Konten dari Pengguna

96 Contoh Majas Litotes yang Dapat Digunakan Sehari-hari

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Contoh Majas Litotes. Unsplash/Rey Seven
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Contoh Majas Litotes. Unsplash/Rey Seven

Dalam karya sastra, contoh majas litotes sering digunakan untuk menciptakan efek yang lebih mendalam pada pembaca atau pendengar.

Majas litotes adalah salah satu jenis majas yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu dengan cara merendahkan atau mengecilkan diri, padahal kenyataannya dapat jauh lebih besar atau lebih baik.

Majas ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, pidato, atau karya sastra untuk menyampaikan makna dengan cara yang lebih halus dan sopan.

Daftar isi

96 Contoh Majas Litotes

Ilustrasi Contoh Majas Litotes. Unsplash/Mikhail Pavstyuk

Dalam kehidupan sehari-hari, cukup banyak contoh majas litotes yang dapat ditemukan.

Dikutip dari buku Analisis Bentuk Fungsi dan Makna Majas dalam Bahasa Tetun, Rofnus Taek, S. Pd., M.Hum (105), majas litotes merupakan gaya bahasa berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.

Majas litotes dapat diungkapkan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Jika menggunakan kata yang berlawanan artinya dengan maksud merendahkan diri terhadap orang yang berbicara. Berikut adalah 96 contoh dari majas litotes dalam berbagai konteks:

  1. "Rumah kami hanya gubuk sederhana di pinggir kota."

  2. "Ini hanya masakan seadanya, jangan terlalu diharapkan enaknya."

  3. "Saya hanyalah orang kecil yang tidak memiliki apa-apa."

  4. "Ini hanya hasil kerja keras kecil-kecilan, tidak seberapa."

  5. "Kami cuma orang biasa yang tidak punya keistimewaan apa-apa."

  6. "Hanya ini yang dapat saya berikan, maaf jika tidak cukup."

  7. "Saya bukan siapa-siapa, hanya seorang yang mencoba bertahan hidup."

  8. "Maaf, hanya ini yang dapat saya sumbangkan."

  9. "Hidangan ini mungkin tidak seberapa dibanding masakan Anda."

  10. "Saya hanya lulusan sekolah pinggiran, tidak terlalu pintar."

  11. "Mobil saya hanya kendaraan tua yang sering mogok."

  12. "Saya hanya pegawai rendahan, tidak memiliki banyak pengaruh."

  13. "Ini hanya coretan kecil yang tidak ada artinya."

  14. "Kami hanya pedagang kecil yang mencoba bertahan hidup."

  15. "Jangan terlalu berharap, saya hanya orang biasa."

  16. "Rumah ini hanya tempat berteduh seadanya."

  17. "Kecantikan saya hanya sebatas biasa saja."

  18. "Saya cuma punya sedikit uang, tidak cukup untuk hal besar."

  19. "Anak saya hanya bersekolah di tempat biasa, tidak istimewa."

  20. "Hanya ini yang bisa saya kerjakan, semoga tidak mengecewakan."

  21. "Maaf, saya hanya bisa membantu sedikit."

  22. "Kami hanya memiliki barang-barang seadanya."

  23. "Hanya ini yang bisa saya bawa, maaf jika tidak cukup."

  24. "Saya hanya pekerja kasar, tidak punya kemampuan lebih."

  25. "Pendidikan saya hanya sampai tingkat dasar."

  26. "Jangan terlalu berharap, saya tidak terlalu pandai."

  27. "Kami hanya tinggal di rumah kontrakan sederhana."

  28. "Penghasilan kami hanya cukup untuk makan sehari-hari saja."

  29. "Maaf, saya tidak punya banyak waktu untuk membantu."

  30. "Saya hanya punya sepeda tua, tidak punya kendaraan lain."

  31. "Kami hanya berjualan di pasar kecil."

  32. "Ini hanya proyek kecil, tidak ada yang istimewa."

  33. "Saya hanya penulis amatir, tidak punya karya besar."

  34. "Kami hanya petani kecil yang mengolah sawah sepetak."

  35. "Maaf, kemampuan saya sangat terbatas."

  36. "Rumah kami hanya beratap seng dan berdinding kayu."

  37. "Saya hanya seorang ibu rumah tangga, tidak punya pekerjaan lain."

  38. "Saya hanya bisa menyumbang sedikit, tidak seberapa."

  39. "Ini hanya acara kecil-kecilan, jangan berharap terlalu banyak."

  40. "Saya hanya seorang murid biasa, tidak pandai seperti yang lain."

  41. "Kami hanya memproduksi barang-barang sederhana."

  42. "Pekerjaan saya hanya seorang tukang kebun, tidak ada yang istimewa."

  43. "Ini hanya secuil harapan yang saya punya."

  44. "Saya hanya bisa memberi sedikit bantuan."

  45. "Kecantikan saya hanya seadanya, tidak ada yang istimewa."

  46. "Hanya ini yang bisa saya persembahkan."

  47. "Saya hanya memiliki toko kecil di pinggir jalan."

  48. "Maaf, saya hanya dapat membawa hadiah kecil ini."

  49. "Kami hanya memiliki sawah kecil yang tidak seberapa."

  50. "Saya hanya orang kampung yang tidak tahu apa-apa."

  51. "Rumah kami hanya pondok kecil di pinggir hutan saja."

  52. "Saya hanya penjual keliling, tidak punya tempat tetap."

  53. "Ini hanya tulisan sederhana, tidak ada yang istimewa."

  54. "Saya hanya penonton biasa, tidak punya tiket VIP."

  55. "Kami hanya memiliki ternak sedikit, tidak ada yang berharga."

  56. "Maaf, saya hanya dapat mengundang Anda ke rumah sederhana kami."

  57. "Saya hanya seorang buruh tani, tidak punya tanah sendiri."

  58. "Ini hanya baju lama yang saya punya, tidak ada dan belum ada yang baru."

  59. "Kami hanya memiliki sawah kecil yang tidak menghasilkan banyak."

  60. "Saya hanya lulusan SMA, tidak punya gelar tinggi."

  61. "Rumah ini hanya bangunan tua yang tidak layak."

  62. "Saya hanya memiliki sedikit ilmu, tidak banyak yang bisa dibagikan."

  63. "Kami hanya memiliki sedikit simpanan, tidak cukup untuk investasi besar."

  64. "Saya hanya pekerja paruh waktu, tidak punya penghasilan tetap."

  65. "Ini hanya pekerjaan kecil-kecilan yang saya lakukan."

  66. "Kami hanya punya kebun kecil di belakang rumah."

  67. "Ini hanya angan-angan kecil saya, mungkin tidak berarti."

  68. "Kami hanya memiliki rumah tua yang hampir roboh."

  69. "Saya hanya seorang penulis pemula, belum memiliki karya yang besar."

  70. "Ini hanya usaha kecil-kecilan, belum ada yang besar."

  71. "Saya hanya punya sepeda motor tua, tidak ada yang lain."

  72. "Saya hanya bisa memberikan saran sederhana."

  73. "Saya hanya buruh kasar, tidak punya keahlian khusus."

  74. "Rumah ini hanya bangunan tua yang hampir runtuh."

  75. "Kami hanya petani kecil, tidak punya lahan luas."

  76. "Saya hanya punya sedikit uang, tidak cukup untuk membeli banyak barang."

  77. "Ini hanya makanan sederhana yang saya bisa siapkan."

  78. "Saya hanya pekerja biasa, tidak punya jabatan tinggi."

  79. "Kami hanya keluarga kecil yang tinggal di rumah kontrakan."

  80. "Saya hanya punya sedikit pengalaman, belum banyak belajar."

  81. "Ini hanya hadiah kecil dari saya, maaf jika tidak seberapa."

  82. "Kami hanya punya sedikit perabotan di rumah."

  83. "Saya hanya bisa menyumbang sedikit tenaga saja untuk ini."

  84. "Rumah kami hanya terdiri dari dua kamar kecil."

  85. "Ini hanya barang sederhana yang bisa saya berikan."

  86. "Kami hanya memiliki kebun kecil yang hasilnya sedikit."

  87. "Saya hanya orang kampung yang tidak punya banyak pengalaman."

  88. "Ini hanya usaha kecil yang saya rintis sendiri."

  89. "Kami hanya tinggal di rumah sewa yang sederhana."

  90. "Saya hanya bisa memberi sedikit uang, maaf jika tidak cukup."

  91. "Ini hanya sebuah lukisan sederhana dari saya."

  92. "Kami hanya punya sedikit simpanan, tidak banyak yang bisa disimpan."

  93. "Saya hanya bisa menulis sedikit puisi, tidak ada yang istimewa."

  94. "Rumah ini hanya terdiri dari satu kamar kecil."

  95. "Saya hanya memiliki mobil tua, tidak ada yang mewah."

Karakteristik Majas Litotes

Majas litotes memiliki sejumlah karakteristik, yaitu:

  1. Merendahkan Diri: Majas litotes secara implisit menunjukkan sikap rendah hati atau mengecilkan diri dari realitas sebenarnya.

  2. Pengurangan Nilai: Majas litotes biasanya melibatkan pengurangan atau peremehan nilai sesuatu yang sebenarnya lebih besar atau lebih penting daripada yang diungkapkan. Contohnya, ketika seseorang berkata, "Ini hanya hadiah sederhana," padahal hadiah tersebut sangat berharga.

  3. Kesopanan dalam Bahasa: Majas ini digunakan untuk menyampaikan maksud dengan cara yang lebih halus dan sopan. Ini bisa digunakan untuk menghindari kesan sombong atau angkuh.

  4. Ironi Terselubung: Ada elemen ironi dalam penggunaan litotes karena makna yang ingin disampaikan sering kali berlawanan dengan apa yang diungkapkan secara harfiah. Ironi ini biasanya dimengerti oleh pendengar atau pembaca yang akrab dengan konteks atau situasi.

  5. Kehalusan dalam Penegasan: Meskipun merendahkan nilai, litotes sebenarnya dapat digunakan untuk menegaskan sesuatu dengan cara yang lebih halus. Dengan merendahkan sesuatu, penulis atau pembicara justru menegaskan pentingnya hal tersebut.

  6. Kontraksi Makna: Dalam majas litotes, makna sering kali dikontraksikan atau dipersempit untuk menciptakan efek tertentu, seperti membuat sesuatu terdengar kurang penting atau lebih sederhana daripada kenyataannya.

Penggunaan Majas Litotes dalam Karya Sastra dan Kehidupan Sehari-hari

Dikutip dari buku Stilistika, Burhan Nurgiyantoro (2014:265) dalam kehidupan berbahasa sehari-hari pun majas ini juga banyak ditemukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, majas litotes sering digunakan dalam berbagai situasi, seperti saat memberikan pidato, berbicara dengan orang yang lebih tua, atau saat berbicara dengan seseorang yang memiliki status sosial lebih tinggi.

Penggunaan litotes dapat membantu menciptakan suasana yang lebih sopan dan menghindari kesan sombong.

Majas litotes adalah salah satu alat bahasa yang penting dalam komunikasi, terutama dalam budaya yang menghargai kerendahan hati dan kesantunan.

Dengan menggunakan litotes, seseorang bisa mengekspresikan perasaan atau pendapatnya dengan cara yang lebih halus dan sopan.

Contoh-contoh yang diberikan di atas menunjukkan berbagai cara litotes digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dari yang sederhana hingga yang lebih kompleks.

Penggunaan majas litotes tidak hanya memperkaya bahasa, tetapi juga membantu menciptakan komunikasi yang lebih harmonis dan menghormati.

Dari contoh majas litotes, majas ini adalah bagian penting dari seni berbahasa yang sebaiknya dipahami dan dikuasai oleh setiap penutur bahasa. (Mey)