Mengapa Banyak Mahasiswa Merasa Sibuk, tetapi Tidak Benar-Benar Belajar?

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Intan Haryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era perkuliahan yang serba cepat, menjadi mahasiswa sibuk sering kali dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan. Jadwal dipenuhi kelas, rapat organisasi, kepanitiaan, magang, sertifikasi, webinar, hingga berbagai kegiatan lain yang seolah tidak ada habisnya. Di media sosial, kesibukan bahkan kerap dipandang sebagai simbol produktivitas.
Namun, di balik padatnya aktivitas tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibahas: apakah semua kesibukan itu benar-benar membuat mahasiswa belajar lebih banyak?
Tidak sedikit mahasiswa yang mengakhiri hari dengan rasa lelah, tetapi kesulitan mengingat materi yang dipelajari di kelas. Tugas memang selesai, rapat terlaksana, dan jadwal penuh berhasil dilewati. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali konsep yang dipelajari, tidak sedikit yang merasa pemahamannya justru dangkal.
Fenomena ini bukan berarti mahasiswa tidak memiliki kemauan untuk belajar. Sebaliknya, banyak mahasiswa justru terjebak dalam aktivitas yang terus-menerus sehingga waktu untuk benar-benar memahami materi menjadi semakin sedikit.
Budaya kampus saat ini juga ikut membentuk cara pandang tersebut. Mahasiswa sering didorong untuk aktif dalam berbagai kegiatan demi memperkaya pengalaman dan memperkuat portofolio. Organisasi, kepanitiaan, lomba, sertifikat, hingga pengalaman magang menjadi nilai tambah yang dianggap penting untuk memasuki dunia kerja.
Tidak ada yang salah dengan semua itu. Pengalaman di luar ruang kelas memang dapat membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama. Namun, ketika kesibukan berubah menjadi perlombaan untuk terlihat produktif, proses belajar yang seharusnya menjadi inti pendidikan justru mulai terpinggirkan.
Media sosial memperkuat kondisi tersebut. Kita lebih sering melihat unggahan teman yang mengikuti seminar, menjadi panitia acara besar, atau memperoleh sertifikat baru. Jarang ada yang membagikan proses belajar selama berjam-jam di perpustakaan atau perjuangan memahami satu materi kuliah yang sulit. Akibatnya, aktivitas yang terlihat menjadi lebih dihargai daripada pemahaman yang sebenarnya tidak tampak.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai kecenderungan mengejar busyness, yaitu keadaan ketika seseorang merasa harus selalu sibuk agar dianggap produktif. Padahal, sibuk dan belajar adalah dua hal yang berbeda. Seseorang dapat memiliki jadwal yang padat tanpa benar-benar menyerap pengetahuan secara mendalam.
Ironisnya, budaya ini dapat membuat mahasiswa merasa bersalah ketika memiliki waktu luang. Padahal, waktu untuk membaca ulang materi, berdiskusi, atau sekadar merenungkan apa yang dipelajari merupakan bagian penting dari proses belajar. Tanpa ruang untuk memahami, informasi hanya lewat sesaat tanpa benar-benar menjadi pengetahuan.
Dunia kerja memang membutuhkan lulusan yang aktif dan memiliki pengalaman. Namun, perusahaan juga mencari orang yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, dan memahami bidang yang ditekuninya. Semua kemampuan tersebut tidak lahir hanya dari jadwal yang padat, melainkan dari proses belajar yang berkualitas.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memandang kesibukan. Menjadi mahasiswa bukan perlombaan tentang siapa yang memiliki agenda paling penuh atau sertifikat paling banyak. Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang sibuk, tetapi juga lulusan yang benar-benar memahami apa yang mereka pelajari.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi, "Seberapa sibuk saya hari ini?" melainkan, "Apa yang benar-benar saya pelajari hari ini?" Karena tujuan kuliah bukan sekadar mengisi kalender dengan berbagai aktivitas, tetapi membangun pengetahuan yang akan berguna jauh setelah masa perkuliahan berakhir.
