisa ditandai dengan beberapa hal, yaitu adanya kecaman, pertimbangan baik atau buruk, dan lainnya.

Bagaimana cara menyampaikan kritik?

chevron-down

Kritik dapat disampaikan dengan beberapa cara, salah satunya puisi kritik sosial.