Pu Yi : Dari Seorang Kaisar Menjadi Rakyat Biasa

Tulisan dari Institut Rakyat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dari sebuah lubang pintu, seseorang sedang mengawasi dan memata-matai tiga orang pria di dalamnya. Salah seorang pria tersebut terlihat sedang merapikan kasur dan meletakkan sebuah biola ketempat lain. Pria tua berkacamata sedang diikatkan tali sepatunya oleh pria yang lebih muda darinya. Pria muda tersebut juga menyiapkan air hangat yang akan digunakan oleh pria tua berkacamata. Dengan jalan yang hampir bungkuk menghampiri pria yang lebih muda darinya. “Kau lupa membersihkan sikat gigi ini?”, tanya pria tua berkacamata. “Ya Tuan!”, segera dia membersihkan sikat gigi si pria tua berkacamata yang kelihatannya sangat dihormati sekali oleh pria muda tadi. Dengan tatapan mata yang tajam, seseorang dibalik pintu tersebut terus mengawasi tingkah laku tiga orang didalamnya khususnya dua orang pria tersebut.
Mungkin dua orang pria tadi merasakan bahwa diri mereka sedang diawasi oleh orang lain. Mereka berdua melayangkan pandangan mereka ke arah pintu dan benar pula firasat mereka. Kontan saja membuat orang yang mengawasi tiga orang pria tadi terkejut dan segera menutup lubang pintu. “Pindahkan dia!”, perintah orang yang mengawasi tiga orang pria tadi yang ternyata adalah pimpinan Penjara Liaodong/Liaoning No. 3 atau juga dikenal sebagai Pusat Manajemen Penjahat Perang Fushun (Fǔshùn Zhànfàn Guǎnlǐ Suǒ) yang terletak di Distrik Xinfu, Fushun, Liaoning. Sengaja disediakan bagi para tahanan perang dari Manchuria, Kuomintang dan Jepang, dibawah pengawasan pemerintah Komunis Tiongkok. Pria tua berkacamata tadi adalah Puyi kaisar Tiongkok terakhir dan mantan kaisar boneka negara Manchuria.
“Tahanan 981, kumpulkan barang-barangmu!”, perintah penjaga tahanan kepada Puyi. Dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian, Puyi mengikuti perintah untuk dipindahkan ke ruangan tahanan yang lainnya. Ketika Puyi sedang menaiki sebuah tangga, pimpinan Penjara Liaodong No. 3 yang tadi mengawasi Puyi memerintahkan Puyi untuk berhenti dan melepaskan tali sepatu Puyi. “Tali sepatumu kendur, sebaiknya kau ikat sendiri tali sepatumu!”, perintahnya kepada Puyi. Selain itu ada beberapa perintah lain yang harus dijalankan oleh Puyi. “Kamis kamu masak siang, jumat kamu cuci toilet, sabtu kamu menyapu ruangan!”, demikian salah seorang penjaga tahanan memberi beberapa kegiatan yang harus dikerjakan sendiri oleh Puyi. Pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh Puyi. Bahkan ketika buang air besar pun semua pelayannya sibuk mengurusi Puyi disertai dengan pemain piano memainkan musik-musik klasik sebagai penghantar buang hajatnya.
Dalam ruangannya yang baru, Puyi melihat orang lain dan bukan berasal dari keluarganya sendiri. Dengan penuh rasa takut bercampur kesal, Puyi menggedor pintu tahanan agar dia bisa dikembalikan lagi ketempat semula atau setidak-tidaknya tinggal bersama keluarganya. Penjaga tahanan memberitahu kepada Puyi agar terbiasa dengan kehidupannya yang baru. Apa boleh buat melawan pun tiada guna, pikir Puyi yang saat ini hanya menerima nasibnya saja. Sudah untung masih bisa hidup, pikirnya lagi.
“Apakah kamu sudah lupa, saya ini Menteri Usaha Fasilitas Umum Manchuria”, sambil membersihkan sepatunya menatap Puyi. “Kalian semua adalah orang-orang Manchuria”, Puyi menatap semua tahanan yang kini seruangan dengan dirinya. “Semua orang disini, kini adalah penghuni tahanan dan yang paling terpenting adalah mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Ketika sedang belajar dilarang saling bicara!” salah seorang penghuni tahanan memberi tahu kepada Puyi.
Demikian salah satu adegan film “The Last Emperor-Kisah Kaisar Tiongkok Terakhir” besutan sutradara Bernardo Bertolucci dimana pada tahun 1987, film tersebut telah menyabet 9 penghargaan Academy Award. Film tersebut mengisahkan tentang sejarah, politik, dan alegori moral. Bagaimana rakusnya kekuasaan dinasti Qing (Ching) dan korupnya para pejabat yang berada disekeliling wilayah kekuasaan kekaisaran Qing. Namun, ketika film tersebut mencapai klimaksnya dimana ada sebuah adegan transformasi seorang kaisar untuk dididik menjadi rakyat biasa sungguh sangat mempesona. Mungkin kita sebagai orang asing melihatnya ini sebagai “metode cuci otak” dari pemerintahan yang baru yaitu pemerintahan dibawah kekuasaan Kungchantang (Partai Komunis Tiongkok/PKT).
Dalam film tersebut juga digambarkan sebuah tahanan dengan beberapa penjaga dan interogator yang sedang melakukan “metode reedukasi” bagi seorang borjuasi yang dulunya sangat berkuasa sekali atas hidup dan matinya rakyat Tiongkok. Walaupun semasa Puyi menjadi kaisar hanyalah menjadi kaisar pajangan saja sebagai pemanis Republik Tiongkok dimata dunia. Kekuasaan negara sepenuhnya sudah dikuasai oleh penguasa yang baru, yaitu Yuan Shikai, seorang jenderal tentara Beiyang yang sebelumnya telah mengkudeta Sun Yatsen sebagai presiden Republik Tiongkok dan akhirnya memproklamirkan dirinya sebagai kaisar Tiongkok yang baru.
Transformasi diri dengan menggunakan metode ”reedukasi berbeda sekali dengan metode cuci otak. Ini terlihat dari perubahan watak dan sikap Puyi setelah dilakukannya metode mendidik ulang kembali dari manusia borjuis menjadi manusia klas pekerja. Kini Puyi merasa dirinya menjadi lebih baik lagi. Seperti kata Bertolucci, kehidupan Puyi adalah seperti perjalanan yang melewati kegelapan menuju terangnya kehidupan yang baru. Puyi keluar dari kegelapan sesaknya Istana, dan bersinar seperti cahaya mentari dalam kehidupannya yang baru yaitu menjadi seorang warga negara biasa. Itulah esensi dari tujuan metode mendidik ulang kembali dari sebuah pemerintahan rakyat yang menggelora dalam dada mereka untuk menghancurkan dunia yang lama (Jiù shìjiè dǎ gè luòhuāliúshuǐ) dan percaya bahwa rakyatlah sebagai pemilik dunia (Wǒmen yào zuò tiānxià de zhǔrén). Persis seperti lagu Internasionale dalam bahasa Tionghoa yang telah diubah dari versi Rusia oleh Qu Qiubai (Ch'ü Ch'iu-pai), salah satu pemimpin awal PKT yang menjadi martir ditangan penguasa Partai Nasional- Kuomintang pada tahun 1935.
Pada akhir film tersebut, meskipun Puyi dalam aktivitas kehidupannya bukanlah sebagai seorang kaisar tetapi Puyi telah menjadi manusia yang merdeka. Bebas melihat dunia, tidak terkekang dalam sangkar emas Istana Kota Terlarang dan Istana Musim Panas dengan subsidi 4 juta tael perak setahun setara dengan 4 juta dolar AS dari pemerintah Republik Tiongkok sebagai bentuk “Perjanjian Perlakuan yang Baik terhadap Kaisar Qing yang Agung setelah Penurunan Takhtanya”. Pakaian Puyi pun kini hampir sama dengan para petani Tiongkok pada umumnya. Banyak dari kita sebagai orang asing merasa sedikit kebingungan dengan transformasi diri Puyi. Dari seorang kaisar menjadi seorang warga negara biasa. Fenomena Puyi menjadi sebuah misteri? Hal ini dikarenakan kita tidak melihat adanya dua orang besar dibalik semua fenomena perubahan diri Puyi tersebut. Dua orang besar tersebut adalah Mao Zedong dan Zhou Enlai.
Mao Zedong, Zhou Enlai dan Puyi
Pada 14 Agustus 1945, Kaisar Hirohito dari Jepang mengumumkan bahwa Jepang “menyerah tanpa syarat”. Hal ini berarti rejim boneka Wang Jingwei—pengganti Sun Yatsen dalam kepemimpinan Kuomintang, ikut merestui Chiang Kaisek untuk membasmi kaum Komunis Tiongkok dan akhirnya menjadi pemerintah boneka imperialis Jepang—ikut runtuh bersamaan dengan kekalahan Jepang di Front Timur Jauh. Jelas pula bahwa kaisar Puyi sebagai pemimpin negara Manchuria bentukan Jepang akan dianggap sebagai penjahat perang. Tanpa disangka-sangka, Mao Zedong dan Zhou Enlai mengeluarkan instruksi dihadapan Tentara Rakyat Timur Laut (Dōngběi de rénmín jūnduì) untuk melindungi keluarga Aisin-Gioro suku Manchu (nama keluarga (marga) dari para kaisar Manchu-Dinasti Qing). Perintah ini membuat bingung semua orang seperti halnya dulu mereka bingung terhadap keputusan Mao Zedong untuk bersekutu kembali dengan Kuomintang didalam menghadapi imperialis Jepang. Mereka ingat betul ketika persekutuan awal antara PKT dan Kuomintang ditahun 1920-an, PKT ditelikung ditengah jalan dan ribuan kaum komunis Tiongkok dibantai dibawah perintah komando Chiang Kaisek-Kuomintang. Lalu apa maksud Komite Sentral PKT dengan mengambil keputusan untuk melindungi Kaisar Puyi dan keluarga Aisin-Gioro yang sudah nyata-nyata sebagai anjingnya Jepang?
Perintah Komite Sentral PKT untuk melindungi keluarga Aisin-Gioro tidak tercium dari pihak luar. Hal ini disampaikan sendiri oleh Zhou Enlai ketika bertemu dengan Puyi, Pujie (adik Puyi) dan Putri Hiro Saga isterinya Pujie pada 10 Juni 1961. Karena informasi ini disampaikan sendiri oleh Putri Hiro Saga dalam buku memoarnya yang berjudul "Pengembaraan Sang Putri". Zhou Enlai ingat betul ketika kemenangan Perang Anti Jepang, dan ada kesempatan untuk menjatuhkan kekuasaan Manchuria. Ketika itu Zhou Enlai berhadapan langsung dengan Putri Hiro Saga dan Hu Sheng, putrinya. Sambil bicara dan memerintahkan untuk memindahkan barang-barang: "Perang telah berakhir, Manchuria telah tumbang, kami mendapat perintah, keluarga Aisin-Gioro yang sekarang berada di Manchuria (timur laut, Dōngběi), dan apabila menemukan mereka harus dilindungi. Tetapi tampaknya perintah untuk melindungi keluarga Aisin-Gioro tidak sampai ke akar rumput, membiarkan Anda menderita disini, sekali lagi kami meminta maaf kepada Anda” [“Pengembaraan Sang Putri” hal. 175, Penerbit Sastra dan Seni Beijing, Oktober 1985].
Buku "Pengembaraan Sang Putri" diterbitkan pada tahun 1959 oleh lembaga Musim Semi Literatur Jepang. Dicetak ulang sebanyak sembilan kali, dan telah dibuat menjadi film. Putri Hiro Saga dalam memoarnya tersebut menggambarkan ketika musim gugur dia bersama Pu Jie melarikan diri ke Tonghua dengan liku-liku pengalaman pahit mereka. Putri Hiro Saga mengatakan bahwa mereka berada di wilayah pasukan Komunis – Pasukan Aliansi Demokratik Timur Laut, dengan segera menjadi pengawasan mereka. Segera setelah itu, keluarga Aisin-Gioro secara bertahap dibawa ke Kota Tonghua menggunakan truk atau kendaraan lainnya yang bisa berjalan di atas salju, sebab menggunakan mobil biasa akan sangat berbahaya sekali bagi keselamatan mereka.
Di Tonghua, Isteri Pu Yi "Ratu Wanrong” dan Putri Hiro Saga terisolasi dalam sebuah ruangan di lantai dua Biro Keamanan Kota. Li Yuqin atau yang dikenal sebagai selir Fu, isteri Pu Yi yang keempat dan rombongan ditempatkan di tahanan rumah Komando Militer Tentara Aliansi Demokratik Timur Laut. Tentu saja mereka semua melalui pemeriksaan fisik yang ketat. Pada 3 Februari 1946 telah terjadi insiden yang mengerikan "Insiden Tonghua" [Insiden Tonghua direncanakan oleh Sun Gengxiao, Sekretaris Partai Nasional-Kuomintang Tonghua. Berkolusi dengan mantan Kepala Staf Tentara Kwantung 125 Fujita dan divisi lain dari tentara Jepang yang gagal. Mereka mengadakan pemberontakan bersenjata untuk menggulingkan pemerintahan demokratis], dalam gemuruh meriam dan peluru berterbangan kesana kemari mengantam apa saja hingga mengenai perawat tua Pu Yi dan karena kehilangan banyak darah akhirnya meninggal, Li Yuqin terluka, Wanrong kehilangan kesadarannya. Suasana ketika itu sangat mencekam membuat Putri Hiro Saga sangat ketakutan.
Setelah itu, mereka harus hidup kedinginan dibawah suhu 30 derajat di bawah nol. Gedung dan tempat tinggal mereka mengalami kerusakan berat. Seminggu kemudian mereka pindah ke rumah penduduk. Ditengah malam beberapa pasukan menodongkan senjata diatas kepala Putri Hiro Saga sambil mengatakan: “Jangan bergerak atau kalian mati!”. Ternyata mereka adalah tentara Jepang yang secara mendadak menyerang gedung Komando Militer Tentara Aliansi Demokratik Timur Laut. Setelah insiden itu mereda, Wanrong dan tentara pendamping keluarga Aisin-Gioro mengambil tindakan. Pada April 1946 dengan menaiki kereta barang mereka kembali ke Changchun. Tinggal beberapa hari di ruang tamu Hotel Telford yang telah diperbaiki oleh tentara pendamping keluarga Aisin-Gioro dan mengevakuasi mereka dengan menggunakan kereta menuju kota Jilin.
Mereka ditahan didalam sebuah ruangan di gedung Lembaga Kemanan Umum dilanjutkan dengan interograsi beberapa hari lamanya. Bahkan ketika diinterograsi, Putri Hiro Saga sempat mengatakan bahwa, “Akan mengakhiri hidup putrinya sendiri, lalu selanjutnya akan membunuh dirinya sendiri”. Tetapi dia harus hidup dan juga harus merawat permaisuri Wanrong yang hidupnya sangat tragis setelah mengetahui bahwa anak perselingkuhannya dengan Li Yueting pengawal pribadinya telah dibunuh atas perintah Puyi. Setiap hari permaisuri Wanrong selalu berteriak-teriak dengan matanya yang melotot dan bergulingan di lantai seperti menahan rasa sakit, “Tolong aku! Tolong, tolong!” Tentara pengawal keluarga Aisin-Gioro dan tentara rute kedelapan dibuat lelah untuk menahan kegilaan permaisuri Wanrong. Demikian Putri Hiro Saga dalam memoarnya menceritakan tentang nasib tragis permaisuri Wanrong.
Kisah hidup permaisuri Wanrong ini sempat difilmkan pada tahun 1987 dan dibuatkan drama serinya pada tahun 2003 dengan mengambil judul “Kisah Hidup Permaisuri Terakhir”. Pernikahannya dengan Puyi tidak berjalan sempurna dan sebagai pelampiasannya adalah dengan menghisap candu. Apalagi ketika Puyi telah menjadi kaisar boneka negara Manchuria, kehidupan Wanrong denga Puyi semakin renggang lantaran Puyi terlalu sibuk dengan ambisinya untuk kembali lagi berkuasa. Wanrong merasa sangat kesepian dan depresi berat hingga pada akhirnya Wanrong jatuh cinta kepada pengawalnya sendiri dan melahirkan anak perselingkuhannya. Mengetahui Wanrong hamil, bukan main marahnya Puyi dan menginjak-injak perut Wanrong yang sedang hamil. Berharap Wanrong bisa keguguran tetapi hal itu ternyata tidak terjadi dan Wanrong melahirkan seorang putri, anak perselingkuhannya yang pada akhirnya atas perintah Puyi, anak perselingkuhanya tersebut dibunuh hidup-hidup. Li Yueting sendiri setelah dipaksa menulis surat untuk diberikan kepada Wanrong akhirnya juga dibunuh.
Ketika Kuomintang membom dan menginvasi kota Jilin, Wanrong dibawa oleh enam tawanan jepang menggunakan kereta menuju kota Yanji dan diikat dalam sebuah kursi panjang. Di kereta tersebut dibuat sebuah tulisan dalam kain putih yang panjang, “Pengkhianat Negara Manchuria”. Kemudian, Wanrong ditempatkan di sebuah penjara pengadilan Yanji. Ketika Wanrong sedang sekarang akibat kecanduan opium, dia tidak dikasih makan dan tanpa pengawasan. Hingga pada 20 Juni 1946 disaat usianya 39 tahun, Wanrong akhirnya meninggal dunia dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Putri Hiro Saga sendiri beberapa hari sebelum kematian Wanrong dibawa oleh beberapa tentara ke Jiamusi untuk diinterograsi. Setelah itu dengan menggunakan identitas warga negara Jepang, Putri Hiro Saga berencana membawa putrinya untuk kabur ke Jepang. Tapi tak disangka, malah jatuh ke dalam wilayah kekuasaan Kuomintang dan dipenjarakan di Jinzhou, Huludao, Beijing, dan Shanghai. Sampai pada akhirnya, atas bantuan dari beberapa kelompok interniran tentara Jepang yang masih berada di Nanjing kepada pemerintah Kuomintang-Nanjing agar diizinkan untuk melepaskan Putri Hiro Saga.
Bagaimana dengan nasib Puyi?
Setelah tanda-tanda Jepang mulai kalah, tentara Jepang berencana membawa Puyi ke Jepang. Sayang rencana itu digagalkan sebab pada 16 Agustus 1945 saat berada di pesawat terbang menuju Jepang, Tentara Merah Uni Soviet menangkap Puyi dan membawanya ke kota Chita di Siberia. Puyi tinggal di sebuah sanatorium dan dibawa ke Khabarovsk di dekat perbatasan Tiongkok. Hingga disaat Mao Zedong pertama kalinya mengunjungi Uni Soviet pada Desember 1949 sampai Februari 1950, dalam pembicaraannya dengan pihak Uni Soviet, bersungguh-sungguh meminta kepada pemerintah Uni Soviet agar bisa membawa kembali Puyi ke Tiongkok. Stalin mendukung Tiongkok baru dan mengabulkan permintaan Mao Zedong agar Puyi bisa dipulangkan kembali ke Tiongkok.
Didalam kereta menuju pulang ke Tiongkok, Puyi berpikir kalau dia akan ditembak mati sebagai penjahat perang. Dalam keadaan putus asa, Puyi pernah berencana untuk menggantung dirinya sendiri. Untungnya disaat itu tentara penjaga melihatnya dan segera menyelamatkan Puyi. Pada 1 Agustus 1950 di Stasiun kereta Api Suifenhe Provinsi Heilongjiang, Puyi dan rombongannya diserahkan kepada pemerintah Tiongkok. Dengan segera Puyi menjulurkan tangannya untuk diborgol. Pikirannya selama dalam perjalanan pulang ke Tiongkok bahwa dia akan dieksekusi mati ternyata semuanya salah besar. Mao Zedong membawa pulang Puyi ke Tiongkok bukan untuk dieksekusi mati tetapi jelas sesuai dengan kebijakan PKT agar menyelamatkan dan melindungi keluarga Aisin-Gioro.
Pada 25 April 1956, Mao Zaedong dalam Rapat Akbar Komite Sentral PKT berpidato tentang “Sepuluh Hal Besar yang Menjadi Perhatian”. Didalam pidatonya tersebut Mao Zedong membicarakan tentang nasib Puyi selanjutnya. “Tentang tertangkapnya penjahat perang Kaisar Xuantong (Hsuan-tung), janganlah dieksekusi mati, biarkan mereka mengabdikan dirinya kepada rakyat… beri mereka makan… beri mereka jalan untuk hidup, beri mereka kesempatan untuk dirinya sendiri. Hal ini akan berdampak baik terhadap rakyat dan masyarakat internasional”.
Pada musim panas 1961, Mao Zedong mengundang Puyi, Xun Shizhao, Chengqian, Chou Ao dan Wang Jifan ke Zhongnanhai (semacam Gedung Putih atau Istana Merdeka). Puyi sangat gembira sekali mendengar kabar informasi tersebut. Ketika di Zhongnanhai, Mao Zedong mempersilahkan Puyi untuk mengambil makanan yang sudah dihidangkan untuk para tamu. Dengan penuh rasa humor, Mao Zedong mengatakan ketika itu, “Kamu itu kan tuanku yah, tapi malah aku membuatmu menjadi rakyat biasa!” Dalam piring makan Puyi terdapat sayur pare, dengan menimpali perkataan Mao Zedong tadi, Puyi mengatakan, “Coba nikmati makanan khas Hunan ini, sayur pare!”. Mereka tertawa berdua sambil makan dan sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal. Lalu Mao Zedong bertanya, “Kamu belum menikah lagi bukan?”. “Belum”, jawab Puyi. “Sebaiknya kamu menikah kembali! Tetapi pernikahanmu selanjutnya haruslah berhati-hati untuk menemukan pasangan yang cocok untukmu, karena ini adalah kehidupan dan kamu harus memulai kembali membangun keluarga yang baru!” Setelah Mao Zedong dan Puyi saling berfoto bersama, Puyi kembali pulang dan dengan bangganya dia meletakkan foto dia dan Mao Zedong diletakkan diatas mejanya dan setiap hari selalu dilihatnya.
Dalam kehidupan pernikahan Puyi selama ini, dia telah menikahi empat perempuan. Pertama, Wanrong menikah dengan Puyi pada 1922 dan menjadi permaisurinya. Kedua, Wenxiu, menikah dengan Puyi pada 1922 dan menjadi Selir Shu tapi sayang karena Wenxiu sangat cemburu sekali dengan Wanrong akhirnya meninggalkan Puyi. Ketiga, Tan Yuling menikah dengan Puyi pada 1943 dan menjadi Selir Fu tetapi pada akhirnya disuntik mati oleh tentara Jepang dan terakhir adalah Li Yuqin yang dinikahi Puyi pada saat usianya masih remaja yaitu 15 tahun atas desakan pemerintah Jepang. Pada Februari 1957, Li Yuqin menjenguk Puyi di Tahanan Liaoning No. 3. Dengan berlinang air mata, Li Yuqin menceritakan bagaimana tragisnya kematian Wanrong. Puyi tanpa henti-hentinya menangisi kematian isteri pertamanya itu. Wanronglah orang yang pertamakalinya memperkenalkan kebudayaan Barat kepada Puyi. Lebih membuat Puyi sedih lagi adalah ketika Li Yuqin, saat itu mengajukan cerai.
Pada suatu waktu Puyi mengatakan kepada temannya bahwa, “Ketua Mao mengatakan padaku agar aku bisa menikah kembali tetapi harus hati-hati memilih pasangan hidup. Saat ini aku ingin mencari perempuan yang tidak kebarat-baratan dan tidak melihat seorang pria dari uang dan posisi jabatannya saja. Aku ingin mencari perempuan Tionghoa yang biasa-biasa saja”. Akhirnya teman Puyi tersebut mencarikan jodoh untuknya. Namanya Li Shuxian seorang perawat di RS Guanxiang Distrik Chaoyang Beijing. Usianya 37 tahun, cukup berbudaya, kulitnya putih, tinggi, dan ramping. Sebelumnya Li Shuxian agak ragu-ragu dengan tawaran dari salah satu anggota Komite Sentral PKT yang telah menjadi teman Puyi tersebut. “Siapa orangnya?”, tanya Li Shuxian. “Kaisar Xuantong!”. Li Shuxian agak terkejut mendengarnya, “Tidak! Tidak! Aku takut!”. “Apa yang kau takutkan? Dia itu sudah mengalami masa 10 tahun transformasi diri. Tentunya sudah menjadi warga negara yang baik”. Akhirnya Li Shuxian menyetujuinya dan segera bertemu dengan Puyi di sebuah Klub Kebudayaan.
Li Shuxian mengatakan bahwa Puyi memberikan kesan yang baik, jujur, sederhana, bersahabat, hangat tidak seperti layaknya seorang kaisar. Puyi juga mengatakan bahwa Li Shuxian adalah seorang perempuan yang baik, jujur, dan simpatik. Puyi sangat suka terhadap sikap dan watak Li Shuxian. Pada pertemuan yang kedua kalinya, Puyi juga mengajak temannya tersebut yang telah menjadi makcomblang bagi mereka berdua. Puyi mengajak Li Shuxian untuk berdansa. Setelah pertemuan kedua kalinya tersebut, pada suatu kesempatan Puyi mengatakan kepada Li Shuxian, “Kita selanjutnya jangan membuat susah mak comblang kitalah! Selanjutnya biar aku sendiri yang menghubungimu, boleh kan?”. Li Shuxian sambil berbicara lembut kepada Puyi, “Reputasimu selama ini kan sangat baik, kalau orang lain sampai tahu kalau aku bersamamu, aku malu!” Puyi sambil tersenyum mengatakan, “Kalau ada teman di tempat kerjamu yang ingin tahu tentang aku. Katakan sama mereka bahwa aku bukanlah Puyi tetapi margaku Zhou!”
Hingga pada saat peringatan hari buruh 1962, Puyi mengajak Li Shuxian untuk menikah. Tentu saja Li Shuxian menerima lamaran Puyi yang kini wataknya sangat jauh berbeda sekali ketika menjadi kaisar dulu. Bahkan Puyi akan menangis ketika dia mengingat perbuatannya dulu. Selama Li Shuxian bersama Puyi, terlihat bagaimana Puyi sangat menghormati orang lain bahkan sangat canggung apabila orang lain tetap menganggap Puyi sebagai seorang kaisar. Inilah yang membuat Li Shuxian kesemsem dengan Puyi. Acara resepsi pernikahan mereka diadakan pada 30 April 1962 di Klub Kebudayaan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok. Li Jue, Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok menjadi MC di acara resepsi tersebut. Pada acara resepsi pernikahan mereka juga dihadiri oleh beberapa pimpinan teras RRT. Pernikahan mereka berdua diabadikan juga oleh para wartawan yang hadir ketika itu yang memuat headline tentang pernikahan mereka.
Mao Zedong sendiri sangat menaruh perhatian terhadap pernikahan mereka berdua dimana pada acara Festival Teh Musim Semi (13 Februari 1964) mengatakan kepada semua orang yang hadir ketika itu, “Kita harus bersatu untuk kaisar Xuantong. Aku mendengar bahwa kehidupan Puyi tidak berjalan dengan baik dengan gaji bulanan 180 yuan perbulan. Ini terlalu kecil”. Didepan semua orang dan khususnya dengan Zhang Shizhao, Mao Zedong mengatakan pula, “Saya ingin bersama kalian mengumpulkan uang untuk memperbaiki kehidupan Puyi. Puyi dulunya adalah seorang kaisar tentunya tidak mudah hidup dengan penghasilannya sekarang”. Puyi dan Li Shuxian sangat terharu dengan perlakuan Mao Zedong terhadap mereka berdua, “Ketua Mao mengatakan bahwa beliau akan membantu kami tetapi kami tidak bisa menerimanya. Sebab kehidupan kami sekarang ini sudah sangatlah baik. Kami mencari makan dengan hasil keringat kami sendiri. Ini yang membuat kami bahagia.”
Zhou Enlai sendiri sangat menaruh perhatian terhadap pernikahan, kesehatan, dan kehidupan Puyi. Pada 26 Januari 1960, hari pertama pertemuan Zhou Enlai dengan Puyi. Zhou Enlai sambil bercanda, “Kamu sekarang bukan kaisar lagi yah! Kamu hidup sendirian, tidak ada yang menjagamu, banyak hal yang membuat dalam hidupmu sekarang tidak semudah seperti yang dulu. Sekarang kamu harus menikah kembali, kamu harus cari pasangan hidupmu yang baru.” Zhou Enlai memperlakukan Puyi dengan penuh rasa persahabatan dan membicarakan beberapa hal penting, “Kamu sudah menjadi kaisar disaat usiamu 3 tahun. Pada saat usia yang masih sangat kecil sudah harus membuat keputusan dan sulit pada saat itu mengambil tanggungjawab yang sangat besar. Setelah restorasi, usiamu sekitar 10 tahun, dan kamu juga tidak bisa menanggung beban tanggung jawab tersebut. Pada saat usiamu 18 tahun, Jepang menggunakanmu sebagai rejim boneka di Manchuria (timur laut), kemudian disaat usiamu 20 tahun kamu baru bisa bertanggungjawab atas beban dipundakmu saat itu. Aku dengar ayahmu menentangmu untuk pergi ke Manchuria dan dua kali mencegahmu kesana tetapi kamu tidak mendengar kata-kata dari ayahmu. Aku tahu, setelah dinasti Qing tumbang, ayahmu sudah tidak terlibat lagi di dunia politik.”
Pada musim semi 1961, Zhou Enlai menemui keluarga Aisin-Gioro, menawarkan pekerjaan kepada Puyi dan dia menyetujuinya, “Sebenaranya aku ingin menjadi seorang buruh.” “Bagaimana dengan ilmu aritmatikamu?”, tanya Zhou Enlai. “Aku tidak suka matematika, juga tidak pernah mau mempelajarinya”, jawab Puyi. “Sebagai seorang buruh itu harus bisa membaca gambar, dan memahami aritmatika. Apakah kamu ingin pekerjaan yang lain?”. Dengan rasa kecewa yang terlihat di wajah Puyi sambil mengatakan bahwa, “Mungkin aku bisa mencoba bekerja di rumah sakit sebab ketika aku di Pusat Manajemen Penjahat Perang Fushun aku pernah belajar untuk cara menyuntik.” “Bekerja di rumah sakit itu baik, membuat orang lain sembuh itu bagus tetapi kalau ternyata malah membuat sebaliknya bagaimana?”, Zhou Enlai menanggapi Puyi. “Mungkin kamu kalau bekerja sebagai pustakawan sangat cocok untukmu, karena kamu adalah pelaku sejarah itu sendiri. Bagaimana? Tapi kamu setiap minggu bisa meluangkan waktumu untuk ikut serta bekerja di Taman Botani Beijing, supaya kamu bisa berhubungan dengan massa dan memahami masyarakat”. Puyi tersenyum, bahkan mengatakan, “Itu pekerjaan yang bagus, bagus sekali! Aku setuju dengan pendapat perdana menteri.” Selanjutnya Zhou Enlai mengatakan, “Kamu bisa menulis tentang dirimu sendiri, kapan kamu menjadi kaisar, kapan kamu keluar dari istana dan sebagainya”. Puyi langsung menimpali Zhou Enlai, “Bagaimana menjadi boneka setan Jepang, bagaimana mereformasi kerja, bagaimana mendapatkan keringanan hukuman dari Partai dan pemerintah”. Zhou Enlai sambil tersenyum, “Ya itu bisa kamu tulis semua, judulnya ‘Setengah Perjalanan Hidupku’, bagaimana?” Puyi sambil mengangguk tanda setuju. “Tunggu sampai bukunya terbitlah dan akulah orang pertama yang akan membaca bukumu itu”, kata Zhou Enlai. Puyi ketika itu girangnya bukan main, “Aku akan berikan buku ini kepada Ketua Mao dan PM Zhou Enlai.”
Tetapi gara-gara bukunya jugalah, nanti pada saat Revolusi Besar Kebudayaan Proletariat (RBKP), pasukan Garda Merah masuk dan mengobrak-abrik rumah Puyi dan isterinya. Puyi dipaksa oleh pasukan Garda Merah untuk memukul isterinya sendiri sambil pasukan Garda Merah membacakan isi buku tersebut dimana ketika Puyi menjadi kaisar pernah melakukan tindakan serupa terhadap penjaga Istana Kota Terlarang. Mungkin sebagai bentuk hukuman balas dendam atas perlakuan Puyi ketika itu. Untungnya disaat itu, ada salah seorang pimpinan Tentara Pembebasan Rakyat yang diutus oleh Zhou Enlai untuk melindungi Puyi dan isterinya. Dan mungkin gara-gara bukunya pula Li Yuqin ikut diganyang oleh Garda Merah. Walaupun Li Yuqin sudah menjadi warga negara biasa dan bekerja sebagai seorang buruh, mungkin Garda Merah tetap menganggap dia sebagai borjuasi dan pernah menjadi kaki tangan imperialis Jepang. Mao Zedong sendiri menyebut mereka yang bertindak tanpa ada penyelidikan dan tidak memberikan pendidikan terlebih dahulu adalah sebagai kaum ultra kiri dan bertindak kekanak-kanakan.
Zhou Enlai bahagia sekali ketika mendengar Puyi sudah menikah kembali. Pada 10 November 1963, Zhou Enlai menemui Puyi kembali. “Selamat untuk kamu yah! Bangunlah keluarga yang hangat dan harmonis. Isterimu itu adalah gadis Hangzhou kami loh. Aku ingin foto bersama kalian”, lalu mereka semua makan malam bersama. Perhatian yang sangat tulus dari Zhou Enlai ini membuat Puyi terharu. Puyi tidak hanya rajin belajar tentang ideologi Tiongkok yang baru tetapi juga sangat rajin bekerja. Pada perayaan hari buruh 1964, Puyi menghadiri Konferensi Hubungan Luar Negeri. Zhou Enlai mengundang Raja Burundi, “Perkenalkan beliau ini adalah kaisar terakhir Tiongkok. Tuan Puyi.” Zhou Enlai juga mempersiapkan Li Shuxian yang sekarang sudah menjadi Nyonya Puyi sebagai anggota delegasi Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok. Zhou Enlai juga mengajak Puyi mengunjungi Shanghai, Jiangsu, Zhejiang, Anhui, Jiangxi, Hunan, Hubei, dan kota-kota lainnya agar Puyi menjadi saksi pembangunan masyarakat sosialis. Puyi mengatakan kepada temannya, “Tiongkok mempunyai PKT dan Ketua Mao adalah tepat sekali. Penuh semangat melakukan perubahan disana-sini. Tidak hanya menumbangkan “Tiga Gunung Besar” (Imperialisme, Feodalisme dan Kapitalisme Birokrasi) tetapi juga membuat cahaya merah mentari menyinari tanah Tiongkok. Tanah air tercinta setiap tahun semakin kuat.”
Pada tahun 1965, Puyi dioperasi karena mengidap penyakit tumor kandung kemih. Zhou Enlai merujuk Puyi agar dibawa ke rumah sakit dengan mengundang khusus ahli urologis terkenal, Wu Jieping dan melakukan segala upaya untuk membantu dia mengatasi penyakit dan memperpanjang hidupnya. Selama periode ini, Puyi sering masuk rumah sakit, meskipun terkadang kondisinya stabil, tapi sering kambuh. Pada malam hari nasional 1967, Puyi bergumam kepada isterinya, “Aku tahu penyakitku ini tidak akan bisa membaik. Mungkin sebentar lagi aku akan meninggal. Selama hidupku aku pernah menjadi seorang kaisar dan juga pernah menjadi rakyat biasa. Aku tertunduk malu sama Partai sebab aku belum bisa bekerja baik untuk Partai.”
Pagi hari tanggal 4 Oktober 1967, kondisi kesehatan Puyi semakin parah. Isterinya segera buru-buru mengirimnya ke rumah sakit untuk menyelamatkan hidupnya tetapi sudah tidak ada harapan lagi. Pada 17 Oktober 1967 pukul 2 pagi, penyakit komplikasi kanker ginjal dan penyakit jantung telah membunuh Puyi yang saat itu berusia 62 tahun. Tubuh Puyi dikremasi dan abu tubuhnya kemudian ditempatkan pertama kali di Pemakaman Revolusioner Babaoshan. Pada 29 Mei 1980, Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok mengadakan upacara peringatan untuk Puyi. Upacara peringatan tersebut membuat Li Shuxian sangat terharu, “Kamu, Puyi! Kamu sudah meninggalkan kami selama 13 tahun. Para dewa pun tahu. Kamu sekarang hidup di dunia yang tenang disana.”
Dari kisah Puyi diatas sangatlah jelas bahwa kebijakan PKT dengan menyelamatkan keluarga Aisin-Gioro dan tidak menghukum mati mereka merupakan sebuah kematangan PKT dalam berpolitik. Bisa dikatakan, ini yang disebut dengan humanisme revolusioner PKT. Catatan sejarah tentang hubungan Mao Zedong, Zhou Enlai dan Puyi merupakan pengalaman yang sangat penting di dalam sejarah Tiongkok kontemporer. Puyi dari seorang kaisar menjadi warga negara biasa bukanlah hanya soal transformasi diri belaka tetapi merupakan sebuah kebijakan yang sangat berhasil dan berdampak terhadap masyarakat Tiongkok yang baru serta merupakan seni perjuangan rakyat Tiongkok dan pemimpin mereka.
