Mengapa Anak Muda Seolah Harus Sukses Sebelum Usia 25 Tahun?
Tulisan dari Intan Mutiara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki usia 20-an sering kali dianggap sebagai masa ketika seseorang harus mulai serius memikirkan masa depan. Setelah menyelesaikan sekolah atau kuliah, anak muda mulai dihadapkan pada berbagai pertanyaan tentang kehidupan. Mau bekerja di mana? Ingin menjadi apa? Kapan memiliki penghasilan sendiri? Apa rencana setelah lulus? Bahkan, tanpa disadari, muncul pula anggapan bahwa sebelum usia 25 tahun seseorang seharusnya sudah memiliki pencapaian tertentu.
Seolah-olah usia 25 tahun menjadi batas waktu untuk membuktikan bahwa seseorang telah berhasil.
Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, kesuksesan anak muda sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang mudah terlihat. Memiliki pekerjaan tetap, penghasilan yang cukup, membangun usaha, lulus kuliah tepat waktu, memiliki banyak pengalaman, atau mencapai posisi tertentu dalam pekerjaan sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah berada di jalur yang benar.
Tidak ada yang salah dengan memiliki tujuan dan keinginan untuk sukses. Setiap orang tentu ingin memiliki kehidupan yang baik. Namun, persoalan muncul ketika kesuksesan seolah memiliki batas usia dan semua orang dianggap harus mencapai hal yang sama pada waktu yang sama.
Padahal, kehidupan tidak berjalan seperti perlombaan dengan garis akhir yang sama bagi semua orang.
Tekanan untuk Segera Menentukan Masa Depan
Salah satu hal yang cukup sering dirasakan anak muda adalah tekanan untuk segera mengetahui apa yang ingin dilakukan dalam hidup. Setelah lulus sekolah atau kuliah, seseorang seolah harus langsung memiliki rencana yang jelas.
Bagi sebagian orang, menentukan arah kehidupan memang dapat dilakukan dengan mudah. Mereka sudah memiliki cita-cita sejak lama dan mengetahui bidang yang ingin ditekuni. Namun, tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama.
Ada anak muda yang masih mencoba memahami minat dan kemampuannya. Ada yang sudah memiliki rencana tetapi harus mengubahnya karena keadaan. Ada pula yang baru menyadari bahwa bidang yang dipilih sebelumnya ternyata tidak sesuai dengan dirinya.
Hal tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses bertumbuh. Namun, lingkungan terkadang membuat proses tersebut terasa seperti sebuah kegagalan.
Pertanyaan sederhana seperti “Setelah lulus mau kerja apa?” dapat menjadi sesuatu yang cukup berat bagi seseorang yang sedang mencari arah. Apalagi jika pertanyaan tersebut terus diikuti dengan perbandingan terhadap teman sebaya yang sudah mendapatkan pekerjaan atau memiliki pencapaian tertentu.
Pada akhirnya, seseorang bukan hanya berusaha mencari masa depannya, tetapi juga berusaha membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya tidak tertinggal.
Ketika Usia Menjadi Ukuran Keberhasilan
Kita sering mendengar kalimat seperti, “Masih muda harus produktif,” atau “Selagi muda harus sukses.” Kalimat tersebut sebenarnya dapat menjadi motivasi. Namun, jika dipahami secara berlebihan, anak muda dapat merasa bahwa mereka tidak boleh berhenti, gagal, atau berjalan lebih lambat.
Usia kemudian berubah menjadi semacam ukuran keberhasilan.
Jika seseorang berusia 22 tahun dan sudah bekerja, ia dianggap sudah berada di jalur yang baik. Jika berusia 24 tahun dan sudah memiliki usaha, ia dianggap hebat. Sebaliknya, seseorang yang masih mencari pekerjaan atau belum menemukan bidang yang cocok dapat merasa bahwa dirinya tertinggal.
Padahal, usia tidak dapat digunakan untuk mengukur seluruh perjalanan seseorang.
Dua orang yang sama-sama berusia 24 tahun bisa saja memiliki kondisi kehidupan yang sangat berbeda. Salah satunya mungkin memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik, dukungan keluarga yang kuat, atau akses terhadap peluang kerja yang lebih luas. Sementara yang lain mungkin harus menghadapi berbagai keterbatasan atau tanggung jawab yang membuat perjalanannya menjadi lebih panjang.
Karena itu, membandingkan pencapaian hanya berdasarkan usia tidak selalu menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Kesuksesan yang Terlihat Tidak Selalu Menggambarkan Proses
Salah satu alasan mengapa anak muda mudah merasa tertinggal adalah karena kita sering melihat hasil akhir dari perjalanan orang lain.
Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak melihat berapa banyak lamaran yang sebelumnya ditolak. Kita melihat seseorang berhasil membangun usaha, tetapi tidak mengetahui berapa kali ia mengalami kegagalan. Kita melihat seseorang lulus dengan pencapaian yang membanggakan, tetapi tidak mengetahui berapa banyak tekanan dan perjuangan yang harus dilaluinya.
Hal yang terlihat sering kali hanya hasilnya.
Akibatnya, kita membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan pencapaian orang lain yang hanya terlihat sebagian.
Padahal, setiap orang memiliki cerita yang berbeda. Seseorang mungkin mencapai sesuatu lebih cepat karena memiliki kesempatan yang berbeda. Orang lain mungkin membutuhkan waktu lebih panjang karena harus melalui lebih banyak tantangan.
Perbedaan tersebut bukan berarti salah satu lebih berharga daripada yang lainnya.
Pendidikan dan Dunia Kerja Juga Menambah Tekanan
Tekanan untuk sukses juga tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan dan pekerjaan. Sejak sekolah, anak muda sudah terbiasa dengan berbagai ukuran keberhasilan seperti nilai, peringkat, prestasi, dan kelulusan.
Setelah memasuki dunia kerja, ukuran tersebut berubah menjadi pekerjaan, jabatan, penghasilan, dan pengalaman.
Akibatnya, seseorang dapat terbiasa melihat dirinya berdasarkan pencapaian yang bisa diukur.
Jika mendapatkan nilai bagus, merasa berhasil. Jika mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, merasa berhasil. Jika mendapatkan promosi, merasa berhasil.
Namun, ketika belum mencapai hal-hal tersebut, muncul perasaan bahwa dirinya tidak cukup baik.
Padahal, kehidupan seseorang jauh lebih kompleks daripada sekadar daftar pencapaian. Kemampuan untuk bertahan dalam keadaan sulit, belajar dari kesalahan, menjaga hubungan dengan orang lain, membantu keluarga, dan terus berusaha juga merupakan bagian dari proses kehidupan yang tidak selalu dapat diukur dengan angka.
Tidak Semua Orang Harus Sukses dengan Cara yang Sama
Masalah lainnya adalah adanya definisi kesuksesan yang terlalu sempit.
Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Bagi orang lain, sukses mungkin berarti memiliki pekerjaan yang sesuai dengan minat. Ada yang ingin membangun bisnis, ada yang ingin menjadi profesional, ada yang ingin melanjutkan pendidikan, dan ada pula yang memiliki tujuan sederhana seperti dapat hidup mandiri dan membantu keluarga.
Semua tujuan tersebut memiliki nilai masing-masing.
Karena itu, anak muda seharusnya memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri seperti apa kehidupan yang ingin dibangun. Tentu saja, hal tersebut bukan berarti seseorang tidak perlu memiliki target atau berusaha. Justru memiliki tujuan dapat membantu seseorang menentukan langkah.
Namun, tujuan tersebut sebaiknya berasal dari kesadaran diri, bukan semata-mata karena takut dianggap tertinggal.
Kegagalan di Usia 20-an Bukan Berarti Kehidupan Berakhir
Ketika terlalu fokus pada target usia, kegagalan dapat terasa jauh lebih menakutkan.
Gagal mendapatkan pekerjaan setelah lulus dapat membuat seseorang merasa masa depannya tidak jelas. Gagal masuk universitas atau jurusan yang diinginkan dapat membuat seseorang merasa rencananya hancur. Mengalami kegagalan dalam usaha juga dapat membuat seseorang berpikir bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan.
Padahal, kegagalan tidak selalu berarti akhir.
Usia 20-an justru merupakan masa ketika seseorang masih memiliki banyak kesempatan untuk mencoba berbagai hal. Tidak semua pilihan harus langsung tepat. Terkadang seseorang baru mengetahui apa yang benar-benar cocok setelah mencoba sesuatu yang ternyata tidak sesuai.
Dari kegagalan, seseorang dapat mengetahui batas kemampuan, memperbaiki strategi, dan memahami dirinya sendiri dengan lebih baik.
Karena itu, kegagalan tidak seharusnya hanya dilihat sebagai sesuatu yang memalukan. Kegagalan juga dapat menjadi pengalaman yang membentuk seseorang.
Jangan Sampai Terlalu Sibuk Mengejar Standar Orang Lain
Keinginan untuk sukses tentu merupakan hal yang baik. Namun, ada perbedaan antara memiliki ambisi dengan terus-menerus merasa tidak cukup.
Ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, pencapaian yang sebenarnya sudah diperoleh pun dapat terasa tidak berarti.
Sudah lulus kuliah, tetapi merasa tertinggal karena belum bekerja. Sudah bekerja, tetapi merasa tertinggal karena teman memiliki penghasilan lebih besar. Sudah memiliki pekerjaan, tetapi masih merasa kurang karena orang lain sudah memiliki bisnis.
Jika pola tersebut terus berlanjut, seseorang dapat terjebak dalam siklus mengejar sesuatu tanpa pernah merasa cukup.
Padahal, hidup bukan hanya tentang mencapai target berikutnya. Ada proses yang juga perlu dinikmati dan dihargai.
Anak muda juga berhak memiliki waktu untuk beristirahat, mengeksplorasi minat, belajar dari kesalahan, dan menikmati kehidupan tanpa merasa bersalah karena belum mencapai semuanya.
Setiap Orang Memiliki Waktu yang Berbeda
Tidak ada satu usia yang dapat menentukan kapan seseorang harus sukses.
Ada orang yang menemukan jalan hidupnya sejak usia muda. Ada pula yang baru menemukan arah setelah melewati berbagai pengalaman. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus, sementara yang lain membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan lebih lama.
Ada yang sukses membangun sesuatu di usia 20-an, sementara orang lain baru mendapatkan pencapaian besar ketika usianya lebih matang.
Hal tersebut bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Kehidupan bukan perlombaan yang menentukan siapa yang paling cepat sampai. Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, kemampuan, dan tantangan yang berbeda.
Maka, pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Mengapa saya belum sukses di usia 25 tahun?” tetapi “Apa yang sedang saya lakukan untuk membangun kehidupan yang saya inginkan?”
Pertanyaan tersebut membuat kita lebih fokus pada proses daripada sekadar angka usia.
Anak Muda Berhak untuk Masih Mencari
Menurut saya, salah satu hal yang perlu diberikan kepada anak muda adalah ruang untuk mencari dan mencoba.
Tidak semua orang harus langsung mengetahui pekerjaan impiannya. Tidak semua orang harus langsung memiliki tujuan hidup yang sangat jelas. Tidak semua keputusan harus menghasilkan keberhasilan dalam percobaan pertama.
Ada kalanya seseorang perlu mencoba berbagai hal sebelum menemukan sesuatu yang sesuai.
Bahkan, mengubah rencana bukan berarti seseorang tidak konsisten. Terkadang perubahan diperlukan karena seseorang mendapatkan pengalaman baru dan memahami dirinya dengan lebih baik.
Yang penting adalah tetap memiliki kemauan untuk belajar dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil.
Kesuksesan Seharusnya Tidak Menjadi Perlombaan
Pada akhirnya, keinginan untuk sukses sebelum usia 25 tahun bukanlah sesuatu yang sepenuhnya buruk. Memiliki target dan semangat untuk berkembang tentu dapat membantu seseorang menjadi lebih terarah.
Namun, target tersebut tidak seharusnya berubah menjadi tekanan yang membuat seseorang merasa gagal hanya karena kehidupannya tidak berjalan secepat orang lain.
Usia 25 bukan garis akhir. Belum memiliki pekerjaan impian, belum memiliki penghasilan besar, belum membangun bisnis, atau belum mencapai pencapaian tertentu pada usia tersebut bukan berarti kehidupan seseorang telah gagal.
Masih ada banyak hal yang dapat dipelajari, dicoba, dan dibangun.
Anak muda tidak perlu menghabiskan seluruh energinya hanya untuk membuktikan bahwa dirinya sukses kepada orang lain. Yang lebih penting adalah memahami apa yang ingin dicapai, mengetahui kemampuan diri, berani mencoba, dan bersedia belajar ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Sebab, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan. Kesuksesan juga tentang bagaimana seseorang menjalani prosesnya, menghadapi kegagalan, belajar dari pengalaman, dan tetap berkembang.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadikan usia sebagai batas untuk menentukan keberhasilan seseorang. Tidak semua orang harus sukses sebelum 25 tahun, karena kehidupan tidak memiliki jadwal yang sama untuk setiap orang.
Yang penting bukan siapa yang paling cepat sampai, tetapi bagaimana setiap orang terus berjalan menuju kehidupan yang ingin dibangunnya.

