Mengajar Seni Tari dengan Hati, tapi Realitas Hidup Harus Tetap Terpenuhi

Seorang Mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta dengan Prodi Pendidikan Sosiologi
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Intan N Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengajar seni tari bukan hanya sekedar berdiri di depan kelas dan memberikan aba-aba hitungan satu sampai delapan saja. Kegiatan ini adalah sebuah proses olah tubuh dan rasa yang menuntun jari jemari anak-anak agar lentur, memperagakan gerak dasar yang benar, membenarkan posisi pindah serta pijakan kaki hingga menyelaraskan gestur dengan ketukan musik.
Di balik kibasan selendang yang dibawakan anak-anak didik di panggung, terdapat tarian Pesona Ajer Galuh yang memancarkan keindahan budaya Betawi. Tarian ini dirancang secara elok untuk menggambarkan dinamika kehidupan juga menggambarkan kegiatan sehari-hari, mulai dari momen belajar, beribadah, hingga bermain yang di balut dengan gerak gemulai, cepat, dan lincah khas gerakan Tari Betawi. Setiap jengkal kerlingan mata dan lenggak-lenggok jemari yang meliuk mewakili kelembutan budi pekerti, sementara pijakan kaki yang mantap mencerminkan keteguhan sikap dalam merawat identitas budaya. Bagi seorang pelatih, melihat anak-anak memahami filosofi di balik setiap ragam gerak tersebut memberi kepuasan batin yang tidak ternilai harganya.
Namun, kehangatan di ruang latihan sering kali bertolak belakang dengan realitas di luar panggung. Ada momen-momen ketika penghargaan yang di berikan hanya sebatas ucapan terima kasih dan imbalan yang hanya cukup untuk biaya transportasi pulang pergi. Ada jarak yang begitu lebar antara raga yang diperas, ilmu yang di berikan, dan kebutuhan hidup yang harus terus tercukupkan. Walaupun begitu, minggu demi minggu berikutnya, langkah kaki ini harus tetap kembali ke ruang latihan yang sama. Bukan karena tidak memiliki perhitungan yang matang, tetapi karena adanya ikatan emosional dan tanggung jawab yang melebihi angka. Personal inilah yang sekarang dihadapi oleh banyak pelatih tari, yang terus bergerak dengan hati, dan terus bernegosiasi dengan realitas hidup yang harus terpenuhi.
Ongkos dedikasi diluar panggung
Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa sekaligus pelatih tari membuat setiap detik dan rupiah terasa sangat berharga. Di antara sibuknya jadwal kuliah, banyak tugas akademis, dan perjalanan panjang menyeberangi lintas wilayah berjam-jam demi menemui anak didik, ada komitmen besar yang harus dipertaruhkan. Namun, ketika pengorbanan waktu ditengah kesibukan belajar itu hanya dihargai dengan imbalan sekadarnya yang bahkan tak cukup untuk menutup biaya transportasi selama sebulan rasa pahit itu tidak terelakan.
Dalam kacamata sosiologi pendidikan, fenomena ini memperlihatkan kontradiksi nyata dalam proses transmisi budaya. Di satu sisi, lembaga pendidikan dan masyarakat menuntut terjadinya sosialisasi nilai-nilai tradisi kepada generasi muda. Namun di sisi lain, struktur sosial kita sering kali mengabaikan kesejahteraan para agen sosialisasi itu sendiri. Ada ekspektasi bahwa pengabdi budaya harus bekerja atas dasar keikhlasan, yang pada akhirnya memvalidasi minimnya penghargaan terhadap profesi pengajar seni.
Mengajar Seni Tari dengan Hati, Menatap Realitas yang Ada
Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa masih bertahan jika secara matematis jelas tidak seimbang? Jawabannya ada pada ikatan emosional di ruang latihan. Melihat binar mata anak-anak didik yang perlahan menguasai gerakan, mendengar gelak tawa mereka saat membenarkan selendang, dan melihat tumbuhnya rasa bangga pada budaya sendiri adalah kepuasan batin yang tidak memiliki nilai harga.
Menyadari bahwa interaksi di ruang latihan tari bukan sekadar transfer gerakan fisik, melainkan bentuk pelembagaan nilai. Keikhlasan dan cinta pada tradisi inilah yang menjadi sumber utama seorang pelatih untuk terus datang minggu demi minggu. Namun, mengandalkan keikhlasan semata tanpa diimbangi oleh penghargaan yang layak adalah bentuk romantisasi yang berbahaya. Jika hal ini terus dipelihara, profesi pelatih tari akan selalu berada di posisi yang rentan secara ekonomi dan dipandang sebelah mata dalam struktur sosial.
Merawat Tradisi, Menghargai Sang Pelestari
Melestarikan seni tari tradisional tidak bisa hanya dibebankan pada pundak ikhlas para pengajarnya. Sudah saatnya ada perubahan cara pandang dari seluruh lapisan masyarakat dan lembaga. Menghargai pelatih tari secara adil bukan berarti mengkomersialisasi seni, melainkan bentuk penghormatan nyata terhadap waktu, tenaga, dan kedalaman ilmu yang mereka bagikan.
Jika kita benar-benar ingin melihat seni tari tetap hidup dan dicintai oleh generasi muda, ekosistem di belakang panggungnya pun harus disembuhkan. Menyesuaikan ketulusan hati dengan penghargaan yang layak adalah satu-satunya cara agar tradisi ini tidak hanya bertahan di atas panggung, tetapi juga memberikan kehidupan yang bermakna bagi mereka yang tekun merawatnya.
