Analisis Dampak Psikologis Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Mahasiswa Hukum Keluarga Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Syariah Dan Hukum
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Radiva Muzibul Iqbal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rumah sejatinya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk tumbuh dan mendapatkan kasih sayang, namun bagi mereka yang hidup di lingkungan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), rumah justru berubah menjadi tempat yang paling menakutkan. Meskipun tidak selalu menjadi korban kekerasan fisik secara langsung, posisi anak sebagai saksi mata yang melihat atau mendengar ketegangan di rumah sudah cukup untuk meninggalkan luka batin yang mendalam. Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) secara konsisten menunjukkan bahwa ribuan kasus kekerasan terhadap anak setiap tahunnya justru terjadi di ranah domestik atau rumah tangga, di mana rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber trauma utama bagi perkembangan mental mereka.

Penjelasan tentang dampak psikologis anak
Dampak psikologis yang paling kentara dari situasi ini adalah munculnya kecemasan kronis dan ketakutan terus-menerus. Berbagai studi psikologi dan data klinis dari UNICEF mengungkapkan bahwa anak-anak yang terpapar KDRT memiliki risiko hingga dua kali lipat lebih tinggi untuk mengalami gangguan mental seperti kecemasan ekstrim, depresi, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dibandingkan anak-anak dari keluarga harmonis. Anak-anak ini selalu berada dalam kondisi waspada, merasa cemas kapan ledakan amarah berikutnya akan terjadi, yang pada akhirnya memicu gangguan tidur, penurunan fungsi kognitif di sekolah, serta kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri (self-blame) atas konflik yang terjadi pada orang tua mereka.
Selain merusak kesehatan mental, paparan KDRT juga mendistorsi cara pandang anak terhadap hubungan sosial dan berpotensi menciptakan siklus kekerasan intergenerasi. Berdasarkan data riset kesehatan mental global, anak laki-laki yang tumbuh besar menyaksikan ibunya menjadi korban KDRT memiliki kecenderungan hingga tiga kali lipat lebih tinggi untuk menjadi pelaku kekerasan terhadap pasangannya saat dewasa nanti. Sebaliknya, anak perempuan yang terbiasa melihat ibunya ditindas memiliki risiko lebih besar untuk terjebak dan bertahan dalam hubungan yang abusif di masa depan karena menganggap kekerasan adalah hal yang "normal" dalam sebuah komitmen. Tanpa adanya intervensi psikologis yang tepat dan pemulihan trauma sejak dini, luka tak kasat mata ini akan terus terbawa hingga mereka dewasa dan mengancam masa depan generasi berikutnya.
