Konten dari Pengguna

ODHA Bukan Pendosa: Mengurai Benang Kusut Stigma HIV/AIDS di Indonesia

Intan Putri Elmira
Mahasiswa Universitas Brawijaya
10 Desember 2025 0:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
ODHA Bukan Pendosa: Mengurai Benang Kusut Stigma HIV/AIDS di Indonesia
Stigma terhadap ODHA masih kuat di Indonesia. Artikel ini telisik akar sosialnya: dari anggapan HIV sebagai "dosa" hingga pengaruh media. Lawan stigma, bukan ODHA.
Intan Putri Elmira
Tulisan dari Intan Putri Elmira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hannah Busing/https://unsplash.com/id/foto/orang-dengan-sweter-merah-memegang-tangan-bayi-Zyx1bK9mqmA
zoom-in-whitePerbesar
Hannah Busing/https://unsplash.com/id/foto/orang-dengan-sweter-merah-memegang-tangan-bayi-Zyx1bK9mqmA
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, menjadi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) seringkali bukan sekadar berjuang melawan virus, tetapi juga melawan pandangan sinis masyarakat. Mereka dengan mudah dicap sebagai “pendosa”, “orang bermoral bejat”, atau “ancaman”. Padahal, HIV bisa menyerang siapa saja, tidak melulu melalui jalur yang dianggap “sesat”, tetapi juga melalui transfusi darah, penggunaan jarum tidak steril, atau penularan dari ibu ke anak.
ADVERTISEMENT
Ironisnya, dalam banyak kasus, yang justru “lebih menular” daripada virusnya adalah stigma dan diskriminasi yang menyertainya. Stigma inilah yang menjadi benang kusut paling rumit dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di tanah air.

Dari Virus Menjadi “Aib Sosial”: Lahirnya Sebuah Konstruksi

Mengapa HIV/AIDS dilekatkan begitu kuat dengan moralitas? Sosiologi melihat ini sebagai konstruksi sosial. Masyarakat, melalui nilai agama, norma budaya, dan pemberitaan media, secara kolektif membangun makna bahwa HIV adalah “hukuman” atas perilaku menyimpang.
Proses ini diperkuat oleh pelabelan (labeling). Begitu seseorang diketahui statusnya, label “ODHA” sering kali menggeser identitasnya yang lain seperti sebagai orang tua, pekerja, atau sahabat. Mereka lalu diperlakukan layaknya barang haran yang wajib dijauhi, bahkan tak jarang penyitas dipecat dari pekerjaan. Penelitian oleh Laure et al., (2022) di Kupang menunjukkan, banyak ODHA mengalami pengucilan hingga depresi berat, bukan karena gejalanya, tetapi karena sikap negatif .
ADVERTISEMENT
Media kerap menjadi pengeras suara stigma ini. Pemberitaan yang sensasional, dengan fokus pada “kesalahan” penderita daripada aspek kesehatan, mengukuhkan narasi bahwa ODHA layak dihakimi, bukan ditolong.

Remaja di Ujung Tanduk: Ketika Stigma Menutup Akses Edukasi

Tribesh Kayastha/https://unsplash.com/id/foto/orang-orang-yang-duduk-di-lantai-depan-meja-zgdhwK1UT3U
Fenomena memprihatinkan terlihat pada kelompok remaja. Data terkini menunjukkan peningkatan kasus HIV pada usia 15-24 tahun. Salah satu akar masalahnya adalah dinding tabu yang menyelimuti pendidikan kesehatan reproduksi.
Di banyak keluarga dan sekolah, membicarakan seksualitas dianggap tidak pantas. Akibatnya, remaja yang penasaran mencari informasi dari sumber yang tidak jelas di internet. Mereka tidak hanya rentan terhadap misinformation, tetapi juga enggan melakukan tes atau berobat karena takut ketahuan dan dicap buruk. Stigma, dengan demikian, justru membuka pintu bagi perilaku berisiko dan menutup pintu akses layanan kesehatan.
ADVERTISEMENT

Memutus Mata Rantai: Dari Stigma Menuju Dukungan

Lantas, bagaimana mengurai benang kusut ini? Kabar baiknya, gerakan perubahan sudah dimulai dari akar rumput. Komunitas ODHA dan berbagai LSM aktif menciptakan “narasi tandingan” yang manusiawi.
Mereka menggunakan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk kampanye edukasi yang interaktif dan bebas stigma. Akun-akun seperti @Tabu.id membuktikan bahwa diskusi tentang seksualitas dan HIV bisa dilakukan secara sehat, terbuka, dan penuh empati. Media arus utama pun punya peran krusial untuk memberitakan isu ini secara lebih seimbang bukan sebagai berita kriminal, tetapi sebagai isu kesehatan masyarakat yang memerlukan solidaritas.

Aksi Kolektif yang Bisa Kita Mulai Hari Ini:

Ingat, HIV adalah virus, bukan ukuran moral seseorang. ODHA adalah saudara kita yang butuh dukungan.
ADVERTISEMENT
Perluas akses pendidikan kesehatan reproduksi yang ilmiah dan inklusif, baik di rumah, sekolah, maupun komunitas.
Ikuti dan sebarkan konten dari sumber-sumber tepercaya yang melawan stigma. Gunakan kata-kata yang memberdayakan, bukan menghakimi.
Pastikan layanan tes dan pengobatan HIV mudah dijangkau, ramah, dan menjamin kerahasiaan.
Mengakhiri epidemi HIV/AIDS tidak akan pernah tercapai hanya dengan obat-obatan. Pertempuran terberat justru ada di benak dan hati kita: melawan prasangka, ketakutan, dan sikap mengucilkan.
Mari bersama mengurai benang kusut stigma ini. Karena melindungi hak dan martabat ODHA bukanlah bentuk pembiaran, melainkan pemenuhan tanggung jawab kita sebagai sesama manusia. Dengan solidaritas, kita bisa ubah narasi: dari “ODHA sebagai pendosa”, menjadi ODHA sebagai mitra dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berempati.
ADVERTISEMENT