Konten dari Pengguna

Puisi tentang Kehidupan yang Pahit untuk Caption di Instagram

Inspirasi Kata

Inspirasi Kata

Menyajikan artikel berisi kata-kata, kutipan, dan kalimat yang menginspirasi pembaca.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inspirasi Kata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi tentang Kehidupan yang Pahit untuk Caption di Instagram, foto: Unsplash/Gadiel Lazcano
zoom-in-whitePerbesar
Puisi tentang Kehidupan yang Pahit untuk Caption di Instagram, foto: Unsplash/Gadiel Lazcano

Hidup terkadang memang terasa terlalu menyedihkan, sehingga beberapa orang mungkin membutuhkan puisi tentang kehidupan yang pahit untuk dibaca dan diunggah ke media sosial. Itu adalah kebutuhan yang wajar sebagai salah satu cara untuk bertahan.

Ada saatnya kita merasa kehidupan yang pahit selalu menerpa. Namun, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Bersedih hari ini pun tak menutup kemungkinan bahwa kamu akan bahagia di esok hari. Membutuhkan waktu untuk berduka pun adalah sesuatu yang lazim.

Baca juga: 4 Puisi tentang Ujian Kehidupan yang Mendalam

Puisi tentang Kehidupan yang Pahit untuk Caption di Instagram

Puisi tentang Kehidupan yang Pahit untuk Caption di Instagram, foto: Unsplash/Tiago Bandeira

Berikut adalah puisi tentang kehidupan yang pahit untuk caption unggahan Instagram kamu, baik secara utuh maupun penggalan-penggalan yang kamu sukai dari puisi-puisi di bawah ini.

1. Kepada Mata yang Kemarau dan Hati yang Tandus

Oleh: Diyan Fakih

Kopi yang terseduh dengan sedu sedan

Mengisyaratkan bahwa airnya itu polos

Sebening mata yang enggan kemarau

Melawan parau pda titisan risau

Entah berapa kali adukan itu

Larutnya gula seiring manisnya sebuah harap yang mengendap

Bercampur panasnya air pengharapan

dalam kental bubuk kopi kepasrahan

Ya, berserah dalam cawan kehidupan

“Minumlah selagi hangat!”

“Aku lupa cara mendewasakan pahit.”

Ketika hati masih sibuk berseteru dengan pekat

Tiada rasa nikmat

Hanya pahit yang semakin menjerit

Hingga menjepit ulu doa-doa sebelum pamit

Kemarau hanya menunggu tulus yang belum sempat terendus

Tak ada yang mustahil bila di mata sediah melawan sedih

Meski perih itu,

Kopi yang tersisa kemarin, hari ini, atau nanti

Kuharap kamu….Ya hanya kamu….

* Dikutip dari Antologi Puisi 'Sepercik Ungkapan Pujangga Semeru', Diyan Fakih (2022:12)

2. Pura-pura

Oleh: Adi Wahyudin

Seberapa seringkah kita tertawa,

Padahal hati tengah dirundung duka?

Seberapa seringkah kita bahagia,

Padahal pilu tengah keras menghantam dada?

Seberapa sering?

Bagaimana rasanya?

Kawan, sebagian manusia memang terlatih untuk berpura-pura

Pahit-sulit kehidupan tlah mengajarkan bahwa kesedihan itu adalah untuk ditelan

Pedih-perih kenyataan tlah mengatakan bahwa luka itu bukan untuk dibagikan

Betapa pun di hati tertoreh luka yang masih menganga,

Mereka tetap saja riang bercanda

Mengundang orang lain untuk berbahagia sedemikian rupa

Semakin pedih lukanya, kian renyah canda tawanya

Semakin lebam memar sakitnya, kian keras bahak gelaknya

Miris,

Seolah ia tengah menertawakan sedihnya sendiri

Ironis,

Tak memberi jeda sedikit pun bagi air mata di dua pipi

Rahasianya tersembunyi rapi dibalut raut yang pura-pura

* Dikutip dari Bukan Sajak - Bukan Puisi, Hanya Sehimpun Jejak Aksara Hati, Adi Wahyudin (2020:138)

3. Kopi Kehidupan

Oleh: Mr. Sae

Hitam tak selalu kotor

Pahit tak selalu menyedihkan

Siapa yang harus segera disingkirkan

Merekalah para koruptor

Penjemuran dan penggilingan

Menjadikan secangkirmu terasa nikmat

Melalui tempaan dan tumbukan

Mental seseorang menjadi kuat

Pahit manismu ibarat getir dan indahnya kehidupan

Akan terasa nikmat jika kita padukan

Menikmati secangkirmu tak boleh buru-buru

Dalam hidup kita harus saling bahu-membahu

Hirup aromanya dan teguk perlahan

Bersyukurlah atas karunia dari Yang Maha Rahman

Walau hidup ini berat

Semua itu adalah proses agar lebih hebat

* Dikutip dari Antologi Puisi Kopi Kehidupan, Mr. Sae (2020:22)

4. Nikmatnya Kopi Pahit

Oleh: Akhmad Sekhu

Kita pendam diam-diam pahitnya kehidupan, kopi yang teraduk

Menyerap hakekat perjuangan, mengecup pasang-surutnya hidup

Betapa pahit kopi menjadi pengalaman hidup untuk kita reguk

Kita aduk kopi berulang kali dalam persenyawaan kenikmatan

Seiring imajiner percakapan kita yang guyub tak berkesudahan

Mendedahkan permasalahan yang membuat kita tetap semangat

Berjuang, jangan pernah menyerah, bertapa pengalaman hidup

Seperti kopi pahit, tiada henti kita selalu semangat berusaha

Seiring takdir bergulir karena ujian Tuhan tanda sayang pada kita

Hingga mengangkat harkat kita ke taraf hidup yang lebih tinggi

Kita pendam diam-diam pahitnya kehidupan, kopi yang teraduk

Hikmat prosesi menghayati suka dan duka dalam kehidupan kita

Pasrah pada kenyataan, karena roda kehidupan terus berputar

Mari kita terus reguk kopi, yang pahitnya matangkan perenungan

Seiring denyut hakekat laku bathin kita yang terus berlanjut

* Dikutip dari Kumpulan Puisi Memo Kemanusiaan, Akhmad Sekhu (2022:35)

5. Merenung

Oleh: Rizky Candra Dinata

Laut itu biru

Langit itu gelap

Tetapi aku selalu menatapnya

Menanti seorang datang menolongku

Harapan selalu menjadi hal yang sangat berarti

Aku selalu berpikir

Berpikir dalam diam

Menyerukan setiap keluh kesah pada malam

Menghirup setiap asap pahit kehidupan

Tiada hidup yang tak berarti

Karena Tuhan tak menghendaki hidup tanpa arti

Kalau hujan turun aku bersimpuh dalam kamar

Menanti waktu hitam-putih habis ditelan pengalaman

Pahit dan manis kehidupan

Aku tidak menangis juga tidak bersedih dikala kehilangan

Tidak ada hakikat itu dalam hidupku

Aku selalu diam

Penanti sang penolong datang

Datang ke sisiku

Mengisi yang kosong dalam diriku

* Dikutip dari Kutemukan Diriku dalam Iringan Pena Puisi, Tim Jurnalistik PPM Al-Kautsar (2022:148)

Itulah puisi tentang kehidupan yang pahit untuk caption Instagram. Ingatlah bahwa dengan mengungkapkan kesedihanmu, bukan berarti kamu adalah orang yang lemah. Bersedihlah hari ini dan bangkitlah kembali di esok hari. Semangat, ya! (malika)