Konten dari Pengguna

Enterprise Risk Management: Mengelola Risiko Bisnis di Era Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intania Andiyanti Suhendar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini menjelaskan berbagai risiko bisnis di era digital dan pentingnya Enterprise Risk Management (ERM) untuk mengenali risiko, menilai dampak, serta menyiapkan langkah penanganan agar bisnis tetap aman dan berkelanjutan. Ilustrasi dibuat dengan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini menjelaskan berbagai risiko bisnis di era digital dan pentingnya Enterprise Risk Management (ERM) untuk mengenali risiko, menilai dampak, serta menyiapkan langkah penanganan agar bisnis tetap aman dan berkelanjutan. Ilustrasi dibuat dengan AI.

Mengelola Risiko Bisnis di Era Digital: Bukan Sekadar Soal Kerugian

Pernah nggak kita membayangkan bagaimana jadinya kalau akun media sosial sebuah bisnis tiba-tiba diretas, data pelanggan bocor, atau uang yang sudah dikeluarkan untuk iklan ternyata tidak menghasilkan penjualan? Padahal, semua kegiatan itu awalnya dilakukan untuk mengembangkan bisnis. Namun, tanpa disadari, ada risiko yang bisa menghambat usaha tersebut.

Kalau kita perhatikan, menjalankan bisnis di era digital memang terlihat semakin mudah. Kita bisa mempromosikan produk melalui Instagram, TikTok, atau marketplace tanpa harus memiliki toko besar. Bahkan, dengan modal konten yang menarik, sebuah produk bisa dikenal oleh banyak orang dalam waktu singkat. Akan tetapi, di balik berbagai kemudahan itu, ada tantangan yang tidak boleh kita abaikan.

Salah satu hal yang sering terlupakan dalam menjalankan bisnis digital adalah bagaimana perusahaan mempersiapkan diri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Banyak pelaku usaha berfokus pada cara meningkatkan penjualan, memperbanyak pengikut, dan membuat konten viral. Padahal, mereka juga perlu memikirkan apa yang harus dilakukan ketika akun bisnis bermasalah, promosi tidak berhasil, atau pelanggan kehilangan kepercayaan.

Di sinilah Enterprise Risk Management (ERM) menjadi penting.

Mengenal ERM dari Kehidupan Bisnis Sehari-hari

Kalau dijelaskan secara sederhana, Enterprise Risk Management atau ERM adalah cara perusahaan mengenali kemungkinan masalah, menilai dampaknya, dan menyiapkan langkah untuk menghadapinya sebelum masalah tersebut menjadi semakin besar.

Misalnya, ada sebuah bisnis yang rutin mempromosikan produknya melalui TikTok. Setiap bulan, perusahaan mengeluarkan biaya untuk membuat konten dan memasang iklan. Namun, setelah beberapa waktu, penjualan ternyata tidak meningkat sesuai harapan.

Kalau hanya berfokus pada hasil penjualan, perusahaan mungkin akan langsung menambah anggaran iklan. Padahal, bisa saja masalahnya terletak pada konten yang kurang menarik, target audiens yang tidak sesuai, atau cara promosi yang belum tepat.

Dengan pendekatan ERM, perusahaan akan mencoba memahami penyebab masalah terlebih dahulu sebelum menentukan keputusan. Jadi, uang tidak langsung dikeluarkan untuk strategi baru tanpa mengetahui apakah strategi tersebut benar-benar dibutuhkan.

Cara berpikir seperti ini penting karena menjalankan bisnis bukan hanya tentang berani mengambil peluang, tetapi juga tentang memahami risiko dari setiap keputusan yang dibuat.

Pendekatan ini sejalan dengan kerangka COSO ERM dan standar ISO 31000 yang dapat dijadikan acuan dalam mengelola risiko organisasi.

Mengapa Risiko Digital Semakin Penting?

Kalau kita melihat perkembangan bisnis sekarang, hampir semua perusahaan mulai memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatannya. Namun, semakin banyak aktivitas yang dilakukan secara digital, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga keamanan dan mengantisipasi gangguan.

Hal ini juga terlihat dalam Allianz Risk Barometer 2026. Berdasarkan laporan tersebut, insiden siber menempati posisi pertama sebagai risiko bisnis global dengan 42% respons. Sementara itu, risiko terkait kecerdasan buatan atau AI naik dari posisi kesepuluh pada 2025 menjadi posisi kedua pada 2026, dengan 32% respons. Survei ini melibatkan 3.338 responden dari 97 negara dan wilayah.

Dari data tersebut, kita bisa melihat bahwa perkembangan teknologi tidak hanya membawa keuntungan, tetapi juga menghadirkan risiko yang semakin beragam.

Bayangkan jika sebuah perusahaan kehilangan akses ke akun media sosial yang selama ini menjadi saluran utama penjualan. Konten yang sudah dibuat, komunikasi dengan pelanggan, hingga aktivitas promosi bisa terganggu. Jika tidak memiliki rencana cadangan, perusahaan mungkin membutuhkan waktu dan biaya tambahan untuk memulihkan kegiatan bisnisnya.

Hal serupa juga bisa terjadi ketika perusahaan menggunakan AI untuk membuat konten promosi, tetapi tidak memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan. Konten tersebut mungkin terlihat menarik, tetapi jika informasinya keliru, kepercayaan konsumen bisa menurun.

Karena itu, menurut saya, perusahaan tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga harus memahami risiko yang menyertainya.

Risiko Bisnis Bukan Hanya Urusan Keuangan

Selama ini, ketika mendengar kata risiko bisnis, mungkin kita langsung teringat pada kerugian, utang, atau penurunan penjualan. Padahal, risiko bisnis sebenarnya jauh lebih luas.

Ada risiko strategis yang muncul ketika perusahaan mengambil keputusan yang kurang tepat. Ada pula risiko operasional, misalnya ketika sistem mengalami gangguan atau pekerjaan terhambat karena kesalahan manusia.

Selain itu, perusahaan menghadapi risiko keuangan, seperti pengeluaran yang melebihi anggaran, serta risiko kepatuhan ketika kegiatan bisnis tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Jangan lupakan juga risiko reputasi. Dalam dunia digital, satu kesalahan komunikasi atau informasi produk yang menyesatkan bisa dengan cepat menyebar dan memengaruhi pandangan konsumen terhadap sebuah merek.

Risiko siber dan teknologi pun semakin perlu diperhatikan, mulai dari peretasan akun hingga kebocoran data pelanggan.

Berbagai risiko tersebut saling berkaitan. Contohnya, ketika akun bisnis diretas, perusahaan bukan hanya menghadapi masalah teknis. Jika akun tersebut digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, perusahaan juga dapat mengalami kerugian finansial dan kehilangan kepercayaan pelanggan.

Artinya, sebuah masalah kecil bisa berkembang menjadi persoalan yang lebih besar jika tidak ditangani dengan tepat.

Lalu, Bagaimana Cara Mengelola Risiko?

Mengelola risiko sebenarnya tidak harus dimulai dengan sistem yang rumit. Perusahaan bisa memulainya dengan langkah-langkah sederhana.

Pertama, perusahaan perlu memahami tujuan yang ingin dicapai. Apakah ingin meningkatkan penjualan, memperluas pasar, atau membangun kepercayaan pelanggan? Dengan mengetahui tujuannya, perusahaan akan lebih mudah mengenali hal-hal yang dapat menghambat pencapaian tersebut.

Kedua, perusahaan perlu mengidentifikasi kemungkinan masalah. Misalnya, apakah akun bisnis sudah cukup aman? Apakah anggaran iklan digunakan secara efektif? Apakah informasi produk yang dipublikasikan sudah diperiksa?

Ketiga, perusahaan perlu menilai risiko berdasarkan kemungkinan terjadinya dan besarnya dampak yang ditimbulkan. Risiko yang berpotensi menimbulkan kerugian besar tentu harus menjadi prioritas.

Setelah itu, perusahaan dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai. Jika risikonya berupa peretasan akun, perusahaan bisa menggunakan autentikasi multifaktor dan membatasi akses akun hanya kepada orang yang berkepentingan. Jika masalahnya terletak pada efektivitas iklan, perusahaan dapat mengevaluasi biaya, jumlah calon pelanggan yang tertarik, dan hasil penjualan.

Terakhir, semua langkah tersebut perlu dievaluasi secara berkala. Sebab, kondisi pasar dan teknologi terus berubah. Cara yang efektif hari ini belum tentu memberikan hasil yang sama beberapa bulan kemudian.

Bagi saya, hal terpenting bukanlah membuat daftar risiko sebanyak mungkin, melainkan memastikan bahwa perusahaan benar-benar memahami risiko yang paling penting dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika risiko tersebut terjadi.

Digital Marketing Juga Membutuhkan Manajemen Risiko

Sebagai mahasiswa yang mempelajari bidang pemasaran, saya melihat bahwa pengelolaan risiko memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan digital marketing.

Coba kita bayangkan sebuah bisnis yang aktif melakukan promosi melalui TikTok dan Instagram. Tim kreatifnya setiap hari membuat konten, mengatur jadwal unggahan, dan melakukan siaran langsung untuk menarik calon pembeli.

Sekilas, kegiatan tersebut terlihat berfokus pada kreativitas dan penjualan. Namun, sebenarnya ada berbagai risiko yang perlu diperhatikan.

Ketika membuat konten, misalnya, tim pemasaran harus memastikan bahwa informasi produk yang disampaikan benar dan tidak menyesatkan. Ketika mengelola akun, keamanan akses harus dijaga agar tidak mudah disalahgunakan.

Begitu juga ketika menjalankan iklan berbayar. Anggaran yang besar tidak selalu menjamin penjualan meningkat. Perusahaan tetap perlu melihat apakah iklan tersebut menjangkau audiens yang tepat dan menghasilkan konversi sesuai target.

Selain itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu platform media sosial. Perubahan algoritma dapat membuat jangkauan konten menurun sehingga promosi tidak lagi memberikan hasil seperti sebelumnya.

Karena itu, memiliki saluran pemasaran alternatif, seperti marketplace, situs web, atau basis pelanggan yang dikelola secara bertanggung jawab, dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu platform.

Digital marketing yang baik bukan hanya tentang bagaimana membuat konten menjadi viral, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh aktivitas pemasaran berjalan secara terarah, aman, dan berkelanjutan.

Semua Orang di Perusahaan Punya Peran

Ada satu hal yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu pengelolaan risiko tidak seharusnya menjadi tanggung jawab satu divisi saja.

Misalnya, ketika tim pemasaran menjalankan kampanye promosi, mereka perlu berkoordinasi dengan bagian keuangan agar pengeluaran tetap sesuai anggaran. Mereka juga perlu bekerja sama dengan bagian operasional untuk memastikan produk tersedia ketika permintaan meningkat.

Jika terjadi masalah pada akun media sosial, tim yang mengelolanya perlu mengetahui prosedur penanganan dan berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas keamanan akun.

Kerja sama seperti ini diperlukan karena satu keputusan dapat memberikan dampak kepada bagian lain. Perusahaan akan lebih siap menghadapi masalah apabila setiap orang memahami tanggung jawabnya.

Hal tersebut juga berlaku bagi UMKM yang belum memiliki banyak karyawan. Mereka tidak harus langsung membangun sistem manajemen risiko yang kompleks. Memulai dengan mencatat risiko utama, menentukan orang yang bertanggung jawab, serta menyiapkan langkah penanganan sudah menjadi langkah yang bermanfaat.

Yang terpenting, risiko tidak diabaikan hanya karena perusahaan masih berskala kecil.

Penutup: Berani Mengembangkan Bisnis, Siap Menghadapi Risiko

Pada akhirnya, menjalankan bisnis di era digital memang memberikan banyak peluang. Perusahaan bisa menjangkau konsumen lebih luas, mempromosikan produk dengan lebih mudah, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa setiap peluang selalu memiliki tantangan yang perlu dipertimbangkan.

Enterprise Risk Management bukan sekadar cara perusahaan menghadapi masalah setelah masalah itu terjadi. ERM merupakan upaya untuk memahami kemungkinan yang dapat muncul, mempertimbangkan dampaknya, dan menyiapkan tindakan sebelum keadaan menjadi lebih sulit dikendalikan.

Dalam digital marketing, hal ini bisa dimulai dari menjaga keamanan akun, memeriksa kebenaran informasi, mengevaluasi anggaran iklan, hingga menyiapkan alternatif ketika sebuah platform mengalami gangguan.

Kita tentu tidak bisa memastikan bahwa semua kegiatan bisnis akan selalu berjalan sesuai rencana. Namun, kita bisa mempersiapkan diri agar lebih siap ketika menghadapi perubahan atau masalah yang tidak terduga.

Sebab, bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang mampu melihat peluang dan memperoleh keuntungan, tetapi juga bisnis yang memahami risikonya serta mampu bertahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.