Konten dari Pengguna

70 Contoh Majas Retoris dan Pengertiannya

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Contoh Majas Retoris. Foto: Unsplash/Finn Mund
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Contoh Majas Retoris. Foto: Unsplash/Finn Mund

Dalam bahasa Indonesia, ada beragam majas, dan satu di antaranya yang perlu dipahami ialah contoh majas retoris. Definisi majas retoris adalah kalimat pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.

Selain itu, kalimat retoris digunakan bukan dimaksudkan untuk bertanya, melainkan untuk menegaskan atau hanya mengonfirmasi balik. Biasanya kalimat retoris digunakan oleh pengarang untuk memperindah kalimat saja.

Daftar isi

Pengertian Majas Retoris

Ilustrasi Contoh Majas Retoris. Foto: Unsplash/Noémi Macavei-Katócz

Bahasa adalah salah satu alat utama manusia untuk berkomunikasi dan menyampaikan gagasan. Namun, dalam komunikasi, tidak cukup hanya menggunakan bahasa secara harfiah.

Penggunaan majas atau gaya bahasa menjadi hal yang sangat penting untuk mengekspresikan ide, menyampaikan pesan, dan memengaruhi pendengar dengan cara yang lebih kuat dan efektif.

Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan, majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pembicara. Majas dan majas retoris adalah dua unsur yang membentuk fondasi dalam seni bahasa dan komunikasi.

Majas adalah gaya bahasa kreatif yang digunakan untuk memberikan dimensi tambahan pada bahasa, sementara majas retoris adalah bentuk spesifik majas yang digunakan dalam retorika untuk tujuan persuasif dan artistik. Kedua konsep ini memiliki peran penting dalam meningkatkan daya tarik, efektivitas, dan kekuatan pesan yang disampaikan dalam berbagai bentuk komunikasi.

Majas sebagai ekspresi artistik dalam bahasa memberikan warna, keindahan, dan makna yang lebih dalam pada kata-kata. Ini mencakup berbagai teknik seperti metafora, simile, personifikasi, hiperbola, dan lain-lain.

Melalui majas, bahasa menjadi lebih hidup dan imajinatif, menggugah perasaan, dan mengundang pembaca atau pendengar untuk terlibat secara emosional dan intelektual. Penggunaan majas juga merupakan manifestasi kreativitas penulis atau pembicara, yang menambah dimensi seni dalam komunikasi.

Sementara itu, majas retoris adalah sub set khusus majas yang terutama digunakan dalam seni retorika. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi, meyakinkan, dan merangsang respons dari audiens.

Majas retoris mencakup teknik seperti metafora retoris, metonimi, hiperbola retoris, dan ironi. Penggunaan majas retoris dalam pidato atau tulisan persuasif mampu mengubah pemikiran dan pandangan audiens.

Mereka memberikan kedalaman dan kekuatan pada pesan yang disampaikan, membantu menciptakan efek yang kuat, dan meningkatkan daya ingat pesan dalam pikiran pendengar atau pembaca.

Contoh Majas Retoris

Ilustrasi Contoh Majas Retoris. Foto: Unsplash/Suzi Kim

Dikutip dari buku Retorika: Teori dan Teknik Praktis Seni Berbicara di Era Digital, Relly Anjar Vinata Wisnu Saputra, S.I.Kom., M.I.Kom., (40), beberapa contoh majas retoris yang bisa digunakan antara lain:

1. Simile (Perumpamaan)

Membandingkan dua hal dengan menggunakan kata "seperti" atau

2. Metaphor (Metafora)

Membandingkan dua hal tanpa menggunakan kata perbandingan.

3. Personifikasi

Memberikan sifat-sifat manusia kepada objek atau makhluk non-manusia.

4. Hyperbole (Hiperbola)

Penggunaan pernyataan yang berlebihan atau berlebih-lebihan untuk efek retorika.

5. Alliteration (Aliterasi)

Pengulangan bunyi konsonan di awal kata yang berdekatan dalam satu kalimat atau ayat.

6. Anaphora

Pengulangan kata atau frasa di awal kalimat secara berulang.

7. Metonymy (Metonimi)

Menggantikan kata dengan kata lain yang berhubungan dengannya secara konseptual atau geografis.

8. Ironi

Menggunakan kata-kata dengan makna yang berlawanan dari apa yang sebenarnya diungkapkan, sering kali untuk tujuan sindiran atau humor.

9. Eufemisme

Menggunakan kata atau ungkapan yang lebih halus atau menyenangkan untuk menyembunyikan atau mengurangi kejadian atau konsep yang kurang menyenangkan atau menyinggung.

10. Litotes

Penggunaan pengurangan yang ekstrem untuk menyampaikan maksud yang lebih kuat.

Adapun contoh kalimat majas retoris adalah sebagai berikut:

  1. Apa kamu pikir, kamu bisa membeli nyawa?

  2. Apa kita akan terus berdiam diri di tengah ketidakadilan ini?

  3. Apakah dia yang selama ini kamu bangga-banggakan?

  4. Siapa yang tidak ingin hidup bergelimang harta?

  5. Mau sampai kapan kita begini terus?

  6. Apa bisa kita menuntut hak kita, sedang kewajiban kita saja tidak dilaksanakan?

  7. Apakah gunanya bertengkar, lebih baik kita berdamai bukan?

  8. Apakah adil membiarkan mereka menderita kelaparan, sedangkan kita tidak pernah menghabiskan makanan yang dibeli dan hanya ingin memamerkan fotonya saja?

  9. Mengapa kalian takut jika disuruh jaga malam? Apa kalian pikir mayat-mayat itu akan hidup lagi?

  10. Masih pantaskah ia dijuluki orang pintar?

  11. Jadi menurutmu, kamu akan lulus walaupun kerjaanmu hanya bermain saja tanpa pernah belajar?

  12. Apalagi yang dapat kita kerjakan kecuali hanya memohon pertolongan Tuhan?

  13. Mana ada pejabat yang jujur sekarang ini?

  14. Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan?

  15. Memang kamu bisa membeli nyawa?

  16. Benarkah manusia tidak pernah berbuat dosa?

  17. Kok kamu buang sampah di sini, memang kamu tak tahu tempat sampah untuk apa?

  18. Apa gunanya mengeluarkan banyak anggaran untuk pemilu, kalau hasil akhirnya sudah bisa diketahui dari awal?

  19. Benarkah ekonomi negara kita sedang meroket? Bukankah jumlah pengangguran dewasa ini semakin tinggi?

  20. Apa arti dari kemajuan politik jika hasilnya hanya berimbas pada kesengsaraan rakyat yang tidak memiliki kuasa?

  21. Bukankah sia-sia kita menunggu 5 tahun untuk pesta demokrasi, sementara hasilnya hanya menipu banyak orang?

  22. Apakah perlu kehancuran dulu untuk bisa membangung negara yang lebih adil dari awal?

  23. Mau sampai kapan kita begini terus?

  24. Apa bisa kita menuntut hak kita, sedang kewajiban kita saja tidak dilaksanakan?

  25. Masih adakah hati nurani di dalam diri kalian?

  26. Apa mungkin suatu perubahan bisa terjadi hanya dalam satu detik?

  27. Apakah kita harus mengalami kesusahan terlebih dahulu agar kita dapat memahami kesusahan yang mereka alami?

  28. Bagaimana mungkin engkau sukses, sedangkan kamu masih saja terus mengeluh.

  29. Siapa yang tak mengenal Kota Yogyakarta?

  30. Apakah semuanya harus sampai di sini saja?

  31. Apakah kamu ingin menyerah sampai di sini?

  32. Kalau begini terus, kapan bisa kayanya?

  33. Apakah kita hanya diam saja ketika situasi buruk seperti ini?

  34. Apalagi yang bisa kita lakukan selain meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa?

  35. Apa bisa kita menuntut hak-hak kita sendiri, sedang kewajiban kita saja sama sekali tidak ada yang dilaksanakan?

  36. Apakah kita hanya akan duduk diam saja menunggu bantuan tiba?

  37. Apakah kalian rela, jika Tanah Air kita diganggu dan serang oleh penjajah?

  38. Kalau mengeluh terus, bagaimana kamu nanti bisa sukses?

  39. Apakah ini yang kita inginkan untuk para generasi penerus

  40. Mengapa kita masih membiarkan korupsi merajalela?

  41. Apakah kamu bisa membayangkan dunia tanpa teknologi?

  42. Apakah kamu sudah memilih jalan hidup yang tepat?

  43. Bukankah kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu berbagi dengan orang lain?

  44. Pantaskah kamu menyakiti hati orang-orang di sekitarmu?

  45. Apakah kita bisa hidup tanpa makan dan minum?

  46. Bagaimana mungkin kita dapat memahami alam semesta yang begitu luas ini?

  47. Apa artinya kebebasan jika kita tidak dapat menggunakannya dengan bijak?

  48. Bisakah kita benar-benar memisahkan agama dari politik?

  49. Apakah cinta benar-benar bisa menyembuhkan segala luka?

  50. Bagaimana mungkin kita bisa menilai seseorang hanya berdasarkan penampilannya?

  51. Bagaimana kita bisa mengharapkan perdamaian di dunia jika kita tidak bisa hidup berdamai dengan tetangga kita?

  52. Apa gunanya memiliki kekayaan dan segalanya jika kita tidak memiliki kesehatan?

  53. Bagaimana kita bisa membangun masa depan yang cerah jika kita terus berpegang pada masa lalu?

  54. Apa arti kehidupan jika kita tidak pernah mencari maknanya?

  55. Bisakah kita benar-benar mengendalikan nasib kita sendiri?

  56. Apakah kita mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri demi kekuatan yang dibawanya?

  57. Dapatkah cinta ada tanpa kepercayaan apakah kepercayaan merupakan prasyarat untuk cinta?

  58. Apakah mengejar kebahagiaan adalah tujuan universal sebuah konstruksi budaya?

  59. Dapatkah seseorang benar-benar berubah apakah mereka selamanya terikat oleh masa lalunya?

  60. Bagaimana jika ingatan kita tidak dapat diandalkan seperti yang kita pikirkan?

  61. Adakah pemandangan yang lebih indah daripada langit malam yang berbintang?

  62. Dapatkah kita benar-benar memahami kedalaman pikiran manusia?

  63. Mungkinkah menemukan makna di dunia yang penuh dengan kekacauan?

  64. Apakah tidak terlalu berlebihan ketika kamu bercita-cita menikahi artis terkenal, sedangkan kamu hanya seorang pengangguran?

  65. Bagaimana jadinya negara ini jika dipimpin orang sepertimu, Roni? Orang yang hanya suka bermain dan tidak pernah belajar.

  66. Bukankah sangat aneh, ketika masyarakat kita yang dikenal sangat toleran justru tidak senang ketika melihat tetangganya bahagia.

  67. Apakah kamu harus mati dulu, untuk membuktikan bahwa surga dan neraka itu benar-benar ada?

  68. Apa yang disebut dengan bahagia? Apakah memiliki banyak uang, banyak teman, atau kekuasaan?

  69. Siapa yang tidak mengenal Bali? Sebuah destinasi wisata yang sangat terkenal, bahkan sampai ke luar negeri.

  70. Bagaimana, sangat menyenangkan bukan bisa mengunjungi tempat wisata terbaik di Bali?

Baca Juga: 65 Contoh Majas Simile berserta Pengertiannya

Penggunaan contoh majas retoris memainkan peran yang sangat penting dalam meningkatkan keindahan, kekuatan, dan efektivitas bahasa dalam komunikasi. Majas memberikan keindahan pada bahasa, membuat komunikasi lebih menggugah emosi, dan meningkatkan daya tarik pesan yang disampaikan.(Adm)