Konten dari Pengguna

Membongkar Makna dari Bahasa Jurnalistik yang Terkadang Menyesatkan

Inti Amaliah

Inti Amaliah

Halllo aku Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Inti Amaliah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar : Orang membaca berita Sumber : Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Gambar : Orang membaca berita Sumber : Pexels

Halo, teman-teman! Pernahkah kalian membaca berita yang membuat terkejut atau emosi, tapi setelah dilihat lebih lanjut, ternyata tidak seheboh judulnya? Inilah yang sering disebut dengan bahasa jurnalistik yang menyesatkan. Mari kita pelajari lebih dalam agar kita bisa menjadi pembaca yang lebih kritis! 

1. Judul Sensasional Judul berita adalah hal pertama yang kita lihat. Tak jarang, judul dibuat sangat menarik agar kita penasaran dan mengklik beritanya. Namun, sering kali judul ini dilebih-lebihkan atau bahkan tidak sesuai dengan isi berita. Misalnya, judul seperti “Selebriti X Ketahuan Melakukan Hal Mengejutkan!” mungkin membuat kita berpikir ada skandal besar, padahal mungkin hanya hal sepele. 

Tips Mengatasinya :        

  • Baca Seluruh Artikel: Jangan hanya baca judulnya saja. Baca keseluruhan artikel untuk mendapatkan gambaran yang lengkap.       

  • Bandingkan Berita: Coba lihat berita serupa di media lain. Apakah mereka juga menggunakan judul yang sama sensasionalnya

2. Kata-kata Emosional Media sering menggunakan kata-kata yang bisa memancing emosi kita, seperti “heboh”, “menggemparkan”, atau “menyedihkan”. Meskipun kejadian yang dilaporkan penting, penggunaan kata-kata ini bisa membuat kita berpikir peristiwanya lebih besar dari kenyataannya. 

Tips Mengatasinya :            

  • Kenali Kata Sifat: Perhatikan kata sifat yang digunakan. Apakah kata-kata itu membuat kalian merasa lebih emosional?    

  • Evaluasi Emosi Sendiri: Setelah membaca, coba tenangkan diri dan pikirkan kembali apakah emosi yang kalian rasakan seimbang dengan fakta yang disajikan. 

3. Data dan Statistik yang Menyesatkan Data dan angka bisa sangat meyakinkan, tetapi bisa juga menyesatkan jika tidak disajikan dengan benar. Misalnya, klaim bahwa “70% orang setuju” bisa menyesatkan jika kita tidak tahu jumlah total respondennya. 

Tips Mengatasinya :           

  •  Cari Penjelasan Detail: Apakah artikel menjelaskan bagaimana data dikumpulkan? Apakah ukuran sampelnya cukup besar?               

  •   Verifikasi Data: Lihat apakah data berasal dari sumber yang terpercaya dan apakah data tersebut ditafsirkan dengan benar.

4. Konteks yang Hilang Kadang-kadang, kutipan atau fakta yang disajikan bisa berubah maknanya jika dikeluarkan dari konteksnya. Misalnya, seorang politisi mungkin berkata “Kami perlu menaikkan pajak” dalam konteks diskusi kebijakan yang lebih luas, tetapi kutipan ini bisa digunakan sebagai headline yang menyesatkan. 

Tips Mengatasinya :         

  • Cari Konteks: Usahakan untuk menemukan sumber asli dari kutipan atau pernyataan yang dilaporkan.            

  • Bandingkan Berita: Lihat bagaimana media lain melaporkan hal yang sama untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

5. Bias Media Setiap media punya bias atau sudut pandang tertentu, baik itu bias politik, ekonomi, atau sosial. Bias ini bisa mempengaruhi bagaimana berita dilaporkan dan informasi apa yang disorot.

 Tips Mengatasinya :              

  • Sadari Bias: Ketahui bahwa setiap media punya bias dan cobalah mengenalinya.            

  • Diversifikasi Sumber: Bacalah berita dari berbagai sumber dengan perspektif yang berbeda untuk mendapatkan pandangan yang lebih berimbang.

Gambar : Koran Berita Sumber : Pexels

Menjadi pembaca yang cerdas berarti kita tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi juga mengevaluasinya secara kritis. Dengan mengenali trik-trik bahasa jurnalistik yang menyesatkan, kita bisa lebih memahami berita dengan objektif dan membuat keputusan yang lebih baik. Jadi, yuk, kita mulai membaca berita dengan lebih kritis dan bijak!