Menjadi Guru "Stoik"

Pengajar mata pelajaran sosiologi SMAN 25 Garut
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Ipan Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap manusia tidak akan pernah luput dari permasalahan. Manusia yang menganggur akan bermasalah karena belum dapat pekerjaan, begitupun manusia yang bekerja akan mendapati masalah di dalam pekerjaanya. Termasuk orang yang bekerja sebagai pendidik.
Pendidik atau guru akan menemui permasalahan yang beranekaragam, apalagi profesi guru adalah profesi yang menuntut interaksi dengan manusia secara intens. Di mana setiap manusia memiliki karakter, selera, keinginan bermacam-macam yang pada satu titik tertentu seringkali melahirkan permasalahan.
Menurut Mahmud Khalifah (2009) dalam bukunya yang berjudul Menjadi Guru yang Dirindu permasalahan guru itu bisa berasal dari perilaku murid-murid, hubungannya dengan badan pengawas, interaksinya dengan sesama rekan pengajar, hubungan guru dengan bidang administrasi, tanggung jawab administratif, minimnya waktu yang dimiliki, ketidaksepahaman guru dengan wali murid.
Semua permasalahan tersebut adalah hal yang wajar bagi seorang guru. Artinya mau tidak mau, suka atau tidak suka, karena Anda sudah memilih profesi sebagai seorang guru maka permasalahan seperti itu pasti akan muncul dan harus dihadapi. Menjadi tidak wajar ketika permasalahan-permasalahan tersebut membuat kita terpuruk dan tidak produktif.
Karena permasalahan adalah hal yang niscaya, maka yang perlu dilakukan bukanlah menghindari masalah atau meniadakan masalah tetapi menata pola pikir kita dalam menghadapi masalah. Salah satu ajaran kebijaksanaan yang dapat menata pola pikir kita dalam menghadapi permasalahan adalah Filsafat Stoik.
Filsafat Stoik (Stoa) adalah aliran filsafat yang berkembang di Yunani kuno sekitar abad ke-3 SM, didirikan oleh Zeno dari Citium. Meskipun ajaran ini sudah berlalu ribuan tahun yang lalu, tapi masih relevan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang kita hadapi saat ini, termasuk permasalahan kita yang berprofesi sebagai seorang guru.
Diadaptasi dari buku berjudul Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring (2021), berikut ini adalah prinsip-prinsip Stoik yang bisa dijadikan reminder/pengingat oleh seorang pendidikan/guru dalam menghadapi setiap permasalahan keguruan:
Dikotomi Kendali
Prinsip dasar Stoik adalah fokus pada apa yang dapat kita kendalikan (persepsi kita, tujuan kita, pertimbangan kita, segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri) dan melepaskan diri dari hal-hal yang di luar kendali kita, seperti tindakan orang lain, opini orang lain, reputasi kita, popularitas kita, prestasi kerja kita.
Meletakkan sumber kebahagian kita pada sesuatu yang berada di luar kendali kita adalah awal mula dari penderitaan. Perilaku siswa, opini rekan-rekan sesama guru, perlakuan atasan terhadap kita, dan perjalanan karir kita yang kadang berprestasi atau biasa saja. Semua itu adalah faktor-faktor yang berada di luar kendali kita sebagai seorang guru. Semua itu tidak harus menjadi fokus kita, tetapi fokus kita adalah pada apa yang bisa kita lakukan, seperti: melakukan rencana pembelajaran, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran sesuai dengan aturan yang ditetapkan.
“If you live according to what other think, you will never be rich” — Seneca.
Kebajikan Sebagai Tujuan Tertinggi
Stoikisme tidak ditujukan untuk meraih sesuatu yang eksternal (di luar kendali kita). Hal yang berada di luar kendali kita dalam konteks keguruan seperti: kesuksesan karir seorang guru, penghargaan dari atasan, apresiasi dari teman, kenaikan pangkat, keberhasilan dalam menyampaikan pembelajaran di kelas, pujian siswa terhadap seorang guru dll.
Tujuan Stoikisme adalah mencapai ataraxia (ketenangan batin) dan eudaimonia (hidup yang baik dan bermakna) dengan mengembangkan virtue (kebajikan). Virtue dalam bahasa Inggris diambil dari bahasa Latin yaitu virtus, dan kata ini sendiri diambil dari bahasa Yunani arete. Arete dalam terjemahan bebas berarti hidup sebaik-baiknya sesuai dengan peruntukan kita.
Ada empat kebajikan utama dalam Stoikisme, yaitu (1) kebijaksanaan yakni, kemampuan untuk membedakan antara yang benar dengan yang salah; (2) keberanian yakni, keberanian berbuat yang benar dan berpegang pada prinsip yang benar; (3) keadilan yakni, memperlakukan orang lain dengan benar dan jujur; (4) menahan diri yakni, disiplin, sederhana, kepantasan, dan kontrol diri.
Guru yang ideal dalam sudut pandang Stoikisme adalah seorang guru yang senantiasa berusaha menapaki jejak-jejak nilai kebajikan tersebut walaupun secara lahiriah karirnya nampak biasa saja dan tidak penuh dengan prestasi. Karena keberhasilan dalam Stoikisme adalah keberhasilan dalam pencapaian ketenangan batin, bukan pada pencapaian prestasi lahiriah seperti kesuksesan karir.
Sukses karir bagi seorang guru Stoik adalah indifferent preferred artinya sesuatu yang netral tapi kalau ada lebih baik. Dengan kata lain prestasi, nama baik, pujian orang, itu semua hanyalah bonus tambahan bukan faktor utama kebahagiaan. Kebahagiaan sejati berasal dari hidup sesuai dengan kebajikan, yaitu nilai-nilai, keberanian, kebijaksanaan, dan pengendalian diri.
Amor Fati (Mencintai Takdir & Membangun Kesadaran)
Layaknya manusia pada umumnya, seorang guru pasti dihadapkan pada berbagai persoalan hidup. Tidak jarang persoalan-persoalan itu menjadi sumber keluhan harian dan menjadi tekanan psikologis tersendiri yang mengganggu ketenangan batin dan akhirnya mempengaruhi kinerja seorang guru di sekolah. Apakah itu tunjangan sertifikasi yang bermasalah, ingin mutasi tapi sulit dilakukan, honorer belum juga diangkat menjadi guru ASN, jam mengajar yang terlalu padat, jam mengajar diposisikan di jam rawan dan di kelas “neraka” pula.
Bagi seorang Stoik hal-hal seperti itu berada di luar kendali. Pikiran-pikiran yang menginginkan alternatif dari situasi hidup kita sekarang adalah tirani bagi kita sendiri yang menghancurkan ketengan batin.
Terima segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, baik atau buruk, sebagai bagian dari rencana alam semesta. Dengan mencintai takdir, seseorang dapat mencapai kedamaian batin. Fokus pada hal-hal yang sedang terjadi saat ini (Mindfulness), sekaligus menikmati dan mensyukurinya. Karena masa lalu dan yang akan datang tidak berada di dalam kendali kita.
Misalkan saat ini sekarang kita sedang menjadi seorang guru honorer, terimalah sebagai bagian dari ketentuan alam (baca: Tuhan), syukuri dan nikmati. Tentu sambil terus berusaha memantaskan diri untuk masuk ke level yang lebih ideal.
Mengembangkan Pengendalian Diri (Apatheia) dengan Melakukan STAR
Prinsip Stoik mengajarkan bahwa segala sesuatu di luar diri kita adalah netral, tidak membuat kita lebih baik atau membuat kita lebih buruk. Persepsi dan anggapan kita tentang sesuatu yang sebetulnya menjadikan kita lebih baik atau sebaliknya. Maka, ajaran Stoik menuntut kita untuk membangun sebuah persepsi dan interpretasi yang positif tentang sesuatu hal. Ketika kita memaknai sesuatu dengan makna yang positif maka akan melahirkan tindakan dan langkah positif, untuk mengatasinya.
Salah satu cara yang dapat kita lakukan dalam hal membangun persepsi positif adalah STAR (Stop, Think & Asses, Respond). Ketika kita merasakan sebuah emosi yang negatif, apakah itu marah, sedih, resah, takut, khawatir, cemas, dll. Maka yang perlu kita lakukan pertama kali adalah berhenti sejenak dari perasaan-perasaan negatif tersebut dan tidak membiarkan diri kita terus larut di dalamnya. Lalu kita berfikir secara rasional dan mencoba untuk menimbang hal tersebut dengan panduan prinsip Stoik. Terakhir pikirkan dan rencanakan respon yang tepat sesuai dengan prinsip virtue/kebajikan (bijaksana, berani, adil, menahan diri).
Bayangkan kita tiba di hari Senin dan hari itu kebetulan jadwal mengajar kita padat merayap, dari pagi sampai sore, di tambah jam terakhir kita harus masuk ke ruang kelas yang sangat “menantang”, siswanya sulit diatur dan minat belajarnya rendah. Seorang guru yang menghadapi situasi seperti ini kemungkinan besar akan menghadapi tantangan psikologi yang cukup berat jika tidak mampu mengelola pikiran dan persepsinya tentang kenyataan yang harus dihadapinya ini.
Jika muncul perasaan cemas, khawatir, takut dan setumpuk emosi negatif lainya, maka segera lakukan STAR. Hentikan semua emosi negatif tersebut sejenak dengan menenangkan diri dan membiarkan gelombang otak dalam kondisi alfa (gelombang otak yang muncul ketika seseorang sedang melamun atau meditasi). Lalu kita berfikir dan menimbang permasalahan tersebut, apakah situasi yang akan kita hadapi berada dalam jangkauan kendali kita atau tidak.
Jadwal mengajar yang padat, hari senin, kelas yang “menantang”, siswa yang sulit diatur, itu semua berada di luar kendali kita sebagai seorang guru. Wilayah kendali kendali kita sebagai sebagai seorang guru adalah persepsi kita dan tindakan apa yang bisa kita lakukan atas hal itu. kita berpikiran hari Senin melelahkan atau tidak itu adalah persepsi kita, faktanya adalah kita tetap seorang guru yang harus mengajar dengan memberikan pelayanan terbaik kepada siswa.
Maka sebaiknya kita tidak fokus pada apa yang ada di luar kendali kita, tapi fokuslah pada apa yang dapat kita lakukan dengan memberikan pelayanan terbaik. Apabila kita sudah melakukan langkah-langkah terbaik yang kita mampu dengan melakukan perencanaan pembelajaran sebaik mungkin, maka itulah keberhasilan kita. Apabila ada reaksi siswa, atasan, rekan yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan biarkanlah karena itu di luar kendali yang tidak harus kita perhatikan.
Premeditatio Malorum (Merenungkan Hal-Hal Buruk)
Proses kerja Premeditatio Malorum bisa dianalogikan dengan imunisasi. Premeditatio molarum adalah imunisasi untuk mental, dilakukan dengan cara merenungkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Dengan merenungkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi, secara imajinatif kita juga mensimulasikan bagaimana mengatasi hal-hal buruk tersebut dengan menggunakan prinsip Stoik.
Sebelum berangkat mengajar sebaiknya lakukanlah premeditio molarum ini. Renungkanlah hal-hal buruk yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah terutama di ruangan kelas ketika berhadapan dengan para siswa. Misalkan nanti di sekolah kita akan berhadapan dengan siswa yang tidak tahu sopan santun, tidak peduli dengan pelajaran yang kita sampaikan, berteriak seenaknya, terlambat masuk kelas, guru masuk siswa malah keluar, dll.
Imajinasikan hal-hal tersebut seolah-olah benar-benar terjadi. Dalam imajinasi lalu kita melakukan proses STAR (Stop, Thinking & asses, Respon). Identifikasi mana hal-hal yang berada dalam jangkauan kendali kita dan mana yang diluar jangkauan kendali kita. Setelah kita memilah mana yang berada dalam jangkauan kendali kita dan mana yang tidak, kita melatih diri kita untuk fokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan memikirkan tindakan atau respon yang tepat. Ketika hal-hal buruk itu benar-benar terjadi, kita sudah siap dengan mental dan rencana tindakan yang tepat.
Memento Mori (Mengingat Kematian)
Mengingat kematian berarti menyadari akan kefanaan/kesementaraan kehidupan di dunia. Dengan menyadari adanya kesementaraan kita akan memandang apapun yang terjadi secara tidak berlebihan. Ketika mendapatkan kegembiraan tidak larut dalam euphoria kegembiraan, sebaliknya ketika mendapatkan kemalangan tidak larut dalam kesedihan. Karena dengan memento mori kita akan menyadari bahwa baik kegembiraan maupun kemalangan, semuanya memiliki akhir.
Dengan menyadari bahwa semua adalah sementara dan semua memiliki ujungnya, maka kita akan berusaha memaksimalkan kesempatan yang ada dengan mengisinya dengan berbagai kebajikan yang akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Memaksimalkan kesempatan dengan memfokuskan diri pada hal-hal yang berada di dalam kendali kita. Teralihkannya perhatian pada suatu yang berada di luar kendali kita adalah bentuk penyia-nyiaan kesempatan, membuang waktu dan energi secara percuma.
Ingat bahwa hidup itu fana, sehingga kita harus menghargai waktu yang kita miliki dan menjalani setiap hari dengan bijaksana. Fokuslah pada langkah-langkah positif yang bisa kita lakukan, abaikan apapun yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk di dalamnya opini orang lain.
Instruct and Endure (Menegur dan Bertahan)
Dalam dinamika kehidupan pasti akan kita temukan berbagai hal yang menurut kita tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran yang kita pegang. Begitupun dengan seorang guru ketika menjalani profesinya di lingkungan sekolah. Bisa saja ada bentuk-bentuk pelanggaran nilai maupun norma, baik oleh siswa, rekan sesama guru, bahkan atasan.
Ketika seorang guru yang berpikiran Stoik mendapati ketidak wajaran ini, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan berusaha untuk memberikan teguran (instruct) sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Sebelum mencoba melakukan teguran, kita harus benar-benar yakin bahwa kita mengerti situasi yang ada dan bahwa tindakan teguran memang diperlukan.
Ketika teguran sudah dilakukan tetapi pelanggaran masih tetap dilakukan maka kita harus mengambil opsi yang ke dua yaitu endure (bertahan). Bertahan di sini artinya membiarkan atau menghindarinya. Kalau pelanggaran itu tidak mengganggu produktivitas kita secara langsung, cukup kita membiarkan dan tidak ikut-ikutan. Tetapi kalau pelanggaran itu mengganggu produktivitas kita secara langsung dan menghalangi kita dari kebajikan maka kita harus menghindar.
"Timun itu pahit, maka buanglah! Ada duri di jalan, maka hindarilah! Cukuplah. Mengapa memikirkan keberadaan sesuatu yang merepotkan?" — Marcus Aurelius.
Perlu ditekankan juga bahwa menjadi seorang stoik bukan berarti menjadi seorang apatis (tidak perduli) dan fatalistik (menyerah pada takdir). Stoik adalah seni mengolah fikiran, ketika ada realita di depan mata yang tidak sesuai dengan kehendak kita, kemudian mengolah realita tersebut dengan fikiran dan perasaan yang positif. Sehingga bisa merespon realita tersebut dengan cara yang elegan.
Untuk menjadi seorang guru yang produktif dengan prinsip Stoik perlu pembiasaan dan latihan secara terus menerus dari hari ke hari. Bukan hanya perlu latihan tapi juga perlu evaluasi harian sehingga kita menjadi semakin matang dalam menjalankan prinsip-prinsip Stoik tersebut.
