Media Sosial Membuat Dunia Tanpa Batas, Tapi Apa Dampaknya bagi Kita?
Tulisan dari Intan Mutiara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di negara lain, kita harus menunggu berita di televisi, membaca koran, atau mendengar cerita dari orang lain. Informasi dari luar negeri tidak bisa kita dapatkan dalam waktu singkat. Sekarang semuanya berubah. Hanya dengan membuka media sosial, kita bisa mengetahui tren yang sedang populer di Korea Selatan, melihat gaya hidup masyarakat Amerika, mengikuti perkembangan teknologi di Jepang, bahkan membeli produk dari negara lain tanpa harus pergi ke sana.
Perubahan tersebut menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana globalisasi semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan internet dan teknologi digital membuat hubungan antarnegara menjadi semakin mudah. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam hitungan detik. Apa yang sedang ramai dibicarakan di satu negara bisa dengan cepat menjadi tren di negara lain.
Jika dulu globalisasi mungkin terasa sebagai sesuatu yang jauh dan hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara, saat ini pengaruhnya justru bisa kita lihat dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Cara kita berpakaian, makanan yang kita konsumsi, musik yang kita dengarkan, bahasa yang kita gunakan, hingga cara kita berbelanja dapat dipengaruhi oleh berbagai hal yang kita lihat melalui internet.
Dunia dalam Genggaman
Media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat globalisasi terasa semakin dekat. TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya memungkinkan seseorang melihat kehidupan masyarakat dari berbagai belahan dunia tanpa harus meninggalkan rumah.
Misalnya, sebuah tren fashion yang awalnya populer di negara tertentu dapat muncul di beranda pengguna media sosial Indonesia hanya beberapa hari atau bahkan beberapa jam setelah menjadi viral. Begitu pula dengan musik. Lagu dari negara lain dapat menjadi populer di Indonesia karena digunakan dalam berbagai video pendek. Begitu sebuah konten mendapatkan banyak perhatian, pengguna dari negara lain kemudian ikut membuat konten serupa hingga akhirnya menjadi tren global.
Hal yang sama juga terjadi pada makanan. Masyarakat Indonesia kini semakin mudah mengenal berbagai jenis makanan dari luar negeri melalui konten digital. Sebaliknya, makanan Indonesia juga memiliki kesempatan untuk dikenal masyarakat dunia. Kuliner seperti rendang, nasi goreng, sate, hingga berbagai makanan tradisional lainnya dapat diperkenalkan melalui video dan konten kreator kepada audiens internasional.
Artinya, teknologi digital tidak hanya membuat masyarakat Indonesia menjadi konsumen budaya global. Kita juga memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari penyebaran budaya Indonesia ke dunia.
Globalisasi Membuka Banyak Peluang
Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi di era digital membawa banyak manfaat. Salah satunya adalah kemudahan dalam memperoleh informasi. Masyarakat tidak lagi bergantung pada satu sumber informasi karena dapat mencari berbagai perspektif dari berbagai negara.
Dalam bidang pendidikan, mahasiswa dan pelajar dapat mengikuti kelas, seminar, webinar, maupun berbagai kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh pihak dari negara lain. Pengetahuan yang sebelumnya sulit diperoleh kini dapat diakses dengan lebih mudah melalui internet.
Dalam dunia pekerjaan, perkembangan teknologi juga membuat batas geografis semakin tidak terasa. Seseorang dapat bekerja sama dengan orang yang berada di kota atau bahkan negara berbeda. Kemampuan menggunakan teknologi, berkomunikasi, membuat konten, hingga memahami tren global menjadi semakin penting di dunia kerja.
Pelaku usaha juga mendapatkan peluang yang besar. Jika dahulu usaha kecil hanya mengandalkan pembeli dari lingkungan sekitar, sekarang media sosial dan marketplace memungkinkan produk lokal dikenal oleh konsumen dari daerah lain. Bahkan, dengan strategi digital yang tepat, produk Indonesia memiliki peluang untuk diperkenalkan ke pasar internasional.
Di sinilah globalisasi sebenarnya tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang. Persoalannya adalah apakah masyarakat mampu memanfaatkan peluang tersebut atau justru hanya menjadi penonton dari berbagai perubahan yang terjadi.
Ketika Tren Global Menjadi Gaya Hidup
Di balik berbagai manfaat tersebut, globalisasi digital juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah perubahan gaya hidup yang terjadi begitu cepat.
Media sosial membuat masyarakat setiap hari melihat berbagai macam tren. Mulai dari pakaian, makanan, tempat nongkrong, gadget, skincare, hingga gaya hidup tertentu. Apa yang awalnya hanya menjadi tren di media sosial dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kebutuhan.
Tidak jarang seseorang membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena melihat banyak orang menggunakannya. Fenomena tersebut semakin mudah terjadi ketika konten promosi bercampur dengan konten hiburan. Sebuah produk dapat terlihat menarik hanya karena digunakan oleh influencer atau figur yang memiliki banyak pengikut.
Menurut saya, di sinilah masyarakat perlu mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mengikuti perkembangan zaman bukan berarti harus membeli atau mencoba semua hal yang sedang viral.
Globalisasi seharusnya membuat kita semakin terbuka terhadap dunia, bukan membuat kita merasa harus mengikuti semua yang berasal dari luar.
Bahasa Kita Juga Ikut Berubah
Pengaruh globalisasi juga dapat dilihat dari cara masyarakat berkomunikasi. Saat ini banyak istilah dari bahasa asing yang sudah sangat umum digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Kata seperti “healing”, “self-reward”, “work-life balance”, “overthinking”, dan berbagai istilah lainnya sering muncul dalam percakapan maupun konten media sosial. Penggunaan istilah tersebut menunjukkan bagaimana internet membuat bahasa dari berbagai negara dapat masuk dan bercampur dalam kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya, penggunaan bahasa asing tidak selalu menjadi masalah. Bahasa terus berkembang dan masyarakat memang akan selalu menemukan istilah baru. Namun, kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik tetap perlu dipertahankan, terutama dalam situasi formal seperti pendidikan, pekerjaan, dan komunikasi resmi.
Jangan sampai karena terlalu terbiasa menggunakan istilah asing di media sosial, kita justru merasa bahasa sendiri kurang menarik atau kurang modern.
Apakah Budaya Lokal Akan Tergeser?
Pertanyaan lain yang menarik adalah bagaimana nasib budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi.
Kekhawatiran mengenai budaya lokal yang semakin ditinggalkan memang bukan sesuatu yang sepenuhnya tanpa alasan. Generasi muda setiap hari dapat melihat berbagai budaya dari luar melalui media sosial. Jika tidak dibarengi dengan pengenalan budaya sendiri, bukan tidak mungkin sebagian anak muda justru lebih mengenal budaya populer dari negara lain dibandingkan budaya dari daerahnya sendiri.
Namun, menurut saya, teknologi digital sebenarnya bukan musuh budaya lokal. Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.
Batik, misalnya, dapat diperkenalkan melalui konten fashion. Makanan tradisional dapat dikemas dalam video kuliner yang menarik. Musik tradisional dapat dikombinasikan dengan konsep musik modern. Destinasi wisata dapat dipromosikan melalui video pendek. Bahkan bahasa daerah dapat dikenalkan melalui konten kreatif yang dibuat oleh generasi muda.
Artinya, yang dibutuhkan bukan menutup diri dari budaya asing, tetapi membuat budaya sendiri tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Generasi Muda Tidak Harus Memilih antara Lokal atau Global
Generasi muda saat ini berada pada posisi yang unik. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang membuat berbagai budaya dunia dapat diakses dengan mudah.
Mengenal budaya luar bukan berarti kehilangan identitas sebagai orang Indonesia. Begitu juga dengan mencintai budaya sendiri bukan berarti harus menolak perkembangan dari luar.
Kita bisa menikmati musik dari Korea, menonton film dari Amerika, menggunakan teknologi dari Jepang, mengikuti tren fashion dari berbagai negara, sekaligus tetap menikmati makanan Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia, mengenal kesenian daerah, dan menghargai budaya sendiri.
Menurut saya, yang paling penting adalah kemampuan untuk memilih. Tidak semua hal yang viral harus diikuti dan tidak semua hal yang berasal dari luar negeri harus ditolak.
Kita perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar dapat menentukan mana yang memberikan manfaat dan mana yang justru dapat memberikan dampak negatif bagi diri sendiri maupun lingkungan.
Jangan Hanya Menjadi Konsumen Globalisasi
Hal yang sering terlupakan dalam pembahasan mengenai globalisasi adalah posisi kita sebagai pengguna teknologi. Kita sering membicarakan bagaimana budaya asing masuk ke Indonesia, tetapi jarang membahas bagaimana kita dapat membuat sesuatu dari Indonesia ikut dikenal di dunia.
Padahal, media digital memberikan kesempatan yang sangat besar untuk melakukan hal tersebut.
Seorang mahasiswa dapat membuat konten tentang budaya daerahnya. Pelaku UMKM dapat mempromosikan produknya melalui media sosial. Kreator dapat membuat video tentang kuliner Indonesia. Musisi dapat memperkenalkan musik Indonesia kepada pendengar dari negara lain. Bahkan seseorang yang awalnya hanya menggunakan media sosial untuk hiburan dapat memanfaatkannya untuk belajar dan membangun sesuatu yang bernilai.
Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi konsumen dari globalisasi, tetapi juga ikut menjadi bagian dari proses globalisasi itu sendiri.
Dunia Boleh Tanpa Batas, Identitas Jangan Sampai Hilang
Pada akhirnya, globalisasi di era digital adalah sesuatu yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini. Internet telah membuat dunia terasa semakin dekat. Informasi, budaya, teknologi, dan berbagai tren dapat berpindah dengan cepat dari satu negara ke negara lainnya.
Kondisi ini membawa banyak peluang, mulai dari kemudahan mendapatkan informasi, memperluas pertemanan dan jaringan, mengembangkan bisnis, memperoleh pengetahuan, hingga memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.
Namun, kemudahan tersebut juga membutuhkan kesadaran. Kita perlu berhati-hati terhadap budaya konsumtif, kebiasaan mengikuti tren tanpa berpikir, penyebaran informasi yang belum tentu benar, serta kemungkinan semakin jauhnya generasi muda dari budaya sendiri.
Globalisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti dan juga bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja. Kita memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana teknologi dan keterhubungan global tersebut digunakan.
Dunia boleh semakin dekat. Kita boleh mengenal berbagai budaya, mengikuti perkembangan teknologi, dan menikmati berbagai tren dari seluruh dunia. Tetapi di tengah semua itu, kita tetap perlu mengetahui siapa diri kita dan apa yang ingin kita pertahankan.
Sebab, menjadi bagian dari dunia global bukan berarti harus kehilangan identitas sendiri. Justru tantangan terbesar di era digital adalah bagaimana kita mampu terbuka terhadap dunia, tetapi tetap memiliki pijakan yang kuat sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

