Konten dari Pengguna

Ambisi Orang Tua Membuat Seni Tari Kehilangan Wirasa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan N Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penampilan seni tari tradisional di Kepulauan Seribu. (Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penampilan seni tari tradisional di Kepulauan Seribu. (Dok. Pribadi)

Kegiatan seni tari pada hakikatnya bukan hanya sekedar olah gerak tubuh di atas panggung. Dalam dunia tari tradisional, penari mengenal tiga konsep mendasar yang menjadi pijakan utama yaitu wiraga, wirama, dan wirasa. Wiraga adalah kemampuan raga atau tubuh untuk memperagakan gerak, Wirama adalah keselarasan gerak dengan ketukan irama, serta Wirasa adalah penghayatan rasa dan emosional yang dipancarkan dari dalam jiwa penari. Ketiga elemen ini wajib hadir secara utuh. Tanpa hadirnya wirasa, tarian yang dibawakan hanya akan tampak seperti gerakan mekanis tanpa nyawa. Sayangnya, menghadirkan wirasa menjadi tantangan terberat saat menghadapi persoalan di lapangan. Di pertengahan sesi latihan yang ramai, mata saya pernah tertuju pada seorang murid perempuan yang berdiri diam mematung. Di saat teman-teman lainnya sibuk mempraktikkan ragam gerak dasar yang saya ajarkan, ia hanya diam dengan ekspresi yang sedih dan muram. Ketika saya hampiri dan ajak bergerak, ia akhirnya ikut bergerak, tetapi dengan gerakan kaku yang dipaksakan. Rasa penasaran saya terjawab tak lama kemudian lewat sebuah kejadian yang cukup mengejutkan. Tanpa diduga, Ibu dari anak tersebut melangkah masuk ke ruang latihan, lalu menegur anaknya dengan nada tegas di hadapan semua orang, "Ikutin itu kayak yang lain, gerak, ikutin gurunya!" Hal tersebut membuat saya berpikir bahwa bagaimana mungkin seorang anak dapat memberikan wirasa dalam tarian jika melangkah ke kelas tari bukan karena minat pribadi melainkan ambisi dan paksaan orang tua?

Ketika Ekskul Menjadi Arena Paksaan Orang Tua

Fenomena intervensi orang tua di ruang latihan tadi bukanlah kasus satu-satunya. Di ranah sekolah dasar, kegiatan ekstrakurikuler yang seharusnya menjadi ruang bebas bagi anak untuk mengeksplorasi minat dan bakat justru perlahan bergeser fungsinya. Ekstrakurikuler sering dimanfaatkan oleh sebagian orang tua sebagai sarana pendisiplinan atau wadah penitipan anak agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gawai di rumah. Dalam sosiologi pendidikan, kondisi ini memperlihatkan adanya dominasi ranah keluarga yang terlalu jauh mengontrol ranah sekolah. Orang tua sering kali membebankan kecemasan, standar keberhasilan, atau harapan pribadi mereka kepada anak tanpa memikirkan apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dan ketertarikan di anak.

Hilangnya Wirasa dan Terampasnya Hak Pilih Anak

Dalam seni tari tradisional, gerakan tubuh dan ketepatan irama memang bisa dilatih secara mekanis. Namun, wirasa atau penghayatan emosional lahir secara alami dari ketertarikan batin serta minat murni dari si penari. Ketika seorang anak melangkah ke ruang latihan karena paksaan dari orang tua, elemen wirasa inilah yang pertama kali hilang. Anak-anak hadir secara fisik dan meniru gerakan pengajar tetapi raga mereka bergerak kaku tanpa daya jiwa karena mengalami alienasi atau keterasingan dari aktivitasnya sendiri. Pendidikan yang ideal seharusnya menempatkan anak sebagai subjek yang memiliki hak untuk memilih, bukan sekedar objek pemenuhan ambisi orang tua. Mengenalkan kebudayaan memang kewajiban orang dewasa, tetapi memaksakan kehendak tanpa ruang dialog bisa merampas kebahagiaan anak dalam belajar. Tanpa adanya rasa memiliki dan ketertarikan yang tumbuh dari dalam diri, tarian daerah yang dibawakan hanya akan menjadi rutinitas kaku yang kehilangan nyawanya.

Mengembalikan Hak Anak

Seharusnya orang tua dan pihak sekolah mengembalikan fungsi dari kegiatan ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler di lingkungan sekolah bukan wadah pelampiasan cita-cita orang tua yang tertunda, melainkan ruang aman bagi murid untuk mengeksplorasi potensi dan melatih keberanian mengambil keputusan. Ketika anak diberikan kebebasan untuk memilih kegiatan yang disenanginya, proses belajar akan berjalan atas dasar kesadaran penuh, sehingga ruang-ruang ekspresi seperti kelas seni tari dapat kembali bernyawa dan kaya akan wirasa. Mendukung tumbuh kembang anak bukan berarti harus mengatur semua langkah yang mereka ambil. Orang tua perlu belajar menurunkan ego dan lebih banyak membuka ruang dialog demi mendengarkan aspirasi serta kenyamanan anak. Karena pendidikan bukan tentang seberapa piala atau keberhasilan yang dipaksakan tapi seberapa bijak kita membiarkan anak tumbuh menjadi pribadi atas pilihannya sendiri.