Pantun dan Puisi Ulang Tahun Kota Jakarta ke-496 yang Penuh Makna

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Ulang Tahun atau HUT Jakarta dirayakan setiap tanggal 22 Juni. Tahun ini, kota yang dijuluki The Big Durian tersebut memperingati ulang tahun yang ke-496. Dalam rangka perayaannya, pantun dan puisi ulang tahun Kota Jakarta dapat diunggah ke media sosial.
Menurut buku Jakarta Membangun tulisan BAPPEDA DKI Jakarta, awalnya kota Jakarta dikenal dengan nama Sunda Kelapa. Setelah kemenangan Fatahillah terhadap tentara Portugis pada 22 Juni 1527, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta.
Pada 1619, pemimpin VOC, Jan Pieterszoon Coen merebut Jayakarta dan mengubah namanya menjadi kota Batavia. Lalu pada 1942, nama Batavia diubah menjadi Jakarta.
Bagi Anda yang hendak merayakan HUT Jakarta, beberapa pantun dan puisi ini dapat dijadikan referensi.
Pantun Ulang Tahun Kota Jakarta ke-496
Inilah referensi pantun Ulang Tahun Kota Jakarta yang dikutip dari buku Antologi Pantun Negeriku Berpantun oleh Ana Armalia K, dkk. dan buku Semua Bisa Pintar Ulangan Harian Tematik Kelas 5 SD karya Nur Utari:
1. Jalan-jalan ke Kota Jakarta,
Jakarta rumahnya kakanda
Betapa hati senang dan bahagia,
Bisa diklat pantun sambil tawa canda
2. Jalan-jalan ke kota Jakarta
Jangan lupa membeli peci
Jika ingin ayah dan bunda masuk surga
Jadilah anak yang berbakti
3. Jakarta kota metropolitan
Penduduknya padat sekali
Kalau kamu cinta kebersihan
Mengapa buang sampah di kali
4. Jalan-jalan ke kota Jakarta
Jangan lupa membeli duku
Hati ini terasa hampa
Tanpa dirimu disampingku
Puisi Ulang Tahun Kota Jakarta ke-496 yang Menyentuh
Berikut pantun untuk memperingati HUT Jakarta yang dirangkum dari buku Poem Book karya Heidi Nasution dan buku Dari Sebuah Album oleh Rita Oetoro:
1. Puisi berjudul Jakarta
senja demi senja
menelan usia berbunga
debu dan bising kota — selalu
melantunkan
lagu-lagu rindu dalam hati
telah kukenal — garis-garis
wajahmu berangkat tua
kehangatan napas
yang melingkupi kami
dan
dalam duka aku belajar
menyayangimu
sebab telah kupasrahkan di haribaanmu, sayang
mementu mori:
dua anak kami
2. Puisi berjudul Sketsa Ibukota
Di tubuhmu
gedung-gedung itu tumbuh dengan pesat
Seperti kilat yang melesat
melewati, menerobos maklumat
Mengaburkan arah kiblat
dan, membuatku nyaris tersesat
Sebab petaku salah beralamat
meninabobokanku dalam nikmat yang sesaat
Di jalananmu
lahir bocah-bocah yang bertanya tentang ayah
Mereka pun menengadah
canda tawanya berbingkai jengah
Impian hanya tersisa sebelah
Lalu, sekantong air matanya pecah
pada jalan-jalan hidup yang rebah
