Takut Salah atau Takut Dinilai? Mengapa Banyak Mahasiswa Memilih Diam di Kelas

Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Intan Haryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di hampir setiap ruang kuliah, ada pemandangan yang sering terulang. Dosen melemparkan sebuah pertanyaan kepada mahasiswa, lalu suasana mendadak hening. Mata sebagian mahasiswa tertuju ke meja, ada yang sibuk membuka laptop, bahkan ada yang sengaja menghindari kontak mata dengan dosen.
Bukan karena mereka tidak memahami materi. Tidak sedikit mahasiswa sebenarnya mengetahui jawabannya, tetapi memilih untuk diam.

Fenomena ini menarik untuk dipertanyakan. Mengapa mahasiswa yang telah berhasil masuk perguruan tinggi, bahkan memiliki prestasi akademik yang baik, justru enggan menyampaikan pendapat di dalam kelas?
Salah satu penyebabnya adalah rasa takut melakukan kesalahan. Dalam lingkungan akademik, jawaban yang keliru sering kali dianggap sebagai tanda kurangnya kemampuan. Kekhawatiran tersebut membuat mahasiswa memilih diam daripada mengambil risiko memberikan jawaban yang belum tentu benar.
Selain takut salah, ada faktor lain yang tidak kalah besar, yaitu takut dinilai oleh orang lain. Mahasiswa sering kali bukan hanya memikirkan bagaimana dosen akan menanggapi jawaban mereka, tetapi juga bagaimana reaksi teman-teman di kelas. Kekhawatiran akan dianggap tidak pintar, ditertawakan, atau menjadi bahan pembicaraan membuat banyak mahasiswa memilih untuk tidak berbicara sama sekali.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep fear of negative evaluation, yaitu kecemasan ketika seseorang merasa tindakannya akan dinilai secara negatif oleh orang lain. Dalam lingkungan kampus yang kompetitif, perasaan tersebut dapat muncul semakin kuat, terutama ketika mahasiswa terbiasa membandingkan dirinya dengan teman-teman yang terlihat lebih aktif atau lebih percaya diri.
Media sosial juga ikut memengaruhi cara mahasiswa memandang dirinya. Di Instagram, LinkedIn, atau platform lainnya, mahasiswa sering melihat teman yang memenangkan lomba, menjadi pembicara seminar, memperoleh beasiswa, atau diterima magang di perusahaan ternama. Paparan tersebut tanpa disadari menciptakan standar baru mengenai seperti apa mahasiswa yang dianggap "berhasil". Akibatnya, mereka yang merasa belum mencapai standar tersebut menjadi semakin ragu untuk menunjukkan kemampuannya.
Padahal, keaktifan di kelas bukanlah perlombaan untuk selalu memberikan jawaban paling benar. Ruang kuliah seharusnya menjadi tempat belajar, berdiskusi, dan mencoba memahami suatu persoalan bersama. Kesalahan justru merupakan bagian dari proses belajar yang tidak dapat dihindari.
Penelitian dalam bidang pendidikan menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang memberikan rasa aman secara psikologis (psychological safety) mendorong mahasiswa untuk lebih berani bertanya, berdiskusi, dan mengemukakan pendapat. Sebaliknya, ketika mahasiswa merasa setiap kesalahan akan langsung dihakimi, partisipasi mereka cenderung menurun. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian berbicara tidak hanya dipengaruhi oleh karakter individu, tetapi juga oleh suasana kelas yang dibangun oleh dosen maupun sesama mahasiswa.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu mengubah cara pandangnya terhadap kesalahan. Tidak ada mahasiswa yang memahami seluruh materi sejak awal. Justru melalui pertanyaan, diskusi, dan jawaban yang belum sempurna, proses belajar menjadi lebih bermakna. Banyak ide besar lahir dari keberanian untuk mencoba, bukan dari keyakinan bahwa semuanya sudah benar.
Pada akhirnya, ruang kuliah bukanlah panggung untuk menunjukkan siapa yang paling pintar, melainkan tempat untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Jika mahasiswa terus memilih diam karena takut salah atau takut dinilai, mereka mungkin tidak hanya kehilangan kesempatan untuk belajar, tetapi juga kehilangan keberanian yang akan sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.
Mungkin pertanyaan yang perlu direnungkan bukan lagi, "Bagaimana jika jawaban saya salah?" melainkan, "Apa yang saya lewatkan jika saya terus memilih diam?"
