Kumpulan Pantun Akhiran U dari Berbagai Tema sebagai Referensi

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantun akhiran u sering dicari oleh para siswa untuk menyelesaikan tugas dari sekolah. Pantun merupakan salah satu materi yang sering muncul dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Berdasarkan buku yang berjudul The Learning Cell Dalam Pembelajaran Menulis Pantun, Dra. Wiji Astuti, (2021:30), pantun adalah salah satu jenis sastra lisan yang berbentuk puisi. Pantun dikenal di berbagai daerah Indonesia dengan nama yang berbeda-beda.
Pantun sering digunakan untuk membuat suasana menjadi lebih ceria. Karena dengan menggunakan pantun, seseorang bisa mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakannya. Pantun tidak hanya menghibur, akan tetapi juga dapat digunakan untuk merangkum keindahan momen yang spesial.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Pantun
Sebelum membahas tentang pantun akhiran u, alangkah baiknya jika mengetahui lebih dalam pengertian pantun itu sendiri.
Berdasarkan buku yang berjudul Sastra Indonesia Lengkap, Tim Sastra Cemerlang, (2018:33), pantun merupakan puisi melayu lama asli indonesia yang terdiri dari sampiran dan isi dengan rima a-b-a-b.
Kata "Pantun" berasal dari bahasa jawa kuno yaitu tuntun, yang berarti mengatur atau menyusun. Pantun adalah sebuah karya yang tidak hanya memiliki rima dan irama yang indah, namun juga mempunyai makna yang penting.
Pantun awalnya merupakan karya sastra indonesia lama yang diungkapkan secara lisan, namun seiring berkembangnya zaman sekarang pantun mulai diungkapkan tertulis. Pantun merupakan karya yang dapat menghibur sekaligus mendidik dan menegur.
Pantun merupakan ungkapan perasaan dan pikiran, karena ungkapan tersebut disusun dengan kata-kata hingga sedemikian rupa sehingga sangat menarik untuk didengar atau dibaca. Pantun menunjukkan bahwa indonesia memiliki ciri khas tersendiri untuk mendidik dan menyampaikan hal yang bermanfaat.
1. Ciri-Ciri Pantun
Adapun ciri-ciri pantun berdasarkan buku yang berjudul Sastra Indonesia Lengkap, Tim Sastra Cemerlang, (2018:34), adalah sebagai berikut:
Pantun memiliki bait, setiap bait pantun disusun oleh baris baris. Satu bait terdiri dari 4 baris.
Setiap baris terdiri dari 8 - 12 suku kata.
Setiap baris terdiri dari 4 - 6 kata.
Setiap bait pantun terdiri atas sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, baris ketiga dan keempat merupakan isi. (Walaupun sampiran tidak berhubungan langsung dengan isi, namun lebih baik apabila kata-kata pada sampiran merupakan cerminan dari isi yang hendak disampaikan)
Pantun Bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a (tidak boleh a-a- b-b atau sajak lain)
2. Macam-Macam Pantun
Adapun macam-macam pantun berdasarkan buku yang berjudul Sastra Indonesia Lengkap, Tim Sastra Cemerlang, (2018:34),, adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan Siklus Kehidupan (Usia)
Pantun Anak-Anak, yaitu pantun yang berhubungan dengan kehidupan pada masa kanak-kanak. Pantun ini dapat menggambarkan makna suka cita maupun duka cita.
Pantun Orang Muda, yaitu pantun yang berhubungan dengan kehidupan pada masa muda. Pantun ini biasanya bermakna tentang perkenalan, hubungan asmara dan rumah tangga, perasaan (kasih sayang, iba, iri, dan yang lainnya), dan nasib.
Pantun Orang tua, yaitu pantun yang berhubungan dengan orang tua. Biasanya tentang adat budaya, agama, nasihat, dan yang lainnya.
2. Berdasarkan Isinya
Pantun Jenaka, yaitu pantun yang berisikan tentang hal-hal lucu dan menarik.
Pantun Nasihat, yaitu pantun yang berisikan tentang nasihat, bertujuan untuk mendidik, dengan memberikan nasihat tentang moral, budi perkerti, dan yang lainnya.
Pantun Teka-teki, yaitu pantu yang berisikan teka teki, dan biasanya pendengar atau pembaca diberi kesempatan untuk menerka teka-teki pantun tersebut.
Pantun Kiasan, Pantun yang berisikan tentang kiasan yang biasanya untuk menyampaikan suatu hal secara tersirat.
3. Kaidah Menyusun Pantun
Berikut adalah kaidah penyusunan pantun berdasarkan buku Khazanah Negeri Pantun, Rendra Setyadiharja, (2020:18).
Pantun sebagai tradisi lisan kemudian diperkuat dengan aturan-aturan ketika pantun itu menjadi sebuah karya sastra dalam bentuk tulisan. Hal ini untuk menjaga nilai-nilai filosofis yang terkandung seperti nilai kesopanan dan kesantunan pantun, sehingga pantun tidak menghasilkan sebuah arti yang salah. Atau pantun tidak disalahgunakan.
Sekali lagi pantun ditulis bukan dengan tanpa teknik. Untuk mampu menulis dan menyusun pantun dengan baik dan benar yang sesuai dengan kaidahnya haruslah memahami hal-hal sebagai berikut.
Memahami karakteristik dan struktur pantun.
Memahami jumlah kata dan suku kata dalam pantun.
Memahami pilihan kata (diksi) serta ejaan dalam pantun.
Karakteristik pantun memiliki 4 (empat) baris di mana struktur barisnya adalah baris pertama dan kedua disebut dengan "sampiran" dan baris ketiga dan keempat disebut dengan "isi". Hal ini sebagaimana dijelaskan dari seuah pendapat, bahwa pantun sesungguhnya memiliki
persajakan yang baris pertama dengan ketiga, baris kedua dan keempat memiliki rima dengan asonansi yang sama dan seimbang. Pada pasangan baris pertama (baris pertama dan kedua) dikenal sebagai pembayang maksud (sampiran), menjelaskan kearifan alam.
Sementara pasangan baris kedua (baris ketiga dan keempat) yang biasa disebut dengan maksud (isi) yang selalu berisikan perilaku sosial dan moralitas manusia pada maksud atau Isi.
Sampiran dan isi pantun biasanya tidak memiliki hubungan sebab akibat yang saling berkaitan. Di mana sampiran biasanya bukan merupakan susunan kalimat formal yang menuangkan isi pantun, namun lebih sekadar bahasa pengantar dengan pilihan kata yang sifatnya tentang alam, perilaku manusia, nama buah- buahan, nama pulau, hewan dan sebagainya.
4. Perbedaan Pantun dengan Karya Sastra Lainnya
Berdasarkan buku Khazanah Negeri Pantun, Rendra Setyadiharja, (2020:12), pantun terkadang juga disamakan dengan karmina, di mana pantun diucapkan sebanyak dua baris dengan persajakan yang sama antara baris pertama dan kedua, atau pantun terkadang dianggap sebagai sebuah syair.
Namun dengan memahami perbedaan pantun dengan karya sastra tersebut, alangkah lebih baik jika membandingkan antara karya sastra lainnya dengan pantun.
Pantun secara genrenya termasuk dalam karya sastra Melayu Klasik seperti Gurindam, Seloka, Syair, Talibun, dan Karmina. Secara kasat mata, beberapa karya sastra ini terlihat sama namun sebenarnya karya sastra ini memiliki perbedaan. Perbedaan dapat dilihat dari contoh berikut ini:
1. Pantun
Jangan harap kepada padi
Mari ditanam dalam gembia
Jangan harap kepada mimpi
Hari siang manalah dia
2. Syair
Bismillah ini permulaan kata
Dengan nama Tuhan alam semesta
Akan tersebut Sultan Mahkota
Di Negeri Barbari baginda bertahta
3. Seloka
Jalan-jalan ke kampung dalam
Singgah menyinggah di pagar orang
Pura-pura mencuri ayam
Ekor mata di anak orang
4. Gurindam
Barangsiapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiadalah ia menyalah
5. Talibun
Kalau anak pergi ke pekan
Hiu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu
Contoh Pantun Akhiran U dari Berbagai Tema
Berikut adalah contoh pantun akhiran u dengan berbagai tema untuk referensi belajar.
1. Tema Pendidikan
Buah apel di bawah bangku
Buah mengkudu dibuat jamu
Jangan kamu malas baca buku
Karena buku adalah sumber ilmu
Duduk di kursi mencari kutu
Dapat lima bakar di tungku
Jika kamu ingin juara satu
Rajinlah membaca buku selalu
Bunga-bunga harus diramu
Untuk hidupkan semangat yang layu
Rajinlah mencari ilmu
Untuk menjadi pegangan selalu
Pandang rembulan tanpa jemu
Sinarnya terpantul di atas batu
Apabila memiliki banyak ilmu
Hidup makmur sepanjang waktu
Buah semangka buah mengkudu
Dibungkus dengan kain warna biru
Rajinlah belajar selalu
Untuk meraih semua cita-citamu
Pergi berenang ke tepi danau
Untuk melihat ikan hiu
Pastikan kamu semangat selalu
Agar dapat menuntut ilmu
2. Tema Cinta
Api besar dari tungku
Hingga membuat habis kayu
Telah lama aku menunggu
Untuk bilang I Love You padamu
Buah durian buah duku
Tidak dapat dibuat jamu
Saat kamu membelah dadaku
Tentu ada nama indahmu
Jual kemejatidak pernah laku
Sebab preman kerap mengganggu
Banyak orang yang mendekatiku
Hanya kamu yang selalu aku tunggu
Ke pasar membeli paku
Di sebelah ada toko baju
Jika kamu tahu isi hatiku
Hanya kamu yang selalu ku tunggu
Ingin berlayar naik perahu
Perahu itu tempat bertemu
Jika saja kamu tahu
Mataku selalu tertuju padamu
Baru kemarin membeli motor baru
Tetapi sudah masuk ICU
Sungguh cantik paras wajahmu
Membuatku selalu tertuju padamu
Rambut panjang banyak kutu
Dibersihkan dengan palu
Jujur aku sangat malu
Galau aku tanpa kehadiranmu
Makan tempe dengan tahu
Tidak lupa memakai garpu
Aku terpesona dengan kecantikanmu
Hingga aku ingin memilikimu
Ke tepi danau melempar batu
Tidak terbatas cepat melaju
Dari awal aku merasa terharu
Jika kamu ada didekatku
Masak sayur ditambah bumbu
Hingga matang dijadikan satu
Teringat kamu di malam Minggu
Membuat aku selalu merindu
Bangun pagar dari bambu
Jadinya tidak mempunyai mutu
Jika kamu tertarik padaku
Ingatakan untuk makan selalu
Ada sebuah permainan yang seru
Permainan itu adalah lempar batu
Aku telah mencari bapak penghulu
Untuk membuktikan cintaku padamu
Makan roti di hari Rabu
Kenyangnya sampai hari Minggu
Aku hanya ingin mengadu
Jika hati ini hampa tanpamu
Pegang jendela di depan pintu
Sambil masak ayam betutu
Sabar hati selalu menunggu
Tidak mengapa semua demi kamu
Itulah contoh pantun akhiran u dengan berbagai tema untuk referensi belajar. (Adm)
Baca juga: 60 Contoh Pantun tentang Ibu dari Anak yang Menyentuh Hati
