7 Ceramah Singkat beserta Hadisnya dalam Berbagai Tema

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ceramah singkat beserta hadisnya jadi informasi yang menarik untuk diketahui, terutama jika akan menjadi penceramah. Sebab, dengan mengetahui contoh ceramah, maka bisa membawakan ceramah dengan lebih baik karena sudah memiliki persiapan sebelumnya.
Biasanya, ceramah dibagikan saat ada kajian maupun rangkaian ibadah lainnya, seperti salat tarawih. Pada pelaksanaan salat tarawih yang hanya dilaksanakan pada bulan Ramadan, akan ada penceramah yang membagikan ceramah mengenai berbagai hal.
Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan, Abu Maryam Kautsar Amru, (2018:307), meski bukan bagian wajib dari salat tarawih, ceramah kerap dibagikan sebelum atau sesudah salat tarawih. Ceramah yang disampaikan adalah ceramah singkat, karena waktu yang terbatas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
7 Ceramah Singkat beserta Hadisnya sebagai Referensi
Ada banyak hal yang bisa disampaikan sebagai isi dari suatu ceramah. Jika membutuhkan inspirasi untuk dijadikan isi ceramah, berikut adalah ceramah singkat beserta hadisnya dalam berbagai tema yang bisa dijadikan sebagai referensi.
1. Manusia yang Bermanfaat
Dikutip dari situs resmi pta-palangkaraya.go.id.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Pertama-tama, mari kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan nikmat kepada kita semua. Kedua, tak lupa salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw. beserta para sahabatnya.
Pada hari ini, saya akan membawakan ceramah yang mengusung tema manusia yang bermanfaat. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah yang berbunyi,
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Arti: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadis ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
Nabi mengisyaratkan satu hal untuk menjadi manusia terbaik yakni memberi manfaat bagi manusia yang lain. Sehingga jika seseorang ingin menjadi yang terbaik maka hidupnya mesti bermanfaat bagi yang lain.
Orang yang bermanfaat adalah orang yang berguna bagi orang lain. Dua syarat utama menjadi orang yang bermanfaat yakni memiliki sesuatu yang bermanfaat dan bersedia memberikan manfaat apa yang ia miliki kepada yang lain.
Jika salah satunya tidak terpenuhi maka ia belum menjadi manusia terbaik. Sehingga, ‘memiliki’ saja namun tidak ‘memberi’ maka belum menjadi yang terbaik. Sebaliknya, mau memberi namun tidak ada yang dapat diberikan maka tidak akan terpenuhi juga.
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
Arti: “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)
Rasulullah saw. juga bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Arti: “Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).
Demikian ceramah yang bisa saya sampaikan. Semoga kita semua selalu menjadi manusia yang baik bagi satu sama lain dan bisa menjadi pribadi yang bermanfaat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
2. Jadilah Orang Yang Berilmu
Dikutip dari situs resmi pa-majalengka.go.id.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursaliin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.
Pada hari ini saya akan membagikan kisah tentang pentingnya menjadi seorang manusia yang berilmu. Sebab, Rasulullah saw menyarankan setiap umat manusia untuk menuntut ilmu, sesuai hadis berikut ini.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ (رواه بيهقى)
Arti: “Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang kelima maka kamu akan celaka.” (H.R. Baihaqi)
Nabi Muhammad saw. memerintahkan kita untuk menjadi orang yang bisa mentransfer atau berbagi ilmu (‘alim) yang dimiliki. Jika belum sanggup, maka jadilah orang yang mau menuntut atau belajar ilmu (muta’aliman).
Lalu, jika tidak mampu maka jadilah orang yang mau mendengarkan ilmu yang disampaikan (mustami’an). Sementara, jika tidak mampu juga jadilah orang yang menyukai ilmu (muhibban).
Janganlah kita menjadi orang yang “kelima”, yaitu orang yang tidak mau mentransfer ilmunya kepada sesama, orang yang tidak mau belajar atau menuntut ilmu, orang yang tidak mau mendengarkan ilmu yang disampaikan, dan bahkan orang yang tidak menyukai ilmu.
Semoga kita selalu didekatkan hatinya dengan keempat sifat-sifat yang disampaikan Rasulullah tersebut dan dijauhkan dari sifat kelima yang akan mencelakaan kita di dunia dan di akhirat.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
3. Mensyukuri Nikmat Sehat
Dikutip dari situs resmi pta-sulawesibarat.go.id.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursaliin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.
Pertama, marilah kita ucapkan rasa syukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita semua. Tak lupa, salawat serta salam juga kita haturkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan ceramah singkat mengenai pentingnya mensyukuri nikmat sehat. Kenikmatan hidup paling nikmat di dunia ini adalah nikmat sehat, karena apa pun yang kita miliki di dunia tak akan bisa dinikmati jika kita sakit.
Pada saat seseorang mengalami sakit, maka nikmat sehat menjadi hal yang terasa mahal harganya. Oleh karena itu, kita perlu mensyukuri nikmat sehat dengan sebaik-baiknya.
Nikmat sehat bukan suatu kemewahan seperti emas dan perak. Tetapi menjadi mahal ketika kesehatan telah berubah menjadi sakit. Nikmat sehat merupakan mahkota tubuh.
Saat kita terbaring sakit, kita baru sadar bahwa kesehatan sangat berharga. Orang yang mengabaikan kesehatan dirinya adalah orang yang menabung masalah untuk masa depannya.
Rasulullah Saw. bersabda,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ، اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Arti: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: ‘Nabi Saw. bersabda: Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu (lalai) padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR al-Bukhari).
Badan kita punya hak yang harus dipenuhi agar terjaga kesehatan maupun keseimbangannya. Di antara hak badan adalah memberikan makanan pada saat lapar, memenuhi minuman saat haus, memberikannya istirahat saat lelah, membersihkannya saat kotor, dan mengobatinya saat sakit.
Ajaran Islam sangat menekankan kesehatan. Agar tetap sehat, ada 10 hal yang perlu diperhatikan, yaitu dalam hal makan, minum, gerak, diam, tidur, terjaga, hubungan seksual, keinginan-keinginan nafsu, keadaan kejiwaan, dan mengatur anggota badan.
Untuk itu, mari kita ingat dan syukuri nikmat sehat ini sebaik-baiknya, agar dapat menggunakannya untuk beribadah dan melakukan berbagai aktivitas yang bermanfaat dalam kehidupan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
4. Mengubah Kemungkaran dalam Pandangan Islam
Dikutip dari situs resmi lldikti5.kemdikbud.go.id.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saat ini, kemungkaran banyak dijumpai di dunia nyata maupun media sosial. Namun sebelum masuk ke dalam pembahasan, perlu dipahami bahwa arti sederhana kemungkaran adalah sesuatu yang melanggar dari apa yang telah diatur oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Dengan banyaknya kemungkaran yang terjadi, sudah seharusnya seorang muslim mengetahui kewajibannya menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Merujuk dari Hadis Arbain ke-34 yang artinya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
“Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman’.”
Setidaknya ada faedah dari hadis tersebut yang dibagi dalam 3 pokok hal. Apabila melihat kejahatan atau kemungkaran hendaknya mengubah dengan tangan, jika tidak mampu ubahlah dengan lisan, terakhir jika tidak mampu ingkarilah dengan hati.
Kita perlu mempelajari dan mengambil manfaat dari hadis tersebut. Pertama, mencegah dengan tangan artinya orang yang memiliki kekuasaan tinggi seharusnya dapat menegakkan keadilan di negeri ini.
Kedua, mengubah kemungkaran dengan lisan dapat dipahami bahwa seseorang yang pandai berbicara dengan ilmunya hendaknya saling memberi nasihat dengan perkataannya yang baik. Terakhir, jika tidak mampu dengan keduanya maka mengingkari perbuatannya dengan hati.
Semoga kita semua diberikan oleh Allah Swt. karunia, kekuasaan, lisan yang fasih mendakwahkan syariat Islam, dan hati yang bersatu padu. Sehingga dapat mencegah kemungkaran dan menjadi hamba Allah Swt. yang paling bermanfaat untuk ajaran Islam yang mulia ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
5. 5 Prinsip Etika Kerja dalam Islam
Dikutip dari situs resmi utu.ac.id.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebelum memulai ceramah hari ini, mari kita semua memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt. Atas kesempatan yang telah diberikan-Nya, kita bisa berkumpul dalam kondisi sehat.
Pada kesempatan ini saya akan berbicara mengenai prinsip etika kerja dalam Islam. Kita semua sudah mengetahui bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dan rahmat.
Selain itu, Ramadhan juga menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki diri, termasuk dalam hal penerapan prinsip dan etika kerja yang sesuai dengan syariat Islam.Islam memerintahkan seorang muslim untuk bekerja dan tidak menyuruh pemeluknya bermalas-malasan.
Betapa banyak ayat maupun hadis yang menganjurkan dan menyuruh hambanya untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh, baik mencari nafkah untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat ataupun makhluk lainnya.
Setidaknya ada lima etika bekerja dalam Islam, yaitu ikhlas, jujur, amanah, persaudaraan, dan keadilan.
1. Bekerja dengan Ikhlas karena Allah Swt.
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya amal kerja itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya orang itu tergantung dari apa yang diniatkannya itu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam menjalankan setiap pekerjaan dan perniagaan perlu keikhlasan dan bersunggung-sungguh. Sikap tersebut akan mewujudkan efektif dan efisien dalam meningkatkan hasil kerja.
2. Jujur
“Tidak ada perangai yang paling tidak disukai oleh Rasulullah Saw. seperti dusta.” (HR. Ahmad bin Hambal). Kejujuran adalah asas nilai etika dalam Islam. Dalam organisasi maupun kegiatan bisnis, seseorang perlu jujur tidak menipu atau bersumpah palsu.
3. Amanah
“Percayakanlah agamamu, amanahmu dan segala hasil pekerjaanmu kepada Allah.” (HR. At-Tirmizi). Amanah adalah prinsip pertanggungjawaban kepada Allah Swt. Dalam melaksanakan pekerjaan, harus berlaku amanah kepada negara, organisasi, masyarakat dan individu.
4. Persaudaraan
“Dalam hal saling bersaudara, saling berkasih sayang, kaum Muslimin ibarat satu tubuh.“ (HR. Al-Bukhari). Perbuatan baik yang terjalin akan dapat mewujudkan suasana damai dan harmonis serta menjauhkan dari sifat iri dengki, hasat, hasut dan khianat., dan
5. Keadilan
“Apabila Allah menghendaki kebajikan bagi suatu kaum (umat), maka urusan mereka dipercayakan kepada orang-orang arif dan harta kekayaan mereka diserahkan kepada orang-orang dermawan.“ (HR. Abu Daud).
Keadilan yang dimaksud adalah setiap orang harus diperlakukan sesuai dengan semestinya (meletakkan sesuatu pada tempatnya), tanpa diskriminasi.
Demikian ceramah singkat yang bisa saya sampaikan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
6. 8 Penyakit Jiwa
Dikutip dari situs resmi pta-jambi.go.id.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pada hari ini saya akan menyampaikan ceramah singkat, mengenai 8 penyakit jiwa. Ada sebuah hadis yang berbunyi sebagai berikut.
“Nabi Muhammad Saw. pernah mengajarkan doa kepada Abdullah bin Abbas, Beliau berkata: “Maukah engkau aku ajarkan doa yang kalau engkau ucapkan, Allah akan menghilangkan atau melenyapkan kesusahan dan melunaskan hutang-hutangmu? Doa tersebut adalah, "Allohumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazan wa a’uudzubika minal ’ajzi walkasai, wa a’uudzubika minal jubni wa bukhli, wa a’uudzu bika min gholabatid-daini wa qohrirrijaal." (HR.Abu Daud).
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa ada 8 penyakit jiwa yang sangat berbahaya, sehingga Rasulullah Saw. memohon perlindungan kepada Allah Swt. Adapun 8 penyakit jiwa tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Suka berkeluh-kesah atau merasa susah
2. Kesedihan dan rasa sedih
3. Kelamahan
4. Malas
5. Pengecut
6. Kikir, pelit
7. Banyaknya hutang
8. Penindasan manusia
Mari kita berlindung dari kedelapan hal tersebut, semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongannya kepada kita, Amin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
7. Memahami Hadits Tidur Orang yang Puasa Bernilai Ibadah
Dikutip dari situs resmi nu.or.id.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pada kesempatan hari ini, saya akan membagikan ceramah mengenai pemahaman akan hadis yang berbunyi, “Tidur orang yang berpuasa bernilai ibadah”. Hadis ini biasanya disampaikan dalam menjelaskan keutamaan ibadah puasa pada bulan Ramadan.
Hadis “tidur orang yang berpuasa bernilai ibadah” diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abi Awfa Al-Aslami ra. Imam Al-Baihaqi mengatakan, di dalam riwayatnya terdapat perawi bernama Ma’ruf bin Hassan yang statusnya daif dan perawi bernama Sulaiman bin Amr An-Nakha’i yang lebih daif dari Ma’ruf.
Adapun bunyi hadits itu sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ
Arti: “Dari sahabat Abullah bin Abi Awfa ra, ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Tidur orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya tasbih, amalnya berlipat ganda, doanya diterima, dan dosanya diampuni,’” (HR Baihaki).
Hadis ini tidak dipahami secara harfiah begitu saja. Syekh Abdurrauf Al-Munawi dalam Kitab Faidhul Qadir menjelaskan hadis ini secara singkat,
‘Tidur orang yang berpuasa bernilai ibadah, diamnya (lain riwayat ‘nafasnya’) seperti kedudukan tasbih, amalnya berlipat ganda karena sebuah kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat, doanya diterima, dan dosa kecilnya diampuni selagi orang yang berpuasa menjauh dosa besar.’
Lalu bagaimana kita memahami tidur orang yang berpuasa bernilai ibadah? Kita harus memahami bahwa puasa adalah ibadah istimewa. Puasa merupakan ibadah yang berisi tuntutan untuk menjauhi hal yang membatalkan puasa dan larangan agama.
Puasa berbeda dengan ibadah lain, yaitu shalat, zakat, atau haji. Orang yang melaksanakan ibadah puasa tidak dituntut untuk melakukan sesuatu sebagaimana ibadah lain.
Berbeda dari ibadah shalat, zakat, atau haji yang mengandung gerakan aktif, ibadah puasa tidak menuntut gerakan aktif, tetapi justru gerakan pengendalian. Orang yang shalat, zakat, dan haji tidak dapat melakukannya sekaligus beraktivitas lain, termasuk sambil tidur.
Adapun orang yang melaksanakan ibadah puasa dapat melaksanakannya sekaligus dengan aktivitas lain karena memang tidak ada tuntutan untuk gerakan aktif ibadah pada puasa.
Dengan demikian, aktivitas apapun termasuk tidur pada siang hari Ramadhan dilakukan dalam kondisi ibadah karena memang tidak ada larangan aktivitas dalam ibadah puasa termasuk tidur.
Dengan ini pula kita dapat memahami bahwa ibadah puasa memiliki karakter yang berbeda dari jenis ibadah lainnya. Keistimewaan ibadah puasa ini memungkinkan kita untuk tetap beraktivitas seperti pada bulan lainnya.
Puasa tidak menyarankan kita untuk mengurangi aktivitas dan produktivitas kita. Selagi kita berpuasa, aktivitas dan produktivitas apapun yang kita lakukan bernilai ibadah.
Demikian ceramah yang bisa saya sampaikan. Semoga dapat bermanfaat untuk lebih memahami hadis-hadis dari Rasulullah Saw.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: 3 Ceramah tentang Malam Lailatul Qadar 2025, Ringkas dan Penuh Makna
Itu dia contoh ceramah singkat beserta hadisnya dalam berbagai tema. Beberapa contoh ceramah di atas yang lengkap dengan hadits dapat dijadikan sebagai referensi untuk dibawakan ketika akan berceramah. (PRI)
