Dampak Psikologis Perundungan terhadap Kesehatan Mental Remaja

Mahasiswa Hukum Keluarga Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Syariah Dan Hukum
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Radiva Muzibul Iqbal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masa remaja seharusnya menjadi fase yang indah untuk mengeksplorasi potensi diri dan membentuk identitas, namun bagi mereka yang menjadi korban perundungan (bullying), fase krusial ini berubah menjadi periode kelam yang penuh tekanan emosional mendalam. Perundungan bukan sekadar kenakalan biasa, melainkan bentuk kekerasan nyata yang merusak kesehatan mental secara perlahan. Data dari Asosiasi Psikologi dan berbagai survei kesehatan mental remaja nasional menunjukkan bahwa sekolah dan ruang siber kini menjadi tempat yang rawan, di mana persentase remaja yang mengalami depresi akibat intimidasi terus meningkat setiap tahunnya. Ejekan dan pengucilan yang diterima secara konstan ini mengikis harga diri hingga ke titik terendah, membuat korban menginternalisasi kata-kata negatif pelaku, dan merasa tidak berharga di hadapan teman sebaya.

Penjelasan tentang perundungan anak
Kondisi stres kronis yang dialami remaja korban perundungan ini memicu gangguan psikologis yang serius dan terukur secara klinis. Berdasarkan data riset dari World Health Organization (WHO) dan UNICEF, remaja yang menjadi korban perundungan memiliki risiko hingga tiga kali lipat lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan dan depresi akut dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalaminya. Pikiran mereka dipaksa untuk selalu berada dalam mode waspada, yang menurut studi klinis berkontribusi langsung pada gangguan pola tidur serta penurunan volume otak pada area yang mengatur emosi. Dampak mental ini berimbas langsung pada penurunan fungsi kognitif, sehingga performa akademik mereka merosot tajam, bahkan memicu fenomena penolakan sekolah karena lingkungan tersebut dianggap traumatis.
Pada tingkat yang paling mengkhawatirkan, akumulasi rasa sakit emosional yang tidak ditangani dapat mendorong remaja ke arah perilaku yang mengancam nyawa. Data empiris dari berbagai pusat kesehatan mental menunjukkan adanya korelasi kuat antara pengalaman perundungan berat dengan tindakan merusak diri sendiri serta peningkatan risiko pikiran bunuh diri pada usia remaja hingga lebih dari 50%. Dampak psikologis perundungan tidak akan pernah hilang hanya dengan meminta korban untuk mengabaikannya. Pemulihan kesehatan mental mereka membutuhkan langkah konkret berupa penyediaan ruang aman di rumah dan sekolah, dukungan sosial yang stabil, serta intervensi klinis dari profesional seperti psikolog melalui Terapi Perilaku Kognitif demi memutus rantai trauma sebelum berdampak permanen hingga mereka dewasa.
