Keras di Luar, Hancur di Dalam: Kisah Anak Korban Kekerasan

Siswa SMK Katolik St.Familia Tomohon jurusan perkantoran
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Intan Mondoringin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kekerasan terhadap anak merupakan masalah serius yang berdampak luas, tidak hanya pada kondisi fisik tetapi juga pada kesehatan psikologis dan perkembangan kepribadian. Fenomena ini sering kali tersembunyi, karena banyak korban memilih diam dan menutupi luka batin mereka di balik sikap yang tampak kuat.
Di kehidupan sehari-hari, kita sering melihat anak atau remaja yang terlihat cuek dan “baik-baik saja”. Namun, tidak semua yang tampak di luar mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak anak korban kekerasan memilih menyembunyikan perasaan mereka karena takut, malu, atau tidak memiliki tempat yang aman untuk bercerita.

Menurut World Health Organization, kekerasan terhadap anak mencakup segala bentuk perlakuan fisik, emosional, maupun penelantaran yang dapat menyebabkan penderitaan dan menghambat perkembangan. Dalam kajian psikologi perkembangan, masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan identitas diri.
Hal ini diperkuat oleh teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson yang menyatakan bahwa remaja berada pada tahap *identity vs role confusion*. Pada fase ini, individu berusaha memahami jati dirinya. Pengalaman kekerasan dapat mengganggu proses tersebut dan menyebabkan kebingungan identitas, rendahnya kepercayaan diri, serta kesulitan dalam mengelola emosi.
Selain itu, teori trauma psikologis menjelaskan bahwa pengalaman menyakitkan yang terjadi secara berulang dapat tersimpan dalam ingatan jangka panjang dan memengaruhi cara berpikir, merasakan, serta bertindak. Akibatnya, anak yang mengalami kekerasan sering menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi pendiam, mudah marah, atau justru tampak sangat kuat sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri.
Dampak kekerasan terhadap anak sangat luas. Secara psikologis, korban dapat mengalami kecemasan, ketakutan, hingga risiko depresi. Secara sosial, mereka cenderung menarik diri dan sulit mempercayai orang lain. Dari segi akademik, konsentrasi menurun dan motivasi belajar terganggu. Jika tidak ditangani, dampak ini dapat berlanjut hingga dewasa dan bahkan membentuk siklus kekerasan yang berulang.
Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini. Pertama, keluarga harus menciptakan lingkungan yang aman, terbuka, dan penuh kasih sayang agar anak merasa nyaman untuk bercerita. Kedua, sekolah perlu menyediakan layanan konseling yang aktif dan mudah diakses, serta mengadakan edukasi tentang kesehatan mental dan bahaya kekerasan. Ketiga, sebagai remaja, kita dapat berperan dengan lebih peka terhadap kondisi teman, berani mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan dukungan emosional sederhana. Selain itu, penting juga untuk mendorong korban mencari bantuan profesional seperti guru BK atau konselor.
Pada akhirnya, tidak semua luka dapat terlihat oleh mata. Banyak anak yang tampak kuat, padahal sedang berjuang dalam diam. Oleh karena itu, kepedulian menjadi kunci utama. Satu tindakan kecil dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang terluka.
Mari berhenti diam dan mulai peduli. Menciptakan lingkungan yang aman dan empatik bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi tanggung jawab bersama, agar setiap anak dapat tumbuh tanpa harus menyembunyikan luka di balik kepura-puraan kekuatan.
