Konten dari Pengguna

Ketika Sampah Mengancam Perairan dan Pantai Bali

I Putu Sukma Widiya Utama

I Putu Sukma Widiya Utama

Saya seorang mahasiswa Prodi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Pertanian Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa - Denpasar

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari I Putu Sukma Widiya Utama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu pantai di Bali. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu pantai di Bali. Foto: Dokumentasi pribadi

Bali dikenal dunia sebagai pulau surga. Pantai-pantainya indah, lautnya biru jernih, dan ekosistem pesisirnya kaya. Tak heran jika jutaan wisatawan datang setiap tahun untuk menikmati keindahan alam dan budayanya. Namun di balik citra tersebut, Bali juga menyimpan masalah lingkungan yang semakin nyata, pencemaran sampah di perairan dan pantai.

Bagi masyarakat yang tinggal di Bali, pemandangan sampah plastik yang terbawa ombak sebenarnya bukan hal baru. Saat musim angin dan hujan tiba, tumpukan sampah sering muncul di sepanjang garis pantai. Botol plastik, kantong kresek, styrofoam, hingga berbagai jenis kemasan sekali pakai bercampur dengan sisa limbah rumah tangga.

Ironisnya, semua itu muncul di tempat yang sama dengan lokasi orang-orang datang untuk menikmati matahari terbenam. Kalau dipikir-pikir, laut Bali kadang seperti “kurir gratis” yang mengantarkan sampah dari berbagai tempat. Bedanya, paket ini tidak pernah diminta oleh siapa pun.

Masalahnya bukan sekadar soal pemandangan yang kurang elok. Sampah di laut juga menjadi ancaman serius bagi ekosistem pesisir, kesehatan manusia, dan bahkan masa depan pariwisata Bali.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana yang dipublikasikan dalam Journal of Marine Research and Technology menunjukkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan.

Penelitian tersebut dilakukan di 18 lokasi pantai di Kabupaten Badung, Tabanan, dan Jembrana. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 92% sampah yang ditemukan di pesisir merupakan sampah plastik.

Jenis sampah tersebut terdiri dari plastik lunak sekitar 33%, styrofoam atau busa sekitar 30%, plastik keras sekitar 25%, tali plastik sekitar 4%, alat tangkap ikan sekitar 0,4%. Rata-rata konsentrasi sampah di sepanjang pantai yang diteliti mencapai 1,32 item per meter persegi. Jika dibayangkan, setiap satu meter persegi pantai memiliki lebih dari satu potongan sampah. Itu baru yang terlihat di permukaan.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar sampah memiliki ukuran kecil, sekitar 2-4 cm, yang berarti sampah tersebut sudah mengalami fragmentasi atau pecahan kecil. Artinya, sampah tersebut sudah lama berada di lingkungan dan perlahan terpecah menjadi bagian yang lebih kecil. Semakin kecil ukuran sampah plastik, semakin berbahaya dampaknya bagi ekosistem laut.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah dari mana sebenarnya sampah-sampah tersebut berasal? Banyak orang mengira sampah di pantai berasal dari aktivitas wisata di lokasi tersebut. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sebagian besar sampah laut sebenarnya berasal dari daratan. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, pasar, kawasan wisata, industri kecil, hingga kegiatan perikanan sering kali berakhir di sungai. Sungai kemudian menjadi “jalan tol” yang membawa sampah menuju laut.

Ketika musim hujan datang, debit air meningkat dan sampah yang sebelumnya menumpuk di berbagai tempat ikut terbawa arus. Akhirnya, semua sampah itu bermuara di laut. Fenomena ini menunjukkan bahwa pencemaran laut bukan hanya masalah wilayah pesisir, tetapi juga berkaitan erat dengan pengelolaan sampah di daratan.

Dalam kajian pengelolaan kualitas lingkungan perairan, sumber pencemar umumnya dibedakan menjadi dua kategori, yaitu sumber pencemar tetap dan sumber pencemar tidak tetap.

Sumber pencemar tetap merupakan sumber pencemaran yang berasal dari lokasi tertentu dan dapat diidentifikasi secara jelas. Contohnya antara lain, limbah dari permukiman padat, limbah hotel dan restoran, kawasan pariwisata, industri kecil, tempat pembuangan sampah.

Limbah dari sumber-sumber tersebut biasanya masuk ke lingkungan melalui saluran pembuangan tertentu. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut akan masuk ke sungai dan akhirnya menuju laut.

Di daerah wisata seperti Bali, sektor pariwisata juga berkontribusi menghasilkan sampah dalam jumlah besar setiap hari. Tanpa sistem pengelolaan limbah yang baik, sampah tersebut berpotensi mencemari lingkungan perairan.

Sementara itu, sumber pencemar tidak tetap berasal dari berbagai lokasi yang tersebar dan sulit ditentukan titik asalnya secara spesifik. Contohnya adalah sampah yang terbawa dari jalanan, sampah dari pasar, sampah dari kawasan permukiman, limbah pertanian, sampah wisatawan di pantai.

Ketika hujan turun, sampah-sampah tersebut terbawa air menuju selokan, sungai, dan akhirnya sampai ke laut. Dengan kata lain, laut sering kali menjadi “tempat akhir” bagi berbagai jenis sampah yang berasal dari aktivitas manusia.

Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang paling berbahaya bagi ekosistem laut. Berbeda dengan sampah organik, plastik sangat sulit terurai secara alami. Di lingkungan laut, plastik bisa bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun.

Seiring waktu, plastik akan terpecah menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik. Partikel mikroplastik ini dapat masuk ke rantai makanan laut. Organisme kecil seperti plankton dapat menelan mikroplastik secara tidak sengaja. Plankton kemudian dimakan oleh ikan kecil, ikan kecil dimakan oleh ikan besar, dan akhirnya sampai ke manusia.

Artinya, plastik yang kita buang hari ini berpotensi kembali ke meja makan kita di masa depan. Selain itu, banyak biota laut seperti penyu, ikan, dan burung laut yang mengira plastik sebagai makanan. Plastik yang tertelan dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga kematian.

Sampah juga dapat merusak habitat penting seperti terumbu karang dan padang lamun. Ketika sampah menutupi permukaan karang, proses fotosintesis organisme yang hidup di sekitarnya dapat terganggu. Jika kondisi ini terus terjadi, keanekaragaman hayati laut dapat mengalami penurunan.

Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengatasi masalah sampah.

Salah satu kebijakan penting adalah Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Kebijakan ini bertujuan mengurangi penggunaan kantong plastik, styrofoam, dan sedotan plastik yang sulit terurai.

Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber. Kebijakan ini menekankan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga, sekolah, kantor, dan tempat usaha.

Artinya, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memilah dan mengelola sampah yang dihasilkan.

Pada tahun 2025, Pemerintah Provinsi Bali juga mengeluarkan Surat Edaran tentang Gerakan Bali Bersih Sampah yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Kebijakan-kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah telah berupaya serius untuk mengatasi persoalan sampah. Namun kebijakan saja tidak cukup jika tidak didukung oleh perubahan perilaku masyarakat.

Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah di Bali adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, penggunaan plastik sekali pakai yang berlebihan, serta minimnya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga masih sering terjadi.

Selain itu, infrastruktur pengelolaan sampah di beberapa daerah juga masih terbatas. Akibatnya, sebagian sampah masih berakhir di tempat pembuangan terbuka atau bahkan langsung masuk ke badan air.

Padahal jika dikelola dengan baik, sebagian besar sampah sebenarnya masih bisa didaur ulang. Apa yang Bisa Dilakukan? Mengatasi pencemaran sampah di perairan Bali membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain, Pertama memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya melalui pemilahan sampah di rumah tangga. Kedua, meningkatkan fasilitas pengolahan sampah seperti bank sampah, pusat daur ulang, dan pengolahan sampah terpadu. Ketiga, memperketat pengawasan terhadap pelaku usaha agar limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan. Keempat, meningkatkan edukasi lingkungan kepada masyarakat dan wisatawan. Kelima, mendorong keterlibatan generasi muda dalam penelitian dan aksi peduli lingkungan.

Keindahan laut Bali bukan hanya aset wisata, tetapi juga bagian penting dari kehidupan masyarakat. Jika pencemaran sampah terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh sektor ekonomi, kesehatan, dan generasi mendatang.

Menjaga kebersihan laut bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Laut Bali tidak pernah meminta banyak hal dari kita. Ia hanya meminta satu hal sederhana, jangan jadikan ia tempat membuang apa yang tidak kita inginkan. Namun selama ini, laut justru menerima segalanya dari plastik sekali pakai hingga limbah yang kita anggap sepele.

Masalahnya, laut tidak benar-benar membuang sampah kita. Ia hanya mengembalikannya ke pantai, ke ikan yang kita makan, dan pada akhirnya kembali kepada kita sendiri.