Konten dari Pengguna

NAGA MERAH DI TAHUN KETUJUH

Institut Rakyat

Institut Rakyat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Institut Rakyat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Waktu menunjukan pukul dua siang. Satu hari menjelang tujuh tahun perayaan hari berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Setelah mengunjungi Republik Rakyat Mongolia, Bung Karno menginjakkan kakinya di kota Beijing. Hari itu udara sedikit dingin sebab kota Beijing sudah memasuki musim gugur dengan suhu udara 22-12 derajat celcius. Kedatangan Bung Karno di Tiongkok secara khusus disambut oleh Ketua Mao Zedong, Perdana Menteri Zhou Enlai, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Marsekal Zhu De, isteri mendiang Presiden Republik Tiongkok Pertama Dr. Sun Yatsen yaitu Song Qingling dan pemimpin Tiongkok lainnya, baik itu dari Partai Komunis Tiongkok maupun Partai-partai lainnya yang tergabung dalam Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok. Sorak sorai ribuan rakyat Tiongkok begitu hangatnya ikut menyambut kedatangan presiden dari negeri seribu pulau dan penggagas utama Konferensi Asia Afrika yang fenomenal tersebut.

Lagu Indonesia Raya dan Barisan Para Sukarelawan pun berkumandang yang dimainkan oleh Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. “Indonesia Raya Merdeka Merdeka Tanahku Negeriku yang Kucinta”, “Rakyat Tiongkok telah sampai pada masa yang paling berbahaya. Setiap orang dipanggil untuk bertindak. Bangkit! Bangkit! Bangkit!”. Begitu kira-kira, syair-syair lagu kebangsaan dua negara yang lahir pada saat suasana revolusi dan diciptakan oleh para komposer revolusioner dari negeri Asia berseru memanggil seluruh rakyat dunia yang masih terbelenggu oleh kolonialisme dan imperialisme untuk merdeka dan bangkit melawan.

Sambil tersenyum, Bung Karno yang pada saat itu menggunakan seragam kebesarannya sebagai pemimpin tertinggi angkatan perang Indonesia dan kopiah hitamnya berpidato didepan ribuan rakyat Tiongkok.

“Setelah saya mengunjungi Uni Soviet, Yugoslavia, Austria, Czekoslovakia dan Mongolia, hari ini saya tiba di Peking disambut dengan meriah dan hangat. Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Saudara-saudara sekalian. Ucapan terima kasih ini bukan hanya dari diri pribadi saya saja tetapi ucapan terima kasih dari 82 juta rakyat Indonesia. Rasa hormat Saudara-saudara sebenarnya adalah ditujukan untuk menghormati rakyat Indonesia. Tanpa rakyat, saya ini hanyalah orang biasa. Tanpa rakyat, saya ini bukan apa-apa. Saya ini bukanlah pemberi kemerdekaan rakyat Indonesia, tetapi kemerdekaan Indonesia itu berasal dari perjuangan rakyat Indonesia. Saya ini bukanlah bapak rakyat Indonesia, tetapi saya adalah putera rakyat Indonesia. Oleh karena itu, rasa hormat Saudara-saudara kepada saya, akan saya tujukan kepada seluruh rakyat Indonesia. Saat ini saya bersama dengan rakyat Tiongkok. Bersama dengan 600 juta rakyat Tiongkok yang tiada henti-hentinya berjuang mencapai cita-cita. Saya berada disini demi untuk menguatkan hubungan persahabatan diantara rakyat Indonesia dan Tiongkok. Saya sangat percaya bahwa kerjasama persahabatan yang baik ini sangat mudah untuk dilaksanakan karena cita-cita rakyat Tiongkok dan Indonesia begitu banyak persamaannya. Mari kita bersama-sama untuk maju, wujudkan kemerdekaan yang seutuhnya, dan wujudkan dunia yang damai abadi. Terima kasih!”

Tidak henti-hentinya rakyat Tiongkok bertepuk tangan disaat Bung Karno berpidato. “Hidup Persahabatan Rakyat Tiongkok dan Indonesia”, “Hidup Presiden Sukarno”, “Merdeka Bung”, sambil menjulurkan tangan mereka, pemuda-pemudi Tiongkok berusaha untuk bisa bersalaman dengan Bung Karno dan Ketua Mao. Bunga selamat datang diberikan kepada Bung Karno. Empatpuluh menit kemudian, Bung Karno bersama Ketua Mao mengendarai mobil Ragtops diiringi dengan kendaraan yang ditumpangi oleh para pemimpin Tiongkok lainnya. Sepanjang 20 km perjalanan dari Bandar Udara Beijing menuju tempat kediaman para pemimpin RRT di Zhongnanhai. Seratus ribu lebih warga kota Beijing tumpah ruah menyambut Bung Karno. Spanduk bernada persahabatan dinatara kedua ikut menyemarakan, “Salut untuk Bung Karno”, “Hidup Persahabatan yang Tak Terpatahkan antara Rakyat Indonesia dengan Rakyat Tiongkok”, “Hidup Perdamaian Asia Afrika dan Dunia”. Tak ketinggalan pula, bendera merah putih dan bendera merah lima bintang berkibar dimana-mana sebagai lambang persahabatan yang erat diantara kedua bangsa.

Malam harinya, Ketua Mao mengundang Bung Karno dan PM Nepal Tanka Prasad Acharya untuk makan malam bersama. Hadir pula Menteri Luar Negeri Indonesia saat itu yaitu Roeslan Abdulgani, dan Duta Besar Indonesia untuk RRT Sukardjo Wirjopranoto menemani Bung Karno. Sedangkan Ketua Mao sendiri ditemani oleh Zhou Enlai, Zhude, Liu Shaoqi, Song Qingling dan Chen Yi. Mereka duduk dalam satu meja bersama. Dalam suasana yang hangat dan bersahabat, mereka saling tertawa dan menikmati makan malam masakan tradisional rakyat Tiongkok yang terkenal itu. Acara tersebut diabadikan oleh para jurnalis dari Indonesia dan Tiongkok. Bahkan sampai sekarang foto Bung Karno dan Ketua Mao disaat makan malam bersama, bisa kita lihat dalam bentuk poster maupun kalender yang terpampang dalam rumah-rumah rakyat Indonesia yang masih mencintai Bung Karno.

Pada saat itu, Ketua Mao memberikan kata sambutan untuk para tamu yang hadir. “Para sahabat dan kawan-kawan semuanya, selamat datang di negeri kami. Selamat datang di acara berdirinya negeri kami. Kami ucapkan semoga sehat selalu untuk para sahabat dan kawan-kawan semuanya”. Bung Karno ikut mengucapkan selamat atas berdirinya Republik Rakyat Tiongkok yang ketujuh, “Saudara-saudaraku sekalian, hari ini saya senang sekali bisa menghadiri hari berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Saya ucapkan selamat untuk seluruh rakyat Tiongkok. Kemenangan Republik Rakyat Tiongkok, bagi kami adalah seperti kemenangan Republik Indonesia. Kita adalah teman dekat. Saya berharap agar Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Indonesia bisa maju dan bekerja bersama mencapai perdamaian dunia dan makmur bersama”. PM Tanka Prasad Acharya dan PM Zhou Enlai ikut pula memberikan sambutan dan ditutup dengan bersulang sambil mengukan selamat atas berdirinya RRT ketujuh dan terciptanya perdamaian dunia oleh PM Zhou Enlai. Ganbei!

Saat itu Bung Karno tidak menyia-nyiakan waktunya untuk tidak bercengkerama secara pribadi dengan Ketua Mao sebagai pemimpin besar revolusi Tiongkok yang sangat menggemparkan dunia sampai sekarang ini. Sambil bercengkerama, Bung Karno memegang tangan Ketua Mao, “ Tangan ini adalah tangan orang besar dari Timur”. Bung Karno melihat Ketua Mao sangat menikmati rokok yang dihisapnya. Bung Karno bercanda dengan Ketua Mao, “Kalau aku lihat, Ketua Mao dalam hal merokok adalah tidak ada duanya. Asap rokok yang mengepul tinggi bagaikan sepercik api yang dapat membakar ladang ilalang”. Sontak saja, semua orang yang mendengar pada saat itu langsung tertawa. Ketua Mao pun pada hari ketiga Bung Karno di Tiongkok yaitu pada saat makan malam di Balai Huairen Zhongnanhai membalas candaan Bung Karno. Ketua Mao sangat tahu kalau Bung Karno itu sangat suka dengan masakan pedas, “Kalau aku lihat, Bung Karno dalam hal memakan cabai, saya ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Bung”. Padahal semua orang tahu bahwa Ketua Mao ini adalah orang Hunan yang sangat terkenal suka makan cabai.

Menurut penuturan cerita dari para pegawai Hotel Beijing yang pada saat itu ditugaskan oleh pemerintah Tiongkok untuk melayani segala kebutuhan dan keperluan Bung Karno. Selama Bung Karno di Tiongkok, para pemimpin negara maupun PKT sering mengunjungi Bung Karno. Wakil Ketua Zhu De dan PM Zhou Enlai terkadang dengan keluarga mereka, seharian penuh atau sekedar makan bersama. Keakrabatan dengan penuh rasa persahabatan tersebut juga bisa dilihat dari seringnya Ketua Mao menemui Bung Karno. Seperti yang diceritakan oleh para pegawai Hotel Beijing tersebut, ketika itu Ketua Mao sebagai pemimpin tertinggi di Tiongkok tidak pernah menunjukkan sekalipun di depan Bung Karno sebagai seorang Ketua. Namun justru sebaliknya, sikap yang sangat bersahabat membuat kedua pemimpin negara Asia tersebut semakin akrab. Semua orang melihat mereka berdua seakan-akan seperti dua orang yang sudah bersahabat sejak lama. Ketua Mao sering memberikan bunga kepada Bung Karno sebagai tanda persahabatan yang erat diantara kedua pemimpin tersebut dan sebagai representasi dari dua bangsa besar.

Ketua Mao memanggil Sukarno seperti kebiasaan rakyat Indonesia pada umumnya yaitu Bung Karno. Begitu juga Bung Karno memanggil Mao Zedong dengan sebutan Ketua Mao seperti rakyat Tiongkok memanggil Mao Zedong. Bung Karno paham betul penggunaan kata “Ketua” yang dalam bahasa Mandarin adalah “Zhuxi”, maknanya tidak sama dengan penyebutan “Presiden” di negeri-negeri Barat. Bagi rakyat Tiongkok, penggunaan kata “Presiden” atau dalam bahasa Mandarin adalah “Zongtong” lebih bersifat kebarat-baratan dan borjuis. Presiden Tiongkok pertama hasil Revolusi Xinhai 1911 yaitu Dr. Sun Yatsen sendiri pun dipanggil dengan sebutan Zhuxi karena sifatnya lebih revolusioner.

Masalah Taiwan dan Irian Barat

Indonesia dan Tiongkok saling memberikan dukungan dalam kancah dunia politik internasional. Misalkan saja, Tiongkok mendukung terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika, mendukung perjuangan rakyat Indonesia membebaskan Irian Barat (sekarang Papua) dari belenggu kolonialis Belanda. Begitupun sebaliknya, Indonesia adalah salah satu negara yang paling dini mengakui Tiongkok baru, mendukung RRT masuk sebagai anggota PBB dan kebijakan “Satu Tiongkok”. Liu Yantong, salah seorang politbiro PKT dibawah kepemimpinan Hu Jintao mengatakan bahwa, “Bangsa Tiongkok masih ingat betul bagaimana Bung Karno dengan gigih memperjuangkan Republik Rakyat Tiongkok agar menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB."

Ketua Mao sangat menghormati Bung Karno karena berani melawan kolonialisme dan imperialisme. Pada saat Konferensi Asia Afrika, Bung Karno dengan lantang mengatakan bahwa dengan diselenggarakannya KAA di Bandung maka Asia dan Afrika baru telah lahir. Getaran tersebut sampai kepada telinga Ketua Mao dan mempengaruhi pikiran Ketua Mao. Khususnya adalah pada saat Bung Karno berpidato di depan Kongres AS yang mengutuk kolonialisme dan harus dimusnahkan dari muka bumi ini karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Oleh karena itu, Ketua Mao mengatakan kepada Bung Karno, “Konferensi Bandung adalah konferensi yang sangat menggemparkan seluruh dunia. Dalam beberapa tahun ini, dunia telah berubah sangat banyak. Apakah Bung tidak merasakan itu semua?” Bung Karno merasakan hal yang sama, “Itu betul sekali. Dimanapun aku berada, semua orang membicarakan tentang Konferensi Bandung”.

Ketua Mao mengapresiasi keberanian Bung Karno, “Membaca pidato Bung di AS, kami sangat gembira. Di negeri tersebut, pidato Bung sangatlah bagus, pidato Bung sebagai representasi dari seluruh Asia”. Dengan rasa percaya diri Bung Karno membalas pernyataan Ketua Mao, “Saya pikir saya berbicara untuk Asia”. Ketua Mao menambahkan, “Sebenarnya, Bung telah mewakili Asia, Afrika dan Amerika Latin”. Sambil bercanda, “Pelayanan di AS bagus kah?” Bung Karno menjawab, “Pada umumnya rakyat AS menyambut saya dengan sangat hangat. Namun kebanyakan dari pemimpin AS tidak senang. Karena saya berbicara apa adanya. Mereka tidak menyukainya. Kemanapun saya pergi, para jurnalis selalu bertanya kepada saya, bagaimana tanggapan Indonesia apabila Tiongkok masuk kedalam Persatuan Bangsa-bangsa? Dengan tegas kami menjawabnya, Tiongkok harus bergabung kedalam PBB sebab apabila 600 juta rakyat Tiongkok tidak terwakili kedalam PBB maka PBB menjadi tempat yang diperolok-olok”.

Sudah sejak lama RRT ingin bergabung kedalam PBB dan telah menjadi perhatian internasional. Ketua Mao ingin mendengar sendiri pandangan Bung Karno mengenai masalah tersebut, “Menurut Bung, apakah Tiongkok bergabung dengan PBB, lebih awal atau telat sedikit?”. Bung Karno menjawabnya, “Lebih awal lebih bagus”. Atas tanggapan Bung Karno tersebut, Ketua Mao menanggapinya dengan berkata perlahan-lahan, “Bergabung dengan PBB lebih awal atau belakangan, kami sudah mempersiapkan semuanya”. Bung Karno berpandangan bahwa apabila Tiongkok tidak bergabung ke dalam PBB maka imperialisme akan semakin bengis. Namun apabila Tiongkok bergabung kedalam PBB maka Tiongkok akan bisa memainkan peranannya untuk menghadapi segala upaya imperialis menanamkan dan menamcapkan kuku-kukunya di negeri-negeri yang dikontrol oleh mereka. Ketua Mao menanggapi pandangan Bung Karno tersebut sangat senang. Namun menurut Ketua Mao, “Permasalahannya adalah karena masalah Taiwan maka Tiongkok agak telat untuk masuk kedalam PBB. Enam ratus juta rakyat Tiongkok tidak masuk kedalam PBB itu tidaklah adil. PBB harus ada satu Tiongkok yaitu RRT. Tidak boleh ada Tiongkok lainnya selain RRT. Jika di dalam PBB ada perwakilan Taiwan maka RRT tidak mau masuk kedalam PBB.“

Ketua Mao mempunyai pandangan bahwa, “RRT adalah negara besar tetapi bukan negara yang kuat. Banyak orang yang tidak menganggap RRT, jadi mengapa harus terburu-buru bergabung kedalam PBB. Kami akan berfokus untuk menjalin persahabatan dengan negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin serta setengah dari negara-negara di Eropa. Untuk menghadapi AS kami sudah mempersiapkannya dengan baik yaitu (1) terus berjuang; (2) tidak terlalu terburu-buru”. Ketua Mao juga berpandangan bahwa ada masalah lainnya yaitu embargo terhadap RRT, “Kami saat ini sangat kekurangan apel, kacang, kedelai. Kami bisa menunggu selama 11 tahun, dan sampai pada saat itu adalah Rencana Pembangunan Lima Tahun yang ketiga telah selesai. Embargo dihapus kami bergabung kedalam PBB. Maka AS akan menyesal nantinya. Pada akhirnya semua itu harus berdasarkan inisiatif kami sendiri dan teman-teman kami.”

Untuk masalah Taiwan, Ketua Mao percaya hanya ada dua jalan yaitu satu melalui Washington dan dua melalui Beijing. Berdasarkan situasi internasional pada saat itu, Ketua Mao berpandangan bahwa “Jalan pertama tidaklah mungkin, namun pada suatu hari nanti, AS akan mengkhianati Taiwan. AS akan melepaskan perkawanan mereka dengan Taiwan. Kami akan memperbaiki kerjasama dengan mereka. Kami pernah bekerjasama dua kali, lalu mengapa kami tidak bisa bekerjasama untuk ketiga kalinya?” Atas analisis yang dalam dan pandangan yang fleksibel dan jauh kedepan dari Ketua Mao, Bung Karno sangat mengagumi Ketua Mao, “Analisis dan pandangan Ketua Mao sangat wajar, realistis dan sangat bagus”. Bung Karno juga memuji Ketua Mao, “Anda memang murid Kong Hucu yang pandai”.

Benar saja, setelah tahun 1960, situasi internasional telah berubah drastis. Banyak negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin telah merdeka dan masuk menjadi anggota PBB dimana sebelumnya hanya berjumlah 60 negara sedangkan pada saat itu sudah menjadi 99 negara. Maka pada Sidang PBB ke-16 di tahun 1961, suara yang mendukung RRT bergabung kedalam PBB dari 11 suara menjadi 42 suara, sedangkan suara abstain dari 4 suara menjadi 22 suara. Hingga pada tahun 1971, situasi perang dingin mulai mengalami perubahan besar. Politik diplomasi pingpong yang dimainkan oleh Ketua Mao dan PM Zhou Enlai telah menggemparkan dunia. Kemudian dilanjutkan dengan kedatangan Kissinger dan Nixon secara berturut-turut mengunjungi Tiongkok. Hubungan antara RRT dan AS mulai mencair dan betul saja apa yang dianalisis oleh Ketua Mao pada saat berdiskusi dengan Bung Karno bahwa AS telah mengkhianati Taiwan. Pada 25 Oktober 1971, Sidang PBB ke-26 memutuskan pemulihan kedaulatan yang sah untuk RRT di PBB. Berarti Taiwan telah kehilangan kursi mereka di PBB dan tidak lagi perlu untuk mengadakan voting atas masalah kursi Taiwan. Suara yang mendukung RRT adalah 76 berbanding 35 suara yang diajukan oleh Albania, Al Jazair dan 23 negara lainnya. Setelah itu Taiwan telah ditendang jauh-jauh dari keikutsertaan mereka di PBB. Setelah 23 tahun berjuang, kedaulatan RRT akhirnya pulih kembali.

Begitu pula dengan masalah Irian Barat. Dari hasil diskusi tersebut akhirnya Bung Karno mendapatkan inspirasi dalam merebut kembali Irian Barat dari kolonialis Belanda yaitu di satu sisi tetap berjuang melawan imperialis AS tetapi di sisi lain adalah bekerjasama. Masalah Irian Barat menurut Bung Karno tidak bisa diselesaikan dalam waktu lima atau enam tahun bahkan bisa lebih. Perjuangan panjang Indonesia sejak Konferensi Meja Bundar di tahun 1949, Sidang Umum PBB 1954 dan 1955, Konferensi Kolombo 2 Mei 1954, Komunike Panca Negara : Birma, Srilanka, India, Pakistan dan Indonesia 29 Desember 1954 di Bogor, Konferensi Asia Afrika 1955, pertempuran Laut Arafuru yang telah menggugurkan Komodor Laut Yos Sudarso pada 15 Januari 1962, pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB 1960, Bunker Proposal 15 Agustus 1962 di New York, lihainya Bung Karno di panggung internasional sampai pada Pepera. Maka seperti kata Bung Karno “sebelum ayam jantan berkokok’ pada 1 Mei 1963, Irian Barat kembali kepada pangkuan ibu pertiwi.

Enambelas Hari Sepuluh Kota Empatbelas Kali Berpidato

Selama di Beijing, Bung Karno sempat mengunjungi Istana Terlarang, Taman Beihai, Kuil Surga, dan Istana Musim Panas. Kemanapun Bung Karno pergi, suara-suara “Hidup persahabatan rakyat Indonesia dan Tiongkok” selalu bergema. Bung Karno juga berpidato di Balai Agung Rakyat Tiongkok, Universitas Tsinghua dan Balai Huairen yang sering dijadikan tempat pertemuan-pertemuan politik dan kegiatan malam seni budaya. Bung Karno pada saat itu kurang puas dengan hasil terjemahan para penterjemah dari pemerintah Tiongkok dan akhirnya memutuskan Situ Meisheng sebagai sekretaris pribadi sekaligus penterjemah Bung Karno. Sepuluh kota di Tiongkok telah dikunjungi Bung Karno dan empat belas kali Bung Karno berpidato, sebelas kalinya Situ Meisheng menterjemahkan pidato-pidato Bung Karno yang terkenal sangat luas dan dalam. Situ Meisheng sendiri sebenarnya adalah sahabat lama dari PM Zhou Enlai dan murid dari teman sekolah dan anggota organisasi Lembaga Studi Rakyat Baru yang didirikan oleh Ketua Mao. Dialah Zhang Guoji yang pada tahun 1922 meninggalkan Singapura menuju pulau Jawa. Situ Meisheng adalah keturunan Tionghoa yang pada saat berusia 19 tahun pernah menjadi wartawan magang di kantor surat kabar harian Tian Shen dan untuk pertama kali diutus untuk menghadiri Konferensi Nasional Indonesia Pusat yang diadakan di kota Malang.

Pada 6 Oktober 1956, Bung Karno meninggalkan Beijing ditemani oleh Ketua Mao dan pemimpin Tiongkok lainnya. Mereka berjabat tangan. Bung Karno didepan sepuluhribu orang yang hadir mengucapkan terima kasih, “Saya mengundang Saudara-saudara sekalian dan Ketua Mao untuk mengunjungi Indonesia.” Bung Karno mengatakan kepada Ketua Mao, “Saya harap saya bisa bertemu kembali dengan Ketua Mao di Indonesia. Rakyat Indonesia menanti Saudara”. Ketua Mao menerima undangan Bung Karno tersebut, namun karena banyak alasan sejarah ketika itu maka Ketua Mao tidak pernah mengunjungi negeri seribu pulau yang sangat indah dan subur tersebut, Indonesia. Bung Karno tidak hanya sekali mengunjungi RRT, untuk yang kedua dan ketiga kalinya yaitu pada 1961 dan 1964 Bung Karno berobat dan menemui sahabat lamanya, Ketua Mao. Kedatangan Ketua Mao sendiri diwakili oleh Song Qingling pada Agustus 1956 dan disusul oleh Liu Shaoqi pada tahun 1963 mengunjungi Indonesia.

Sebelum Bung Karno meninggalkan Beijing, Bung Karno menyempatkan diri untuk menemui para pegawai Hotel Beijing yang selama Bung Karno di Tiongkok telah memberikan pelayanan yang baik. “Setiap kali saya bertugas ke luar negeri, pasti saya selalu membawa staf saya untuk membantu keperluan saya karena mereka sudah memahami saya. Namun disaat saya di Beijing, saya sangat menyukai Saudara-saudara yang telah membantu keperluan saya disini. Tugas kalian sangat bagus dan memuaskan. Jikalau saya ke Tiongkok kembali, saya tidak akan membawa staf-staf pelayan saya”. Sebagai rasa terima kasih, Bung Karno memberikan kenang-kenangan kepada para pegawai Hotel Beijing tersebut berupa kotak rokok yang terbuat dari perak. Tentu saja para pegawai Hotel Beijing tersebut sangat menyukai hadiah dari Presiden Indonesia tersebut dan merupakan kehormatan yang tak terhingga bisa mendapatkan hadiah dari pemimpin besar revolusi dari Indonesia.

Setelah meninggalkan kota Beijing, Bung Karno mengunjungi kota lainnya di Tiongkok, seperti kota-kota di propinsi Liaoning, Jilin, Jiangsu, Shanghai, Zhejiang, Guandong, Yunnan dan kota lainnya. Sepuluh hari terakhir, Bung Karno mengunjungi kota-kota di Timur Laut Tiongkok, berjalan di pinggir sungai Huangbu, memberikan penghormatan terhadap bapak nasionalis Tiongkok Dr. Sun Yatsen di Mauseleum Sun Yatsen, menikmati keindahan danau Barat (Xizi Hupan). Bung Karno benar-benar merasakan persahabatan yang hangat dari bangsa Tiongkok. Tak lupa pula, Bung Karno mengirimkan surat kepada Ketua Mao atas persahabatan yang hangat tersebut.

Pada 15 Oktober 1956, Bung Karno tiba di selatan Tiongkok, kota Kunming Propinsi Yunnan. Enambelas hari lamanya Bung Karno berada di RRT dan tidak akan pernah melupakan saat-saat yang indah disana. Menurut Roeslan Abdulgani, “Bung Karno adalah seorang insinyur, beliau tidak pernah melihat pembangunan jembatan besi, tetapi di Tiongkok, kami telah menemukan pembangun jembatan persahabatan negara yaitu Ketua Mao”. Menanggapi pernyataan dari Menteri Luar Negeri RI tersebut, PM Zhou mengatakan bahwa, “Pertemuan antara Bung Karno dan Ketua Mao telah menjembatani persahabatan antara 600 juta rakyat Tiongkok dengan 82 juta rakyat Indonesia. Melewati gunung dan menyatukan samudera. Jembatan persahabatan ini akan abadi selamanya.