Pembangunan Bukan Sekadar Membangun: Mengapa Suara Masyarakat Harus Didengar?
Tulisan dari Intan Mutiara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembangunan sering kali identik dengan sesuatu yang terlihat secara fisik: jalan yang semakin bagus, gedung-gedung baru, jembatan yang dibangun, fasilitas umum yang diperbaiki, hingga perkembangan teknologi dan ekonomi. Namun, pembangunan sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar perubahan fisik. Di balik setiap pembangunan terdapat manusia, masyarakat, dan kehidupan sosial yang ikut mengalami perubahan.
Dalam proses tersebut, ada satu hal yang sering dianggap sederhana tetapi memiliki peran sangat besar, yaitu komunikasi.
Komunikasi pembangunan bukan hanya tentang bagaimana pemerintah menyampaikan informasi kepada masyarakat. Lebih dari itu, komunikasi pembangunan merupakan proses untuk membangun pemahaman, menciptakan partisipasi, mendengarkan aspirasi, serta membangun kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat.
Menurut saya, pembangunan yang tidak disertai komunikasi yang baik akan mudah menimbulkan kesalahpahaman. Bahkan program yang sebenarnya memiliki tujuan baik dapat ditolak masyarakat ketika mereka merasa tidak dilibatkan dalam prosesnya.
Masyarakat Bukan Sekadar Penerima Kebijakan
Selama ini, komunikasi pembangunan terkadang masih dilakukan dengan pola satu arah. Pemerintah merancang program, kemudian program tersebut disosialisasikan kepada masyarakat. Masyarakat diharapkan memahami dan mengikuti kebijakan yang telah ditentukan.
Pola seperti ini memang terlihat sederhana. Namun, pembangunan bukanlah proses yang hanya membutuhkan kepatuhan masyarakat.
Masyarakat memiliki kebutuhan, pengalaman, dan persoalan yang berbeda-beda. Apa yang dianggap penting oleh pemerintah belum tentu menjadi kebutuhan utama masyarakat di lapangan.
Contohnya, pembangunan infrastruktur di suatu daerah mungkin dianggap berhasil karena mampu memperbaiki akses transportasi. Namun, masyarakat sekitar mungkin memiliki persoalan lain yang tidak kalah penting, seperti sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, mahalnya biaya hidup, atau berkurangnya ruang untuk kegiatan sosial.
Jika komunikasi hanya dilakukan setelah keputusan dibuat, pemerintah kehilangan kesempatan untuk mengetahui persoalan tersebut sejak awal.
Karena itu, masyarakat seharusnya tidak ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek pembangunan.
Mereka bukan hanya pihak yang menerima hasil pembangunan, tetapi juga harus memiliki kesempatan untuk menentukan arah pembangunan yang menyangkut kehidupan mereka.
Komunikasi Bukan Sekadar Sosialisasi
Salah satu hal yang perlu diperbaiki dalam komunikasi pembangunan adalah pemahaman bahwa komunikasi bukan sekadar sosialisasi.
Sosialisasi biasanya dilakukan untuk menjelaskan sebuah program kepada masyarakat. Hal tersebut memang penting, tetapi komunikasi pembangunan seharusnya tidak berhenti pada kegiatan menyampaikan informasi.
Komunikasi harus menciptakan dialog.
Dalam dialog, pemerintah tidak hanya berbicara kepada masyarakat, tetapi juga mendengarkan masyarakat. Kritik, saran, keluhan, bahkan penolakan harus dianggap sebagai bagian dari proses komunikasi.
Tidak semua kritik berarti masyarakat menolak pembangunan. Terkadang kritik justru menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepedulian terhadap pembangunan di wilayahnya.
Pemerintah yang mampu mendengarkan kritik dengan baik akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kebijakan sebelum masalah menjadi lebih besar.
Era Digital: Peluang Sekaligus Tantangan
Perkembangan media digital telah mengubah cara masyarakat mendapatkan informasi. Saat ini masyarakat dapat mengetahui berbagai kebijakan pemerintah melalui media sosial, situs resmi, video, maupun platform digital lainnya.
Kondisi ini sebenarnya merupakan peluang besar bagi komunikasi pembangunan.
Pemerintah dapat menyampaikan informasi dengan lebih cepat dan menjangkau masyarakat dalam jumlah besar. Informasi mengenai program pembangunan juga dapat dikemas dengan bahasa yang lebih sederhana dan menarik.
Namun, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru.
Informasi yang benar dapat dengan mudah bercampur dengan hoaks dan informasi yang belum tentu memiliki dasar yang jelas. Sebuah kebijakan dapat dipotong konteksnya dan kemudian menyebar luas di media sosial.
Dalam kondisi seperti ini, pemerintah tidak cukup hanya mengunggah informasi.
Pemerintah harus hadir dalam ruang digital sebagai komunikator yang responsif. Ketika masyarakat bertanya, harus ada jawaban. Ketika muncul kesalahpahaman, harus ada penjelasan. Ketika muncul kritik, harus ada ruang dialog.
Jangan sampai akun media sosial pemerintah hanya berfungsi sebagai papan pengumuman digital.
Bahasa Pemerintah Harus Lebih Dekat dengan Masyarakat
Persoalan komunikasi pembangunan juga sering muncul dari cara pesan disampaikan.
Tidak jarang informasi pemerintah menggunakan bahasa yang terlalu formal, teknis, dan birokratis. Bagi masyarakat tertentu, istilah-istilah tersebut mungkin sulit dipahami.
Padahal, tujuan komunikasi adalah membuat pesan dapat dimengerti.
Bahasa yang sederhana bukan berarti mengurangi kualitas informasi. Justru dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, pemerintah dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Informasi tentang pembangunan jalan, bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan, atau program pemberdayaan masyarakat seharusnya disampaikan dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Masyarakat tidak selalu membutuhkan istilah yang rumit.
Mereka membutuhkan jawaban sederhana: program ini untuk apa, siapa yang mendapatkan manfaat, bagaimana cara mengaksesnya, kapan dilaksanakan, dan ke mana harus bertanya jika terjadi masalah?
Ketika pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan jelas, komunikasi pembangunan akan menjadi lebih efektif.
Masyarakat Memiliki Pengetahuan yang Tidak Boleh Diabaikan
Hal yang sering dilupakan adalah masyarakat sebenarnya memiliki pengetahuan yang sangat penting dalam pembangunan.
Petani mengetahui kondisi tanah dan perubahan musim di wilayahnya. Nelayan memahami perubahan kondisi laut. Pedagang mengetahui persoalan ekonomi di pasar. Masyarakat desa memahami karakter sosial di lingkungannya.
Pengetahuan tersebut tidak selalu tercatat dalam dokumen pemerintah, tetapi sangat berharga.
Karena itu, pemerintah seharusnya tidak merasa sebagai satu-satunya pihak yang memiliki solusi.
Pembangunan akan menjadi lebih kuat ketika pengetahuan pemerintah bertemu dengan pengalaman masyarakat.
Di sinilah komunikasi pembangunan memiliki fungsi strategis: menjadi jembatan antara kebijakan dan realitas kehidupan masyarakat.
Partisipasi Tidak Boleh Hanya Formalitas
Partisipasi masyarakat sering disebut dalam berbagai program pembangunan. Namun, partisipasi tidak boleh hanya menjadi formalitas.
Mengundang masyarakat dalam sebuah pertemuan tidak otomatis berarti masyarakat telah dilibatkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pendapat mereka didengarkan dan apakah pendapat tersebut memengaruhi keputusan.
Jika masyarakat diminta memberikan masukan tetapi keputusan sudah ditentukan sejak awal, maka partisipasi tersebut hanya bersifat simbolis.
Partisipasi yang sebenarnya berarti memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut menentukan, mengawasi, dan mengevaluasi pembangunan.
Dengan demikian, masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap program yang dijalankan.
Ketika masyarakat merasa ikut memiliki, mereka juga akan lebih terdorong untuk menjaga dan mendukung hasil pembangunan.
Komunikasi Membangun Kepercayaan
Pada akhirnya, komunikasi pembangunan sangat berkaitan dengan kepercayaan.
Masyarakat akan lebih mudah menerima kebijakan ketika mereka mendapatkan informasi yang jelas, merasa didengarkan, dan mengetahui alasan di balik sebuah keputusan.
Sebaliknya, kurangnya komunikasi dapat menimbulkan kecurigaan.
Ketika pemerintah tidak memberikan informasi yang cukup, ruang kosong tersebut dapat diisi oleh rumor, asumsi, bahkan informasi palsu.
Karena itu, keterbukaan menjadi salah satu kunci komunikasi pembangunan.
Pemerintah tidak harus selalu mengatakan bahwa sebuah program berjalan sempurna. Justru mengakui adanya kekurangan dan menjelaskan bagaimana pemerintah memperbaikinya dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.
Komunikasi yang jujur jauh lebih berharga daripada komunikasi yang hanya berisi pencitraan.
Pembangunan yang Baik Dimulai dari Mau Mendengar
Pembangunan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak jalan yang dibangun, seberapa tinggi gedung yang berdiri, atau seberapa besar anggaran yang dikeluarkan.
Pembangunan juga tentang bagaimana perubahan tersebut dirasakan oleh masyarakat.
Karena itu, komunikasi harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam setiap tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.
Pemerintah perlu berbicara kepada masyarakat, tetapi yang lebih penting adalah mau mendengarkan masyarakat.
Sebab masyarakat bukan sekadar penerima kebijakan. Mereka adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.
Jika komunikasi berjalan dua arah, pembangunan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang datang dari atas. Pembangunan dapat menjadi proses bersama yang lahir dari kebutuhan, gagasan, dan partisipasi masyarakat.
Pada akhirnya, pembangunan yang berhasil bukan hanya pembangunan yang terlihat, tetapi pembangunan yang dipahami, diterima, dirasakan manfaatnya, dan dijaga bersama oleh masyarakat.
Dan semua itu berawal dari satu hal yang sederhana: komunikasi yang mau mendengar.

