95 Contoh Majas Retorika dalam Pelajaran Bahasa Indonesia

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, pelajar akan mempelajari beragam materi tentang majas, salah satunya adalah contoh majas retorika. Majas ini penting untuk diketahui sebab seringkali ditemui pada percakapan sehari-hari.
Mengutip dari buku Pintar Majas, Pantun, dan Puisi, Ulin Nuha Masruchin, (2017), majas merupakan sebuah gaya bahasa yang berisi kiasan, ibarat, perumpamaan yang memiliki tujuan untuk mempercantik makna dan pesan dalam sebuah kalimat.
Sedangkan, majas retorika adalah salah satu jenis majas yang berbentuk kalimat tanya dan tidak memerlukan jawaban. Kalimat ini termasuk dalam kelompok majas penegasan dan berfungsi untuk menegaskan suatu hal atau perasaan.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
95 Contoh Majas Retorika
Berikut adalah beberapa contoh majas retorika dalam pelajaran bahasa Indonesia agar dapat menjadi pembelajaran siswa:
Siapa lagi kalau bukan kalian yang bisa menolongnya?
Coba lihat jam berapa sekarang dan kamu baru datang sekolah?
Ke mana saja selama ini sampai tugas ini belum selesai juga?
Siapa yang tidak senang ketika tim yang dibelanya menang?
Siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok?
Siapa yang tidak ingin hidup bergelimang harta?
Bukankah setiap manusia memiliki hak yang sama?
Apa menurutmu garam itu tidak asin?
Apakah kita benar-benar percaya akan adanya Tuhan?
Mengapa seni dan budaya sangat penting bagi kehidupan manusia?
Apakah kita akan mengulangi kesalahan masa lalu?
Apa arti hidup sebenarnya?
Apakah kita rela melihat hutan-hutan kita gundul dan hewan-hewan punah?
Mengapa minat baca anak-anak semakin menurun?
Apakah kecerdasan buatan akan menggantikan peran manusia?
Mengapa masih banyak orang yang mengalami diskriminasi?
Harus ada berapa lagi korban agar mereka berhenti?
Siapa lagi yang akan menjagamu selama hidup kalau bukan orang tuamu?
Bukankah kau ingin menjadi inspirasi bagi orang lain lewat tindakan positif?
Apa gunanya menyimpan dendam jika hanya membuat jatuh diri sendiri?
Mengapa kita harus selalu menyalahkan orang lain atas kegagalan kita?
Apakah kita sudah cukup berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri?
Dari mana saja kau sampai baru tahu kabar ini?
Siapa yang tidak ingin mengikuti perkembangan zaman?
Mengapa kita harus mengabaikan kesehatan?
Bukankah ilmu itu penting?
Siapa yang tidak ingin sukses?
Apa gunanya sekolah kalau tidak rajin?
Apakah musik dapat menyentuh jiwa?
Siapa yang tidak suka keindahan?
Siapa yang tidak sedih jika orang yang di cintainya meninggal ?
Bukankah kita semua menginginkan Indonesia yang lebih baik?
Siapa yang tidak ingin meraih kesuksesan? Bukankah kita semua memiliki potensi yang luar biasa?
Mengapa kita selalu menunda-nunda hal yang seharusnya bisa diselesaikan hari ini?
Jangan berbuat dosa seperti itu, apa kamu siap jika kamu meninggal besok ?
Jadi menurutmu kamu tetap akan naik kelas walau main game setiap hari tanpa belajar ?
Bukankah semua orang menginginkan perdamaian di dunia ini?
Apakah kamu tidak merasa lelah dengan semua kegiatan yang membosankan ini?
Mengapa kita harus terus menerus merusak alam yang indah ini? Bukankah kita harus menjaganya sepenuh hati?
Apakah kita sudah cukup belajar dari pengalaman masa lalu?
Bukankah kesabaran merupakan sebuag=h kunci dalam menghadapi setiap cobaan hidup?
Bukankah kau ingin meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi mendatang?
Mengapa setiap orang takut ke kamar mayat? Apa mereka pikir mayat-mayat itu akan hidup lagi?
Ingin kulit wajah yang cerah berseri? Siapa yang tidak menginginkannya?
Mengapa langit selalu biru? Apakah ada rahasia di balik warna birunya itu?
Bukankah kau ingin melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda?
Tidakkah kau merasa bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam penyesalan?
Apa gunanya kekayaan dan kecerdasan jika tidak bisa membeli kebahagiaan?
Tidakkah kau merasa bahwa hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan kejahatan?
Apa artinya sebuah status sosial jika tidak kita bisa membahagiakan orang-orang tersyang?
Mengapa kita selalu membuang-buang makanan sementara masih banyak orang yang kelaparan?
Apa artinya sebuah kesuksesan jika harus mengorbankan kebahagiaan?
Mengapa kita seringkali merasa kesepian meskipun dikelilingi banyak orang?
Apakah kita sudah cukup bersyukur atas apa yang kita miliki hari ini?
Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?
Siapa yang tidak pernah merasakan kecewa dalam cinta?
Bukankah kamu pernah berjanji setia?
Siapa yang tidak ingin hidup lebih mudah dengan teknologi?
Tidakkah kau merasa bahwa hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan?
Bukankah setiap orang berhak mendapatkan pekerjaan?
Siapa yang tidak ingin hidup sejahtera?
Apakah ekonomi Indonesia sudah stabil?
Apakah kita rela melihat ketidakadilan terus terjadi di sekitar kita? Bukankah setiap manusia memiliki hak yang sama?
Kapan kita akan berhenti membeda-bedakan orang berdasarkan ras, agama, atau status sosial?
Apakah cinta itu buta atau memang sengaja ditutup matanya?
Kapan kita akan sadar bahwa sumber daya alam tidak akan habis jika kita bijak menggunakannya?
Mengapa kita sulit untuk mengubah gaya hidup yang merusak lingkungan?
Apakah kita rela demokrasi kita dicederai oleh kepentingan segelintir orang? Bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan?
Kapan para pemimpin kita akan benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat?
Mengapa korupsi masih menjadi masalah yang sulit diatasi di negara kita?
Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan?
Mengapa sebagian orang sulit untuk mengubah pola makan yang tidak sehat? Bukankah kesehatan adalah harta yang tak ternilai?
Kapan kita akan menyadari pentingnya berolahraga secara teratur?
Apakah kita tega melihat anak-anak jalanan kelaparan di tengah kemewahan sebagian orang? Bukankah mereka juga berhak mendapatkan kehidupan yang layak?
Apakah kita rela generasi muda bangsa ini tumbuh tanpa pengetahuan yang memadai? Bukankah pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan?
Mengapa kita masih saja meremehkan pentingnya membaca? Bukankah buku adalah jendela dunia yang membuka pikiran kita?
Siapa yang tidak ingin menjadi pribadi yang cerdas dan berpengetahuan luas?
Apa gunanya mendapatkan gelar sarjana jika tidak disertai dengan tindakan nyata untuk memajukan masyarakat?
Mengapa kita harus menyerah? Mengapa kita tidak boleh bermimpi lebih tinggi?
Apakah Anda lebih memilih hidup dalam kegelapan atau menerangi dunia dengan kebaikan?
Mengapa cinta seringkali menyakitkan? Bukankah cinta seharusnya membawa kebahagiaan? Kapan kita akan menemukan cinta sejati?
Ingin kulit wajah yang cerah berseri? Ingin terlihat lebih muda dari usia sebenarnya? Siapa yang tidak menginginkannya?
Mengapa bintang selalu berkelap-kelip di malam hari? Apakah mereka sedang berbisik tentang rahasia alam semesta? Atau mungkin mereka sedang merindukan seseorang yang jauh di sana?
Apakah kita rela negara kita terus terpuruk dalam kemiskinan? Bukankah kita semua menginginkan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera?
Mengapa kita harus takut gagal? Bukankah kegagalan adalah bagian dari proses menuju kesuksesan? Siapa yang tahu jika kesuksesan terbesar kita ada di balik kegagalan terpahit?
Apakah kita rela masa depan bangsa ini terancam karena minimnya pendidikan? Bukankah pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu masa depan? Mengapa kita begitu acuh terhadap pentingnya belajar?
Mengapa kesenjangan sosial semakin melebar? Bukankah kita semua adalah saudara? Kapan keadilan akan benar-benar terwujud di negeri ini?
Mengapa harga kebutuhan pokok semakin melambung? Bukankah setiap warga negara berhak atas kehidupan yang layak?
Apakah kita akan terus mengabaikan kesehatan tubuh kita? Bukankah kesehatan adalah harta yang tak ternilai? Kapan kita akan mulai hidup sehat?
Mengapa kita harus melupakan budaya leluhur kita? Bukankah budaya adalah identitas bangsa? Kapan kita akan bangga menjadi orang Indonesia?
Apa arti hidup sebenarnya? Mengapa kita ada di dunia ini? Kemanakah kita akan pergi setelah mati?
Apakah kita akan menjadi budak bagi teknologi yang kita ciptakan sendiri? Bukankah kecerdasan buatan seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti manusia?
Apakah kita akan terus bergantung pada teknologi tanpa memikirkan dampak negatifnya? Bukankah teknologi seharusnya menjadi alat untuk memudahkan hidup, bukan malah menghancurkannya?
Apakah kita tega melihat bumi kita semakin rusak akibat ulah kita sendiri? Bukankah bumi adalah rumah kita satu-satunya? Kapan kita akan sadar akan pentingnya menjaga lingkungan?
Mengapa kekerasan dalam rumah tangga masih sering terjadi? Bukankah rumah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua anggota keluarga?
Demikian beberapa contoh majas retorika dalam pelajaran bahasa Indonesia agar dapat menjadi pembelajaran siswa. (hen)
Baca Juga: 100 Contoh Majas Sinisme dan Pengertiannya sebagai Bahan Pembelajaran
