Konten dari Pengguna

Mengajari Anak Takut pada Orang Asing, Ancaman Sering Datang dari Orang Terdekat

Intan Haryani

Intan Haryani

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Intan Haryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
sumber : chatgpt

Setiap kali anak mulai bersekolah, orang tua hampir selalu memberikan nasihat yang sama: jangan berbicara dengan orang asing, jangan ikut orang yang tidak dikenal, dan segera pulang setelah sekolah selesai. Pesan-pesan itu menjadi bagian dari upaya melindungi anak dari bahaya di luar rumah.

Namun, sebuah kasus yang belakangan menjadi perhatian publik kembali mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap anak tidak selalu datang dari orang asing.

Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap seorang siswa sekolah dasar di Tanjungbalai, Sumatera Utara, yang diduga melibatkan seorang guru dan suaminya mengguncang masyarakat. Kasus tersebut masih dalam proses penyidikan kepolisian, sehingga seluruh dugaan akan dibuktikan melalui proses hukum yang berlaku. Terlepas dari bagaimana nantinya putusan pengadilan, peristiwa ini kembali membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah selama ini kita terlalu fokus mengajarkan anak untuk mewaspadai orang asing, tetapi kurang membekali mereka menghadapi ancaman dari orang yang justru mereka kenal?

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan.

Banyak orang beranggapan bahwa pelaku kekerasan terhadap anak identik dengan orang asing. Padahal, berbagai laporan menunjukkan kenyataan yang berbeda. Data dan pengawasan yang dipublikasikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa dalam banyak kasus perlindungan anak, pelaku justru berasal dari lingkungan yang dekat dengan korban, mulai dari keluarga, tetangga, hingga orang yang memiliki hubungan kepercayaan dengan anak.

Inilah yang membuat kasus-kasus seperti ini sering sulit dikenali.

Anak pada dasarnya diajarkan untuk menghormati orang dewasa. Ketika sosok yang mereka percaya memberikan ajakan atau perintah, anak cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang aman. Hubungan yang dekat juga membuat anak lebih mudah percaya dan tidak selalu menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam situasi yang berbahaya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia bahkan menyoroti praktik child grooming, yaitu proses ketika pelaku membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak sebelum melakukan eksploitasi atau kekerasan. Proses ini sering kali berlangsung perlahan sehingga sulit disadari, baik oleh anak maupun orang-orang di sekitarnya.

Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah mengapa banyak anak memilih diam.

Sebagian orang mungkin bertanya, "Mengapa korban tidak langsung bercerita?"

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Anak bisa merasa takut, bingung, malu, atau khawatir tidak akan dipercaya. Terlebih jika orang yang diduga melakukan kekerasan merupakan sosok yang dihormati di lingkungan mereka. Relasi kuasa seperti ini membuat korban sering kali membutuhkan waktu sebelum berani mengungkapkan apa yang dialaminya.

Karena itu, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan mengajarkan mereka untuk tidak menerima permen dari orang asing atau tidak ikut orang yang tidak dikenal. Anak juga perlu memahami bahwa mereka berhak mengatakan "tidak" kepada siapa pun yang membuat mereka merasa tidak nyaman, termasuk kepada orang yang mereka kenal.

Di sisi lain, orang tua dan sekolah perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau disalahkan. Kepercayaan yang dibangun setiap hari sering kali menjadi perlindungan pertama yang dimiliki seorang anak ketika menghadapi situasi yang membingungkan.

UNICEF juga menekankan bahwa perlindungan anak tidak hanya bergantung pada keluarga, tetapi membutuhkan sistem yang kuat di lingkungan pendidikan dan masyarakat. Sekolah perlu memiliki mekanisme pencegahan, pelaporan, dan penanganan yang jelas agar setiap dugaan kekerasan dapat ditindaklanjuti secara cepat dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.

Kasus di Tanjungbalai mungkin akan selesai melalui proses hukum. Namun, persoalan yang diungkapnya tidak berhenti di ruang sidang. Selama kita masih menganggap bahwa ancaman terhadap anak hanya datang dari orang asing, kita berisiko mengabaikan kenyataan bahwa bahaya juga bisa muncul dari lingkungan yang paling dipercaya.

Melindungi anak bukan berarti mengajarkan mereka hidup dalam ketakutan. Melindungi anak berarti membekali mereka dengan pengetahuan tentang batasan tubuh, keberanian untuk berbicara, serta keyakinan bahwa akan selalu ada orang dewasa yang mendengarkan dan melindungi mereka ketika sesuatu terasa tidak benar.