Konten dari Pengguna

6 Puisi Senja Singkat yang Romantis

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi Senja Singkat yang Romantis, https://unsplash.com/@naeunani
zoom-in-whitePerbesar
Puisi Senja Singkat yang Romantis, https://unsplash.com/@naeunani

Kamu menyukai senja? Puisi senja singkat mungkin sesuatu yang menarik untukmu. Apalagi jika puisi tersebut memiliki makna yang dalam dengan rangkaian kalimat yang indah.

Tak hanya sebagai hiburan, membaca puisi juga dapat mewakilkan perasaan yang tak bisa dicurahkan dengan baik. Sehingga, Kamu menjadi lega setelah membacanya.

Kumpulan Puisi Senja Singkat yang Romantis

Puisi Senja Singkat yang Romantis, https://unsplash.com/@mr_alwayswrong

Jika membayangkan puisi senja singkat, Kamu pasti membayangkan makna yang indah dan romantis. Sebab suasana senja memang cocok untuk kasih sayang dan makna filosofis yang menyenangkan.

Berikut ini adalah beberapa puisi senja singkat yang romantis yang bisa menggambarkan isi hatimu dikutip dari buku Himne Senja Penulis, Guru Bahasa Indonesia SMK Kabupaten Kendal, (2019) :

1. Senja di Pelabuhan Kecil (buat Sri Ayati), oleh Chairil Anwar, 1946)

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan.

Tidak bergerak.

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

2. Suatu Ketika, Saat Senja Di Pelabuhan Athena , oleh Ananto Eko Saputro

Di kota tak jauh ini

Mengabarkan rangkaian peristiwa

Ku dengar alunan nyanyian tak bertuan

Yang terkadang sumbang

Disambut gemuruh riak ombak dari tengah segara

Menantang karang-karang

Di dermaga tak berpenghuni

Di sini ku duduk seorang diri

Seiring alunan kepakan sayap merpati

Ku nanti kau kan kembali

Dengan ditemani bising angin timur

Mahligai Debur ombak

Dan cahaya keemasan dari ujung laut bermuara

Untuk apa semua ini kunikmati?

Tatkala kau tak menyaksikan sendiri?

Ingin kukirimkan senja ini hanya untukmu

Di penghujung kalbu

Kumasukan dalam sebilah pengharapan

Biarpun akan terbuang

Ku tatap senja itu

Masih selalu begitu

Barangkali itu bekas siluet dari hadirmu

Seperti menjajikan suatu perpisahan yang sendu

3. Pelukis Malam, Oleh : Ananto Eko Saputro

Saat senja menutup mata

Kau seringkali hadir di tengah kota

Wajah keriput bersaku pena Hidup dari asa gemerlap

Bersemayam sepanjang trotoar

Raut setengah pucat bertengadah

Menyawang sunyi malam

Dia datang untuk kalian

Yang ego akan kesenian

Orang-orang kembali mendatanginya

Sambil menyelipkan sekeping rupiah Yang perlahan masuk dalam kaleng kecil nan rapuh

Di hadapannya, Mungkinkah?

Kalau kau tiada

Wahai orang tua bersaku pena

Bulan di atas kota penyesalan itu

Tak akan kembali lagi memancarkan sinarnya

Seakan kota itu kan senyap

Dan lebih lagi tak dapat membagi seiris dukamu Wahai pelukis malam

4. Purnama Jatuh, Oleh : Anik Atonah

Senja Mengering Dalam Keremangan

Jalan Tak Lagi Rata, Terjal T’lah Jatuhkanmu

Langit Tak Lagi Seindah Dulu, Hanya Cerita Tentang

Purnama Kemarau Jatuh Di Kota Rapuh

Kering Dan Panas Menghiba Pada Lara Tanpa Suara

Akankah Senja Kembali Catat Keluh Ini, Tuk

Kembali Hadirkan Parasmu,

Kembali Lelapkan Malam-Malamku

Entahlah, Seperti Senja Yang Lalu

Senyum Itu Sekilas Dan Bias Kala Gerimis

Tusukkan Belati Ditubuhku

Kurindukan Paras Sempurnamu

Seperti Saat Purnama Bertengger Di Pundakmu

5. Petang Datang, Oleh : Lerry Alfayanti

Temaram lampu-lampu kota

Remang redup terang memesona

Memancarkan cahaya kuning keemasan

Tak jarang kerlap warna juga merona di sana

Senja baru saja pamit dari dunia

Menyisakan gelap yang semakin pekat di langit

Burung-burung gereja pun mulai memasuki peraduannya

Mengamankan diri dari mata-mata elang yang tajam

Kumandang gema adzan terdengar syahdu semakin nyata

Bersahutan dari surau satu ke surau yang lainnya

Para pedagang kaki lima pun segera mengemasi dagangan

mereka

Bergegas pulang untuk berjumpa keluarga

Tawa riang bocah-bocah kecil berpeci berjilbab putih memenuhi

jalanan desa

Disusul langkah-langkah mantap para insan pecinta jamaah

Begitulah adanya kala maghrib tlah tiba…

6. Senja Dewata , Oleh : Sinta

Gulungan ombak menyapu tepak langkah

Membentur kaki hingga menimbulkan percik air

Dengan embus angin rindu

Kusapu awan langit yang mulai menampakkan sinar jingga

Ke dalam rangkul peluk senja yang sama

Menyongsong matahari kembali keperaduan

Senjaku mulai datang

Melagu rindu pada kesahduan senja

Pengharapan kita yang kala itu menunas

Aku tak akan pernah resah akan sakit kepergian

Selama kulihat bayangmu dalam senjaku

Hingga deru napas yang kutarik

Membau aromamu melalui senja dewata

Aku akan tetap di sini

Itulah puisi senja singkat yang romantis yang mungkin bisa menggambarkan isi hatimu saat ini. Selamat merenungkan maknanya!(dyan)