Konten dari Pengguna

Menelusuri Sejarah Batu Batikam: Peninggalan Kerajaan Minangkabau

Intan Nuraini

Intan Nuraini

Mahasiswa S1 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Pernah menerbitkan buku antologi puisi Manusia-Manusia

·waktu baca 5 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan Nuraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kunjungan Mahasiswa FKIP UM Sumbar dan Dosen ke Batu Batikam, di Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. (Foto: Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kunjungan Mahasiswa FKIP UM Sumbar dan Dosen ke Batu Batikam, di Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. (Foto: Dok. Pribadi)

Batu Batikam merupakan salah satu cagar budaya bersejarah yang terletak di Jorong Dusun Tuo, Nagari Limo Kaum, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Batu ini memiliki luas situs 1.800 meter persegi dan diyakini sebagai bukti keberadaan Kerajaan Minangkabau di zaman Neolitikum. Nama "Batu Batikam" sendiri berarti "batu yang tertusuk" dalam Bahasa Indonesia. Batu batikam merupakan batu tertusuk yang melambangkan pentingnya perdamaian dan musyawarah-mufakat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Sejarah Batu Batikam

Berdasarkan hasil wawancara dengan warga setempat, salah satunya adalah Nenek Rosni. Menurut Nenek Rosni yang akrab disapa Nenek Kenok, Batu Batikam memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan legenda setempat. Beliau menceritakan bahwa kehadiran tokoh Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan dalam sejarah Minangkabau sebagai pendiri dari dua keselarasan yaitu Bodi Caniago dan Koto Piliang. Datuk Parpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan adalah dua orang bersaudara satu Ibu berlainan Ayah. Keduanya bukanlah merupakan Raja Minangkabau, melainkan sebagai pemimpin masyarakat dan penyusun. Kedua adat yang hidup dalam masyarakat Minangkabau sekarang ini, yaitu Adat Koto Piliang dan Adat Bodi Caniago yang mana bagi masyarakat Minangkabau sendiri kedudukan yang jauh lebih tinggi martabatnya dari kedudukan seorang Raja manapun.

Wawancara bersama Nenek Rosni, Penduduk asli Limo Kaum. (Foto: Dok. Pribadi)

“Batu batuan yang tersusun, untuk tempat duduk itu, karena bentuknya seperti untuk senderan. Datuak datuak itu ketika ada ponakannya mau nikah, mau bermusyawarah rapat dulu disitu.”

Tuturnya, memberikan penjelasaan terkait sejarah dari batu batikam, Medan Nan Bapaneh, yaitu tempat duduk bermusyawarah dalam masyarakat Minangkabau yang sudah mulai berkembang pada zaman pra sejarah, khususnya di zaman berkembangnya tradisi menhir di Minangkabau dan keadaan ini sudah berlangsung semenjak sebelum abad masehi. Bahwa ketika nenek moyang nenek moyang telah menemukan tempat bermukim, yang pertama-tama ditetapkan atau dicari adalah suatu lokasi yang disebut gelanggang. Di gelanggang ini dilakukan upacara, yaitu semacam upacara selamatan untuk menghormati kepala suku atau pemimpin rombongan yang telah membawa mereka ke suatu tempat bermukim. Sebagai tanda upacara didirikanlah Batu Tagak yang kemudian kita kenal sebagai menhir. Batu Tagak ini kemudian berubah fungsinya, sebagian menjadi tanda penghormatan kepada arwah nenek moyang dan sebagian tempat bermusyawarah yang kemudian kita kenal dengan nama Medan nan Bapaneh.

Nenek Rosni juga menambahkan bahwa awal mula batu tersebut bisa berlubang karena Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan berselisih terkait tentang harta.

“Ada timbul perselisihan sedikit diantara keduanya, yang satu pakai bambu dan yang satu pakai keris, jadi berdua sama sama menikam batu tersebut.” Tuturnya.

Sehingga dengan amarah yang memuncak, kedua datuak itu meluapkan emosinya ke batu yang ada didekatnya dengan keris yang dimiliki oleh karena Datuak Parpatiah Nan Sabatang, dan bambu yang dimiliki oleh Datuak Katumanggungan. Namun, tikaman yang dihasilkan oleh batu berasal dari keris yang dimiliki oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang.

Deskripsi dan Kondisi Fisik

Batu Batikam, Limo Kaum. Kab. Tanah Datar. Sumatera Barat. (Foto: Dok. Pribadi)

Medan nan bapaneh berupa susunan batu sandar yang terdiri dari batu sandar dan landasan untuk duduk. Susunan batu sandar tersebut diletakkan di tanah sehingga membentuk denah persegi. batu sandar ini terbuat dari batu andesit. Batu tersebut telah mengalami sedikit pengerjaan. Batu batikam berupa batuan andesit bentuknya segi tiga dan berlubang di bagian tengah. Lubang tersebut menembus di kedua sisi batu. Batu ini berukuran tinggi 55 cm, tebal 20 cm, dan lebar 45 cm. Batu ini ditempat dalam susunan batu yang telah disemen (dibuatkan kemudian), dengan posisi yang bagian runcingnya berada di bawah.

Makna Simbolik dan Nilai Budaya

Batu Batikam, bagi masyarakat Minangkabau, khususnya di daerah seperti Batusangkar dan sekitarnya, bukan sekadar artefak sejarah, melainkan sebuah simbol yang kaya akan makna dan nilai budaya yang mendalam. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • Makna simbolik

  1. Persatuan dan Persaudaraan (Ukhuwah). Bentuknya yang utuh dan kokoh melambangkan persatuan dan persaudaraan yang kuat dalam masyarakat Minangkabau. Ia mengingatkan akan pentingnya kebersamaan dan gotong royong dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

  2. Kekuatan dan Ketahanan. Sebagai batu yang keras dan tahan lama, Batu Batikam menjadi simbol kekuatan dan ketahanan masyarakat Minangkabau dalam mempertahankan adat dan budaya mereka dari waktu ke waktu. Ia menggambarkan semangat pantang menyerah dan kemampuan beradaptasi.

  3. Kewibawaan dan Kepemimpinan. Keberadaannya sering dikaitkan dengan tokoh-tokoh penting dan peristiwa bersejarah. Oleh karena itu, Batu Batikam dapat pula melambangkan kewibawaan seorang pemimpin dan legitimasi kekuasaan dalam struktur sosial masyarakat.

  4. Penjaga Sejarah dan Ingatan Kolektif. Batu ini menjadi penanda suatu peristiwa penting atau keberadaan suatu komunitas di masa lalu. Ia berfungsi sebagai pengingat kolektif akan sejarah dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

  • Nilai Sejarah. Batu Batikam memiliki nilai sejarah yang tinggi karena menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa penting di masa lalu. Penelitian terhadapnya dapat memberikan wawasan berharga tentang kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat Minangkabau pada zamannya.

  • Nilai Tradisi. Keberadaan dan pemeliharaan Batu Batikam merupakan bagian dari tradisi lisan dan praktik budaya masyarakat setempat. Cerita-cerita yang terkait dengannya diturunkan dari generasi ke generasi, memperkuat ikatan sosial dan pemahaman akan nilai-nilai luhur.

  • Nilai Pendidikan. Batu Batikam dapat menjadi media pendidikan informal bagi generasi muda. Melalui cerita dan penjelasan tentang makna dan sejarahnya, mereka dapat belajar tentang akar budaya mereka dan menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan leluhur.

Secara keseluruhan, Batu Batikam adalah representasi fisik dari sejarah, nilai-nilai, dan identitas budaya masyarakat Minangkabau. Pemahaman akan makna simbolik dan nilai budayanya penting untuk menghargai warisan leluhur dan melestarikannya bagi generasi mendatang. Tertarik untuk berkunjung ke Batu Batikam ini? jika tertarik, tulis di kolom komentar ya