Antara Mao dan Deng

Tulisan dari Institut Rakyat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Satu hari setelah umat Kristiani merayakan hari kelahiran Yesus Kristus, pada tahun 1893 di desa Shaoshan Provinsi Hunan yang terletak di Tiongkok bagian tengah, lahir seorang anak laki-laki dari rahim seorang ibu penganut ajaran Budha yang taat. Ayahnya adalah seorang petani berada dan pedagang beras. Anak sulung dari marga Mao tersebut, kelak di kemudian hari akan menjadi pemimpin bangsa Tiongkok modern. Tokoh besar tersebut bernama Mao Zedong.
Sebelas tahun kemudian, pada 22 Agustus di sebelah barat laut Tiongkok desa Guang An Provinsi Sichuan, lahir seorang putera dari keluarga kelas tuan tanah sedang. Ayahnya memberi nama: Deng Xixian. Leluhurnya berasal dari Meixian, Provinsi Guangdong. Salah satu kampung halaman diaspora suku Hakka atau Ke yang berarti pendatang. Suku ini telah melanglang buana bahkan sampai ke kepulauan Nusantara. Kelak di kemudian hari, Deng Xixian seperti halnya kader komunis lainnya, menggunakan nama samaran Deng Xiaoping dan akan menjadi tokoh reformasi dan keterbukaan bangsa Tionghoa dari negeri yang dijuluki Tirai Bambu.
Kedua-duanya berasal dari kalangan borjuis kecil yang bertransformasi menjadi kelas proletar. Kedua-duanya juga berencana melanjutkan studi mereka di Perancis. Sayang, Mao mengurungkan niatnya untuk studi disana dan berfokus membangun kekuatan rakyat pekerja menggulingkan kekuasaan feodal dan imperialis. Di Negeri Anggur, Deng mendapatkan pengaruh ajaran filsuf revolusioner dari Jerman, Karl Marx. Bersama Zhou Enlai, Li Lisan, Li Fuchun, Tsai Hosen, Nie Rongzhen dan kader lainnya, membangun organisasi Liga Pemuda Sosialis yang kelak akan menjadi Partai Gongchandang (Partai Komunis Tiongkok/PKT) Cabang Perancis. Sebagian besar dari aktivis Liga Pemuda Sosialis di tahun 1960-an akan menjadi Politbiro PKT.
Setelah dua tahun hidup di Perancis sebagai mahasiswa perantauan, Deng ditugaskan oleh PKT untuk memperdalam ideologi dan pengorganisasian partai komunis di Universitas Sun Yat-sen yang terletak di kota Moskow, Uni Soviet. Akhir tahun 1927, Deng kembali ke Tiongkok daratan dan diberi tugas sebagai salah satu komandan militer laskar gabungan antara PKT dan Partai Guomindang (Partai Nasional Tiongkok/PNT). Sementara Mao ketika itu sudah menjadi anggota Komite Sentral PKT. Dalam persekutuan antara PKT dan PNT, Mao oleh Komite Sentral PNT ditunjuk sebagai Ketua Departemen Propaganda dan anggota Komite Agraria Pusat PNT untuk mengganyang setan-setan desa dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari kalangan petani menghadapi raja-raja perang.
Kemesraan PKT dan PNT dirusak oleh Chiang Kai-sek dengan membantai puluhan ribu kaum komunis. PKT memutuskan untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan kekejaman Chiang Kai-sek. Zhou Enlai dan Zhu De memimpin pemberontakan di Nanchang. Mao dengan Pasukan Revolusioner Buruh Tani Divisi ke-1 memimpin pemberontakan Musim Rontok di Hunan. Sedangkan Deng Xiaoping bersama Chen Haoren dan Zhang Yunyi memimpin pemberontakan di Baise, Provinsi Guangxi.
Pemberontakan di Nanchang dan Hunan mengalami kegagalan. Mao dan pasukannya terseok-seok meninggalkan Hunan menuju Gunung Jinggang di Jiangxi, membangun basis perjuangan disana. Zhu De bersama Chen Yi dan Lin Biao bergabung dengan pasukan Mao. Sedangkan Zhou Enlai sebagai salah satu pimpinan Komite Sentral PKT yang bergerak dalam gerakan bawah tanah di Shanghai. Pemberontakan Baise juga mengalami kegagalan.
Pengalaman praktik revolusioner paska Teror Putih Chiang Kai-sek, Mao tuangkan dalam karya teori-teori revolusioner yang kita kenal sekarang ini. Pikiran Mao Zedong mulai terbentuk dengan gagasan-gagasannya tentang revolusi dari desa mengepung kota, merebut kekuasaan dengan senjata dan menegakkan jalan yang tepat bagi kemenangan revolusi demokrasi berciri Tiongkok. Melawan garis kiri Wang Ming dan garis kanan Chang Guotao. Mengusulkan Mars Jauh yang terinspirasi dari 36 Strategi Perang Tiongkok Klasik, “lari untuk bertempur di lain waktu”.
Mao juga menelurkan karya-karyanya di bidang militer tentang strategi perang revolusioner Tiongkok melawan fasisme Jepang. Dalam bidang ideologi, politik dan organisasi, Mao menulis berbagai karya tentang kontradiksi, praktik, pembetulan langgam kerja, mencari kebenaran dari kenyataan, revolusi demokrasi baru, diktatur demokrasi rakyat dan bagaimana membangun pemerintah koalisi. Bahkan Mao sebagai seorang pecinta seni dan sastra, menuliskan pengalaman praktik revolusionernya dalam bentuk sajak dan puisi.
Inilah jasa besar Mao dalam membebaskan rakyat Tiongkok dari feodalisme, imperialisme dan fasisme. Atas usulan Li Shaoqi dalam Kongres Nasional PKT ke-7 tahun 1945, Pikiran Mao Zedong sebagai pengintegrasian teori Marxisme-Leninisme dalam praktik revolusi Tiongkok dijadikan ideologi pembimbing PKT. Namun ironisnya, di kemudian hari, antara Mao dengan Liu dan Deng terjadi konflik secara ideologi dan praktik dalam membangun masyarakat Sosialis di Tiongkok. Generasi PKT ke-4 saat ini adalah generasi PKT garis Deng dan Liu, walau mereka pun mengklaim sebagai generasi penerus ajaran Mao Zedong non RBKP.
Kongres Nasional PKT ke-19
Xi Jinping untuk kedua kalinya terpilih kembali sebagai Sekretaris Jenderal PKT. Bedanya kali ini, Kongres Nasional PKT ke-19 mencantumkan Pikiran Xi Jinping tentang Sosialisme Berkepribadian Tiongkok di Era Baru ke dalam Konstitusi PKT hasil amandemen terbaru. Sejajar dengan Pemikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping, Teori Tiga Mewakili gagasan Jiang Zemin dan Pandangan Ilmiah tentang Pembangunan gagasan Hu Jintao.
Pemikiran Xi Jinping dianggap semakin melengkapi dan memperkuat pemikiran tentang Sistim Teori Sosialisme Berkepribadiaan Tiongkok yang bagi PKT berbeda dengan ideologi Sosialisme-Demokratis Eropa. Hu Jintao menyebutnya sebagai hasil lompatan historis kedua dari Marxisme dengan realitas Tiongkok. Bagi Xi, Sistim Teori Sosialisme Berkepribadiaan Tiongkok adalah satu-satunya teori yang tepat bagi PKT untuk meneruskan hasil karya para generasi sebelumnya dan menunjukan bahwa Sosialisme lebih unggul dari Kapitalisme.
Kongres Nasional PKT ke-19 juga merumuskan analisa terbaru masyarakat Tiongkok di era baru. Berdasarkan pandangan kolektif kader-kader PKT dibawah kepemimpinan Xi Jinping, kontradiksi pokok masyarakat Tiongkok di era baru sekarang ini adalah “kontradiksi antara meningkatnya dari hari ke hari akan kebutuhan hidup sejahtera, dengan perkembangan yang tidak berimbang dan tidak mencukupi.” Tentunya rumusan kontradiksi ini menjadi perdebatan, baik di Tiongkok sendiri maupun internasional.
Teori tentang kontradiksi ini sangat penting bagi rakyat Tiongkok sebagai salah satu hukum dialektika yang menjadi alat analisa memecahkan problematika masyarakat Tiongkok dan menjadi panduan ideologis di dalam mencapai cita-cita yang mereka yakini? Tentu saja teori tersebut tidak terlepas dari pemikiran-pemikiran besar dari eksternal—dalam hal ini filsafat Barat— dan dari bumi Tiongkok sendiri.
Mao Zedong memusatkan perhatiannya kepada masalah kontradiksi di dalam tulisannya yang berjudul Tentang Praktik, Tentang Kontradiksi, dan Mengenai Cara yang Tepat dalam Penyelesaian Kontradiksi di antara Rakyat. Karya filsafat yang pertama dan kedua ditulis sebelum Pembebasan 1949 dan yang terakhir ketika Mao memimpin Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Menurut Mao seperti halnya Lenin, kontradiksi adalah hukum yang paling pokok atau inti dari dialektika materialis. Kontradiksi adalah sebab terjadinya gerak dan perubahan materi atau segala sesuatu. Tanpa memahami kontradiksi maka menurut Mao, akan sulit memecahkan problematika masyarakat. Tanpa memahami kontradiksi maka tidak akan mengenal siapa lawan dan siapa kawan.
Kalau kita telisik kembali alam pikiran filsuf Tiongkok kuno, hukum kontradiksi bukan merupakan hal yang asing bagi masyarakat Tiongkok. Lao Zi filsuf Tiongkok kuno yang hidup sekitar 581-500 SM sudah terlebih dahulu dibandingkan filsuf Yunani kuno yaitu Herakleitos yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu mengalir dan mengalami perubahan. Dalam karyanya yang berjudul Dao Dejing yang menjadi kitab klasik penganut Taoisme, Lao Zi menyatakan bahwa, “yang tak penuh, berubah menjadi penuh, yang bengkok menjadi lurus, yang usang menjadi baru.”
Masyarakat Tiongkok kuno juga sudah mengenal kontradiksi yaitu persatuan dari hal ikhwal yang bertentangan lewat simbol Yin dan Yang yang diperkenalkan oleh Lai Zhide yang hidup di abad ke-16 M. Mao hanya memperkenalkan hukum kontradiksi secara Marxis dengan menggali pemikiran filsuf Tiongkok kuno agar bisa dipahami secara mudah oleh masyarakat Tiongkok kontemporer. Disinilah kemahiran Mao dan karya-karya filsafatnya tentang hukum kontradiksi menjadi sumbangan terbesar dan memperkaya filsafat Marxis mengenai epistemologi dan metode dialektika.
Perdebatan perumusan kontradiksi masyarakat Tiongkok paska Pembebasan 1949 diantara para pemimpin PKT sebenarnya sudah dimulai sejak Kongres Nasional PKT ke-8. Kubu Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping berpendapat bahwa kontradiksi pokok masyarakat Tiongkok ketika itu adalah perjuangan antara sistem sosialis yang telah maju dengan tenaga-tenaga produktif yang terbelakang. Perumusan kontradiksi ini menandakan bahwa kontradiksi dasar dalam masyarakat Tiongkok pada masa itu, antara relasi-relasi produksi dan tenaga-tenaga produktif dan antara infrastruktur dan superstruktur telah diselesaikan. Rumusan tersebut menjadi keputusan resmi Kongres Nasional PKT ke-8.
Pandangan kubu Liu-Deng sejalan dengan perumusan kontradiksi di Uni Soviet bahwa dalam negara Sosialis sudah tidak ada lagi kontradiksi yang bersifat antagonistik. Alat-alat produksi sudah dimiliki oleh negara atau menjadi milik kolektif. Sehingga sudah tidak ada lagi kontradiksi antara relasi produksi dan tenaga produksi. Bahkan Uni Soviet pasca Stalin telah merumuskan dan mencantumkan dalam Konstitusi Partai Komunis Uni Soviet, perjuangan kelas telah berganti menjadi perjuangan damai dan koeksistensi damai diantara bangsa-bangsa adalah tugas utama dari seluruh kekuatan-kekuatan progresif. Eksploitasi manusia atas manusia, dan antagonisme di antara kelas-kelas hanya dapat dihapuskan di bawah kondisi-kondisi perdamaian dunia yang stabil. Perumusan tersebut, bagi kalangan Marxis lainnya, khususnya kubu Tiongkok disebut sebagai revisionis modern.
Pandangan ini disanggah dengan sangat keras oleh Mao. Dalam negara Sosialis tidak otomatis telah merubah mentalnya menjadi masyarakat yang sosialistik. Mentalitas kapitalis masih tidak sirna begitu saja dengan penghapusan perekonomian yang kapitalistik. Moral-etika kader-kader PKT berubah menjadi kapitalis birokrat bermental borjuis. Untuk membersihkan mentalitas kapitalis diperlukan adanya Gerakan Pendidikan Sosialis. Metode ini untuk mengatasi kontradiksi kerja badan dan kerja intelektual yaitu dengan melibatkan kader partai untuk terlibat langsung dalam pekerjaan di pabrik dan pedesaan.
Mao juga menegaskan bahwa perjuangan kelas dibawah kediktaturan proletariat masih diperlukan guna menyelesaikan tugas sejarahnya yaitu menghancurkan sisa-sisa kapitalisme sampai ke akar-akarnya. Mao juga menganjurkan untuk tetap setia pada “Garis Massa”. Semua prakarsa harus lahir dari massa, dan setelah dirumuskan oleh Partai, kebijakan-kebijakan itu harus kembali diserahkan pada kritik dari massa. Pemikiran Mao tersebut puncaknya adalah di masa Revolusi Besar Kebudayaan Proletariat (RBKP) yang berlangsung selama 10 tahun dari 1966 sampai 1976.
Perumusan kontradiksi antara kubu Liu-Deng dengan Mao semakin bergejolak dan memanas dengan munculnya Gerombolan Empat dimana Jiang Qing, isteri Mao ikut terlibat didalamnya. Gerombolan Empat yang memainkan peranan utama dalam RBKP menuduh kubu Liu-Deng sebagai penempuh jalan kapitalis. Konsekuensinya kubu Liu-Deng dipukul mundur. Liu Shaoqi sebagai Presiden RRT masa bakti 1959-1968 disingkirkan dalam kepemimpinan PKT dan ditahan dalam sel tahanan yang menyebabkan kematiannya karena penyakit diabetes dan pneumonia yang tidak terawat pada tahun 1969. Sedangkan Deng bersama keluarganya menjalani reedukasi di sebuah pedesaan di Provinsi Jiangxi, bekerja sebagai buruh pabrik.
Empat tahun kemudian, Perdana Menteri Zhou Enlai meminta kepada Mao agar Deng ditarik kembali ke Beijing untuk membantunya sebagai Wakil Perdana Menteri. Tidak lama kemudian, Deng menduduki posisi penting di dalam organisasi partai yakni sebagai Sekretaris Partai Komite Pusat, anggota Politbiro dan Kepala Staf Umum. Sejak saat itu, Deng digadang-gadang untuk menggantikan Zhou Enlai sebagai Perdana Menteri.
Setelah wafatnya Zhou dan Mao, Deng bersama Hua Guofeng pengganti Mao mengkonsolidasikan kekuatannya dengan memukul balik Gerombolan Empat dan menangkapi ratusan ribu pendukung RBKP. Rumusan emansipasi tenaga produktif berkibar kembali dan menegasi poros perjuangan kelas menjadi perjuangan ekonomi sebagai tugas pokok, melaksanakan pembangunan Empat Modernisasi mencakup bidang pertanian, industri, iptek, dan militer dengan Reformasi (Kaige) dan Keterbukaan (Kaifang). Gagasan Deng tersebut dikukuhkan oleh PKT dalam keputusan-keputusan Sidang Pleno III Kongres Nasional Komite Sentral PKT ke-11 di bulan Desember 1978 dan dijadikan kebijakan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Sejak kebijakan Reformasi dan Keterbukaan diterapkan oleh pemerintah RRT, segala bentuk kebebasan berpikir didalam memajukan ekonomi Tiongkok dibuka seluas-luasnya. Deng berpandangan bahwa hal tersebut adalah bentuk Marxisme-Leninisme yang tidak dogmatik. Meminjam istilah dari Stalin, “Marxisme kreatif”. Sambil mengutip teori dari Mao tentang “Mencari Kebenaran dari Kenyataan” dimana praktik adalah batu ujian satu-satunya untuk membuktikan kebenaran.
Intelektual Marxis dan non Marxis menganggap kebijakan ekonomi Tiongkok paska Mao sebenarnya sudah menyimpang dari ajaran Marx bahkan 180 derajat berbeda jauh dengan apa yang diinginkan oleh Mao. Guru besar Geografi dan Antropologi City University of New York Amerika Serikat, David Harvey dalam bukunya The Brief History of Neoliberalism dengan jelas memasukan RRT kedalam kelompok negara-negara Neoliberal. Intelektual Trotskis dengan sinis menyebut Tiongkok sebagai salah satu tiang pancang kapitalisme internasional. Partai-partai politik yang berhaluan Maois tanpa tedeng aling-aling menuduh PKT sebagai pseudo-partai komunis yang mengkhianati perjuangan rakyat Tiongkok.
Dengan menggunakan dalil-dalil Marxisme dan Leninisme, pendukung Teori Deng Xiaoping menjawab tuduhan-tuduhan prasangka ideologis tersebut. Mereka membuka kembali dokumen yang berjudul Resolusi tentang Beberapa Masalah dalam Sejarah Partai Sejak Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok hasil keputusan Sidang Pleno VI Komite Sental PKT ke-11 pada 27 Juni 1981. Secara analitis merumuskan bahwa RBKP yang dibangkitkan oleh Mao, tidak sesuai dengan Marxisme-Leninisme dan juga tidak sesuai dengan keadaan konkret Tiongkok. Bahkan RBKP telah menegasi pekerjaan Komite Sentral Partai dan Pemerintah Rakyat termasuk pekerjaan Mao sendiri. Mereka juga menunjukan bahwa Lenin setelah Revolusi Oktober merevisi kebijakan Komunisme Perang dan mengajukan kebijakan Politik Ekonomi Baru (PEB).
Sejak Marx dan Engels, Lenin lah komunis pertama yang mengkaji persoalan ekonomi pasar dan sosialisme. Menurut Lenin dalam periode peralihan menuju sosialisme, koeksistensi dan kompetisi damai melalui kerjasama dengan negara-negara kapitalis dan perusahaan-perusahaan besar kapitalis diperbolehkan. Bahkan Lenin membenarkan dijalankannya kapitalisme negara di bawah syarat diktatur proletariat. Lenin pada saat Kongres ke-3 Komintern pada 5 Juli 1921 mengatakan, “Negara proletar, tanpa merubah hakikatnya, bisa memperbolehkan perdagangan bebas, dan membiarkan perkembangan kapitalisme hanya sampai batas-batas dan hanya di bawah syarat-syarat pengaturan negara (pengawasan, kontrol, bentuk-bentuk penentuan, pengaturan-pengaturan dan sebagainya), perdagangan swasta dan kapitalisme usaha swasta.”
Jalan yang ditempuh oleh Tiongkok sekarang ini menjadi inspirasi bagi Partai Komunis Kuba untuk membangun perekonomian Kuba ditengah himpitan embargo AS. Raul Casto pada tahun 2010 mengajukan reformasi ekonomi yang bertujuan untuk menerapkan ekonomi terpimpin yang berorientasi pasar. Walaupun Kuba mencoba memadukan ekonomi perencanaan dengan mekanisme pasar, menurut Brigjen Alejandro Castro Espín putra Raul Castro ketika diwawancara oleh jurnalis Yunani, Lasonas Pipinis Velasco di Acropolis, Yunani pada 16 Januari 2015, menjelaskan bahwa Kuba tidak akan menjadi negara kapitalis sebab rakyat Kuba adalah orang-orang yang menderita karena kapitalisme dengan cara yang paling kejam, dalam tatanan sosial, ekonomi dan politik.
Pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa jalan menuju masyarakat yang menerima dari hasil kerjanya, menuju masyarakat yang memperoleh sesuai kebutuhannya memang tidak mudah dan berliku-liku. Pasar menjadi batu ujian praktik pembangunan ekonomi sosialisme di negeri yang lahir dari masyarakat setengah jajahan dan setengah feodal. Masyarakat pasar sebagai keadaan obyektif di Tiongkok sekarang ini akan mempengaruhi kondisi subyektif masyarakatnya. Sehingga membenarkan kritik Mao bahwa masyarakat yang seperti itu akan tergelincir menuju masyarakat yang bermentalkan moral borjuis yang akan menjadi bumerang bagi ketahanan ideologi mereka.
Bisa jadi, sejarah pula yang akan membuktikan kebenaran Sistim Teori Sosialisme Berkepribadiaan Tiongkok. Walaupun melalui metode praktik yang menjadi antipodenya, dengan dalih seperti yang diajarkan oleh Mao bahwa menemukan kebenaran melalui praktik, dan melalui praktik menguji serta mengembangkan kebenaran.
