Cabang Baru Menggoda, Tapi Hitung Dulu Kelayakan Bisnis Kulinernya
Tulisan dari Intan Marwah Nurmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bisnis makanan dan minuman di Indonesia sedang ramai-ramainya. Di satu kawasan saja, gerai burger, ayam goreng, dan kedai kopi bisa berdiri berdekatan. Ketika sebuah gerai laris, godaan untuk langsung membuka cabang baru memang besar. Padahal laris di satu lokasi belum tentu laris pula di lokasi lain. Di sinilah studi kelayakan bisnis berperan sebagai dasar keputusan, bukan sekadar formalitas.
Menurut Kasmir dan Jakfar dalam buku Studi Kelayakan Bisnis, kelayakan usaha perlu dinilai dari beberapa aspek, yaitu pasar dan pemasaran, teknis dan operasi, keuangan, manajemen dan hukum, serta lingkungan. Kalau salah satunya diabaikan, risikonya nyata. Gerai bisa ramai pembeli tetapi tetap rugi karena sewa terlalu mahal, atau menunya enak tetapi kualitasnya turun karena dapur cabang belum siap.
Pasar: kenali siapa yang akan datang
Langkah pertama adalah menganalisis pasar di lokasi baru. Pemilik perlu tahu siapa calon pelanggannya, berapa daya belinya, dan siapa pesaing di sekitarnya. Kotler dan Keller dalam Marketing Management menekankan pentingnya segmentasi, penentuan target, dan positioning. Lihat saja McDonald’s dan KFC yang membuka gerai bersebelahan. Merek sebesar itu tetap memilih lokasi dengan arus pengunjung tinggi, lalu bersaing lewat menu, harga, dan promosi. Lokasi ramai memang menjanjikan, tetapi artinya pesaing juga ada di sebelah.
Operasional: konsistensi rasa jadi taruhan
Pelanggan mengharapkan rasa yang sama di cabang mana pun. Karena itu, resep perlu terstandar, pasokan bahan baku stabil, peralatan memadai, dan karyawan terlatih. Jaringan makanan cepat saji seperti McDonald’s dan KFC dikenal punya prosedur kerja yang seragam, sehingga pengalaman pelanggan mirip di setiap gerai. Konsistensi seperti inilah yang membuat merek dipercaya saat membuka cabang baru.
Keuangan: hitung sebelum membuka
Aspek ini yang paling sering menentukan. Pemilik perlu menghitung kebutuhan modal untuk sewa, renovasi, peralatan, dan stok awal, lalu memproyeksikan pendapatan dan biaya operasional. Hasilnya diuji dengan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Jika NPV positif dan modal kembali dalam waktu wajar, cabang baru layak dibuka. Jika tidak, lebih baik menunda atau mencari lokasi lain. Sewa di pusat perbelanjaan biasanya tinggi, jadi hitungan ini penting sekali.
Bagi pelaku UMKM, hitungannya makin penting
Banyak kedai dan coffee shop lokal masih berskala UMKM, yang menurut PP Nomor 7 Tahun 2021 dikelompokkan berdasarkan modal usaha atau hasil penjualan tahunan. Mereka bersaing dengan jaringan besar seperti Tomoro, Flash Coffee, dan Kopi Kenangan yang punya modal serta jumlah gerai jauh lebih banyak. Dengan sumber daya terbatas, satu cabang yang salah lokasi bisa menggerus keuntungan gerai utama. Karena itu, studi kelayakan bukan hanya untuk perusahaan besar.
Aspek lain yang sering terlewat
Izin usaha, sertifikasi halal, kesiapan manajer cabang, dan pengelolaan limbah makanan juga perlu dipertimbangkan sejak awal. Masalah di aspek ini bisa menghentikan operasional meski penjualan sedang bagus.
Kesimpulan
Di tengah persaingan F&B yang semakin ketat, ekspansi yang berhasil adalah ekspansi yang direncanakan. Studi kelayakan membantu pemilik usaha menimbang peluang dan risiko dengan data, bukan perasaan. Cabang baru bisa mempercepat pertumbuhan, tetapi hanya jika pasarnya jelas, operasionalnya siap, dan hitungan keuangannya masuk akal.

