Konten dari Pengguna

Nyanyian Salma Salsabil dan Cermin Retak Pendidikan Digital Kita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan N Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana mendengarkan lagu 'Maha Benar' milik Salma Salsabil sambil berefleksi tentang dinamika pendidikan digital dan media sosial. (Foto : Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana mendengarkan lagu 'Maha Benar' milik Salma Salsabil sambil berefleksi tentang dinamika pendidikan digital dan media sosial. (Foto : Dok. Pribadi)

Sebagai penikmat musik sekaligus seorang mahasiswa yang mendalami dinamika masyarakat, rilisnya lagu terbaru Salma Salsabil yang berjudul "Maha Benar" langsung menarik perhatian. Lagu ini bukan hanya sekedar karya musik biasa, melainkan sebuah tumpahan rasa jujur dari seorang Salma Salsabil atas realitas pahit yang ia alami sebagai publik figur. Lewat melodinya, lagu ini secara langsung mengisahkan perilaku netizen yang sering merasa paling tahu, gemar mengatur, hingga tak segan untuk menumpahkan ujaran kebencian saat imajinasi mereka tak terwujud. Lagu ini berhasil menangkap watak sebagian warganet yang kerap bertindak seperti hakim di ruang media. Di mata mereka, sudut pandang pribadi dianggap sebagai kebenaran yang mutlak sementara publik figur hanya dipandang sebagai objek hiburan yang ruang pribadinya boleh di ikut campuri sesuka hati.

Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Perjodohan dan Penghakiman

Perilaku netizen yang disindir Salma dalam lagu ini mengingatkan saya pada fenomena parasocial interaction yang sudah melampaui batas. Warganet merasa memiliki ikatan emosional yang begitu dekat dengan idolanya, sampai-sampai merasa berhak menentukan dengan siapa sang idola harus berpasangan lewat budaya ship culture atau perjodohan paksa. Ketika skenario buatan warganet itu ditolak oleh realitas, narasi kekecewaan dan serangan personal pun dilontarkan dengan sangat cepat.

Dalam kacamata sosiologi, media sosial telah menjadi Panopticon modern. Kehidupannya pada publik figur terus-menerus diawasi oleh ribuan mata tanpa henti. Ruang privat mereka dipaksa tunduk pada selera publik, dan anonimitas di balik layar ponsel membuat banyak orang merasa bebas menghakimi tanpa takut memikirkan dampak psikologis sang idola.

Maha Benar Netizen dan Potret Pendidikan Digital Kita

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa budaya menghakimi ini begitu subur? Jika ditarik ke dalam kacamata pendidikan sosiologi, fenomena "Maha Benar" ini menunjukkan adanya celah besar dalam proses transmisi nilai dan literasi digital kita. Sistem pendidikan kita selama ini hanya berfokus pada kepandaian untuk menggunakan teknologi, namun gagap dalam menanamkan etika, batas-batas sosial, serta empati di ruang digital.

Pada akhirnya, media sosial mengambil peran sebagai agen sosialisasi informal yang jauh lebih dominan dibanding sekolah maupun keluarga. Sayangnya, interaksi digital yang tidak terarah ini justru mereproduksi budaya perundungan siber dan cancel culture. Netizen dibesarkan dalam ekosistem yang membiasakan mereka bersuara tanpa tanggung jawab, sebab jarak antara kebebasan berpendapat dan tindakan merundung makin kabur.

Menyembuhkan Ekosistem Digital Lewat Edukasi Empati

Bagi saya lagu "Maha Benar" milik Salma Salsabil bukan hanya sekadar curhatan seorang artis, melainkan cermin refleksi untuk kita semua. Lagu ini menantang saya dan kita semua untuk mengevaluasi kembali cara kita berinteraksi di media sosial. Menjadi seorang seniman atau publik figur bukan berarti harus menyerahkan seluruh hak atas kehidupan pribadi untuk dinilai dan dihakimi oleh publik.

Sudah saatnya pendekatan pendidikan karakter digital kita diubah. Pendidikan digital tidak boleh berhenti pada perkataan teknis saja, tetapi harus menyentuh akar rasa, menanamkan empati, menghargai batas privasi orang lain, dan menyadari bahwa di balik akun yang kita komentari ada manusia nyata yang memiliki perasaan. Sebelum tergesa-gesa mengetik komentar dan merasa paling benar, mungkin ada baiknya kita resapi lagi lagu Salma dan bertanya pada diri sendiri apakah saya juga bagian dari netizen yang merasa 'Maha Benar' itu?