MISI PILAH: Misi Pintar Memilah Sampah
Tulisan dari Intan Pramesty Eka Sudarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gedangsari, Gunungkidul – Pengelolaan sampah di Indonesia masih menjadi persoalan lingkungan yang belum sepenuhnya terselesaikan dan perlu perhatian khusus. Permasalahan tersebut tidak hanya disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar mereka, tetapi juga karena belum meratanya sistem pengelolaan sampah di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut akhirnya memunculkan berbagai persoalan, mulai dari penumpukan sampah, pencemaran lingkungan, hingga terganggunya kesehatan masyarakat.
Persoalan ini akhirnya menjadi salah satu perhatian Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Pengelolaan sampah yang belum merata serta belum adanya sistem pengolahan terstruktur di beberapa wilayah, membuat pengelolaan sampah mereka belum dapat dilakukan secara optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwasanya tidak hanya perlu sistem pengelolaan sampah yang baik, tapi juga perlu adanya kesadaran masyarakat untuk terlibat langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat yang berkelanjutan dalam menjaga lingkungan mampu menjadi langkah awal dalam membentuk sistem kelola sampah yang lebih optimal melalui kebiasan yang sudah ditanamkan. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN Reguler 159 Unit IV.C.1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan program “MISI PILAH: Misi Pintar Memilah Sampah” di SD Negeri Gedangan II, Gedangsari, Gunungkidul, Kamis (27/8/2026). Program ini dilakukan kepada anak-anak di lingkungan pendidikan guna menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak dini. Dengan membangun kebiasan anak-anak sejak dini untuk mengolah sampah, seperti mengenali jenis sampah, memilahnya, dan membuangnya sesuai tempat, maka program ini dilakukan sebagai langkah awal membentuk perilaku hidup bersih dan sehat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari edukasi Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) yang berfokus pada pengelolaan dan pemilahan sampah. Program ini menjadi salah satu kontribusi mahasiswa KKN Reguler 159 Unit IV.C.1 UAD dalam mendukung upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan lingkungan. Pelaksanaannya juga menjadi bagian dari sinergi antara UAD dan Pemerintah Kapanewon Gedangsari dalam memberikan edukasi dan mendorong kepedulian terhadap persoalan lingkungan terkhusus sampah.
Melalui edukasi MISI PILAH ini, siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep kebersihan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di rumah, bahkan tempat umum. Program MISI PILAH ini dilaksanakan melalui tiga misi utama, yaitu Misi Kenali, Misi Pilah, dan Misi Jaga. Ketiga misi tersebut dirancang secara berurutan untuk membangun pemahaman siswa dari tahap pengenalan hingga penerapan secara kritis.
Misi pertama, yakni Misi Kenali bertujuan untuk mengenalkan siswa kepada berbagai jenis sampah yang ada di sekitar mereka atau sering mereka temui sehari-hari. Di sini, pemateri yakni Kevin Umar Abdalah (23) dan Ihza Ananda Rachman (22) memberikan materi mengenai perbedaan jenis sampah organik, anorganik, dan residu beserta contoh-contohnya. Sampah organik dikenalkan melalui sisa-sisa makanan, kulit buah, daun kering, dan sampah dapur rumah tangga. Dari contoh tersebut, dijelaskan bahwa sampah organik berasal dari bahan alami yang mudah terurai oleh tanah sehingga mudah dikelola dan dimanfaatkan menjadi pupuk atau pakan ternak. Untuk sampah anorganik, dikenalkan melalui bahan-bahan seperti botol plastik, kaleng, botol kaca, dan lainnya yang memiliki sifat yang sulit terurai sehingga perlu diolah secara optimal seperti di daur ulang. Selain itu, untuk residu dikenalkan melalui contoh popok bayi, tisu basah, styrofoam, dan bahan kimia yang sifatnya sangat sulit terurai dan di daur ulang.
Setelah memahami jenis sampah di misi pertama, misi selanjutnya adalah Misi Pilah. Pada tahap ini, siswa diajak untuk memahami pentingnya memilah sampah berdasarkan jenisnya sebelum dibuang. Agar proses pembelajaran tidak bersifat satu arah dan kaku, mahasiswa KKN mengemas materi melalui permainan dan aktivitas interaktif melalui tantangan sederhana menentukan jenis sampah sesuai tempatnya dan serta alasan dikategorikannya. Permainan ini terdiri atas tiga level yang setiap naik satu level, maka akan semakin sulit juga cara permainannya. Hal ini lah yang akhirnya menumbuhkan semangat anak-anak untuk ikut dan berkompetisi dalam program ini.
Metode permainan interaktif tersebut, diharapkan mampu memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir,mengambil keputusan, dan mengevaluasi jawaban mereka. Selain itu, juga membangun pemahaman yang lebih kontekstual, yang mana sampah tidak hanya perlu dibuang ke tempatnya saja, tapi disesuaikan dengan jenisnya.
Misi terakhir, yakni Misi Jaga, menjadi kegiatan akhir dari sosialisasi ini yang menekankan pada penerapan kebiasaan menjaga kebersihan berkelanjutan melalui tindakan memilah sampah. Pada tahap ini, siswa diajak untuk memahami bahwasanya pengelolaan sampah dan menjaga lingkungan sekitar adalah tanggung jawab bersama bukan perorangan. Tanggung jawab ini dilakukan melalui cara yang sederhana, yaitu dengan membuang sampah di tempatnya, memilah sampah tersebut, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah dari sampah berserakan.
Selain kegiatan sosialisasi melalui materi dan permainan interaktif, mahasiswa KKN juga menyediakan poster infografis sebagai media edukasi sekaligus pengingat siswa dan seluruh masyarakat SD Negeri Gedangan II. Poster tersebut memuat informasi jenis sampah dan cara memilahnya dengan tampilan yang sederhana dan atraktif sehingga mudah dipahami anak-anak. Dari poster tersebut, diharapkan informasi yang disampaikan tidak berhenti pada siswa yang mengikuti sosialisasi, tetapi juga dapat menjadi sumber edukasi siswa lainnya. Dengan demikian, pesan mengenai pentingnya memilah dan membuang sampah dapat terus diwariskan di lingkungan sekolah.
Melalui program MISI PILAH, mahasiswa KKN Reguler 159 Unit IV.C.1 UAD berupaya membangun kesadaran pengelolaan sampah melalui pendekatan yang edukatif dan partisipatif. Dengan melakukan tiga Misi Kenali, Misi Pilah, dan Misi Jaga diharapkan membantu siswa memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.
Meskipun edukasi di sekolah bukan satu-satunya upaya solutif untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah di Gedangsari, Gunungkidul. Akan tetapi, penanaman kesadaran sejak dini mampu menjadi langkah awal dalam membentuk perilaku masyarakat yang lebih peduli untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui kebiasaan memilah sampah.

