9 Puisi Tentang Alam yang Menyentuh Hati

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi tentang alam berikut ini mungkin bisa menjadi cara berbeda untuk kamu mengungkapkan kekagumanmu terhadap keindahan alam sekitar.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), alam memiliki makna yaitu segala yang ada di langit dan di bumi, lingkungan kehidupan, segala sesuatu yang termasuk dalam satu lingkungan dan dianggap sebagai satu keutuhan.
Puisi Tentang Alam
Mengungkapkan rasa kagummu pada keindahan alam dapat dilakukan dalam berbagai cara. Salah satunya adalah dengan membuat puisi tentang alam.
Berikut ini adalah beberapa contoh puisi tentang alam yang menyentuh hati :
"The Road Not Taken" (Jalan Tidak Diambil) – Robert Frost Dua jalan bercabang di hutan kuning, Dan maaf saya tidak bisa melakukan perjalanan keduanya Dan jadilah seorang musafir, lama aku berdiri Dan melihat ke bawah sejauh yang saya bisa Ke tempat ia membungkuk di semak-semak; Kemudian mengambil yang lain, sama adilnya, Dan mungkin memiliki klaim yang lebih baik, Karena berumput dan ingin dipakai; Meskipun untuk itu lewat di sana Telah memakainya benar-benar hampir sama, Dan keduanya pagi itu sama-sama berbaring Dalam daun tidak ada langkah yang telah diinjak hitam. Oh, saya menyimpan yang pertama untuk hari lain! Namun mengetahui bagaimana jalan mengarah ke jalan, Saya ragu apakah saya harus kembali. Saya akan mengatakan ini sambil menghela nafas Di suatu tempat usia dan usia karenanya: Dua jalan bercabang di hutan, dan aku— Saya mengambil yang jarang dilalui
Kawanku dan Aku – Chairil Anwar Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat Siapa berkata-kata…? Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna Dan gerak tak punya arti
Hatiku Selembar Daun – Sapardi Djoko Darmono Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput Nanti dulu biarkan aku sejenak terbaring di sini ada yang masih ingin kupandang yang selama ini senantiasa luput Sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi
Hanya – Sapardi Djoko Darmono hanya suara burung yang kau dengar dan tak pernah kaulihat burung itu tapi tahu burung itu ada di sana hanya desir angin yang kaurasa dan tak pernah kaulihat angin itu tapi percaya angin itu di sekitarmu hanya doaku yang bergetar malam ini dan tak pernah kaulihat siapa aku tapi yakin aku ada dalam dirimu
Senja di Pelabuhan Kecil – Chairil Anwar Senja di Pelabuhan Kecil Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang, rumah tua, pada cerita Tiang serta temali Kapal, perahu tiada berlaut Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam Ada juga kelepak elang menyinggung muram Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak Tiada lagi. Aku sendirian. Berjalan menyisir semenanjung Masih pengap harap Sekali tiba di ujung Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat Sedu penghabisan bisa terdekap
Sajak Matahari – W. S. Rendra Matahari bangkit dari sanubariku Menyentuh permukaan samudra raya. Matahari keluar dari mulutku, menjadi pelangi di cakrawala Wajahmu keluar dari jidatku, wahai kamu, wanita miskin! Kakimu terbenam di dalam lumpur Kamu harapkan beras seperempat gantang, dan di tengah sawah tuan tanah menanammu! Satu juta lelaki gundul keluar dari hutan belantara, tubuh mereka terbalut lumpur dan Kepala mereka berkilatan memantulkan cahaya matahari Mata mereka menyala tubuh mereka menjadi bara dan mereka membakar dunia Matahari adalah cakra jingga yang dilepas tangan Sang Krishna Ia menjadi rahmat dan kutukanmu, ya, umat manusia!
Hutan Karet – Joko Pinurbo Daun-daun karet berserakan. Berserakan di hamparan waktu. Suara monyet di dahan-dahan.Suara kalong menghalau petang. Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan. Berloncatan di semak-semak rindu. Dan sebuah jalan melingkar-lingkar. Membelit kenangan terjal. Sesaat sebelum surya berlalu masih kudengar suara bedug bertalu-talu.
Dunia Leluhur – Sitor Situmorang Hutan jadi bayang-bayang roh leluhur merasuki tubuh Kutanam bambu biar hangat kampung halaman Daunnya hijau lebih hijau kala rimbun Ditenun angin roh bertengger di ubun-ubun Maya tombak tertancap di daratan Ku rajut benang hidup Waktu yang ku lalui Jejak pemburu di pegunungan Burung di malam berbulan Hidup dari sepi minum dari daun ilalang Jadi jin Jadi ijuk Jadi tanah liat Jadi batu Jadi danau Jadi angin Tali dipintal Titianku ke dunia sana
Bukit Biru, Bukit Kelu – Taufiq Ismail Adalah hujan dalam kabut yang ungu Turun sepanjang gunung dan bukit biru Ketika kota cahaya dan di mana bertemu Awan putih yang menghinggapi cemaraku Adalah kemarau dalam sengangar berdebu Turun sepanjang gunung dan bukit kelu Ketika kota tak bicara dan terpaku Gunung api dan hama di ladang-ladangku Lereng-lereng senja Pernah menyinar merah kesumba Padang ilalang dan bukit membatu Tanah airku.
Demikianlah beberapa kumpulan puisi tentang alam yang menyentuh hati. Semoga bermanfaat!(Ifra)
